
"Kau sedang mengandung anak siapa?" tanya Devan to the point, tangan nya melepaskan tangan Diana yang melingkar di tengkuk nya, "Anak siapa?!" tanya Devan lagi dengan jelas.
Glek.
Diana meneguk saliva, ia mundur selangkah demi selangkah. Tapi tidak bisa menyerah dengan begitu saja, karena ini semua terjadi juga karena Devan. Andai Devan memperlakukan nya layaknya seorang istri, pasti ini tidak akan terjadi, "Maksud kamu apa?!" tantang Diana, dengan menatap Devan.
Devan menatap Diana dengan datar, sesekali matanya menatap pada perut rata Diana.
"Kalau kau menuduh ku yang tidak-tidak, aku akan mengatakan ini pada Mama!" Diana berniat keluar dari kamar, satu-satunya alat yang dapat menyelamatkan nya adalah Sarah.
Dengan cepat Devan memegang lengan Diana, hingga Diana tidak bisa pergi. Tatapan Devan terlihat begitu menusuk, "Kalau sampai aku mendapat bukti nya, maka talak yang aku jatuhkan ini sah....karena kalau memang benar itu anak laki-laki lain," Devan menjeda ucapannya sambil menatap wajah Diana yang ketakutan, "Kau akan aku ceraikan!" tegas Devan sambil melepaskan tangan Diana yang ia pegang.
Kaki Devan melangkah, ia berniat ingin keluar dari kamar. Tapi Diana dengan cepat berjalan dan menghentikan langkah kaki Devan, "Kalau memang kau menceraikan aku, kembalikan ginjal ku yang ku berikan pada Mama mu!" tegas Diana, "Mama mu tidak akan hidup kalau bukan karena aku!" tegas Diana dengan sinis.
Devan mengepalkan tangannya, ia keluar dari kamar dan menuju ruang kerjanya. Rasanya Diana selalu menggunakan cara itu untuk mengancam dirinya.
"Dia pikir dia siapa," gumam Diana yang masih tinggal di kamar sambil melihat Devan yang sudah berlalu dari hadapannya, "Dia pikir bisa ngancam aku?" Diana tersenyum miring, "Kalau kau tidak bisa ku miliki maka tidak ada juga yang bisa memiliki mu, termasuk Hanna!" kata Diana lagi, sambil memikirkan cara agar Hanna bisa secepatnya tersingkirkan dari hidup Devan, hingga ia bisa kembali mendapatkan perhatian seperti dulu.
Sementara Devan kini duduk di kursi kerjanya, ia tidak bisa tidur karena memikirkan rumah tangga yang begitu membuat otaknya pecah. Tidak lama berselang Farhan datang, ia duduk di kursi saling berhadapan dengan Farhan.
"Cari tahu siapa ayah dari anak yang di kandung Diana!" titah Devan dengan tegas.
Farhan masih saja diam, karena ia kini mengerti jika Diana tengah mengandung. Walaupun pun Devan tidak menjelaskannya dengan baik, "Anda sedang tidak mengakui anak anda bos?" tanya Farhan.
Devan langsung menatap Farhan dengan tajam, "Jangan kurang ajar, aku yakin itu bukan anak ku! Bagaimana bisa itu anak ku? Aku dan Diana saja tidak...." Devan tidak ingin melanjutkan apa yang ingin ia katakan, karena ia yakin Farhan mengerti.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Ayah dari anak itu Taha?" tanya Farhan.
Devan langsung melihat Farhan, bahkan ia sampai terkejut mendengar kata yang di ucapkan Farhan.
"Maksudnya?" tanya Devan.
"Aku hanya sedikit curiga bos, karena aku pernah tanpa sengaja melihat mereka keluar dari kamar hotel," jelas Farhan.
Devan menyandarkan tubuhnya pada kursi, ia benar-benar tidak habis pikir dengan Diana yang begitu rendahnya, "Apa kau tidak salah lihat?" tanya Devan dengan jelas.
"Tidak, selama ini pun saya selalu menangkap siapa saja yang berani bermain curang di perusahaan," jelas Farhan lagi meyakinkan Devan.
