Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Cuman bisa menipu


__ADS_3

Devan kini benar-benar mengantarkan Hanna berbelanja, karena setelah kejadian beberapa saat lalu Hanna sedikit takut. Dan Derren juga meminta ikut dengannya ke pasar.


"Mama beli kain ke tempat langganan Mama dulu ya," kata Hanna, ia turun dan meninggalkan Derren dan Devan di dalam mobil.


"Iya Ma," kata Derren mengangguk, dan ia hanya memainkan aksesoris pada mobil sang Papa sambil menunggu Hanna.


Hanna yang berjalan menuju toko langganan nya, tiba-tiba terkejut. Karena ada yang menyapa dirinya.


"Assalamualaikum," sapa pria tersebut.


Hanna berhenti melangkah, ia menatap pria tersebut. Sejenak Hanna tertegun menatap pria tersebut, "Mas, Rifki...." kata Hanna setelah lama mengingat siapa pria di hadapannya, "Waalaikumsalam," jawab Hanna setelah sadar, sebab tadi ia belum menjawab salam Rifki.


"Lama ya loading nya?" Rifki tersenyum, saat menatap Hanna.


"Hehehe....." Hanna tertawa kecil, karena apa yang di katakan oleh Rifki memang benar sekali, "Maklum Mas kita udah lama enggak ketemu kan? Agak lupa," kata Hanna lagi.


"Iya juga sih," Rifki mengangguk, "Gimana sekarang hapalan kamu?" tanya Rifki, sebab Hanna adalah salah satu dari santri yang gemar menghapal Al-Qur'an.


"Hancur Mas," jawab Hanna, sebab selama ia berumah tangga semua itu memang terbengkalai. Berbagai masalah yang menderanya, membuat Hanna tidak lagi mengikut pengajian seperti dulu.


"Aduh bisa begitu ya," kata Rifki lagi dengan tertawa kecil.


Devan yang melihat dari kejauhan merasa geram dengan Hanna yang terlihat begitu akrab dengan seorang pria, "Derren, itu Mama takutnya di culik...." kata Devan pada putranya.


"Tulik?" tanya Derren.


Devan menggendong Derren untuk turun dari mobil, dan mendekati Hanna.


"Mama!!!" seru Derren.


Hanna dan juga Rifki mengikuti asal suara tersebut.


"Apa Nak," Hanna menggendong Derren yang menarik bajunya.


"Anak kamu Han?" tanya Rifki.


"Iya, ini anak aku," kata Hanna.


"Udah berapa?" tanya Rifki lagi.

__ADS_1


"Anak kami sudah dua," jawab Devan yang ternyata berdiri di belakang Hanna.


Rifki tersenyum dan tidak lagi banyak bertanya, karena Rifki yakin jika yang menjawab barusan adalah suami Hanna.


"O, aku pikir tadi kamu masih gadis," kata Rifki lagi.


"Sudah menikah dan anak dua," ujar Devan lagi.


"Huuuufff," Hanna menarik nafas, karena entah mengapa Devan seolah bersikap seperti suaminya saja.


"Saya permisi," kata Rifki.


"Iya," Hanna tersenyum, dan Rifki berlalu pergi.


"Kamu apasih Mas!" geram Hanna, karena ia sangat kesal sekali pada Devan.


Devan mengangkat kedua bahunya, seolah ia tidak bersalah.


"Dasar!" Hanna geram, dan ia langsung masuk ke dalam toko langganan nya. Dengan menggendong Derren juga.


Hanna mulai mencari yang sesuai dengan pesanan pelanggan nya.


Hanna diam saja dan tidak perduli, ia benar-benar kesal pada Devan.


"Atau toko kain ini aku belikan untuk mu kalau kau mau," tawar Devan lagi.


"Oh ya?" tanya Hanna dengan tersenyum.


"Kau mau?" Devan tersenyum bangga, karena Hanna terlihat suka dengan tawaran nya. Itu artinya ia bisa lebih dekat dengan Hanna lagi.


"Enggak!!" ketus Hanna.


Glek.


Devan meneguk saliva, ia sudah senang tapi ternyata Hanna sama sekali tidak mau.


"Kalau kau punya butik sendiri, kau lebih baik," kata Devan lagi.


