
"Kenapa?"
Risa memasang senyum miring, saat melihat Hilman keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggang nya.
"Memangnya saya kenapa?" tanya Risa balik.
Selama ini Risa memang sudah identik dengan kecerdasaan di atas rata-rata, bahkan Mom Citra dan Dad Arsielo juga sulit untuk menghadapi kecerewetan putri bungsu mereka yang begitu di luar akal sehat mereka. Namun bagaimana dengan Hilman yang kini akan terus mendengar suara Risa yang tanpa jeda, tidak ada kata kalah untuk Risa dalam berdebat. Bahkan jika pun ia sudah kalah, maka tidak akan ada kata menyerah. Hingga semua orang benar-benar kehabisan akal dalam menghadapinya.
Hilman bertolak pinggang, dan ia menatap Risa tanpa ingin pergi terlebih dahulu. Sebab ia ingin membuat Risa mengakui jika ia adalah lelaki tampan, mungkin dengan memperlihatkan otot-otot yang keras, dan perut kotak-kotak nya pada Risa.
"Hey anda sedang apa di sana, sedang tebar pesona?" tebak Risa, "Maaf Anda bukan selera saya!" seru Risa.
Kata-kata Risa seakan membuatnya geram, baru Risa wanita yang menolak dirinya dengan terang-terangan. Bahkan kata-kata Risa yang langsung keluar dari bibirnya, dan sampai di telinga Hilman dengan sempurna.
"Dasar gila!" geram Hilman menyentil kepala Risa, "Kau pikir aku juga mau dengan mu!" jawab Hilman yang tidak mau kalah.
Sudah untuk yang kedua kalinya Hilman menyentil dirinya, bagai keluar asap tebal dari kedua telinganya. Risa kini benar-benar tidak terima. Dengan cepat ia berusaha untuk berjinjit dan ingin menyentil kepala Hilman.
"Kau pikir bisa, minum susu pertumbuhan dulu. Agar bisa tinggi," ejek Hilman sambil memegang kepala Risa.
Tangan Risa terus bersusah payah berusaha menjangkau kepada Hilman, namun sayang tubuhnya yang pendek dan kecil membuatnya sulit untuk bisa membalaskan dendam nya pada Hilman. Tapi bukankah Risa adalah wanita pantang menyerah? Dan kali ini pun sama, ia terus berjinjit namun tanpa sengaja tangan kiri Risa yang menggantung di bawah memegang handuk yang melilit di pinggang Hilman. Dan handuknya terjatuh.
"Aaaaaaa!!!!" teriak Risa saat melihat kebawah.
Hilman langsung berjongkok dan mengambil handuknya, dan kembali melilitkan nya di pinggang, "Biasa saja!" kesal Hilman dan kembali menyentil kepala Risa, setelah itu ia langsung menuju almari.
"Sakit!!!" seru Risa kesal, "Mata suci ku sekarang terkontaminasi!" kesal Risa dan ia merasa geli saat melihat benda aneh barusan secara langsung.
__ADS_1
"Tapi kau suka kan!" tebak Hilman.
"Dasar gila!"
Risa menghentak kaki, kemudian ia cepat-cepat masuk kedalam kamar mandi. Namun tiba-tiba matanya melihat benda aneh, kain dengan dua bolongan kecil. Dan satu bolongan besar untuk jalan memasukkan melalui pinggang, dan warnanya hitam. Apa lagi kalau bukan dalam Hilman yang sudah basah, mungkin barusan ia bawa untuk mandi. Dengan amarah yang semakin membuncah Risa keluar dari kamar mandi dan melihat Hilman yang sudah berdiri di depan cermin sambil memakai minyak rambut.
"Keluarkan dalaman anda itu tuan kaya, kenapa anda jorok sekali," dada Risa naik turun, dan tangannya menunjuk pintu kamar mandi yang terbuka.
Hilman membuang nafas dengan kasar, ia memutar lehernya ke kanan dan ternyata Risa kini hanya melilitkan handuk saja, "Maunya apa wanita ini, apa dia sudah tidak tahan," gumam Hilman dengan mata yang fokus pada kedua gundukan Risa yang setengahnya berada di luar.