Devan mengangguk dan membenarkan kata yang di ucapkan oleh Farhan, "Cari tahu semuanya dengan baik," titah Devan, "Tapi tetap saja aku tidak akan bisa lepas darinya, karena ini masalah nya ginjal Diana yang ada pada Mama," kata Devan lagi dengan putus asa.
Devan menaikan kakinya keatas meja, ia memejamkan mata dan tertidur dengan lelap. Pagi harinya Sarah masuk ke ruang kerja Devan, karena ia tidak melihat anak kesayangan makan bersama di meja makan. Dan ia yakin pasti Devan ada di ruangan nya, bibir Sarah tersenyum melihat Devan. Ia membawa secangkir kopi dan meletakkannya di atas meja kerja Devan.
"Anak ku," Bibir Sarah tersenyum karena bahagia, sebab kehamilan Diana. Perlahan Sarah mendekati Devan, "Dev," Sarah membangunkan putra nya.
Devan mulai mengerjapkan matanya, dan melihat Sarah di hadapan nya, "Mama," kata Devan, sambil menurunkan kakinya dari atas meja.
Sarah tersenyum, "Kamu kenapa tidur di sini?"
"Dev, ketiduran Ma," bohong Devan. Karena ia tidak mau membuat Sarah ikut dalam masalah nya, Sarah sudah cukup bersedih karena kehilangan Raisa. Di tambah lagi Adam yang selalu membangkang, tentu saja ia tidak akan tega membuat Sarah menderita.
"Em," Sarah mengangguk mengerti, "Selama ya Nak, Diana akhirnya hamil juga.....kita harus rayakan ini semua," ujar Sarah dengan bahagia.
__ADS_1
Devan tidak ingin melihat senyum itu hilang dari bibirnya Mamanya, sulit sekali Sarah bisa tersenyum bahagia. Hingga Devan hanya membalas senyuman Sarah, dan memeluk Sarah dengan penuh cinta. Tidak ada yang bisa ia lakukan, selain untuk membahagiakan Sarah sang Mama angkat.
"Mama keluar dulu, kamu juga siap-siap ya," kata Sarah, "Soalnya Mama mau masak makanan spesial, untuk merayakan cucu Mama," kata Sarah lagi.
Devan mengangguk, ia mengikut saja dengan apa yang di rencanakan oleh Sarah. Rasa tidak tega jelas tersirat di wajahnya, karena Sarah sudah terlihat begitu bahagia. Tapi Devan juga tidak ingin putus asa, semua tidak bisa lagi didiamkan. Sebab ia pun harus berjuang, tidak perduli terlambat atau tidak.
Bibir Devan tersenyum saat ia akan keluar dari ruangannya melihat Hanna yang tanpa sengaja melewati ruang kerjanya, dengan cepat Devan menarik Hanna masuk.
"Auw....." teriak Hanna panik dan ia tidak sadar kalau yang menariknya Devan, setelah ia masuk Devan langsung menutup pintu dan menyandarkan tubuh Hanna di daun pintu.
"Selamat pagi sayang," sapa Devan.
Hanna tersenyum miring, karena pertama kalinya Devan terlihat aneh, "Anda kenapa tuan?" tanya Hanna bingung, sambil menunjukan wajah benci nya, "Lagi bahagia, istri tercintanya sedang hamil?" tanya Hanna lagi.
Devan tersenyum, yang ada di otaknya kini hanya memperjuangkan Hanna namun tanpa melukai Mama Sarah, "Kau cantik sekali," kata Devan menaik turunkan kedua alis matanya.
"Basi!" kesal Hanna, ia ingin pergi namun Devan tidak membolehkan nya. Hingga dengan terpaksa ia tetap berdiri di daun pintu.
"Kamu kenapa?" tanya Devan.
"Mundur!" Hanna mencoba mendorong dada bidang Devan, sambil sebelah tangannya menutup mulutnya.
"Tidak!" Devan tetap berdiri di tempatnya tanpa ingin pergi, apa lagi untuk melepaskan Hanna.
"Mundur! Tolo.... Hueeekk......" Hanna langsung muntah, bahkan sebelum selesai berbicara dan muntahannya mengenai kaos oblong yang di pakai Devan, "Hueeekk....." Hanna benar-benar tidak bisa menahan mualnya, hingga Devan terkena muntahan.
__ADS_1