Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Dua miliar atau bertahan


__ADS_3

Brak!!


Krang!!


Tidak ada yang lolos dari sasaran amukan Devan, semua benda yang ada di sekitar nya semua habis berterbangan dan berakhir dengan puing-puing nya di lantai.


"Sayang," Diana yang masuk ke dalam kamar melihat kamar mereka sudah habis berantakan. Bahkan kamar itu sudah seperti kapal pecah, "Kamu kenapa?" tanya Diana sambil berusaha memeluk Suaminya dari belakang agar Devan bisa lebih tenang. Karena Diana tidak mengerti ada apa dengan Devan, "Kenapa kamar kamu berantakin begini?" Diana menunjuk sekitar mereka, terlihat banyak pajangan yang pecah.


Namun ternyata tidak ketenangan yang di dapat, Devan justru berbalik menatapnya dengan begitu tajam. Selangkah, demi selangkah, Devan terus berjalan.


"Devan?" Diana mulai gemetaran karena tatapan Devan yang sangat mengerikan, "Sayang," Diana mundur dengan kaki yang gemetaran. Hingga ia keluar dari kamar dan ingin berlari.


Dengan cepat tangan Devan memegang lengannya, dan menarik Diana hingga membentur dinding. Dan tanpa di duga dengan begitu cepat Devan mencengkram leher Diana, "Katakan siapa Ayah anak mu itu?!" tanya Devan.


"Dev...." Diana berusaha melepaskan tangan Devan dari lehernya, tapi tidak bisa karena kekuatan Devan sama sekali tidak sebanding dengan nya.


"Cepat bicara!" geram Devan.


"Dev.... lepas," Diana mulai kesulitan untuk bernafas, karena tangan Devan semakin kuat mencengkram leher nya.


Sarah yang tanpa sengaja melewati kamar Devan dan Diana, melihat dengan jelas Devan yang tengah mencekik Diana. Dengan panik Sarah masuk dan berusaha menjauhkan Devan dari Diana, "Dev, lepas Nak," pinta Sarah karena sepertinya Diana mulai kesulitan bernapas.

__ADS_1


"Cepat katakan siapa Ayah anak mu itu?!" tanya Devan lagi.


"Devan lepaskan Diana dulu Nak," Sarah semakin gemetaran karena ketakutan, ia tidak bisa membayangkan jika Diana kehilangan nyawanya karena Devan. Sungguh Sarah tidak ingin anaknya mengambil nyawa orang lain, "Devan, Diana tidak akan bisa bicara kalau kamu begini," kata Sarah lagi.


Perlahan Devan mulai menjauhkan tangannya, karena ia memang ingin mendengar kata yang di ucapkan oleh Diana.


"Uhuk....uhuk...... uhuk....." Diana terbatuk-batuk, karena tenggorokan nya terasa begitu kering, "Sial, hampir aja nyawa gue melayang," batin Diana.


"Cepat bicara," sergah Devan, bahkan ia ingin kembali mencekik Diana. Tapi dengan cepat Sarah langsung berdiri di tengah-tengah.


"Devan, Mama mohon Nak," Sarah menangis sejadi-jadinya, ia baru sadar ternyata Devan sangat mencintai Hanna. Hingga kini Devan berubah mengerikan setelah kepergian Hanna, "Mama mohon jangan kotori tangan kamu Nak, Mama mohon, hiks....hiks....." Sarah terus menangis, dan ia sangat takut sekali dengan Devan saat ini.


"Apa kau ingin melenyapkan aku hanya karena Hanna?" tanya Diana dengan nafas yang terengah-engah, "Kalian semua sama saja, tidak tahu rasa terima kasih!" kesal Diana, "Padahal aku sudah berkorban banyak untuk Mama Sarah, kalau bukan karena aku Mama sudah tiada!" kata Diana lagi. Diana kini juga tengah berada di puncak kemarahan, karena merasa tidak di anggap. Apa lagi ia merasa Sarah sudah tidak ada di pihaknya lagi, mungkin dengan mengatakan itu semua isi rumah itu bisa sadar. Dan ia bisa mendapatkan keuntungan.


