
Sekalipun ada insiden yang cukup mengerikan terjadi dengan hancurnya kue pernikahan tetapi, pesta tetap berlanjut dengan sangat baik.
Bahkan semakin terasa berkesan, karena tingkah dua bocah polos.
Bahkan pesta semakin meriah, dan berlanjut pada pengantin yang bersiap-siap untuk melemparkan bunga.
"Siapa saja yang mendapatkan bunga pengantin, harus menyanyikan lagu untuk pengantin." Kata MC.
Adam sebenarnya tidak ingin ikut menangkap bunga, menurutnya itu hanyalah sebuah mitos yang tidak benar adanya.
Akan tetapi Renata terus menariknya, ikut berkumpul bersama keluarga dan teman-teman lainnya yang menantikan seikat bunga pengantin.
Renata adalah istri sah dari Adam, keduanya batu saja melangsungkan pernikahan dengan begitu mewah. Hubungan keduanya sudah berjalan beberapa tahun, sampai akhirnya bukan lalu keduanya sepakat untuk menikah.
"Adam ayo," rengek Renata.
"Untuk apa?" tanya Adam bingung, sebab keduanya sudah menikah lantas untuk apa ia susah payah ikut berdiri di antara banyaknya orang demi mendapatkan bunga pengantin.
Renata tanpaknya begitu ingin untuk mendapatkan bunga pengantin, sehingga tanpa lelah terus saja memaksa Adam.
"Sayang," rengek Renata.
"Baiklah."
Tidak ingin terus melihat Renata merengek Adam terpaksa ikut di antara kerumunan orang yang menantikan bunga pengantin.
"Kinanti!!!" Seru Risa.
Kinanti tengah sibuk memberikan tamu minuman, tetapi saat mendengar namanya di panggil ia segera beralih menatap Risa.
"Kamu juga ikut!" pinta Risa.
Kinanti melihat sekitarnya, mengapa harus ia yang di panggil oleh Risa. Sangat tidak pantas seorang pembantu di perlukan begitu baik. Bahkan baju yang di gunakan nya adalah seragam seorang pelayan, sama seperti pelayan lainnya.
"Kinanti, ayolah. Ini permintaan yang di dalam," ujar Risa lagi dengan memaksa.
Kinanti masih diam dan merasa tidak enak hati, seketika Sarah bangun dari duduknya dan berjalan ke arah Kinanti.
"Ayo dong," pinta Kinanti.
Tidak berselang lama Hanna juga datang dan mengambil nampan yang tengah di pegang Kinanti dan meletakkan pada meja.
"Ayo, mana tau dapat bunga dan kamu bisa cepat dapat jodoh," seloroh Hanna.
Karena setahunya Kinanti tidak pernah keluar rumah kecuali untuk mengantarkan Davina dan Derren bersekolah.
"Jodoh?" Kinanti mendadak terdiam saat Hanna mengatakan jodoh.
Adam juga merasa tidak nyaman saat mendengar kata-kata jodoh.
"Oma, jadi kalau ikut menangkap bunga bisa dapat jodoh?" tanya Davina antusias.
"Hehe...." Oma Sarah mencolek hidung cucunya.
"Wah, Davi juga wajib ikut mana tau dapat jodoh," ujar Davina dan langsung berjalan di antara kerumunan orang, bahkan ia berdiri paling depan.
Semua tamu tidak kuasa menahan tawa, melihat bertapa putri Devan begitu menggemaskan. Bahkan sampai ada yang melongo menatapnya.
__ADS_1
"Davi sama Om Zidan aja," celetuk seorang dokter. Teman sejawat Adam yang juga ikut menghadiri acara resepsi pernikahan Risa dan Hilman.
"Sorry ya Om, Davi maunya sama Polisi," jawab Davina dengan sombongnya.
"Ahahahahah....." beberapa teman Devan sampai kehilangan wibawa, karena tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan Davina.
"Waw, Om Zidan bukan selera Davi," Zidan seakan menunjukkan wajah sedihnya.
"Hasil didikan Adam," gumam Agatha sambil mengingat Davina memang sangat mirip dengan Adam kecil, yang lucu dan membuat orang tertawa.
"Mbak Kinan!!!" teriak Davina sambil menggerakkan tangannya, seolah memberikan isyarat pada Kinanti agar berdiri di sebelahnya.
"Ayolah Kinanti, Davina aja semangat begitu," goda Risa sambil cekikikan.
