Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Raisa Agatha Sanjaya


__ADS_3

"Kalau Diana berjasa karena memberikan satu ginjalnya untuk Mama, lalu bagaimana dengan Hanna Ma?" tanya Devan.


"Maksud kamu?"


"Diana sudah berjasa karena sudah memberikan satu ginjalnya untuk Mama, dan Hanna juga sudah melahirkan Derren....cucu Mama," jelas Devan.


Sarah sejenak diam, "Iya, Hanna memang juga sudah berjasa Devan.....tapi perjanjian awalnya tidak begini kan Nak? Perjanjian kita awal nya kamu menikah lagi hanya sampai anak kamu lahir, lalu kenapa sekarang berubah," jelas Sarah lagi.


"Tapi Ma," Devan terlihat ragu dengan apa yang di katakan oleh Sarah, sulit sekali untuk bercerai dari Hanna.


"Baiklah Devan.....kalau kamu tidak mau, terserah, semua anak Mama memang tidak ada yang menyayangi Mama......andai saja Raisa ada di sini pasti Mama tidak akan begini," ujar Sarah lalu pergi begitu saja, ia membawa rasa kecewanya karena Devan sudah tidak lagi perduli pada nya.


Raisa Agatha Sanjaya adalah putri dari Sarah dan juga Agatha Sanjaya, saat Raisa berusia dua tahun mereka mengalami kecelakaan. Saat itu Sarah tengah memangku Raisa yang terlelap di pangkuannya, sementara Devan yang sudah berumur lima tahun tinggal di rumah. sedangkan Sarah tengah mengandung dua bulan, dan yang di kandung Sarah adalah Adam. Hingga di tengah malam yang gelap, hujan turun dengan lebatnya. Tiba-tiba sebuah mobil truk melaju kencang tanpa kendali dari arah yang berlawanan, saat itu Agatha yang mengemudikan mobilnya berusaha untuk tidak menabrak truk di hadapannya. Namun cukup sulit untuk menghindari nya, demi menyelamatkan nyawa sang anak dan istrinya. Agatha cepat-cepat membuka pintu dan mendorong Sarah agar turun dari mobil dan tidak ikut tertabrak. Dan dengan cepat Agatha juga sebisa mungkin meloncat dari mobilnya yang terus melaju. dalam hitungan detik mobilnya menabrak truk. Tapi tidak di sangka, ternyata Raisa terlepas dari tangan Sarah, hingga Raisa terlempar kedalam jurang yang cukup dalam.


"Raisa!!!!!" teriak Sarah.


Hingga setelah itu Sarah sudah tidak sadarkan diri, karena kandungannya yang masih muda ia sampai pendaran. Namun beruntung janinnya masih bisa di selamatkan. Sejak saat itulah Sarah sudah tidak tahu dimana keberadaan Raisa, entah Raisa masih hidup atau sudah tiada. Tapi Sarah selalu berharap jika suatu hari nanti Raisa akan kembali kepelukkan nya.


Sarah kini berlari menuju kamarnya, ia mengusap air mata yang terus mengalir deras. Tidak bisa di pungkiri jika kini ia kembali merindukan putrinya Raisa, sampai di kamarnya Sarah langsung memeluk sebuah fhoto yang masih ia pajang dengan baik. Gambar anak kecil yang tengah duduk di lantai sambil memegang mainan dan tersenyum padanya.

__ADS_1


"Raisa, Mama rindu," kata Sarah sambil meletakan fhoto itu pada dadanya.


Devan yang menyusul Sarah berdiri di depan pintu, ia bisa melihat Sarah yang terus menangis. Inilah salah satu penyebab ia tidak ingin membantah, karena Adam pun sudah pergi tanpa perduli pada Mama dan Papanya. Sedangkan Raisa sampai saat ini entah dimana, hingga Devan terus berusaha untuk membuat kedua orangtuanya bahagia.


"Ma," Devan mendekati Sarah, ia berjongkok di depan Sarah.