"Tapi apa yang Diana katakan benarkan Ma?" tanya Diana, "Kalian semua, tidak menghargai Diana yang sudah berkorban. Kalian semua hanya memikirkan Hanna dan Hanna!" jawab Diana dengan nada yang tinggi. Tidak ingin kalah dan menyerah, Diana juga merasa berhak atas apa yang sudah ia berikan. Hingga ia juga ingin mendapatkan apa yang ia inginkan.


Sarah menghapus air matanya, "Bagaimana caranya agar Mama bisa menebus ginjal yang sudah kau berikan pada Mama, 1 miliyar, 2 miliyar?" tanya Sarah. Entah mengapa matanya terbuka lebar saat ini. Saat Diana berbicara mengungkit apa yang sudah ia berikan padanya, "Mama akan berikan Diana, tapi kamu harus bercerai dari Devan," kata Sarah dengan tegas, "Karena apa? Karena awal kalian menikah pun demi balas Budi, karena ginjal kamu ada pada Mama! Jadi katakan berapa bayaran nya dan silahkan angkat kaki dari rumah ini!" kata Sarah menunjuk arah pintu.


"Uang 2 miliyar itu tidak seberapa, karena seharunya aku bisa mendapatkan lebih dari itu," batin Diana, "Mama sekarang merendahkan Diana karena uang. Dan merasa hebat karena uang!" tantang Diana.


"Diana kamu pilih uang atau pergi bersama Devan dari rumah ini, tanpa apa-apa. Karena Devan hanya anak pungut dan tidak ada hak pewaris di sini!" kata Sarah. Ia hanya ingin menguji Diana, apakah setelah mengatakan itu Diana akan masih bertahan dengan Devan anak yang ia besarkan dengan penuh cinta, dan sudah menyayangi Devan layaknya anak kandung.

__ADS_1


"Devan anak angkat?" tanya Diana shock.


"Iya, dia hanya anak angkat!" tegas Sarah, "Kalau anak kandung ku seperti Adam pasti sudah membatah aku!" kata Sarah lagi dengan jelas.


Diana benar-benar terkejut akan semua ini. Diana bahkan kini berpikir ternyata ia terlalu bodoh sudah menghabiskan waktu untuk bertahan dengan Devan. Mungkin uang lebih menarik, untuk saat ini ia memang sedang butuh kesegaran, "2miliyar itu bisa untuk bersenang-senang, lagi pula sudah lama sekali aku tidak ke luar negeri," batin Diana, "Baiklah, mana uang itu.....aku juga ingin pergi dari sini!" kata Diana.


Sarah tersenyum miring, matanya benar-benar di bukakan hari ini. Sarah menatap Devan, "Devan berikan cek pada Mama," pinta Sarah. Karena Devan kini punya kuasa atas harta Sarah dan juga Agatha, walaupun ia hanya anak angkat. Tapi Sarah sudah menganggap Devan anak kandungnya.


Devan mengambil cek dari dalam saku bagian dalam jas nya pada Sarah, berikut dengan bolpoin yang di pinta Sarah.


Sarah meletakan cek itu di atas meja rias, dan menuliskan nominal yang sangat fantastis, "Rp2.000.000.000, ambil ini," kata Sarah sambil mengambil cek tersebut.


"Oke....." Diana dengan cepat mengambil cek tersebut dan melihat nominalnya, "Aku pamit," Diana mengambil koper dan memasukan pakainya kedalam nya, setelah itu Diana menarik kopernya keluar.


"Diana!" kata Sarah.


"Apa lagi?" jawab Diana dengan malas.


"Jangan pernah bermimpi untuk bisa masuk lagi ke rumah ini," kata Sarah.


Diana tidak mengindahkan perkataan Sarah, ia menarik kopernya lalu pergi.

__ADS_1


"Devan," Sarah langsung memeluk Devan, ia tidak menyangka jika ternyata anaknya sangat tersiksa menikah dengan Diana, "Maafin Mama ya Nak, Mama ternyata salah," kata Sarah sambil terus menangis dan memeluk Devan.


__ADS_2