Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Kerinduan


__ADS_3

"Ayah?!!!"


"Anak Ayah, kenapa kamu nakal. Tadi padahal


sudah janji, boleh menemui Mama tapi tidak boleh nakal," kata Adam memarahi Derren.


"Hehehe....."Derren tersenyum dan menunjukan gigi ompong nya.


"Mana Mama, kita pulang sekarang. Oma di rumah udah nungguin," ujar Adam.


"Mama ayo Oma nungguin di rumah!!" seru Derren memanggil Hanna.


Hanna yang masih berdiam di hadapan Devan mulai melihat Derren, "Iya," kata Hanna, "Aku permisi Mas," pamit Hanna.


Adam kini beralih menatap Hanna, dan ia menatap seorang pria yang tengah menatap dirinya dengan jarak yang cukup jauh.


"Kak Dev," kata Adam kemudian ia berjalan mendekati Devan, perlahan Derren turun dari gendongan Adam. Dan Adam menatap Devan begitu juga sebaliknya, dengan cepat Adam langsung memeluk Devan. Walaupun keduanya bukan saudara kandung, tapi tetap saja keduanya di besarkan bersama hingga keduanya pun sangat saling menyayangi.


"Kau sudah menjadi dokter kandungan?" tanya Devan, sebab saat beberapa tahun lalu Adam masih menjadi dokter umum.


"Sudah Kak," Adam mengangguk, "Mama sakit Kak, dan itu karena Mama sangat merindukan mu," tutur Adam.


"Mama sakit?" tanya Devan terkejut.


Adam mengangguk, "Aku memang anak yang di lahirkan oleh Mama, tapi Mama jauh lebih menyayangi mu dari pada aku. Kau tahu Kak Dev?" Adam tersenyum miring menatap Devan dan menjeda sejenak ucapannya, "Mama sanggup tidak melihat ku sampai berhari-hari, tapi tidak dengan mu. Mama selalu menangis karena merindukan mu," jelas Adam, "Andai kau tidak mau kembali ke rumah tidak apa, tapi temui Mama sebentar saja," pinta Adam.


"Iya, Kakak akan menemui Mama. Nanti," jawab Devan.


Adam mengangguk, dan ia menepuk pundak Devan, "Derren, ayo kita pulang. Oma udah nungguin," Adam memegang lengan Derren dan keduanya berjalan keluar dengan Adam yang memegang lengan Derren.


"Aku juga pamit Mas," kata Hanna berpamitan.


"Hanna," Devan dengan cepat memegang lengan Hanna.

__ADS_1


Hanna menatap tangan Devan yang memegang lengannya.


"Maaf," Devan menyadari kesalahannya, "Aku tidak bermaksud," kata Devan lagi, "Aku masih bisa bertemu anak ku seperti dulu?" tanya Devan.


Hanna tersenyum dan mengangguk, "Aku mantan istri mu Mas, tapi tidak dengan anak-anak. Karena tidak pernah ada mantan anak, dulu dan sekarang sama saja, kau boleh datang kapan saja," ujar Hanna tersenyum lembut, "Aku permisi," pamit Hanna dan kini ia benar-benar pergi.


Devan melihat Hanna yang perlahan berjalan semakin menjauh, ia melihat Hanna sampai menghilang dari pandangannya. Kemudian Devan mulai melanjutkan perjalanan nya menuju kamar khusus di dirinya.


Devan kini membersihkan diri nya, ia merasa lebih segar setelah membersihkan diri. Kini tangan Devan tengah mengeringkan rambut nya dengan handuk, ia duduk di sisi ranjang hingga tiba-tiba wajah Hanna kembali melintas di depan matanya.


"Apa dia sudah menikah lagi?" gumam Devan yang bertanya-tanya.


Clek.


Pintu terbuka dan Farhan yang berada di sana, ia melihat Devan yang tengah menatap nya.


"Bos, apa ingin rapat sekarang?" tanya Farhan.


"Kita ke rumah Mama," jawab Devan.


Mobil terparkir di sebuah rumah mewah, bernuansakan elegan dengan begitu memanjakan mata. Rumah tempat nya di besarkan, ada kerinduan di sana.


