
Devan sedang duduk di kursi kerja nya, tapi otaknya tanpaknya tidak bekerja dengan baik untuk hari ini.
"Gelisah sekali bos?" tanya Farhan yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik sang bos yang terlihat tidak tenang.
Devan langsung melihat Farhan yang tengah duduk di sofa, tapi sedetik kemudian ia mengambil ponsel dan mencari kontak Hanna.
Hanna yang juga tengah berkutat dengan laptop merasa tidak fokus, entah mengapa mulut tidak sejalan dengan perasaan. Rasanya ia selalu memikirkan Devan.
Ting.
Ponsel Hanna berdering, dengan cepat ia mengambilnya dan membuka pesan tersebut.
"Mas Devan," gumam Hanna, kemudian ia mulai membuka pesan tersebut.
[Sayang,] Mas Devan.
"Ya ampun," Hanna cekikikan karena merasa geli dengan pesan yang di kirimkan oleh Devan. Tapi Hanna tidak membalas, ia kembali meletakan ponselnya dan kembali bekerja. Namun ponselnya kembali bergetar dan itu panggilan.
"Halo," jawab Hanna setelah panggilan terhubung.
"Sedang apa?" tanya Devan di seberang sana.
Bisa di bayangkan orang kasmaran itu seperti apa? Seperti puber kedua yang terasa geli-geli sedap. Usia tidak masalah, bahkan anak sudah dua. Tapi tetap saja kedua seperti remaja yang tengah kasmaran.
"Kerja," jawab Hanna sambil tersenyum, beruntung itu hanya panggilan suara. Andai saja itu Videocall, sudah pasti Devan melihat dengan jelas seperti apa wajah Hanna yang memerah saat ini.
"Kerja?" tanya Devan lagi.
"Em," jawab Hanna seolah cuek, tapi percayalah hati sedang bergetar bahkan ingin keluar dari sarangnya, "Mas sedang apa?" tanya Hanna kembali.
"Sedang memikirkan mu," jawab Devan.
Glek.
Seperti salah bertanya, tapi itulah nyatanya jawaban Devan membuat sekitarnya terasa berbunga seketika, "Mas apasih, udah tua. Anak juga udah dua!" kata Hanna seolah kesal.
"Tidak ada rencana menambah tiga?" goda Devan.
Dengan cepat Hanna meneguk air mineral, agar tenggorokan nya tetap terasa baik-baik saja.
"Karena Mas ingin satu lagi seperti Davina, biar tambah heboh di dalam rumah," seloroh Devan, lagi.
"Ada-ada saja," jawab Hanna yang tidak tahu harus mengatakan apa.
"Sayang?" panggil Devan dengan suara yang lembut.
"Ya."
"Check in hotel yuk," ajak Devan.
"Mas apasih," kata Hanna dengan wajah yang semakin memerah seperti kepiting.
__ADS_1
"Ya kenapa, karena tadi juga gagal. Terus nanti malam juga Derren sama Davina tidur bareng kita. Jadi kapan dong Mas di manja," keluh Devan.
Hanna merasa arah pembicaraan Devan semakin menyimpang, dan ia mulai merasa tidak nyaman.
"Mas, aku kerja dulu ya."
"Tunggu dulu, Mas suami mu lho Hanna. Kamu tidak kasihan kah setelah lama mati suri?" tanya Devan di seberang sana dengan suara melas.
"Mas apasih!"
"Mas jemput," Devan langsung mematikan panggilan sepihak, karena ia ingin menjemput Hanna.
Semangat yang menggebu seakan menutupi tuanya usia yang sudah melewati kepala tiga, dengan hati yang berbunga kini Devan sampai di kantor milik keluarga Agatha. Dan ia langsung masuk saja ke ruangan Hanna, atau ruangan yang dulunya ia miliki.
Hanna langsung melihat pintu yang terbuka, dan siapa lagi di sana kalau bukan pria tinggi gagah dengan jambang tipisnya.
"Mas ngapain?" tanya Hanna panik.
"Jemput istri," jawab Devan to the point.
"Tunggu dulu, aku sedang banyak pekerjaan," tolak Hanna secara halus.
"Baiklah," Devan berdiri di samping kursi yang di duduki Hanna, dan memeriksa komputer milik Hanna, "Tidak begitu banyak, dan ini lima menit juga selesai," Devan mengambil alis komputer Hanna dan setelah hampir lima menit ia tersenyum, "Selesai sayang! Ayo kita buat adik untuk kedua anak kita," kata Devan.