"Ayo cepat maju," Hanna langsung menarik Kinanti berdiri di antara yang lainnya.
Dengan terpaksa Kinanti berdiri, bahkan tidak sadar Adam berdiri di sampingnya. Sedangkan Renata berada di sebelah kiri Adam.
"Satu dua tiga!!!!"
Bunga langsung di lemparkan dengan begitu jauh.
"Aaaaaaa......" semua mendadak berteriak seakan hanyut dalam perasaan bahagia.
Sampai tiba-tiba dengan refleks Adam dan Kinanti menangkap bunga bersamaan.
Dengan cepat Kinanti langsung melepaskan tangan nya dan bunga kini berada di tangan Adam.
Setelah merasa sedikit tegang Kinanti langsung pergi dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.
Adam langsung memberikan bunga di tangannya pada Renata.
"Sebelum nya saya sudah mengatakan jika siapa yang mendapatkan bunga harus bernyanyi, dan kepada Mas Adam, mohon untuk memberikan sebuah lagu untuk kedua pengantin yang sedang berbahagia." Kata Seorang MC.
"Mbak Kinan juga!!!!" Teriak Davina.
"Benar sekali, karena Mas nya tadi menangkup bunga bersama Mbak di sana, yang cantik dan Imut," kata seorang tamu.
Adam dan Zidan saling pandang, kedua mata mereka seakan saling berbicara.
"Kinanti, aku dengar-dengar kau pandai bermain gitar," kata Risa, "Aku mohon," Risa menangkup kedua tangannya, ibu hamil itu tidak hamil saja suka merepotkan. Apa lagi sedang hamil, tetapi walaupun begitu Risa sudah menganggap Kinanti bagian dari keluarganya.
"Kinan ayo," kata Mbok Sum.
Kinanti sedikit ragu, tetapi saat melihat semua menatapnya Kinanti naik ke atas panggung dan berdiri dengan tubuh yang sedikit gemetaran menahan air mata.
"Ini gitarnya," Risa dengan senang hati memberikan gitar pada Kinanti.
Tidak sulit untuk memetik gitar bagi Kinanti, yang sulit itu menerima suatu kenyataan yang sampai saat ini pun sulit untuk di terima.
Walaupun terasa menyakitkan, dan juga ragu tetapi Kinanti tetap menuruti keinginan Risa yang sudah sangat baik padanya.
Matanya mengedar, setelah duduk dan bersiap untuk memulai.
Dengan perlahan Kinanti mulai memetik gitar dengan merdu, dan menyanyikan lagu favorit nya dengan menutup mata.
Dinginnya angin malam ini
__ADS_1
Mengapa tubuhku
Namun tidak dapat dinginkan panasnya
Hati ku ini
Terasa terhempasnya diri ku ini
Karena sikap mu
Mungkin karena aku insan kekurangan
Teganya kau mainkan
Oh mungkinkah diri ini
Dapat merubah buih
Yang memutih
Menjadi permadani
Seperti pinta
Yang kau ucap
Dalam janji cinta
Juga mustahil bagiku
Menggapai bintang di langit
Siapa lah diri ku
Hanya biasa
Semua itu
Sungguh aku
Tiada mampu
Semua tamu seakan merasa bergetar, setiap lirik nya terasa begitu dalam bahkan seakan meluapkan apa yang memang terjadi.
Bahkan beberapa nya ikut menyanyikan seiringan dengan Kinanti yang tengah bernyanyi, seakan suasana seketika berubah haru.
Setelah lagu selesai di nyanyikan, Kinanti mendapatkan tepuk tangan dari para tamu. Tidak menyangka Kinanti begitu pandai bermain gitar dan memiliki suara yang sangat indah di dengar.
"Makasih ya Kinan," Risa langsung memeluk Kinanti dengan begitu erat, bahagia karena berhasil mendapatkan satu lagu dari Kinanti.
"Sama-sama Bu Risa, saya bekerja dulu."
Tidak tau apa yang di pikirkan oleh Kinanti, tetapi rasanya terlalu menyakitkan. Dengan langkah kaki yang cepat ia segera menuju kamarnya, meluapkan tangisan yang mati-matian di tahan.
Menahan sesak di dada, meluapkan melalui tangisan.
"Kinanti," Adam tiba-tiba menyusul ke kamar Kinanti.
__ADS_1
***