Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Check in hotel


__ADS_3

"Sayang kamu pilih di hotel atau di semak-semak?" tanya Devan sambil terkekeh geli.


"Mas apasih!!" kesal Hanna.


Ia melihat pintu yang sudah tertutup rapat, artinya Mama Sarah sudah pergi dan ia tidak lagi ketakutan di dengar Mama Sarah.


"Sayang."


"Em," jawab Hanna dengan cuek, dengan tangan yang membuka rantang makanan yang barusan di bawa Mama Sarah. Sebab dari kemarin siang sampai pagi tadi Hanna memang tidak makan, maka dari itu Mana Sarah berinisiatif untuk mengantarkan makanan. Namun tiba-tiba ia melihat dua pengantin aneh sedang bermesraan, hingga membuatnya moodnya seketika tidak baik-baik saja, "Mas makan yuk," ajak Hanna, ia yakin Devan juga belum sarapan.


"Yuk," kata Devan sambil melihat makanan yang di bawakan oleh Mama Sarah, "Di suapin ya," pinta Devan.


"Mas kan juga punya tangan, Hanna juga lapar. Pengen cepat-cepat makan," tolak Hanna.


"Kita makan bareng sayang," jelas Devan lagi.


"Ya udah ni," Hanna melayangkan sendok dengan isi nasi dan lauk di depan mulut Devan, namun saat Devan akan membuka mulut Hanna cepat-cepat memasukan nasi tersebut pada mulutnya.


"Kamu ya!" Devan menyentil kepala Hanna, karena sudah mengerjai dirinya.


"Hehe...." Hanna tersenyum sambil mengunyah makanannya, "Enak banget," Hanna malah menunjukkan bertapa nikmatnya makanan yang di bawa Mama Sarah.


"Dasar rakus!" kesal Devan.


"Enak!!!" kata Hanna lagi.


"Bagi," pinta Devan.


Hanna mulai menyuapi Devan, tapi isi sendok nya hanya satu buah cabai yang sudah di rajang saja, "Buka mulut," seloroh Hanna.


Devan menatap Hanna yang bahagia menertawakan dirinya, bertapa hati Devan juga saat bahagia saat melihat tawa lepas orang yang sangat ia cintai itu.


"Ya udah ini serius ya," Hanna mengganti isi sendok nya dengan nasi dan lauk, "Ayo buka mulut," Hanna mendekat kan sendok nya pada mulut Devan.


Devan membuka mulut dan ia mengunyah nasi dan lauk yang di siapkan Hanna, "Lagi dong," pinta Devan, sebab ia memang sangat lapar. Dan itu terasa setelah nasi yang di suapi oleh Hanna.


"Pelan-pelan, Hanna baru satu Mas udah dua,'" gerutu Hanna.


"Enak," jawab Devan sambil mengunyah nasi, "Kamu suka telor?"

__ADS_1


"Iya, ini telornya ada dua," Hanna menunjukan jumlah telor yang masih tersisa, "Enak, Mas mau satu?" tanya Hanna.


"Buat kamu saja, Mas udah punya," jawab Devan.


"O, iya," Hanna mulai memakan telur tersebut, dan ia sama sekali tidak sadar dengan masuk perkataan Devan.


"Enak?" tanya Devan lagi.


"Iya," jawab Hanna sambil terus mengunyah.


"Lembut?" tanya Devan lagi.


"He'um, lembut. Kenyal juga," Hanna terus mengunyah telur tersebut dengan nikmat.


"Itu sebelum di rebus telurnya di pegang pakek tangan atau langsung di ceplok?" tanya Devan sambil menatap Hanna dengan serius.


"Pertanyaan nya aneh, di pegang dulu. Di kocok udah siap di kocok baru deh...." jelas Hanna.


"Di goreng?" tanya Devan lagi.


"Iya, abis itu di makan enak," jelas Hanna agar Devan tidak terus bertanya.


"Di mulut rasanya gimana?"


"Ahahahhaha enggak, kan kamu yang dulu sering makan telur. Masa lupa, apa lagi pas baru nikah dulu," jelas Hanna lagi.


"Uhuk....uhuk...uhuk...." Hanna benar-benar tersedak makanan yang ia makan sendiri, setelah sadar dengan pembahasan Devan dari tadi mengenai telur.


"Minum," Devan memberikan sebuah minuman.


