Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Lanjutkan di kamar


__ADS_3

Agatha dari tadi merasa aneh, karena melihat mobil Devan yang terparkir di depan rumah dalam waktu yang cukup lama. Karena ia melihat Devan tidak kunjung turun, rasa penasaran kian semakin besar. Hingga kaki Agatha menuntun untuk berjalan melihat apa yang tengah terjadi di sana, dengan gerakan cepat Agatha langsung membuka pintu mobil.


Hanna dan Devan yang tengah bercumbu dengan mesranya mendadak panik, dengan cepat Hanna mendorong dada bidang Devan. Dan Hanna juga bergegas turun dari mobil, dengan gerakan cepat dan langkah kaki yang lebar Hanna langsung menuju kamar.


"Papa," kata Devan dengan suara yang dibuat senormal mungkin, karena hasrat yang hampir saja naik sempurna tiba-tiba harus redam dalam sekejap saja. Karena kehadiran Agatha yang tiba-tiba, rasa kesal bercampur malu beradu menjadi satu.


Agatha masih diam dalam wajah datarnya, sebenarnya ia masih sangat terkejut saat memergoki Hanna dan Devan yang tengah saling bertukar saliva. Bahkan tangan Devan yang tengah merems gundukan Hanna dari luar, sungguh hal itu sangat di luar akal sehat Agatha.


"Keluar!" titah Agatha tanpa ingin di bantah.


Devan mencobanya memberanikan diri melihat wajah Agatha, dan ia sangat tahu seperti apa wajah Agatha saat ini. Wajah dengan kemarahan yang tertahan, sebagai seorang pria yang bersalah dan harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu nya. Ia dengan berani turun dari mobil, dan ikut masuk bersama dengan Agatha yang berjalan di depannya.


Devan yang dulunya merasa nyaman bila berada di rumah itu kini seketika merasa asing, karena tatapan Agatha yang penuh intimidasi hingga membuatnya mati-matian berusaha untuk tetap tenang.


"Papa ternyata di sini?" Sarah yang terbangun, melihat Devan dan Agatha ada di ruang keluarga. Ia ikut duduk di samping Agatha, namun tidak lama berselang ia melihat Devan juga duduk saling berhadapan dengan dirinya, "Lho, Dev. Kamu juga di sini Nak?" tanya Sarah terkejut, "Kamu mau menginap di rumah Mama?" tebak Sarah dengan bahagia, "Mama senang sekali, tapi kamu tidurnya di kamar tamu ya, atau di kamar Adam," tambah Mama Sarah lagi dengan bahagia.


"Di kamar Hanna saja, kamar Hanna itu adalah bekas kamar mu dulu!" timpal Agatha.


Deg.


Jantung Devan seketika berdetak kencang, karena kata-kata Agatha yang seakan menyindir dirinya. Akan tetapi Devan hanya diam, bagaimanapun ia memang sangat bersalah, sebab ia dan Hanna memang bukan lagi sepasang suami istri.


Sarah langsung tercengang, ia menatap Papa Agatha dengan bingung. Bahkan ia sangat terkejut dengan kata-kata Agatha barusan, tapi Sarah menganggap jika Agatha salah bicara dan ia berusaha tetap memaklumi nya.


"Kan Hanna yang menempati kamar itu Pa," ujar Mama Sarah dengan nada yang sangat lembut.


Agatha menatap Sarah, lalu beralih menatap Devan kembali, "Kenapa memangnya, biarkan saja mereka tidur berdua di kamar yang sama," jawab Agatha terus menatap Devan, tapi padahal ia menjawab pertanyaan Sarah.


"Papa jangan aneh, mereka sudah bukan suami istri," kesal Mana Sarah.


Agatha tersenyum miring menatap Mama Sarah, kemudian ia kembali menatap Devan, "Devan!" panggil Agatha dengan suara yang berat dan tertahan.

__ADS_1


Devan kembali menatap Agatha, tanpa berani berbuat apa lagi berbicara.


"Ayo lanjutkan yang tadi di kamar kamu bersama Hanna," ucap Agatha dengan sangat santai, namun masih ada ketegasan di dalam nya.


"Papa ngomong apa sih," Mama Sarah terlihat semakin geram dengan setiap kata yang keluar dari mulut Agatha, sebab ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Biarkan saja Ma, dari pada mereka melakukan hal aneh-aneh di dalam mobil!" papar Agatha.


"Melakukan aneh-aneh?" tanya Mama Sarah bingung.


