
"Clarissa, makan sedikit saja," Mom Citra sudah sangat kewalahan menghadapi Risa yang terus menolak saat di suguhkan makanan, entah sudah berapa kali untuk pagi ini saja Mom Citra menemuinya ke kamar hanya agar putrinya mau makan.
Risa merasa tidak selera saat melihat beberapa makanan Italia yang di suguhkan oleh Mom Citra, bahkan ia ingin muntah saat melihat makanan tersebut.
"Clarissa, sudah dua hari kau tidak makan," kata Mom Citra lagi tanpa jenuh untuk mengajak sang putri untuk makan.
"Mom, aku tidak ingin makan makanan Italia, aku mau nasi goreng," jawab Risa.
"Aneh sekali, tidak biasanya kau menolak makanan Itali yang sudah membuat mu sebesar ini," Mom Citra mendesus, karena putrinya memiliki selera baru.
Hanna langsung masuk ke dalam kamar Risa, ia melihat begitu banyak sekali makanan yang tersaji. Namun, tanpaknya tidak satu pun yang di sentuh oleh Risa.
"Kau ingin makan apa?" tanya Hanna yang terlihat simpati pada Risa.
"Nasi goreng!" jawab Risa.
"Aku yang akan membuatnya," Hanna langsung keluar dari kamar Risa, ia ingin membuat apa yang barusan di pinta oleh Risa. Tidak terlalu sulit untuk memasak masakan Indonesia, sebab Mom Citra memang sering kali memasak makan Indonesia. Hingga di dapur nya selalu ada bahan masakan Indonesia.
Mom Citra duduk di sofa sambil memijat tengkuk nya, ia terus saja melihat Risa yang murung. Bahkan sampai tidak ingin memakan apapun, "Risa, Mom sudah tidak mengenali mu lagi," ujar Mom Citra dengan penuh kesedihan, "Putri Mom itu ceria, cerewet, tidak kenal bersedih," Mom Citra menyampaikan keluhnya, karena ia ingin Risa tahu jika ia sangat merindukan Risa yang cerewet dan periang.
Entah mendengar atau tidak, tapi Risa hanya diam sambil memeluk lututnya. Sesekali air matanya jatuh menetes tanpa bisa di tahan, rasa sakit dan rindu pada Hilman membuat nya seakan tidak memiliki gairah untuk melanjutkan hidup yang begitu indah.
"Clarissa, tidak kah kau kasihan pada Mom?" Mom Citra berjalan mendekati Risa, ia duduk di dekat Risa dengan wajah bersedih.
Risa hanya diam, tidak ingin berbicara, tidak ingin berbagi cerita dan kesedihan yang ia rasakan. Bila Mom Citra merasa ada yang berbeda dari dirinya itu memang benar, Risa murung karena merasa ada yang hilang tapi entah apa Risa pun tidak mengerti sampai saat ini. Ia sudah pernah mencoba untuk tersenyum, bangkit dari luka nya. Namun, terasa sulit dan rumit, bahkan untuk berkata-kata saja ia terlalu malas.
"Ini nasi gorengnya," Hanna meletakan nya di atas ranjang, ia juga membawa secangkir teh manis hangat.
__ADS_1
"Risa, itu Kak Hanna sudah membuat nasi goreng yang kau inginkan," Mom Citra mengusap punggung anak nya, ia ingin menyadarkan Risa dari lamunannya.
Risa mengangguk, sudah beberapa hari ini ia hanya ingin makan nasi goreng.
"Mom yang menyuapi mu," Mom Clarisa mulai mengambil nasi goreng dan menyuapi Risa.
Risa masih diam sambil menatap nasi goreng yang kini sangat dekat dengan nya. Namun, ia merasa perutnya tidak baik-baik saja. Dengan cepat ia mendorong piring dan sendok yang ada di depannya, cepat-cepat Risa berlari ke toilet, "Hueekkkk..... hueekkkk.... hueekkkk...." Risa terus saja muntah, walaupun yang keluar hanya air saja.
"Mom?" Hanna menatap Mom Citra.
Mom Citra meneguk saliva sambil menggeleng, ia juga tidak mengerti apakah yang ia pikirkan dan Hanna saat ini benar.
