Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Dua bulan kurang tiga hari


__ADS_3

Risa merasa sedikit jenuh saat seharian berada di rumah, akhirnya ia melihat ponselnya dan tiba-tiba ada fhoto dua keponakan yang lucu hingga membuat kerinduan nya bertambah.


"Aku ke rumah Mama Sarah aja kali ya, kan di sana ada dua unyu-unyu," kata Risa, kemudian Risa menghubungi Hilman karena ia butuh ijin dari suaminya untuk keluar rumah.


Risa memang selalu adu argumen dengan Hilman, tapi ia tetap tahu posisinya adalah seorang perempuan bersuami. Jadi ia harus mendapatkan ijin dulu dari suaminya, dan semua itu ia tahu karena Mom Citra yang selalu menghargai Dad Arsielo.


"Kok enggak di angkat ya," berulang kali Risa mencoba untuk menghubungi Hilman, tapi mungkin karena kesibukan yang padat membuat Hilman tidak menyadari ponselnya yang berdering. Akhirnya Risa diam dan mengurungkan niatnya untuk keluar rumah, namun tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata Hilman yang menghubungi dirinya. Setelah mendapatkan ijin Risa bergegas bersiap-siap, dress berwarna merah dengan sendal jepit yang menjadi idolanya. Walaupun hanya sandal jepit, tapi harganya cukup menguras kantong.


Duduk manis di atas mobil sedan mewah keluar terbaru, mobil yang baru saja di belikan sang suami karena tidak ingin istrinya terus naik taxi apa lagi naik ojek. Padahal koleksi mobil Hilman cukup banyak, tapi Risa tidak mau memakai salah satunya. Ia mengatakan hanya akan memakai miliknya sendiri, hingga Hilman memilih untuk membelikan sebuah mobil baru sesuai dengan keinginan istrinya. Sebenarnya Risa memiliki mobil, tapi Hilman tidak mengijinkan Risa untuk membawanya. Sebab mobil itu pembelian Dad Arsielo Anderson saat Risa masih belum menikah dengannya, sebagai seorang suami yang bertanggungjawab atas istrinya. Hilman tentu saja merasa malu jika Risa masih memakai barang-barang yang di belikan oleh mertuanya, andaipun Hilman tidak bisa membeli barang yang sangat mewah seperti yang dibelikan oleh kedua orang tua Risa. Namun, ia akan membeli sesuai kemampuannya, asalkan Risa hidup dalam hasil dari kerja kerasnya.


"Assalamualaikum......" kaki Risa melangkah masuk ke rumah megah milik keluarga Agatha Sanjaya.


Kedatangan Risa di sambut baik oleh anggota keluarga, dan sangat tidak di duga Hanna, Devan dan dua orang bocah yang tengah bermain bersama di ruang tamu.


"Aunty!!!!" seru Davina dengan gigi ompong nya, bahkan ia langsung menghambur memeluk Risa.


"Anak Aunty yang cantik," Risa memeluk Davina, kemudian ia mengangkat tubuh Davina, "Anak Aunty sudah besar sekali," Risa langsung menurunkan Davina, ia merasa sedikit tidak enak saat mengangkat beban yang mungkin cukup terasa berat.


"Iya dong," Davina tersenyum.


"Aunty apa kabar?" Derren juga memeluk Risa, ia juga sangat merindukan Risa yang sudah cukup lama tidak bertemu.


"Baik dong ganteng, bagaimana. Apa sudah punya pacar," celetuk Risa sambil menarik pipi Derren.


"Rahasia dong," jawab Derren tersenyum.

__ADS_1


"Apa kabar Risa," Hanna berdiri dan langsung memeluk Risa.


"Baik Kakak ipar," jawab Risa yang tidak kalah bahagia.


"Kau lebih gemuk ya? Atau karena aku yang sudah lama tidak melihat mu?" ujar Hanna.


"Iya Kakak ipar, adik mu ini memang akhir-akhir ini banyak makan," Risa beralih melihat Devan, "Kak Dev tidakkah kau merindukanku?"


