
"Lepas.....!"
Hanna terus berusaha melepaskan tangan Devan, tapi tidak bisa yang ada Devan malah mendorong nya ke atas ranjang. Dan dengan cepat menindih tubuh nya.
"Lepas sialan....!" Hanna terus berusaha untuk melepaskan dirinya, tapi tidak bisa Devan terlalu kuat untuk Hanna.
Tidak perduli dengan perlawanan yang di lakukan oleh Hanna, Devan terus saja melakukan apa yang ia ingin lakukan pada Hanna hingga tiba-tiba Hanna meludahi wajah Devan. Dan itu di luar dugaan Devan.
Cuihh...
"Lepas!" kata Hanna sambil tangannya bergerak untuk melepaskan dirinya.
"Kau!" Devan seakan semakin tersulut emosi ia seakan gelap mata dan berubah menjadi iblis, "Bukankah kau masih istri ku? Bukankah dulu kau sangat suka bila ku sentuh?!"
Hanna yang masih di bawah Kungkungan Devan tersenyum miring, "Itu dulu sebelum aku tahu ternyata kau iblis yang tidak punya hati, dulu itu sebelum kau menunjukan siapa diri mu yang sebenarnya...." jawab Hanna tanpa rasa takut, "Aku sudah tidak mau jadi istri mu lagi, karena manusia tidak pantas bersanding dengan iblis! Pria iblis seperti mu hanya cocok dengan sesama iblis!" tegas Hanna tanpa ragu.
Jangan tanyakan seberapa hancur hati Hanna saat ini, karena rasanya itu sangat sakit sekali. Sakitnya melebihi sakit saat tersayat belati, dia pria yang sangat ia cintai kini memperlakukannya bagai seorang hewan. Dia Devan pria yang menikahinya satu tahun silam tega menyakiti dirinya dalam sekejap saja, sakit nya jangan tanya kan lagi. Karena ini sangat, sangat, sangat sakit sampai ke uluh hati.
"Maksud mu aku iblis?!" mata Devan memerah, ia sungguh geram pada Hanna saat ini.
"Masih bertanya!!" jawab Hanna sinis.
"Rasakan apa yang akan iblis ini lakukan!" kata Devan.
__ADS_1
Dalam sekejap Devan benar-benar menindih tubuh Hanna, tidak ada yang bisa di lakukan Hanna selain mencoba berlari dan menghindar tapi semua sia-sia. Devan seakan seorang yang tengah kehausan dan kelaparan, ia meraup apa yang bisa ia raup tanpa bisa di cegah. Hingga akhirnya Hanna kehabisan tenaga, ia diam dengan nafas yang naik turun. Hanna melempar pandangan nya kearah yang lain, perasaan benci seakan begitu besar untuk Devan.
Sentuhan Devan yang dulu serasa menghanyutkan kini sudah tiada lagi, semua seakan tidak ada lagi artinya seiring dengan sejuta luka yang di torehkan oleh Devan. Silahkan Devan menguasai dirinya sesukanya, tapi tidak ada sedikitpun Hanna menikmatinya. Hingga akhirnya Devan menuntaskan hasrat nya, dan ia kembali memakai pakaiannya.
"Apa aku terlalu menarik sampai kau tidak bisa melupakan aku?!" kata Hanna dengan senyum sinis, "Kalau kau masih punya harga diri ceraikan aku!" pinta Hanna.
Mendengar apa yang di katakan oleh Hanna Devan merasa kesal, "Apa kau sedang merendahkan aku?!"
Hanna duduk di ranjang, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, "Tidak tuan Devan, anda yang merendahkan diri anda sendiri....bahkan di saat anda sudah menyakiti saya anda masih mendatangi saya layaknya suami istri!" tegas Hanna.
"Aku akan membayar mu, tidak usah takut!" Devan tersenyum meremehkan Hanna, ia mengambil dompetnya dan mengambil uang dolar dari dalamnya. Setelah itu Devan melemparkannya pada wajah Hanna, "Itu bayaran mu! Tidak usah sombong karena kau hanya pelampiasan!" pungkas Devan, lalu pergi begitu saja meninggalkan Hanna.
