Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Diary


__ADS_3

"Hueeekk..... Hueeekk....." Devan terus saja muntah, karena mengingat wajah nenek yang tadi minta di nodai olehnya.


"Dev, kamu kenapa?" tanya Sarah yang melihat Devan.


"Mual Ma," kata Devan, kemudian Devan masuk dan ia segera menuju kamarnya. Sampai di kamar Devan masuk ke kamar mandi setelah itu ia mengganti pakaiannya dengan celana joger dan kaos agar lebih ringan. Berulang kali Devan mengusap wajahnya, karena ia masih kesal pada Adam yang mengerjainya habis-habisan.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk!" kata Devan dengan suara beratnya.


Gagang pintu bergerak, hingga pintu terbuka dan terlihat Sarah di sana.


"Ini teh hangat," Sarah meletakan nya di atas meja, kemudian ia ikut duduk di samping Devan, "Kamu masih mual?" tanya Sarah.


"Ma, bisa buatin rujak nggak?" tanya Devan, entah mengapa ingin sekali ia makan rujak.


"Rujak?" Sarah bingung, hingga ia kembali bertanya.


"Iya, Ma."


Sarah sejenak dan, karena ia tahu Devan tidak pernah suka makan rujak. Tapi untuk kali ini permintaan Devan cukup aneh.


"Kamu yakin mau rujak?" tanya Sarah lagi.


Devan mengangguk, karena memang ia ingin makan rujak.

__ADS_1


"Huuueeekkkk......" Devan menutup mulutnya dan segera masuk ke kamar mandi.


"Dev, kamu kenapa?" tanya Sarah panik.


"Huuueeekkkk......" selesai muntah Devan keluar dari kamar mandi, ia meneguk teh hangat buatan Sarah barusan, "Ma rujaknya mana?" tanya Devan.


"Hah?" Sarah gelagapan, ia pikir tadi Devan tidak serius meminta rujak, "Mama buatkan dulu ya. Kamu tunggu. Enggak lama kok," Sarah langsung bergegas keluar, dan segera menuju dapur.


Devan kembali meneguk teh, dan ia sejenak kembali mengingat wajah Hanna. Setelah itu Devan keluar dari kamar, ia menuju kamar yang dulu di tempati oleh Hanna. Dengan harapan semoga bisa mengobati sedikit rasa rindu di hatinya, kaki Devan perlahan melangkah masuk. Ia duduk di sisi ranjang dan mengingat wajah Hanna, sesaat kemudian Devan membuka laci berharap ada barang milik Hanna yang tertinggal di sana. Dan ternya laci itu tidak ada barang milik Hanna, yang ada hanya sebuah uang yang mungkin dulu sering ia berikan pada Hanna.


Perasaan Devan semakin tidak karuan, karena artinya Hanna pergi dengan tangan kosong tanpa uang di tangannya. Devan kemudian membuka lemari, tidak ada pakaian Hanna di sana. Yang ada hanya sebuah cincin yang duku ia sematkan di jari manis Hanna. Itu cincin pernikahan mereka, tapi Hanna kini tidak lagi memakainya. Devan meremas cincin itu di tangannya, ia tertunduk dengan sebelah tangannya yang memegang lemari. Setetes air mata Devan jatuh, bersama dengan rasa rindu yang semakin membuncah. Hingga Devan melihat ada sebuah benda di sana, itu adalah sebuah diary berwana pink.


Devan menunduk dan mengambil diary tersebut, tanpaknya benda itu terjatuh tanpa sengaja hingga tertinggal di sana. Saat Devan akan membuka ternya diary itu di kunci, hingga tidak bisa di buka begitu saja. Tidak sulit bagi Devan untuk membuat kunci itu rusak, hanya dengan sedikit tenaga ia berhasil merusak kuncinya. Devan duduk di sisi ranjang, dan mulai membukanya.


'Dia datang dengan cinta, tapi pergi dengan sejuta luka. Dia hadir dengan bahagia, tapi tidak untuk bertahan selamanya!.'