"Hiks....hiks...." Sarah yang duduk di sisi ranjang sambil memeluk fhoto Raisa semakin menangis, ia hanya ingin ketiga anaknya berkumpul bersama-sama tanpa ada yang kurang. Tapi sayang semua itu sulit di gapai, harta yang berlimpah milik suaminya tidak bisa menjamin kebahagiaan nya.


"Maaf ya Ma," Devan mengusap air mata Sarah dengan ibu jarinya, "Devan akan ikutin maunya Mama, asal Mama tidak menangis," kata Devan lagi. Selama ini pun itulah yang dilakukan oleh Devan, mengikuti apapun yang di inginkan oleh Sarah asalkan Mamanya bisa tersenyum lagi, karena Sarah terus bersedih mengenang Raisa yang entah dimana.


Sarah menatap Devan dengan sesegukan, "Adam sudah tidak menganggap Mama ini ibunya, Raisa juga tidak ada di antara kita, cuman kamu anak Mama yang berada di sini Mama mohon," pinta Sarah penuh harap.


"Devan mau tanya kenapa Mama terus desak Devan untuk terus bersama Diana? Apa hanya karena ginjal Diana ada pada Mama?" tanya Devan.


"Tapi Hanna juga berjasa kan Ma?"


"Apa diawal kamu tidak membicarakan ini pada Hanna?" tanya Sarah.


Devan menggeleng, karena ia memang tidak menceritakan tentang semua itu. Sebab saat itu yang dipikirkan Devan hanya bagaimana memiliki Hanna. Entah mengapa ia sudah tertarik saat pertama kali mereka bertemu, Devan bahkan menatap Hanna dengan kagum. Padahal saat itu Hanna menggunakan hijab panjang, tapi tetap saja Devan tertarik. Apa lagi saat Hanna tersenyum, Devan seakan lupa jika dunia masih menampung banyak wanita, tapi Hanna terlalu menyilaukan bagaikan sebuah permata yang mengalahkan Kilauan lainnya.

__ADS_1


"Hiks...... hiks....." Sarah kembali menitihkan air mata, "Inilah yang Mama takutkan Devan, maka dari awal Mama katakan kalau Mama yang mencari wanita itu," kata Sarah lagi, "Mama tidak mau tahu dan harus ada yang kamu tinggalkan, Diana atau Hanna.....kalau kamu memilih Hanna maka Mama bunuh diri saja?" tegas Sarah.


"Mama bicara apa?" Devan takut jika Sarah nantinya akan benar melakukan itu, dan Devan tidak bisa kehilangan Sarah.


"Karena kalian enggak ada yang sayang sama Mama, hiks....hiks..."


"Ma, jangan nangis lagi.....kasih Devan waktu, lagi pula Derren masih butuh Hanna kan Ma," kata Devan, karena Derren memang tidak mau minum susu formula jadi sulit untuk menjauhkan antara Derren dan Hanna.


"Ya udah, selesaikan semua setelah Derren selesai menyusui," kata Sarah yang mengerti dengan cucunya, bagaimana pun Derren juga haru di pikirkan menurut Sarah.


"Iya, Mama jangan nangis lagi," pinta Devan.


"Makasih ya Dev, kamu satu-satunya anak Mama yang masih memikirkannya Mama," kata Sarah penuh haru.


"Devan keruang kerja dulu ya Ma," pamit Devan.


"Perbaiki hubungan kamu dengan Diana ya Nak," pinta Sarah lagi.


Devan menarik nafas lalu keluar dari kamar Sarah, sulit sekali untuk lepas dari ini semua. Devan mengambil kunci mobil ke kamar nya kemudian ia segera menuju rumah sakit untuk melihat Derren. Waktu sudah semakin larut, tapi Devan masih ingin pergi melihat Derren yang mungkin bisa meringankan beban nya.

__ADS_1


*


Tolong like dan Vote ya Kak.


__ADS_2