
Risa membuka matanya, ia melihat Hilman sudah tidak ada di sampingnya. Namun ada sebuah buku dengan bolpoin di atasnya, tepat berada di atas meja. Risa mulai duduk sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, tangannya bergerak dan menggeser bolpoin kemudian memegang buku tersebut.
"Mas ada rapat, setelah terbangun jangan lupa makan ya cantik."
Wajah Risa seakan memerah, goresan pena yang mengukir sebuah pesan membuat wajah Risa bersemu merah. Hati yang bahagia seakan bertaburan bunga yang terus bertaburan di sekeliling nya, memang sangat sederhana namun Risa sangat bahagia.
Drettt.
Ponsel Risa berdering, ia melihat ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Sedikit Risa bingung, sebab seingatnya ponsel tersebut berada di dalam tas tangan kesayangannya. Tidak ingin terus berada dalam kebingungannya, tangan Risa mulai menyambar ponsel dan melihat nama seseorang yang tertulis di layar ponsel.
"Suami ku," gumam Risa dengan bingung, dan ia tidak tahu itu siapa, "Halo," Risa menjawab panggilan tersebut dengan sedikit ragu, sebab ia tidak mengenal siapa kontak dengan nama Suami ku. Sedangkan ia dan Hilman tidak pernah saling bertukar nomor ponsel, bahkan Risa juga tidak pernah meminta nomor ponsel Hilman dari siapapun.
"Sedang apa?" Hilman tersenyum di sebrang sana, ia tahu Risa sudah bangun melalui cctv yang tersambung langsung pada ponselnya. Hingga ia langsung menghubungi Risa.
Deg.
Risa mengusap dadanya, ia tidak menyangka jika orang yang menghubungi dirinya adalah Hilman, "Mas tahu nomernya Risa?" tanya Risa dengan ragu.
Hilman tersenyum melihat exspresi wajah Risa yang tersenyum malu, perasan Hilman semakin tidak karuan dan ingin segera pulang hanya untuk melihat senyuman Risa yang begitu membuatnya mabuk kebayang, "Kenapa bertanya kembali?"
"Em," Risa mengangguk, "Sedang duduk dan baru saja bangun," jawab Risa dengan pertanyaan Hilman tadi.
Hilman tersenyum, padahal ia sudah tahu Risa sedang apa. Tapi ia hanya ingin mendengar suara Risa yang begitu lembut setiap kali menjawab pertanyaan nya, "Kamu makan ya, sudah ada di ruang kerja Mas."
"Em," Risa mengangguk, "Risa mandi dulu ya Mas," kata Risa yang ingin mengakhiri pembicaraan, sebab ia semakin tidak karuan.
"Iya, ayo matikan."
"Iya," Risa langsung mematikan sambungan telepon, karena Hilman sudah memintanya. Setelah itu Risa senyum-senyum tidak jelas, sambil melempar selimut dan ia berjalan menuju kamar mandi tanda sehelai benang pun.
"Hehe...." Hilman terkekeh melihat Risa yang selalu bahagia, bahkan dengan santainya Risa berjalan dengan begitu indah menampakan tubuh mulusnya, "Kalau saja dia tahu cctv ini, dia tidak akan sesuka hati nya lagi, tapi tidak apa. Dia sangat manis sekali," Hilman mulai memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya, sebab Risa sudah masuk kedalam kamar mandi. Mungkin ia juga akan memasang cctv di sana, agar bisa terus memantau Risa setiap kali ia sedang pergi.
Tubuh Risa terasa lebih segar, setelah mengguyur tubuhnya di bawah shower. Selesai dengan ritual mandi nya, Risa kembali memakai pakaian nya yang sudah sedikit kusut. Sebab ia tidak memiliki pakaian bersih sebagai pengganti.
"Ya ampun, ini makanan tidak mengundang selera sedikitpun," gumam Risa.
__ADS_1
Tanpa berpamitan pada Hilman terlebih dahulu Risa melangkah keluar, hingga kini ia berada di loby kantor.
"Risa!" Meta yang sibuk dengan pekerjaan kini merasa bahagia karena tanpa sengaja bertemu dengan Risa.
"Hay," sapa Risa tersenyum.
Meta melihat pakaian Risa yang sedikit kusut, ia bingung dan menatap penuh tanya, "Kenapa baju kamu kusut begini?" tanya Meta yang ingin tahu.
"Paling abis mantap-mantap sama Bos, kan dia suka ngerayu bos," ujar seorang wanita yang melewati Risa dan Meta. Ia menatap tidak suka pada Risa.