Devan meneguk saliva, karena ternyata Agatha melihat dengan jelas apa yang barusan ia lakukan bersama dengan Hanna.


"Devan?" tanya Mama Sarah penasaran.


Devan ingin sekali langsung pergi, tapi ia tidak bisa karena itu sangat tidak sopan sekali. Apa lagi Agatha dan Mama Sarah adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Tapi tetap bertahan di sana juga sangat menyudutkan dirinya.


"Kapan kamu mau menikahi Hanna lagi?!" tanya Agatha dengan pasti.


"Papa, itu bukan urusan kita," timpal Mama Sarah dengan cepat karena ia memang tidak mau ikut campur lagi dalam urusan antara anak angkat dan juga anak kandungnya, karena ia takut menyakiti hati keduanya. Ataupun membuat keduanya menjauhi dirinya, Sarah tidak bisa jauh dari Devan dan Hanna. Bahkan sebenarnya di hati kecil Sarah posisi Devan jauh lebih istimewa karena dari kecil ialah orang yang membesarkan Devan.


"Tapi mereka berdua barusan bercumbu mesra di dalam mobil, kalian berdua sama-sama dewasa. Kalau sudah tidak tahan kenapa tidak menikah lagi!" tanya Agatha.


Mama Sarah terkejut mendengar kata-kata Agatha, "Pa, maksud nya apa?" tanya Mama Sarah yang berusaha untuk mendapatkan penjelasan yang lebih baik.


"Devan jelaskan pada Mama mu, apa yang akan terjadi jika tadi Papa tidak cepat memergoki kalian!!"


"Maaf Pa, Ma," Devan mencoba memberanikan diri untuk berbicara, "Devan akan menikah lagi dengan Hanna, kalau Hanna setuju," kata Devan dengan susah payahnya.


"Kalau kalian tidak menikah lagi, tolong jangan temui Hanna lagi. Kalian berdua sangat keterlaluan!" tegas Agatha dan ia segera berdiri dari duduknya.


Devan mulai panik dengan ancaman Agatha, karena kini Agatha melarang nya menemui Hanna. Tapi jika ia meminta Hanna rujuk dengan nya lagi apakah Hanna bersedia? Sungguh Devan masih di landa kebingungan. Sebenarnya ia ingin menciptakan suasana yang nyaman, hingga ia kembali menjebak Hanna masuk dalam perangkap cinta nya, setelah itu ia tidak akan pernah melepaskan Hanna. Bahkan ia hanya ingin membahagiakan Hanna, namun bila caranya terpaksa begitu ia tidak yakin Hanna akan bahagia.

__ADS_1


"Papa!!!" seru Davina.


Semua mata mulai tertuju pada Davina.


"Anak Papa belum bobo?" tanya Devan sambil memeluk Davina.


Davina cengengesan, "Pengen bobok sama Papa, sama Mama," jawab Davina dengan pasti.


Devan langsung meneguk saliva, malam ini semua benar-benar sangat menyudutkan dirinya.


"Iya, sana bawa Papa ke kamar. Davi bobo sama Papa dan Mama, bulan depan Davi juga bakalan dapat hadiah!" timpal Agatha.


"Hadiah apa Opa?" tanya Davina bingung dan penasaran.


"Adik bayi," jawab Agatha sambil melihat Devan, kemudian ia pergi begitu saja di susul oleh Mama Sarah.


"Papa ngomong nya kok begitu?'' tanya Mama Sarah setelah keduanya masuk ke dalam kamar.


"Biarkan saja, biar Devan bisa rujuk dengan Hanna. Kasihan juga Davina sama Derren, di tambah lagi mereka berdua masih saling menginginkan, kalau tidak Papa pergoki tadi di mobil mungkin sekarang Papa sudah melihat mobil goyang dari balkon," jelas Papa Agatha sambil naik ke atas ranjang.


Sedangkan Mama Sarah masih mencoba mencerna penjelasan dari Papa Agatha, "Papa serius?"


"Iya, besok Papa akan membicarakan pernikahan mereka. Papa takut nanti mereka kelepasan, usia saja yang sudah tua. Tapi tidak ada yang dewasa!" kesal Agatha.


Sarah tersenyum mendengar penjelasan Agatha.


"Mama Kenapa?"


"Bahagia bentar lagi mau nambah cuci sepertinya."


"Ahahahaha....." keduanya tertawa lepas karena jawaban Sarah yang di luar logika Papa Agatha.

__ADS_1


__ADS_2