Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Tidak akan menyerah


__ADS_3

Walaupun kemarin hari Hanna sudah jelas mengatakan tidak ingin rujuk dengan nya, tapi Devan tidak akan menyerah begitu saja. Hari ini ia datang lagi ke kontrakan Hanna.


"Assalamualaikum...." kata Devan.


Hanna yang tengah menjahit melihat keluar, "Waalaikumusalam," Hanna sejenak meninggalkan pekerjaan nya, dan menemui Devan. Hanna memutar bola matanya dengan jenuh, karena ia sangat tidak mengharapkan kedatangan Devan, "Ngapain kesini?" tanya Hanna ketus.


"Mau nya kamu aku ngapain ke sini?" tanya Devan balik, terserah Hanna mau ketus padanya. Karena Devan tahu Hanna aslinya tidak begitu, itu hanya cara Hanna yang mungkin saja tengah menguji dirinya.


"Di tanya nannya balik!" gerutu Hanna.


"Aku mau temuin Derren, bukan mau ketemu kamu," kata Devan. Padahal tidak sepenuhnya begitu, karena selain ingin melihat kedua anaknya tentu saja ia juga ingin bertemu Hanna.


"Papa!!!" seru Derren, Derren keluar dari kamar setelah mendengar suara Devan.


Devan beralih menatap Derren yang berlari kearahnya, "Sayang, jagoan Papa," Devan langsung mengecup pipi Derren dengan berulang-ulang, "Davina mana?" tanya Devan sambil menggendong Derren.


"Di dayam, bobo..." jawab Derren yang berbicara masih belum begitu jelas, tapi sudah di mengerti.


"Aduh, padahal Papa juga mau cium Davina, soalnya Papa udah kangen," kata Devan dengan wajah murung, seolah ia sangat bersedih.


"Papa tedih?" tanya Derren dengan cadelnya.


"Iya, kan Papa kangen Davina juga," ujar Devan lagi.


"Papa tium Mama aja, tama Mama juga enak tium nya," kata Derren dengan polosnya.


Glek.


Devan menatap Hanna, "Papa enggak mau sama Mama kamu," jawab Devan padahal kalau di ijinkan ke kamar sekarang juga ia mau.


Glek.


Hanna juga meneguk saliva, kata Derren barusan sungguh tidak masuk di akan.


"Tenapa?" tanya Derren lagi dengan polosnya.


"Mama kamu bau terasi, enggak enak," jawab Devan.


Telinga Hanna seakan mengeluarkan api, sedangkan mulutnya mengeluarkan asap, "Kamu pikir aku mau Mas!" geram Hanna, "Aku juga enggak sudi ya!" kesal Hanna lalu ia kembali masuk dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


Devan dan Derren hanya saling pandang, dan keduanya malah cekikikan melihat Hanna yang marah-marah.


"Papa bawa hadiah buat Derren, sama Davina," kata Devan.


"Mana?" tanya Derren yang tidak sabar.


"Ada dong, itu," Devan menunjuk kursi pada teras. Di sana banyak sekali paperbag, dan isinya adalah mainan semua.

__ADS_1


"Wah....." Derren langsung meminta Devan menurunkannya, dan ia mendekati mainan tersebut.


"Derren suka?" tanya Devan dengan bahagia, karena wajah Derren juga terlihat begitu bahagia.


"Tuka Pa," Derren tersenyum dan ia sangat senang sekali.


"Assalamualaikum," terdengar suara ibu-ibu yang kini ada di depan rumah juga.


"Waalaikumusalam," Hanna langsung keluar dan melihat siapa yang datang.


"Bu Iren," sapa Hanna ramah, karena itu adalah pelanggan Hanna, "Ayo masuk Bu," kata Hanna mempersilahkan pelanggan nya itu.


"Iya, apa gaun saya sudah siap. Mau di pakai besok," kata Bu Iren, lalu ia mengikuti Hanna untuk masuk.


"Udah Bu," Hanna mengambil gaun milik Bu Iren, "Ini dia Bu," Hanna menunjukan gaun milik Bu Iren.


"Cantik sekali Han, kamu pintar sekali. Kamu mau jadi mantu Ibu aja enggak?" tanya Bu Iren.


Devan yang mendengar di luar merasa kaget dengan pertanyaan ibu tersebut.


"Hanna masih belum kepikiran menikah lagi Bu," kata Hanna dengan senyuman agar Bu Iren tidak tersinggung.