Risa sadar Hilman terus saja menatap dirinya, tapi ia tidak mengerti dengan tatapan Hilman bermaksud apa, "Tuan Kaya! Adakah anda mendengar saya yang berteriak!"
"Brisik!" jawab Hilman kesal.
"Itu Tuan kaya tolong dalamnya disingkirkan. Saya mau mandi juga!!" kata Risa lagi setelah berteriak, bukan tidak sopan. Tapi keduanya memang selalu terlibat selisih paham, bahkan mungkin sulit untuk menemukan jalan damai.
"Tuan kaya!!!" seru Risa lagi.
"Mandi saja, tidak usah pedulikan benda itu!" jawab Hilman.
"Singkirkan dalaman yang meresahkan itu, saya jijik!" kata Risa lagi.
Hilman merasa memiliki cara untuk menggoda Risa, ia kembali menatap Risa, "Meresahkan? Atau kau yang terbayangkan setelah melihat isinya barusan?" kata Hilman menatap Risa dengan penuh intimidasi.
Mata Risa seketika melebar, dan ia masih merasa geli setelah melihat benda yang di maksud oleh Hilman. Tapi Risa tentu saja tidak mau jadi bahan ejekan, hingga ia menutupi perasaannya yang sebenarnya sangat malu, "Alah, enggak usah sok. Kecil itu," Risa menunjukkan jari kelingkingnya, seolah seperti ia sudah tahu ukuran beberapa milik pria, "Modelnya juga lemes kayak kucing tidur!" kata Risa lagi dengan bodohnya, "Sial, apa coba yang di bahas," batin Risa yang sebenarnya tidak terima dengan perkataan nya barusan.
Glek!
__ADS_1
Hilman meneguk saliva saat mendengar kata-kata Risa, bahkan ia dengan refleks langsung memegang pusaka nya tanpa sadar.
"Kalau ngomong jangan asal!" kesal Hilman.
"Kecil, lembek, pendek!" kata Risa lagi berusaha membuat Hilman merasa terhina, "Ampun dah, mulut gue," batin Risa lagi, "Aduh....udah, sekarang tolong singkirkan dalaman itu!" kata Risa yang mengembalikan topik pembicaraan mereka sebelumnya.
Hilman benar-benar yakin jika Risa sudah sering bersama pria-pria di luar sana, dan ia merasa tidak ada yang istimewa lagi lagi Risa. Tapi justru anehnya Hilman malah penasaran, "Cepat mandi dan buatkan aku kopi!"
"Saya bukan babu anda kalau di rumah, paham!" Risa dengan terpaksa masuk kembali ke dalam kamar mandi, walaupun ia merasa geli dengan dalaman bahkan isi nya yang ia lihat barusan tetap saja Risa berusaha untuk mandi.
Sedangkan Hilman sangat kesal, karena ia bukan hanya haus kopi. Tapi yang lainnya juga, namun Risa tidak mau membuat secangkir kopi pun untuk dirinya.
"Ibu sedang apa?" Hilman melihat Ibu Sintia tengah berada di dapur.
Ibu Sintia yang tengah berfokus pada masakan nya kini mulai memutar leher, ia tersenyum melihat putranya.
"Masak, kamu mau kopi?" tebak Ibu Sintia yang sangat tahu apa tujuan Hilman menuju dapur.
Hilman mengangguk, ia duduk di kursi meja makan dan menyeruput kopi buatan Ibu Sintia. Namun anehnya rasa kopi buatan Ibu Sintia sangat berbeda dengan kopi buatan Risa saat di kantor barusan.
"Sial!"
Hilman sangat kesal sekali pada Risa yang tidak mau membuat kopi untuknya, bahkan ia bukan hanya kesal pada Risa. Tapi pada dirinya yang tiba-tiba merasa kopi buatan Risa sangatlah nikmat.
"Ibu ku sayang!!!" seru Risa dan langsung melewati Hilman begitu saja, dan dengan cepat Risa memeluk Ibu Sintia.
"Anak Ibu, udah mandi ya?" tanya Ibu Sintia.
__ADS_1
"Hehehe....." Risa terkekeh mendengar pertanyaan Ibu Sintia, "Apa lihat-lihat!" kesal Risa saat melihat Hilman terus melihatnya.