Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Menjadi OG


__ADS_3

"Jawab kenapa diam saja!!!"


Hilman memasukkan data-data tentang wanita di hadapannya pada laci meja kerjanya, kemudian ia menata Risa yang tengah menatapnya penuh amarah.


"Kenapa? Tidak berani?" tanya Hilman dengan menantang Risa.


"Ini bukan masalah tidak berani, kalau aku takut dengan mu aku tidak akan berani menemui mu ke sini!" jawab Risa dengan mengetuk meja kerja Hilman, "Katanya dunia tidak sekecil dau kolor, tapi kenyataannya berbalik!!" gerutu Risa.


"Daun kelor bodoh!!!" Hilman membetulkan kata-kata Risa yang salah.


Risa kembali menatap Hilman, "Suka-suka saya! Mulut-mulut saya!" tegas Risa. Kemudian tiba-tiba ia merasa tenggorokan nya kering, dan melihat ada secangkir kopi. Iya yakin itu adalah milik Hilman dan ia yakin juga kopi itu masih baru dan belum menjadi kopi sisa Hilman. Ia dengan cepat meneguknya dan duduk saling berhadapan dengan Hilman.


Hilman tercengang dengan kelakuan wanita di hadapan nya, dan itu sungguh menjengkelkan. Apa lagi itu adalah kopi nya untuk pagi ini, "Baru kali ini ada karyawan seperti mu!"


"Baru kali ini ada bos berbuat sesuka hati seperti mu!" jawab Risa tidak mau kalah.


"Iya baiklah, tapi kopi itu sudah saya ludahi," bohong Hilman.


Risa langsung bergidik saat Hilman mengatakan kopinya yang sudah ia ludahi, "Menjijikan."


"Bagaimana rasanya?" Hilman tersenyum remeh.


Seketika Risa merasa mual, karena perasaan jijik kini mulai terasa.


"Tidak ada, saya hanya bercanda!" kata Hilman tersenyum penuh kemenangan.


"Ish...." Risa menghentakkan kakinya, ia benar geram pada Hilman, "Saya akan membuat surat pengunduran diri!!!" kesal Risa.


"Pintunya ada di sana, dan jangan pernah kembali lagi ke sini. Kami tidak butuh karyawan tidak becus seperti mu!" papar Hilman.


"Apa maksudnya mengatakan aku ini tidak becus?!"


"Kau tidak bisa membuktikan jika kau layak bekerja di sini, sebab orang-orang di luar saja ingin sekali bekerja di perusahaan besar ini!" jelas Hilman, "Sebaiknya kau sekarang keluar, sebelum kami rugi!" Hilman menunjukan arah pintu yang tertutup.


Risa seketika geram, "Saya tidak akan mundur, dan saya akan membuktikan kalau semua yang anda katakan salah!" tegas Risa.

__ADS_1


"Tapi saya sudah memecat mu!" kata Hilman.


"Tinggal telpon Ibu," Risa mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


"Tunggu, baik. Kau aku beri kesempatan bekerja di sini. Tapi menjadi OG!" Hilman tidak ingin masalah rumit, berurusan dengan sang ibu tidak akan menghasilkan kemenangan. Mengingat Risa adalah menantu kesayangan Ibu Sintia, jadi saat ini Hilman memilih mengalah.


"Bagus, lagi pula aku belum punya nomer ponsel Ibu!" kata Risa dengan senyum kemenangan, apa lagi saat melihat wajah geram Hilman adalah nilai plusnya.


"Kau!!!" Hilman mengepalkan tangannya yang menggantung, baru kali ini ada wanita yang membuatnya kesal bukan kepalang.


"Ets!!!!" Risa menjauh dan tersenyum, "Tapi saya bisa pulang sekarang tuan Kaya, dan," tangan Risa merapikan kerah jas Hilman, dengan tubuh yang condong pada Hilman. Tapi masih ada meja yang berada di tengah keduanya, "Mengatakan nya pada Ibu," lanjut Risa.


Tiba-tiba tanpa sengaja Hilman melihat setengah gundukan besar milik Risa, itu karena Risa yang condong padanya. Tapi tidak lama kemudian Risa menjauh.