Selesai dengan memuntahkan cairan, ia langsung keluar dari toilet.
"Risa apa kau hamil?" Mom Citra bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Risa yang masih berdiri di depan pintu toilet.
Hanna juga menatap Risa penuh tanya, ia juga ingin mendengar jawaban dari Risa.
"Risa, bisakah kau menjawab pertanyaan Mom!" Mom Clarisa juga kembali mendekati Risa yang tengah berbaring, ia membutuhkan jawaban dari putrinya, "Clarisa tolong, jawab!" seru Mom Citra penuh kekesalan.
Risa langsung mendudukkan tubuhnya, ia menatap Mom Citra dengan mata yang berkaca-kaca. Bahkan tanpa bibirnya berbicara pun Mom Citra sudah tahu jawabannya.
"Risa, kau hamil dan tidak memberitahu kami?" lirih Hanna, ia kemudian keluar dari kamar Risa. Karena Devan harus tahu, sebab dengan begitu Dad Arsielo tidak terus memaksa Risa untuk bercerai dari Hilman.
Sedangkan Mom Citra diam dan sejenak menahan nafas, ia tidak menyangka jika Risa dan Hilman sudah menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya. Sebab Mom Citra dan Dad Arsielo hanya berpikir jika Risa dan Hilman tidak memiliki hubungan sejauh itu. Apa lagi dari setiap bukti yang di kirimkan oleh mata-mata Dad Arsielo Anderson tidak satu kali pun Risa dan Hilman pernah mesra.
"Risa, kenapa kau hanya diam?"
__ADS_1
"Di mana salahnya Mom?" tanya Risa dengan mata yang berkaca-kaca, "Risa punya suami!"
"Lalu kenapa kau hanya diam!"
"Memangnya apa yang bisa Clarissa katakan, memangnya itu penting. Risa menurut saja, kalau Mom dan Dad mau Risa bercerai tidak masalah. Keputusan Mom dan Dad adalah hal yang terbaik," kata Risa, kemudian ia kembali berbaring sambil terus terisak.
Risa tidak menyangka jika akhirnya ia sampai di titik ini, menanti seseorang yang ia cintai untuk menjemputnya. Tapi nyatanya tidak, sampai saat ini juga Hilman tidak datang. Hingga Risa merasa kecewa.
Mom Citra tahu wajah Risa yang menyiratkan kekecewaan yang begitu dalam, ia juga tidak sanggup melihat putri nya ternyata kini menahan rasa yang begitu terluka. Di saat ia membutuhkan seseorang untuk berada di sampingnya, untuk meluapkan segala keluhnya malah tidak. Risa hanya duduk dalam resah sambil menanti sebuah cahaya yang bisa membawanya keluar dari rasa gundah gulana.
Mom Citra perlahan keluar dari kamar putrinya, ia menuju ruangan Dad Arsielo dan memberitahu tentang kehamilan sang putri. Mungkin dengan begitu Dad Arsielo bisa berubah pikiran untuk tidak menuntut Risa bercerai dari Hilman.
"Dad, Risa hamil. Bagaimana mungkin kita memaksanya untuk bercerai?" tanya Mom Citra.
Dad Arsielo tercengang, ia menyipitkan matanya sambil mencerna kembali kata-kata Mom Citra, "Hamil?"
Mom Citra mengangguk, "Iya."
"Apa kau yakin?"
"Iya."
Beberapa detik Dad Arsielo menahan nafas, tapi setelah di rasa tenang ia melihat Mom Citra yang berdiri sambil menatap dirinya, "Tapi sampai saat ini pun suaminya tidak datang, suami macam apa itu!" geram Dad Arsielo.
Sejenak keduanya diam hanyut dalam pikiran masing-masing yang membuat keduanya terasa bingung.
"Tidak mungkin aku menghubungi nya dan memintanya menjemput Putri ku, dia akan besar kepala. Lagi pula aku masih mampu untuk mencukupi kebutuhan putri kesayangan ku juga bayinya," kata Dad Arsielo Anderson.
__ADS_1
*
Tolong like dan Vote ya teman-teman.