"Keyra, kalau ngomong jangan asal!" kesal Meta.
"Udahlah.....dia itu siapa?" Risa mulai menunjukkan wajah angkuhnya, bahkan membalas tatapan remeh Keyra.
Keyra kesal pada Risa, ia kemudian melenggang pergi sambil tersenyum miring.
"Udahlah Risa, dia itu memang begitu," kata Meta sambil cekikikan, dan merasa Keyra sangat tidak penting, "Kamu mau ke mana?"
"Mau ke restoran depan, aku lapar banget," Risa menunjukkan perut nya yang sudah berdemo minta di isi.
"Aku enggak bisa temani kamu, soalnya aku harus segera selesaikan ini. Tapi," mata Meta mengarah pada tengkuk Risa, "Sa, ini apa ya?"
"Sa?" Meta masih sangat penasaran, bahkan sampai menggerakkan pundak Risa.
"Ini, aku di gigit nyamuk," bohong Risa dengan suara yang bergetar.
"Nyamuk?" tanya Meta bingung, "Sebanyak dan sebesar ini?" tanya Meta lagi.
"Iya, ini gigitan bapak nya nyamuk. Makanya besar, kalau gigitannya hanya kecil artinya itu di gigit anak nyamuk," jawab Risa dengan tidak masuk akal, "Aku pergi dulu," Risa langsung saja melenggang pergi, ia tidak mau kalau sampai Meta semakin banyak bertanya. Bisa saja jawabannya semakin tidak karuan.
Meta masih berdiri di tempatnya, sambil otaknya yang berpikir keras karena jawaban Risa yang terdengar aneh, "Apa iya ada bapaknya nyamuk," Meta mengibas tangannya di depan wajah, kemudian ia kembali masuk ke ruangannya agar tidak di buat pusing karena jawaban aneh Risa.
Risa duduk di salah satu sofa yang ia anggap sangat nyaman, setelah itu ia memesan makanan yang menurutnya cocok dengan seleranya saat ini.
"Risa," Doni yang juga tengah makan siang di restoran yang sama tersenyum saat melihat Risa.
__ADS_1
"Hay Don," sapa Risa dengan senyuman ramah seperti biasanya.
Doni berpindah duduk pada meja yang sama dengan Risa, "Kamu udah pesan?"
"Udah," Risa mengangguk.
"Sa, aku hubungin kamu terus. Tapi kok enggak bisa, apa kamu memblokir nomor ponsel aku?" tanya Doni dengan ragu.
Risa menggeleng, ia tidak pernah membelikir nomor siapapun termasuk Doni, "Aku enggak blokir kok," jawab Risa yang juga bingung.
"Ya udah mungkin jaringan," Doni tahu Risa tidak pandai berbohong, dan menurutnya itu tidak harus di perpanjang lagi, "Kamu jadi belajar mengendarai motor?" tanya Doni saat mengingat keinginan Risa beberapa saat lalu.
"Jadi dong, nanti saja sekalian kita pulang kantor," usul Risa dengan bahagia.
"Apanya yang pulang kantor?" tanya Hilman yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Risa.
Risa tidak merasa bersalah, ia terlihat biasa saja. Namun, berbeda dengan Doni yang takut pada Hilman.
"Bos, saya dan Risa....." Doni mencoba menjelaskan, namun tatapan Hilman yang tajam membuat nya urung berbicara.
Hilman beralih menatap Risa, "Kau tahu batasan mu?" tanya Hilman.
Risa tidak menyangka jika Hilman bisa sampai begitu marah, Risa beralih menatap Doni, "Doni, maaf ya. Aku tidak bisa saat ini belajar naik motor dengan mu," kata Risa dengan tidak enak hati.
Doni benar-benar bingung, mengapa Risa begitu menurut pada Hilman.
"Kenapa masih di sini?!" geram Hilman.
"Saya permisi bos," pamit Doni tanpa ingin berdebat dengan Hilman ia tidak ingin kehilangan pekerjaan dengan jabatan yang bagus.
"Apa kau tidak tahu batasan mu?"
"Mas," Risa menarik Hilman agar duduk di sampingnya, "Bertengkar nya setelah aku makan saja ya," tawar Risa, sambil bergelayut manja pada lengan Hilman.
"Apa kau tidak ingat sudah bersuami!"
__ADS_1
Risa beberapa kali mengelus lengan bagian atas Hilman, dan tanpa menjawab setiap amarah Hilman. Sampai akhirnya Hilman diam dan tidak bisa lagi marah.
"Kenapa aku malah lupa sudah bersuami," gumam Risa.