
"Hanna, dengarkan Mas dulu," kata Devan sambil berusaha menggapai tangan Hanna.
"Jangan sentuh aku!" Hanna mencoba untuk menghempaskan tangan Devan, kemudian ia menyebrangi jalan. Bahkan tanpa melihat kanan mau pun kiri, dan yang paling menegangkan lagi ia tengah menggendong Derren. Dan dalam waktu yang sama sebuah mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi, mobil itu terlihat kehilangan kendali. Hingga melaju tanpa arah.
"Hanna awas!!!!" Devan dengan cepat menarik Hanna, namun naas. Saat itu Kaki Devan tersandung.
"AUuu," Ringis Hanna yang terjatuh di sisi jalan.
Buk!!
Terdengar suara benda yang menghantam benda lainnya, hingga Hanna langsung melihat ara suara.
"Mas!!!!" seru Hanna dengan panik, karena ternyata Devan yang menjadi korban tabrakan tersebut. Devan langkah kaki yang secepat mungkin Hanna berlari sambil menggendong Derren, ia duduk di jalanan dan berusaha membangunkan Devan, "Mas," kata Hanna lagi.
Devan membuka mata dengan sisa-sisa kesadaran yang ada, bibirnya tersenyum melihat wajah orang yang ia cintai, "Apa yang aku lakukan memang kepalsuan, tapi cinta ku pada mu benar-benar nyata Hanna," Devan tidak lagi sadar dan ia segera dilarikan ke rumah sakit dengan ambulance.
Hanna masih setia menunggu Devan di depan ruang rawat, dengan Derren yang tengah berada di pangkuan nya.
"Hanna..."
Suara Sarah seketika menyadarkan Hanna dari segala pikirannya, kemudian ia berdiri menatap Sarah, "Ini terjadi karena saya Nyonya, saya minta maaf," kata Hanna penuh rasa penyesalan.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Sarah.
"Karena Mas Devan menolong saya," kata Hanna lagi sambil tertunduk.
Sarah mengangguk, ia melihat Derren yang menatap dirinya, "Oma kangen," Sarah langsung mengambil Derren dari gendongan Hanna, ia menciumi wajah cucunya, "Terus sekarang gimana dengan Devan?" tanya Sarah lagi.
"Masih diperiksa dokter," jawab Hanna.
Hanna mengangguk, ia duduk di kursi tunggu sambil memeluk Derren. Sarah menitihkan air mata karena ia takut sesuatu buruk terjadi pada putranya, sedangkan Agatha juga tidak kalah cemas. Ia berdiri di depan pintu sambil menunggu dokter keluar.
Pintu terbuka dan seorang dokter keluar dari dalam sana, "Keluarga pasien?" tanya seorang dokter yang ber- tag Rian.
__ADS_1
"Saya Ayah nya," kata Agatha.
"Pasien baik-baik saja, hanya kakinya sedikit cidera tapi setelah beberapa hari akan sembuh," jelas sang dokter.
"Apa saya bisa masuk?" tanya Agatha.
"Silahkan tuan, saya permisi," sang dokter pergi dan Agatha langsung masuk.
"Derren kita lihat Papa ya," Sarah yang menggendong Derren juga ikut masuk, ia melihat Devan yang berbaring di atas ranjang.
"Papa!!" seru Derren, saat melihat Devan.
Derren tersenyum, karena ia melihat Derren tidak kenapa-kenapa. Tapi ada orang lain yang ia cari, Hanna. Ia belum melihat Hanna.
"Kamu kenapa bisa begini?" tanya Sarah.
"Cinta butuh perjuangan ya Dev?" tanya Agatha tersenyum sinis, "Itu baru laki-laki," tambah Agatha lagi.
"Kalau cinta penuh kebohongan, itu banci," tambah Agatha lagi lalu ia keluar, karena keadaan Devan baik-baik saja. Dan tidak ada yang harus di khawatirkan.
Sampai di depan pintu, ia melihat Hanna berdiri di sana. Sejenak Agatha menatap Hanna, ada air mata yang ia tahan saat menatap wajah wanita dua orang anak itu. Agatha tersenyum lalu pergi.