"Tidak masalah enjadi OG! Asal aku akan membuktikan kalau aku tidak seperti yang Anda pikirkan tadi!!" tegas Risa.


Hilman hanya berusaha tenang, entah mengapa ia jadi terbayangkan atas apa yang barusan ia lihat, "Keluar dari sini!"


"Ok!" Risa langsung melenggang keluar dari ruangan Hilman.


"Sial!" umpat Hilman yang masih terbayang-bayang gundukan besar dan kenyal itu, "Kenapa malah aku yang meminum kopi sisa wanita itu!" bagai jatuh dan tertimpa tangga lagi, Hilman benar-benar merasa sial karena melihat gundukan dan minum kopi sisa Risa.


Semua karyawan mulai berbisik-bisik, karena Risa kini sudah menjadi seorang OG. Mereka sangat yakin itu terjadi karena pagi tadi Risa sudah lancang pada Presdir mereka.


"Risa, sabar ya," Meta ikut prihatin dengan kondisi Risa saat ini.


"Tidak masalah, yang penting aku bekerja," jawab Risa enteng.


"Iya, dan semoga kau hanya di hukum. Dan tidak lama lagi kau kembali bekerja sama dengan ku," kata Meta sambil berdoa.


"Tidak masalah, aku bekerja dulu," Risa kembali melanjutkan pekerjaannya nya, karena ia ingin segera beristirahat.


Setelah selesai dengan bersih-bersih, Risa kini berada di pantry. Ia meneguk air putih dengan cukup banyak untuk mengurangi rasa haus nya.


"Hai Risa," sapa seorang pria bernama Doni.

__ADS_1


Risa memang masih baru bekerja di perusahaan tersebut, tapi kecantikan nya sungguh memikat banyak orang terutama kaum laki-laki yang terlihat tertarik padanya.


"Hai juga," jawab Risa tersenyum.


"Udah jam makan siang, makan bareng yuk. Restoran di depan kantor makanan nya enak-enak lho, dan kamu harus cobain aku yang terakhir," tawar Doni.


Tidak boleh di sia-siakan kesempatan untuk makan gratis, Risa mengangguk dan setuju saja.


Restoran dengan nuansa elegan membuat siapa saja betah berkunjung ke sana, termasuk juga Risa dan Doni.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Doni.


"Apa aja," jawab Risa.


Doni langsung memesan untuk Risa, jika Doni berpikir Risa tidak bisa memesan makanan di sana ia memaklumi. Tapi tidak dengan Risa, menurut nya makan apa saja dari restoran tersebut memang enak dan ia sudah sering makan di sana.


"Ini enak banget lho, mau cobain?" Doni mencoba untuk memberikan makanan miliknya pada Risa, bahkan dengan cara menyuapi.


"Tidak terima kasih," tolak Risa.


Hilman juga makan siang di restoran tersebut, ia melihat Risa yang duduk bersama seorang pria yang tidak jauh darinya. Hilman hanya menatap diam dari kejauhan, dan melihat gerak-gerik Risa.


Risa juga tanpa sengaja melihat Hilman duduk tidak jauh darinya, tapi ia pura-pura tidak melihat sama sekali.


"Ini enak lho serius," kata Doni lagi yang mencoba untuk menyuapi Risa.


Risa tidak langi menolak, ia langsung membuka mulut untuk menerima suapan Doni. Dan itu hanya agar Hilman melihatnya, dengan alasan masih ada pria yang menghargai dirinya. Tidak seperti Hilman yang selalu mengajaknya berkelahi tanpa alasan.


Jam pulang kerja tiba, Risa keluar dari gerbang besar perusahaan. Ia melihat kanan dan kiri untuk mencari kendaraan umum.


"Ojek!!!" Risa sangat suka naik motor, dan kali ini ia ingin main ojek saja dan menikmati indahnya cuaca yang tidak terik ini.


Entah mengapa Hilman tertarik untuk mengikuti Risa, mobilnya terus melaju dengan kecepatan sedang tanpa mendahului ojek yang membawa Risa untuk pulang ke rumah.


*

__ADS_1


Jangan lupa like dan Vote teman-teman yang baik hati.


__ADS_2