
Tidak mudah untuk masuk ke dalam mansion milik keluarga Arsielo Anderson, kemegahan dan keamanannya cukup ketat. Bahkan untuk masuk saja membutuhkan ijin terlebih dahulu, tapi mungkin saat Hilman yang datang ke sana semua sedikit lebih mudah. Sebab Arsielo Anderson mengijinkan nya untuk masuk.
"Di mana istri ku?" tanya Hilman to the point.
Arsielo Anderson tersenyum miring, ia terlihat seperti sedang tidak ingin memberitahukan kepada Hilman tentang keberadaan Risa.
"Sejak kapan kau menganggap nya istri?" tanya Devan.
Arsielo Anderson, Devan, Hilman dan Citra duduk di sofa dengan saling berhadapan. Mereka memang sedikit terkejut akan kedatangan Hilman, padahal Hilman belum pernah berkunjung ke kediaman mereka. Akan tetapi mereka merasa Hilman memiliki nyali yang begitu kuat, hingga ia langsung datang dengan begitu saja.
"Sejak aku menikahinya," papar Hilman.
Arsielo Anderson mengangguk, mendengar jawaban Hilman yang cukup pasti, "Lalu kenapa kau menelantarkan istri mu?" tanya Arsielo Anderson lagi.
"Aku tidak pernah menelantarkan nya, dia istri ku. Kalian yang membawanya tanpa seijin ku!" jawab Hilman lagi dengan pasti.
"Sombong sekali," geram Arsielo Anderson.
"Daddy," Mom Cinta berusaha untuk meredam ketegangan yang ada, mengingat Risa sangat menderita selama beberapa hari ini. Perlahan mata Mom Citra mulai menatap Hilman, "Apa kau mencintaiku putri kami?" tanya Mom Cinta.
"Iya Nyonya," jawab Hilman.
"Kalau cinta, kau tidak akan menyia-nyiakan nya," timpal Arsielo Anderson masih dengan kemarahan.
Mom Citra sangat mengerti tentang perasaan suaminya yang sangat menyayangi Risa, akan tetapi kebahagiaan Risa adalah Hilman. Sehingga ia ingin mempermudah segala nya, ia memanggil seorang pelayan lalu memintanya mengantarkan Hilman menuju kamar putrinya.
"Mom," Dad Anderson terlihat tidak suka dengan tindakan Mom Citra, ia masih ingin memberikan hukuman pada Hilman.
"Risa tidak makan sudah berhari-hari, apa kau masih menawar?" tanya Mom Citra.
__ADS_1
Dad Arsielo Anderson terdiam, walaupun ia sebenarnya sangat ingin membuat Hilman memohon pada nya. Namun, saat mendengar kata-kata Mom Citra ia terpaksa menahan nya, mungkin untuk sementara waktu. Sebab Arsielo Anderson sangat ingin memberikan hukuman pada Hilman.
Hilman berdiri dengan tegak, kemeja hitam dengan celana senada membuatnya terlihat penuh karisma. Mata elangnya menatap seorang wanita yang tengah duduk di sofa sambil menatap keluar, wanita itu terlihat rapuh tanpa ada rasa. Rasa bersalah Hilman semakin besar seiringan dengan langkah kaki yang semakin berjalan kearah Risa, ia kemudian berdiri di samping sofa yang di duduki Risa.
Risa tanpaknya belum menyadari ada orang lain selain dirinya di sana, ia masih terus menatap keluar melalui kaca jendela dengan ukuran cukup besar. Sampai akhirnya ia merasa ada tangan yang menyentuh pundaknya, ia perlahan memutar lehernya ke samping dan melihat Hilman ada di sana.
"Aku merindukan mu," tutur Hilman.
Risa langsung berdiri, ia menjauh sambil berusaha untuk menghilangkan halusinasi yang mungkin kini tengah terjadi pada diri nya. Namun, semua begitu nyata. Karena Hilman memang berada di sana.
"Kau tidak merindukan ku?" tanya Hilman.