Perlahan Devan melangkah turun, ia kini berada di depan teras rumah. Dan di teras itu cukup banyak kenangan, antara ia dan juga Mama Sarah.


"Devan makan Nak," Sarah mengejar Devan yang tengah berlari, sedangkan ia tengah di suapi makan oleh Mama Sarah.


"Mama ayo kejar Devan!!!" seru Devan dengan bahagia.


"Nanti kalau Mama tangkap, kami Mama gigit ya," kata Mama Sarah dengan gemas.


"Bos!" pundak Devan di tepuk oleh Farhan, hingga Farhan tersadar akan lamunannya yang begitu indah.


"Iya," Devan mengangguk dan ia langsung saja masuk.

__ADS_1


"Tuan Dev?" seorang Art terkejut melihat kedatangan Devan yang sudah lama di rindukan oleh Sarah.


"Di mana Mama?" tanya Devan tanpa basa-basi.


"Nyonya besar ada di kamarnya tuan," kata Art tersebut, "Biar saya beritahu."


"Tidak usah, saya saja yang ke sana," kata Devan.


"Baik tuan."


Devan mulai kembali melangkahkan kakinya, ia menuju kamar wanita yang sangat ia cintai.


Sarah tengah memangku Davina, keduanya terlihat tersenyum karena kelucuan Davina. Kini usia Davina sudah empat tahun, dan ia tumbuh dengan segala kepintaran nya.


"Om!!!" seru Davina, yang melihat Devan berdiri di depan pintu kamar.


Devan tersentak saat Davina memanggilnya dengan kata Om, hati Devan seakan tertusuk ribuan belati hingga luka itu sangat dalam sekali.


"Devan," bibir Sarah bergetar saat melihat Devan yang kini berdiri di hadapan nya, tangan Sarah mulai menurunkan Davina dari pangkuannya. Ia turun dari ranjang dan berjalan pelan mendekati Devan, rasanya Sarah merasa ini hanya mimpi. Mungkin karena ia terlalu merindukan Devan putra kesayangannya nya, namun saat ia berdiri di hadapan Devan ia merasa ini nyata. Sebab bayangan wajah Devan tidak juga menghilang, tangan Sarah bergerak menangkup wajah Devan. Bibirnya ingin berbicara tapi tidak bisa, karena ia masih takut jika ini hanya mimpi seperti hari-hari sebelumnya, "Devan, apa ini nyata. Katakan kalau ini bukan mimpi," kata Sarah penuh harap.


Devan mengangguk, dengan cepat ia memeluk Sarah. Devan sangat merindukan Sarah, sejak kecil sampai kini ia terbiasa dengan Sarah yabg selalu ada di sampingnya.


"Hiks....hiks....hiks...." tangis Sarah pecah, saat menyadari jika ternya ini adalah nyata yang begitu memilukan. Sarah sudah terlalu lama merindukan saat-saat ini, saat-saat Devan kembali menemuinya, "Jangan lagi hukum Mama Dev, Mama sudah tidak sanggup," lirih Sarah.


Semenjak kepergian Devan, Sarah memang selalu sakit. Sebab ia merasa semua yang terjadi adalah karena dirinya, bahkan Sarah sangat merasa bersalah pada kedua cucunya. Sebab ialah yang menyebabkan akhirnya Devan dan Hanna bercerai, padahal sudah jelas keduanya saling mencintai.


"Kamu tidak akan pergi lagi kan Nak?" tanya Sarah takut bila Devan kembali pergi meninggalkan dirinya.


"Maaf ya Ma, Devan juga sayang sama Mama," ujar Devan dan ia memeluk Devan dengan penuh kehangatan.


"Jangan pergi lagi....hiks.....hiks.....Mama mohon."


Devan semakin memeluk erat Sarah, ternyata apa yang di katakan oleh Adam benar. Karena Sarah kini memang tengah sakit bahkan wajahnya terlihat sangat pucat.

__ADS_1


"Devan enggak akan pergi lagi, tapi Mama harus janji untuk sembuh," kata Devan.


"Janji ya Nak jangan pergi lagi," pinta Sarah lagi yang benar-benar tidak ingin di tinggalkan Hanna.


__ADS_2