"Yang punya toko kain ini duda, kalau aku mau menikah dengan nya. Aku bisa jadi pemilik toko kain ini, dan aku lebih tertarik. Dari pada tawaran mu," kata Hanna dengan tegas.

__ADS_1


"Apa aku beli saja toko kain ini, biar aku yang jadi pemilik nya. Aku kan juga duda, nanti aku bisa melepaskan duda ku ini dengan menikahi Hanna," batin Devan.


"Maaf ya Mas, kalau kau pemilik toko ini aku masih berpikir seribu kali," kata Hanna. Karena ia tahu pengaruh Devan seperti apa, jadi bisa saja besok Devan lah yang menjadi pemilik toko kain itu.


"Ya ampun Derren, Mama mu makin ganas saja," gumam Devan. Devan memang sangat terkejut dengan sikap kasar Hanna yang sekarang, dulu Hanna gadis yang lembut. Tapi Devan juga sadar, Hanna begitu karena dirinya. Dan Devan pun sudah menyesali itu semua.


Hanna mulai membayar semua belanjaannya, setelah itu ia membawanya sambil menggendong Derren. Dan Devan mengikutinya dari belakang.


"Derren sama Papa saja," kata Devan sambil menguluarkan kedua tangannya.


"Ma, Papa," Derren meminta Hanna untuk memberikan dirinya pada sang Papa.


"Kalian kalau mau pulang, pulang aja. Aku bisa naik angkot," kata Hanna, karena ia sebenarnya tidak ingin berdekatan dengan Devan. Hanya saja tadi karena terpaksa. Hanna pergi dengan meningkatkan Derren dan juga Devan, ia tidak menunggu jawaban dari Devan terlebih dahulu.


"Gimana bos?" tanya Farhan, tiba-tiba saja Farhan muncul di sana dan Devan pun terkejut.


"Kau disini?" tanya Devan.


"Hehehe....." Farhan tersenyum, "Gimana hasil kerja saya bos?" tanya Farhan.


"Bagus!" kata Devan tersenyum.


"Semua penjahat itu sekarang di rumah sakit bos, aduh," Farhan merasa ngilu saat membayangkan derita pada penjahat sewaannya.


Sementara Hanna terkejut karena tanpa sengaja mendengar percakapan Farhan dan Devan. Awalnya Hanna sudah pergi, hanya saja ada satu barang belanjanya yang terjatuh, dan Hanna yakin benda itu terjatuh saat tadi Devan mengambil Derren darinya.


"Kamu enggak pernah berubah Mas, dari dulu sampai sekarang cuman bisa nya menipu!!" kata Hanna dengan tegas.


Devan dan Farhan langsung memutar leher, keduanya shock karena ternyata Hanna mendengar apa yang ia katakan bersama dengan Farhan.


"Hanna maksud aku enggak gitu," kata Devan yang berusaha membuat Hanna tenang.


"Derren, sini sama Mama," Hanna langsung mengambil alih Derren dari gendongan Devan, ia benar-benar kesal pada Devan yang lagi-lagi menipu dirinya.


"Hanna dengarkan aku," pinta Devan dengan penuh harap, ia benar-benar takut jika Hanna semakin membenci dirinya.


"Sesuatu yang berawal dari kebohongan akan berakhir dengan kekecewaan Mas, harus nya aku sadar kamu itu tidak pernah tulus!" tegas Hanna lagi.


"Hanna, Mas cuman mau dekat sama kamu. Mas enggak bisa kehilangan kamu, Mas enggak sanggup...." kata Devan, tidak perduli dengan orang yang mulai menatap mereka. Karena Devan hanya ingin mendapatkan maaf dari Hanna.

__ADS_1


Hanna tidak ingin melihat wajah Devan, ia langsung naik angkot tanpa perduli pada Devan. Lagi pula Devan bukan lagi siapa-siapa bagi Hanna, mereka bahkan sudah bercerai. Jadi tidak butuh penjelasan ataupun penyelesaian, karena semua sudah tidak berarti sama sekali. Hanna turun dari angkot, ia berada di seberang jalan, dan Hanna melihat mobil Devan juga berhenti setelah angkat yang ia tumpangi barusan pergi tanpaknya Devan langsung menyusul setelah ia pergi.


__ADS_2