Risa menatap Hilman, rasa kesal bercampur dengan marah membuatnya tidak ingin berdekatan dengan Hilman. Apa lagi ia mengingat kata-kata Dad Arsielo Anderson saat itu, 'Apa kau mencintainya? Iya! Lalu apa dia mencintai mu?' Risa benar-benar merasa bodoh, karena sudah di permainkan oleh perasaan cinta yang ia rasakan pada Hilman. Bukankah awalnya ia tidak butuh pengakuan cinta, lantas mengapa saat ini malah sebaliknya. Mengapa ia seperti orang bodoh karena kini keadaan malah menyerang dirinya.
"Untuk apa kemari?"
Hilman berusaha untuk memeluk Risa, tapi berulang kali Risa menolak.
Risa sejenak terdiam, air matanya terus saja mengalir bahkan tanpa henti. Akan tetapi ia tidak ingin di sentuh oleh Hilman.
"Untuk apa? Apa kau sedang butuh pelampiasan?" tanya Risa dengan hati yang sakit, "Ayo!" Risa membuka kedua tangan nya seolah sedang menunggu Hilman untuk memberikan haknya, dengan air mata yang terus menetes semakin deras.
"Sayang, aku rindu," lirih Hilman, ia sudah sangat merindukan Risa. Namun, Risa mengajaknya untuk bertengkar.
Risa terdiam saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Hilman, pertama kali nya Hilman memanggilnya dengan kata itu. Sungguh membuat hati Risa seketika melunak dengan mudah.
"Aku rindu, aku tidak bisa tanpa mu. Aku mencintai mu, tolong tetap bersama ku," pinta Hilman lagi.
Deg.
__ADS_1
Jantung Risa semakin berdegup kencang, kata cinta yang ia harapkan sudah ia dengar. Lalu apakah ia masih harus berkeras saat ini.
"Apa kau tidak mencintai aku?" tanya Hilman, sebab Risa hanya diam dengan sesenggukan, "Aku sudah lama mencintai mu, kalau aku tidak mencintai mu aku tidak akan menanam benih ku pada mu!" tambah Hilman lagi.
Risa mendadak gagu, ia benar-benar mendadak mematung karena kata-kata Hilman. Jika Hilman sudah mencintainya sejak saat itu, artinya Hilman sudah mencintainya sebelum ia mencintai Hilman.
"Apa kau tidak mencintai ku?" Hilman ingin tahu jawabannya dari Risa yang hanya diam karena mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Risa meneguk saliva, ia berulangkali mengusap air matanya. Sampai akhirnya Hilman langsung memeluk dirinya, dan ia tidak lagi menolak. Risa hanya menangis tersedu-sedu.
"Maaf," lirih Hilman sambil terus memeluk Risa, "Jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa tanpa mu," pinta Hilman semakin mendekap Risa.
Risa juga perlahan mengangkat tangannya, dan membalas pelukan Hilman. Pelukan yang sangat ia rindukan selama beberapa hari ini, wangi tubuh Hilman seakan sudah menjadi obat tersendiri untuk Risa.
"Mas, Risa hamil," tutur Risa.
"Iya, Mas minta maaf karena terlalu sibuk," Hilman benar-benar merasa sangat bersalah, ia tidak menyangka bisa mengetahui kehamilan Risa dengan keadaan yang begitu menyedihkan, "Tapi kau pergi membuat Mas yakin, Mas tidak bisa hidup tanpa mu," berulang kali Hilman terus mengecup kening Risa, meluapkan rasa rindu yang terpendam, "Maaf ya Nak," Hilman berjongkok, ia memeluk perut Risa yang sedikit membuncit. Perasaan bahagia bercampur haru begitu terasa, sehingga ia tidak ingin pindah dari posisinya saat ini.
"Mas, udah Risa enggak bisa nafas," kata Risa, karena Hilman memeluk perutnya begitu erat dan juga cukup lama.
"Maaf," Hilman merasa takut, ia cepat-cepat berdiri, "Apa masih sulit bernafas?" tanya Hilman dengan was-was.
Risa menggeleng, "Mas," kata Risa dengan ragu.
"Apa?" tanya Hilman bingung, "Kamu mau apa?"
"Peluk," pinta Risa dengan suara yang pelan, karena ia malu.
Dengan cepat Hilman memeluk Risa, ia sudah takut jika Risa pergi jauh darinya. Hingga ia akan menuruti apapun yang di inginkan istri
__ADS_1
tolong ya teman-teman like dan vote.