'Terima kasih sudah pernah memberikan aku sedikit rasa bahagia, aku hanya hidup sebatang kara yang haus akan cinta. Walaupun kau hanya datang sesaat saja, tapi paling tidak aku sudah pernah tau artinya cinta. Dan ternyata cinta itu menyakitkan. Sangat.'


Devan terdiam, ia tidak sanggup lagi untuk melihat lebih banyak isi dari diary itu. Hingga tanpa sengaja ia melihat tulisan di balik fhoto.


'Rasa ini sudah mati, dan tidak akan pernah lagi bisa kembali. Kau hanya masa lalu. Dan tidak akan pernah menjadi masa depan ku!'


"Hanna, jangan pernah lupakan aku....aku tidak bisa tanpa mu," kata Devan sambil tertunduk lesu.


Sarah awalnya ingin menuju kamar Devan, tapi saat ia melewati kamar yang pernah di tempati Hanna. Mata Sarah melihat pintu yang setengah terbuka, akhirnya Sarah urung melangkah menuju kamar Devan. Ia malah masuk perlahan menuju kamar Hanna. Hati Sarah terasa sakit saat melihat Devan yang terus menangis di sana, tangannya meremas sebuah cincin. Dan Sarah yakin itu adalah cincin milik Hanna.


Rasa sakit yang di rasakan oleh Devan, sama dengan rasa sakit yang di rasakan Devan. Karena semua yang terjadi karena dirinya, Devan melakukan semua ini karena dirinya. Sarah sungguh tidak kuat melihat penderitaan Devan, Sarah keluar dari kamar tersebut sebelum Devan melihatnya. Ia meletakan rujak di tangannya pada meja, dan dengan berlari ia menuju ruang kerja Agatha.

__ADS_1


Clek.


Sarah langsung membuka pintu, ia melihat Agatha tengah berdiri di depan jendela. Dengan membaca beberapa kertas di tangannya.


Agatha melihat Sarah yang masuk, tapi ia tidak perduli. Semenjak kejadian saat itu, hubungan Agatha dan Sarah tidak baik-baik saja. Bahkan Agatha dan Sarah tidak pernah berkomunikasi dengan baik seperti dulu.


"Pa," Sarah langsung berlari, dan tanpa di duga Darah langsung memeluk kaki Agatha. Air mata Sarah tumpah dengan begitu derasnya, "Hiks....hiks....." Sarah terus menangis berharap Agatha memaafkan dirinya.


Agatha hanya diam, ia menatap keluar jendela saja tanpa melihat Sarah.


"Pa, Mama mohon.....tolong maafkan Mama, hiks....hiks...."


"Untuk apa?!" tanya Agatha seolah tidak perduli, sikap Agatha yang memang dingin membuat orang di sekitarnya tidak pernah ada yang berani padanya.


"Pa, Mama menyesal....hiks....hiks....kasihan Devan Pa. Devan enggak salah, dia begitu karena Mama," kata Sarah lagi masih dengan tangisan.


"Kenapa harus menyesal!"


"Pa, hiks.....hiks.....Papa boleh hukum Mama. Papa boleh hukum Mama seperti yang Papa mau, tapi tolong jangan Devan Pa, dia enggak salah."


"Lalu?"


"Pa, tolong jangan sembunyikan Hanna lagi,. Mama yakin Papa yang menyembunyikan Hanna kan?" tebak Sarah, "Tolong Pa, Mama mohon," pinta Sarah dengan sesegukan.


"Aku tidak pernah menyembunyikan Hanna, Devan saja yang tidak tulus mencari Hanna," jawab Agatha santai.


Sarah kaget dengan jawaban Agatha, ia yang masih duduk di lantai namun mulai mendongkak, "Maksud Papa?"

__ADS_1


"Devan itu tidak pernah berusaha sendiri untuk mencari di mana Hanna dan Derren, dia hanya mengandalkan anak buahnya saja," jawab Agatha lagi dengan enteng, "Jelas saja tidak ketemu, karena orang suruhan Devan itu memang tidak aku perbolehkan mencari Hanna. Jadi sampai kapan pun tidak akan bisa menemukan Hanna!"


__ADS_2