Brak!
Suara pintu yang di banting oleh Devan, kini tertutup rapat.
"Hiks....hiks....hiks....." andai saja Hanna bisa memutar waktu, ia ingin memperbaiki keadaan ini dengan tidak menerima lamaran Devan saat meminangnya. Kata cinta itu semua semu, tidak ada yang nyata, "Aaaaaa....." teriak Hanna penuh benci, tidak pernah bermimpi terpuruk karena luka yang diberikan oleh orang yang sangat ia cintai, tidak pernah terbesit akan merasakan hinaan dari suami yang sangat ia puja selama ini.
Clek.
Suara pintu, dan mata Hanna yang merah menatap arah pintu. Di sana ternyata Risa yang masuk, Hanna tidak tahu apa tujuan Risa masuk ke kamarnya. Yang jelas ia tidak bisa memberikan penjelasan jika Risa bertanya mengapa ia kini hanya tertutup selimut saja.
Perlahan kaki Risa berjalan mendekati Hanna, ia duduk di sisi ranjang, "Aku tahu kok Hanna, aku tau semua tentang kamu," ujar Risa penuh rasa iba.
__ADS_1
Hanna menutup matanya, dan air mata kembali menetes di pipinya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Risa saat ini.
"Aku tahu dari Farhan, dan aku akan ada buat bantu kamu," ujar Risa lagi dengan wajah serius, namun tatapan matanya terlihat begitu tulus.
Hanna tidak tahu untuk kali ini ia bisa mempercayai Risa atau tidak, karena orang yang sangat ia cintai saja bisa melukainya apa lagi Risa yang hanya orang asing.
"Aku tahu kamu ragu sama apa yang aku ucapin, tapi aku tulus kok Hanna...." jelas Risa lagi, karena ia memang kasihan pada Hanna. Apa lagi saat Farhan menjelaskan semuanya, dan Farhan juga meminta nya untuk menjadi teman Hanna.
Hanna menatap manik mata Risa, ia tidak tahu apa yang ini benar atau tidak. Tapi kehadiran Risa memang sangat ia butuh kan, dengan cepat Risa mengangkat kedua tangannya dan Hanna memeluk Risa dengan erat.
"Nangis aja, luapkan semua kesedihan mu......" Risa menggosok punggung Hanna, ia benar-benar ingin meringankan sedikit beban Hanna.
"Hiks....hiks...hiks...." Hanna menangis sejadi-jadinya, ia benar-benar mengikuti apa yang di sarankan oleh Risa. Entah ini benar atau salah, tapi Hanna merasa sedikit lebih baik, "Aku nggak tau Risa, entah ini benar atau nggak....tapi aku di sini untuk anak ku..." kata Hanna perlahan melepaskan pelukannya.
Keduanya saling tatap, Hanna menunduk dan ia hannya meremas selimut nya.
"Iya aku ngerti kok, kamu harus kuat dong....kalau kamu nggak kuat gimana dengan Derren, kamu tahu Hanna Nyonya Diana itu tidak tulus menyayangi Derren....aku bahkan tidak pernah melihatnya menggendong Derren setelah hari saat sukuran satu bulan lalu," jelas Risa. Ia benar-benar ingin menguatkan hati Hanna, agar tetap kuat menghadapi masalah nya.
"Kamu serius Risa?" tanya Hanna.
Risa mengangguk, dan ia berbisik di telinga Hanna, "Aku bakalan bantu kamu bawa Derren," kata Risa.
Hanna menatap Risa penuh tanya, "Kamu yakin?"
__ADS_1
"Iya, tapi harus pelan-pelan karena di setiap rumah ini sudah di perketat penjagaan nya...dan disetiap sudutnya mungkin ada cctv tersembunyi," kata Risa dengan suara pelan.
Hanna mengangguk mengerti, "Makasih ya Risa, aku harap kita bisa berteman dengan baik..." Hanna bersyukur, walau pun ia masih terluka dengan Devan. Tapi masih ada Risa yang mau menjadi temannya.