Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Ibu rumah tangga


__ADS_3

Mulai hari ini Risa sudah tidak di perbolehkan lagi untuk bekerja, sebab Hilman merasa akhir-akhir ini Risa sering kali mudah lelah hingga ia tidak tega melihatnya. Bahkan sudah beberapa pagi hari ini pula Risa sangat malas bangun pagi. Mungkin karena terlalu banyak pekerjaan yang yang menuntut minta cepat-cepat untuk di selesaikan.


"Eeeemmmmm...." Risa mulai merasa terusik dari tidur lelap nya, perlahan matanya terbuka dan melihat sekitarnya, "Mas udah rapi?" tanya Risa terkejut, kemudian matanya melihat jam dinding, "08:30 Mas itu jamnya yang salah atau gimana ya?" tanya Risa.


Hilman tersenyum mendengar pertanyaan Risa, "Kok jamnya yang salah?" tanya Hilman balik.


Dengan gerakan cepat Risa langsung masuk kedalam kamar mandi, dan ia mandi dengan waktu yang cukup singkat pula. Tidak sampai di sana Risa juga memakai pakaian nya dengan cepat, dan mulai berdandan di depan cermin. Namun tiba-tiba Risa terdiam merasakan sesuatu yang aneh, "Sssssttt...." Risa merasa sakit pada bagian perutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Hilman yang melihat Risa tengah menutup mata.


"Nggak papa sih Mas, cuman sedikit enggak nyaman aja kalau abis lari. Tadi juga Risa loncat, dari atas ranjang. Mungkin karena itu, jelas Risa.


"Minum dulu," Hilman memberikan air pada Hilman, "Jangan biasakan setiap pagi meloncat dari atas ranjang lagi," kata Hilman memberikan peringatan, sebab meloncat setiap pagi dari atas tempat tidur adalah kebiasaan Risa yang sering di lihat Hilman sejak awal mereka menikah.


Risa meneguk air putih dan diam sejenak, "Udah Mas," Risa merasa lebih baik.


"Mulai hari ini kamu tidak usah bekerja lagi, kalau kamu mau ke kantor silahkan tapi tidak untuk bekerja. Dan mulai saat ini kau beli pakaian yang layak di pakai, kecuali saat si dalam kamar," kata Hilman.


"Kenapa dengan pakaian, Mas enggak gaul!"


"Risa!" Hilman menatap Risa dengan dingin artinya ia tidak ingin di bantah.


Risa yang duduk di kursi meja Rias mendongkak melihat Hilman, "CK," Risa mengacak rambutnya dengan kesal, "Risa udah hampir dua bulan kerja di kantor Mas, tapi sampai di pecat hari ini gaji Risa kok belom cair ya Mas?" tanya Risa sambil menadahkan tangan.


Hilman tersenyum mendengar Risa mengatakan gaji, "Gaji?" Hilman terkekeh mendengar Risa meminta gaji.


Risa mengangguk, "Atau Mas mau makan tenaga karyawan Mas aja, terus Mas enggak mau bayar gajinya?!" tebak Risa sambil mengerucutkan bibirnya.


Hilman menarik bibir Risa dengan gemas, "Bukannya uang Mas semua di kamu?" tanya Hilman, mengingat sampai saat ini Risa belum juga hamil. Hilman memberikan semua ATM dan juga black card nya pada Risa. Hanya karena ia takut Risa pergi, dan dengan itu semua mungkin Risa tidak akan pernah bisa berpikir untuk pergi. Jujur saja di hati kecil Hilman ia sudah tidak bisa tanpa Risa.


"Iya, tapi kan beda Mas. Gaji Risa kan dari kantor," kata Risa lagi yang tidak mau mengalah.

__ADS_1


"Ya sudah, berapa gaji mu?" tanya Hilman.


"Rp20.000.000."


"Iya," Hilman mengangguk tanpa membantah, "Mas ke kantor dulu ya," pamit Hilman.


"Mas," Risa berdiri dari duduknya dan memegang lengan Hilman.


"Risa pengen Mas enggak usah kerja hari ini aja," pinta Risa dengan wajah melasnya.


"Sejak kapan dia begitu menggemaskan," batin Hilman, "Memangnya kenapa kalau Mas kerja?" Hilman menangkup wajah Risa.


Cup.


Hilman langsung mengecup bibir Risa yang terlihat menantang.