"Mas ish, ngomong enggak di filter!" kesal Hanna bercampur malu, "Kenapa sekarang Mas tidak punya malu," geram Hanna, karena dulu Devan yang pendiam kini berubah banyak bicara.
"Agar kau tidak lagi salah paham!" jawab Devan enteng.
"Tapi kan enggak sampek ngomong begitu juga!"
"Mas hiks....hiks....hiks....!!!" Hanna langsung menangis karena Devan terus saja menggoda dirinya.
"Hehehe.....kau menggemaskan sekali, sikap malu-malu tapi mau mu itu tidak pernah berubah," ujar Devan sambil terkekeh.
"Sok tahu!"
"Tahu, tahi lala di bagian inti mu saja aku masih ingat. Mungkin ukurannya juga aku bisa menggambarkan di sini," tangan Devan mengambil kertas dan sebuah bolpoin, dan ia mulai membuat sebuah titik di sana, "Kurang lebih seperti ini, benar atau salah," Devan memberikan nya pada Hanna.
Hanna malah dengan bodohnya melihat kertas itu, dan itu membuat gelak tawa Devan pecah.
"Ahahahhaha....." Devan tertawa melihat exspresi kesal Hanna.
"Mas ish...." Hanna bangun dari duduknya, ia mengambil sebuah map dan langsung memukuli Devan.
"Ahahahhaha....." Devan masih terus menertawakan Hanna, karena merasa lucu sekali.
"Diam!!!" seru Hanna.
"Iya," dengan terpaksa Devan diam, padahal ia masih ingin tertawa karena kelucuan istrinya.
"Ish....kok masih senyum, diam!!" rengek Hanna lagi.
__ADS_1
"Iya ini udah diam, tapi gambar Mas tadi benarkan?" tanya Devan di selingi tawa kecil.
"Enggak!" ketus Hanna.
Devan mengangkat sebelah alisnya, "Benarkah?" tanya Devan lagi dengan ide konyol nya.
"Salah!" jawab Hanna yang juga tidak ingin kalah.
"Coba kita buktikan!"
"Iya ayo!" tantang Hanna, namun sesaat kemudian Hanna sadar dengan maksud Devan, "Mas....hiks....hiks.....hiks...." Hanna kembali menangis setelah menyadari maksud Devan.
"Hehe.....untuk membuktikan nya maka harus di buka sedikit saja," celetuk Devan.
"Enggak....hiks...hiks...hiks...." Hanna benar-benar menangis, karena tidak kuasa dengan godaan Devan.
"Hahaha.....untuk membuktikan apakah aku tidak salah."
"Enggak!!!"
"Sedikit saja!"
"Enggak," Hanna cepat-cepat mengambil kertas dengan gambar aneh di atasnya, kemudian merobek nya.
Shrek.... Shrek....
Kertas itu terbelah menjadi beberapa bagian, dan Hanna langsung membuang nya.
"Tenang, Mas masih bisa menggambar nya," seloroh Devan lagi.
"Mas udah, Hanna udah enggak kuat," pinta Hanna dengan melas, berharap Devan tidak lagi mengejek dirinya.
"Sama sayang, Mas juga udah enggak tahan. Makanya check in hotel yuk," seloroh Devan lagi.
"Males!" kesal Hanna dan ia langsung menghentakkan kakinya, lalu berpindah duduk di sofa.
Devan tersenyum dan menyusul Hanna, ia duduk di sebelah istrinya.
"Apasih dekat-dekat," kesal Hanna.
"Kenapa?" tanya Devan sambil terkekeh, bahkan tangannya yang berkeliaran tidak jelas.
"Jauh-jauh!" usir Hanna lagi.
"Ya ampun Devan, Hanna!!!" kesal Mama Sarah yang baru saja datang.
"Mama," Hanna dan Devan langsung berdiri.
"Kalian berdua kalau mau mesra-mesraan lihat tempat dong. Sana pulang, enggak bisa di rumah, hotel kan banyak! Enggak bisa bayar hotel di semak-semak sana!" kesal Mama Sarah, karena ia tanpa sengaja melihat Devan yang memeluk Hanna. Dan ia takut malah apa yang di ceritakan Davina pagi tadi malah ia lihat juga, "Udahlah Mama pulang aja, ini rantang isinya makanan. Nanti kalau lapar makan, habis makan bisa lanjutkan," geram Mama Sarah lalu ia kembali keluar.
"Semak-semak?"
__ADS_1
*
Banyak Vote author lanjut.