"Tentu saja, kenapa tidak rindu. Bagaimana rumah tangga mu?" Devan memang selama ini mengirim orang untuk terus mencari tahu tentang keadaan rumah tangga adiknya, tapi sejauh ini semua baik-baik saja. Walaupun begitu ia tetap ingin mendengar sendiri dari mulut sang adik.


Risa langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, "Menyedihkan," kata Risa mendesus kesal.


Hanna penasaran, ia langsung duduk di samping Risa, "Maksudnya?" Hanna merasa was-was, sebab ia adalah orang yang paling bersalah bila Risa tidak bahagia.


"Kau tahu Kakak Ipar?" Risa mulai menunjukkan wajah serius nya, "Aku sudah bekerja di perusahaan Mas Hilman selama dua bulan kurang tiga hari, tapi sampai tadi pagi Mas Hilman memberhentikan ku bekerja. Aku tidak di gaji sepeserpun!" geram Risa.


Risa meneguk jus milik Hanna yang ada di atas meja, setelah itu ia kembali melihat Hanna dan Devan dengan bergantian, "Enggak," jawab Risa.


"Apa kau serius?" Devan mulai merasa penasaran, karena pengakuan Risa.


"Iya, Mas Hilman enggak pernah kasih uang. Risa cuman di kasih black card sama ATM, dan semua ada di Risa," jelas Risa.


"Huuuufff....." Hanna dan Devan saling mendesus, karena Risa dengan keanehan nya yang tidak pernah berubah.


"Lalu gaji apa lagi yang kau minta?" tanya Devan yang menahan kesal pada adiknya.

__ADS_1


"Gaji Risa selama jadi asistennya!" tegas Risa.


"Ampun deh ini anak, tapi keuangan Hilman saja semua kamu yang atur!" Cecer Devan sambil terkekeh, "Sayang aku tidak tahu seperti apa hari-hari Hilman," kata Devan pada Hanna.


Hanna mengangkat bahunya, ia juga hanya tersenyum karena adik iparnya yang lucu.


"Dengar ya Kak Dev, Risa yang atur keuangan karena Risa istri Mas Hilman. Dan kalau kerja di kantor itu bukan urusan rumah tangga dong?!" Risa ingin memperjelas pada Devan, bahwa ia benar dan tidak salah.


"Apa bedanya, bahkan uang yang berada di tangan mu jauh lebih besar nominal nya. Mengingat Hilman seorang pengusaha sukses, dan aku tahu kau baru membeli mobil baru?" tanya Devan agar Risa sadar jika apa yang di berikan Hilman jauh lebih besar dari gaji Risa.


"Iya memang," Risa mangguk-mangguk dan tidak mengelak.


"Aku tidak tahu berapa pemasukan suami mu itu perbulannya, tapi masalahnya showroom tempat kau membeli mobil itu juga milik suami mu," jelas Hilman, agar Risa tahu.


"What's......" Risa sangat terkejut mendengar penjelasan dari Devan, "Berarti dia itu benar-benar tuan Kaya," kata Risa tanpa sadar.


"Tuan kaya?" Hanna tidak tahu siapa tuan kaya yang dimaksud oleh Risa, hingga ia begitu penasaran dan ingin tahu.


Tapi Risa tidak mau bicara apapun, menurutnya itu adalah panggilan sayang nya pada Hilman. Walaupun ia geli sendiri, tapi tidak ada salahnya bukan menyayangi suami sendiri, "Lupakan saja!" Risa mengibaskan tangannya dan tidak ingin lagi membahas sampai di sana.


"Apa kau bahagia menikah dengan Hilman?" tanya Hanna.


"Kakak ipar, tolonglah jangan tanyakan itu lagi aku bosan. Kalau aku disakiti aku tidak akan menjadi istrinya sampai saat ini," jelas Risa.


"Iya kau benar, dan aku sangat lega mendengar nya. Lalu kapan kita makan malam bersama? Atau liburan bersama?" tanya Hanna.

__ADS_1


"Waw," Risa yang sudah lama tidak berlibur tentu saja tidak keberatan jika di ajak berlibur, "Tunggu sampai Mas Hilman tidak sibuk ya Kakak ipar," jawab Risa.


"Iya," Hanna mengangguk mengerti.


__ADS_2