"Anak Ibu ganteng lho Hanna, itu ada di mobil," kata Bu Iren.


"Em....tapi...."


Bagas turun dari mobil, "Ada apa Ma?" tanya Bagas.


"Sini dulu," Bu Iren terlihat antusias, "Kamu kenalan dulu sama Hanna. Ini Hanna penjahit yang Ibu sering cerita ke kamu," kata Bu Iren karena ia memang sering kali bercerita tentang Hanna pada anaknya.


Bagas terpukau melihat kecantikan Hanna, walaupun janda beranak dua tapi Hanna sama sekali tidak terlihat tua. Bagas mengulurkan tangannya, "Bagas."


"Hanna," Hanna hanya menyatukan kedua tangannya saja, karena itu memang kebiasaan Hanna bila bersapa dengan lelaki yang bukan mahramnya.


"Cantikkan Bagas?" goda Bu Iren, karena Bagas terlihat tidak bisa henti menatap Hanna.


"Ehem!" Devan yang duduk di kursi sangat tidak suka dengan itu semua, ia berdehem agar yang lainnya melihatnya.


"Bos," sapa Bagas. Karena Bagas mengenal baik Devan, hanya saja ia tidak tahu mengapa Devan bisa di sini.


Devan menaikan sebelah alis matanya, dan menatap Bagas dengan datar.


"Dia bos kamu Gus?" tanya Bu Iren.


"Iya Bu, dia pak Dev. CEO Bagas," jelas Bagas


"Oh ya?" Bu Iren tersenyum, "Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan anda di sini tuan," kata Bu Iren dengan senyuman.

__ADS_1


Devan bangun dari duduknya, dan menggerakkan tangannya pada Bagas.


Bagas mengerti dengan Devan, ia berjalan mendekati Devan. Devan merangkul pundak Bagas, dan membawanya sedikit menjauh dari yang lainnya.


"Hanna itu mantan istri ku, dan kami akan rujuk lagi! Apa kau berani bersaing dengan ku?" tanya Devan dengan suara kecilnya.


Glek.


Bagas meneguk saliva, ia melihat Hanna sejenak. Kemudian kembali melihat ke depan.


"Apa kau masih berminat?" tanya Devan tanpa melepas tangannya dari pundak Bagas.


"Eng....enggak bos," Bagas gemetaran karena kalau melawan Devan tentu saja ia tidak akan menang.


"Bagus, kau memang bagus ya," kata Devan mengejek, "Jadi silahkan mundur dengan teratur, sebelum aku....." Devan mengeratkan tangannya pada leher Bagus.


"I....iya Bos, maaf dan saya mundur," kata Bagas ketakutan.


"Bagus!" Devan melepaskan Bagus.


"Permisi bos," kata Bagas yang langsung berlari, "Bu, ayo kita pulang," Bagas langsung menarik Bu Iren, dan memasukannya kedalam mobil.


"Bagas kamu kenapa?" Bu Iren merasa bingung dan bertanya-tanya, karena anaknya terlihat ketakutan.


Sementara Hanna melihat Devan penuh tanya, ia yakin ada yang di katakan Devan pada Bagas. Sampai Bagas sangat ketakutan seperti itu.


"Kamu apain dia Mas?!" geram Hanna.


"Aku apain? Pede sekali!" kata Devan, padahal di hatinya ia tertawa penuh kemenangan.


Hanna menatap Devan dengan sinis, dan ia kembali masuk untuk melanjutkan pekerjaan nya.


"Sa," Hanna memanggil Risa.


"Iya," kata Risa yang keluar dari dapur.


"Aku mau minta tolong, kamu jagain Davina ya. Aku mau beli bakal baju dulu, aku ada pesanan, buat Ibu Mega yang di ujung rumah kita itu. Anaknya mau lamaran dua hari lagi, waktunya mepet banget. Tapi enggak papa, aku usahain. Kasian," kata Hanna.


"Iya, Derren ikut?" tanya Risa.


"Derren sama Papanya di depan," jawab Hanna.


"O, Papanya. Kamu Mamanya kan? Enggak kangen di peluk Papanya Derren?" seloroh Risa.


"Hus.... kalau ngomong jangan asal!" kesal Hanna


Sementara Devan mendengar percakapan Hanna dan Risa barusan.

__ADS_1


__ADS_2