Setelah meneguk air Hanna merasa lebih baik, tapi tetap saja ia kesal pada Devan, "Otak Mas makin enggak beres!" gerutu Hanna.


"Kan udah di ajak check in hotel," Devan mengingatkan ajakan nya barusan, "Ya udah, di semak-semak yuk," celetuk Devan.


"Ahahahhaha......." Hanna tidak kuasa menahan tawa, karena usulan Mama Sarah ternyata di terima dengan baik oleh Devan, "Mas Nerima usul Mama...."


"Udah ah, brisik!" Devan berdiri dan tidak lupa ia menarik tangan Hanna juga.


"Mas," Hanna masih sangat berat hati untuk ikut dengan Devan, sebenarnya tidak salah dengan ajakan Devan. Hanya saja ia kini memikirkan Hilman, "Selesaikan masalah kita dengan Mas Hilman dulu," pinta Hanna.

__ADS_1


"Mas sudah mendapat info dari Farhan, Hilman nanti sore baru kembali dari luar kota bersama ibunya. Tidak mungkinkan Mas bicarakan ini di telpon, jadi nanti malam kita akan kerumahnya dan minta maaf. Mama sama Papa juga akan ikut," jelas Devan untuk meyakinkan Hanna, bahwa ia tidak sedang diam saja tanpa berpikir ke arah sana. Mengingat tiga hari lagi pernikahan Hanna dan Hilman akan di langsungkan.


Hanna mengangguk, dan ia ikut berdiri di samping Devan, "Semoga Mas Hilman mengerti ya Mas."


"Iya, dan semoga kau juga mengerti dengan suami mu ini ya," jawab Devan menyindir Hanna.


Dengan gemas Hanna mencubit lengan Devan, karena dari tadi otak suaminya tidak beres.


"Yuk," Devan merangkul pundak Hanna, dan keduanya berjalan dengan beriringan untuk keluar menuju mobil.


Di perjalanan Devan melihat ilalang yang tumbuh dengan rindang, "Sayang, itu semak. Di sana saja biar lebih dekat," seloroh Devan.


"Dasar gila!" kesal Hanna


15 menit berlalu, keduanya sampai di sebuah hotel megah milik Devan. Dengan langkah kaki yang pelan keduanya langsung masuk menuju kamar yang memang sudah di khususkan untuk Devan.


Mata Hanna menyapu ruangan tersebut, ia melihat dinding dengan pajangan pigura yang begitu indah. Namun tiba-tiba terasa tangan Devan yang mulai melingkar di pinggang nya, jantung Hanna seketika berdetak kencang. Rasa yang aneh itu kembali muncul, seiring dengan tangan Devan yang menelusuri seluruh lekuk tubuhnya.


"Sssssttt....." Hanna merintih bersamaan dengan tangan Devan yang mulai melepaskan satu-satu kancing pada kemeja putih miliknya.


"Sayang aku mencintaimu," bisik Devan dengan mesra.


Tubuh Hanna seketika merasa bergetar, seiring dengan gigitan-gigitan kecil yang di ciptakan Devan pada tengkuknya.


"Mas," rintih Hanna saat Devan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dengan cepat Devan menindih tubuh Hanna.


Entah di mana hijab yang dan kemeja yang melekat pada tubuh nya, bahkan kini keduanya tanpa sehelai benang pun.


Bagai kerinduan yang sudah lama terpendam, semua tercurah seiringan dengan hasrat yang semakin menggebu. Walaupun Hanna masih malu-malu tapi tidak di pungkiri ia juga merindukan sentuhan Devan.


"Sssst....." mulut Hanna terus menggigit bagian bibir bawahnya, berusaha untuk menahan desahannya yang semakin nikmat untuk tidak keluar, "Mas...." Hanna tersentak tak kala Devan memasukan senjata miliknya yang cukup besar dan berurat pada diri Hanna.


"Sayang aku sangat merindukan nya," bisik Hanna.


"Mas, sssstttt....." tubuh Hanna terus bergetar seirama dengan Devan yang bergerak dengan maju mundur.


"O, ini nikmat sekali...."


"Mas sssstttt....." rintih Hanna semakin kencang saat waktu pelepasan tiba. Dan kedua terkapar dengan nafas yang tersengal-sengal.

__ADS_1


*


Like dan Vote please.


__ADS_2