"Hari ini aja ya Mas," pinta Risa lagi, "Risa pengen jalan-jalan," dari semenjak mereka menikah Risa dan Hilman memang selalu bekerja dan kali ini Risa ingin sekali jalan-jalan.


"Ke rumah Daddy."


Hilman merasa sedikit keberatan, tapi saat melihat wajah Risa ia kemudian mengangguk setuju, "Kalau pekerjaan Mas secepat mungkin selesai kita ke Italia."


"Iya," Risa mengangguk dengan hati yang bahagia.


"Mas kerja dulu."


"Mas."


"Apa?" tanya Hilman, ia berbalik dan tiba-tiba Risa berjinjit dan langsung melahap bibirnya.


Hilman terkejut dengan Risa yang mendadak aneh di pagi hari ini, bahkan tidak biasanya Risa yang memulai. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka tersebut Hilman juga membalasnya.

__ADS_1


"Sssst...." Risa merintih merasakan sesuatu yang aneh, sesaat kemudian ia tersadar dan ia mencoba melepaskan diri. Namun Hilman tidak ingin melepas dengan menahan tengkuk nya.


Semakin lama semakin menuntut, hingga Risa terlentang di atas ranjang dengan di tindih Hilman. Pagi yang seharusnya pergi bekerja kini menjadi pagi yang penuh dengan olah raga, gigitan kecil yang tercipta meninggalkan jejak yang cukup banyak. Mengingat semalam juga Hilman baru saja membuat jejaknya dan pagi ini pun sama saja, bahkan hampir di seluruh tubuhnya memiliki tanda jejak. Dan Hilman merasa itu sangat indah, hal yang menyenangkan untuk di pandang.


Tidak ada kata menolak, semua di terima dengan baik. Tidak perduli pada ponsel yang terus berdering karena pekerjaan yang sudah menanti, keduanya masih hanyut dalam panasnya suasana di pagi hari ini.


"Sssstttt Mas."


Suara itu keluar begitu saja, saat kedua gundukan miliknya di mainkan secara bergantian. Entah di mana sudah benang-benang yang menjadi kain yang melekat di tubuh keduanya. Padahal semua itu baru saja terpasang belum sampai satu jam pun.


Semakin lama semakin penasaran, bersama dengan perasaan yang juga semakin tidak karuan. Tidak perduli entah sudah berapa lama yang jelas keduanya masih ingin terus bersama, berada dalam kungkungan satu sama lainnya. Meluapkan segala perasaan yang ada, merasakan, serta mencercap manis madu yang begitu menawarkan ke indahan nya.


Wajah sayu penuh hasrat, suara yang menggema. Gerakan yang berpacu menjadi lantunan tersendiri dalam menyambut pagi yang cerah dengan Matahari yang semakin menaiki langit yang biru.


"Mas," suara Risa yang lembut dan terdengar manja di telinga Hilman seakan membuatnya semakin ingin lebih, tidak ada kata yang bisa mewakili perasaan saat ini yang jelas wanita yang kini berada dibawahnya terlihat sangat cantik dengan rambut yang berantakan, dengan mekeup yang juga mulai luntur karena ulahnya.


"Ah....ah....ah...ah....." semua semakin terasa indah, seiring dengan gerakan yang semakin cepat. Hingga sampai puncaknya tiba, keduanya terkapar lemas tanpa bisa berkata-kata.


Setelah tersadar Risa merasa malu, hal yang aneh baru saja terjadi.


"Sejak kapan kau begitu pintar?" goda Hilman, "Tapi tidak papa, sering-sering ya itu bagus untuk kelangsungan rumah tangga kita," Hilman mencolek dagu Risa, ia kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengulangi mandi paginya.


"Kan aku jadi malu sendiri," gumam Risa sambil menarik selimut hingga menutupi bagian wajahnya, beberapa kali Risa mencoba untuk tetap santai. Tapi tidak bisa karena ia sangat malu mengingat ia yang memulai duluan, "Malu banget sih."


Hilman sudah dengan jasnya, yang artinya ia sudah ingin berangkat bekerja, "Cantik," Hilman menarik selimut agar melihat wajah Risa.


Risa cepat-cepat kembali menarik selimut untuk menutupi wajah malunya.


"Hehehe....." Hilman terkekeh geli, andai saja ia masih bisa bersantai pasti ia lebih memilih untuk tidur di samping Risa, "Mas berangkat ya, sering-sering lah seperti tadi," goda Hilman.


"Ibu!!!" seru Risa.

__ADS_1


"Ahahahhaha....."


__ADS_2