Hanna tertunduk, ia berpikir mungkin Agatha akan mengusir nya. Tapi ternyata tidak, kemudian Hanna kembali melihat kedalam tampa berani masuk. Hanna sungguh merasa bersalah.
"Mama!!!" seru Derren karena Hanna hanya berdiri di depan pintu.
Sarah melihat arah pintu, begitu juga dengan Devan.
"Hanna," panggil Sarah, "Kamu masuk saja," kata Sarah lagi.
Hanna mengangguk dan perlahan kakinya melangkah masuk, ia berdiri cukup jauh dari ranjang Devan, "Maaf ya Mas," kata Hanna dengan menunduk.
"Kamu kok minta maaf terus?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Karena tadi Mas Devan nolong saya Nyonya," jelas Hanna lagi.
"Enggak papa, anggap aja ini karena permohonan maaf aku," jawab Devan.
Hanna melihat Devan, dan ia tidak tahu harus menjawab apa, "Tapi seharusnya aku yang ada di sini," kata Hanna lagi.
"Aku rela demi kamu, biar aku saja," jelas Devan.
"Kenapa sih kalian enggak rujuk saja?" tanya Sarah, karena ia ingin sekali Hanna dan cucunya tinggal bersama dengan dirinya.
Hanna terkejut dengan permintaan Sarah, ia menatap Sarah dengan bingung.
"Hanna, apa yang di bilang Mama benar. Kita rujuk ya?" tanya Devan pada Hanna.
Hanna kini beralih menatap Devan, dan ia menggeleng, "Maaf Mas," Hanna lagi-lagi menggeleng, "Maaf Nyonya," Hanna beralih menatap Sarah, "Saya bukan sombong atau bagaimana, tapi saya tidak bisa, saya minta maaf," kata Hanna dengan tidak enak.
Sarah mengerti dengan perasaan Hanna, bagaimana pun Hanna sudah pernah di sakiti. Mungkin sakit itu masih terlalu membekas di hati Hanna, hingga ia begitu sulit memaafkan Devan.
"Kalau kamu tidak mau rujuk dengan Devan, itu terserah kamu. Tapi kamu panggil saya Mama ya," pinta Sarah penuh harap.
Hanna mengangguk, mungkin bila untuk yang itu tidak sulit. Tapi jika kembali masih terlalu sakit.
"Hanna, Mas tahu. Mas banyak salah, tapi cinta Mas sama kamu itu benar," kata Devan, ia masih terlalu berharap untuk kembali pada Hanna.
Hanna menitihkan air mata, ia mencoba berdamai dengan segala lukanya. Tapi tetaplah sakit itu masih terasa, dengan cepat Hanna mengusap air matanya, "Aku enggak bisa Mas, sekali lagi maaf kalau aku terlalu keras. Tapi ini masalah hati, aku tahu dan sadar apa yang kamu lakukan kini sudah sangat menolong ku. Tapi untuk permintaan mu, aku....." Hanna menggeleng, ia masih merasakan saat ia di usir oleh Devan. Saat Devan meragukan Davina yang masih di kandungan nya, dan satu hal yang paling membekas di hati Hanna. Ia mengandung dan mengurus Derren sendiri, sambil mencari nafkah untuk dirinya dan anaknya. Belum lagi ia sering kali jatuh sakit karena kelelahan, dan ia hanya sendirian merasakan itu semua.
"Hanna," Sarah tidak tega melihat Hanna menangis, "Seperti nya luka mu begitu dalam, Mama mengerti. Dan semua terserah kamu saja. Yang penting kamu ijinkan Mama bisa lihat cucu Mama kapanpun," Sarah mengusap punggung Hanna, sambil berusaha membuat luka Hanna sedikit menghilang.
"Mas, minta maaf," Devan juga sedikit menyesal karena sudah memaksa Hanna untuk kembali pada nya, tapi semua tidak sampai di sini saja. Karena Devan akan tetap bersemangat untuk bisa mendapatkan Hanna kembali.
"Hanna, kalau kamu merasa Devan sangat bersalah. Sebenarnya ini bukan hanya salah Devan, tapi karena Mama yang selalu maksa Devan supaya melakukan apa yang Mama inginkan Mama minta maaf," ujar Sarah.
"Ini bukan salah Mama, Mama enggak salah. Semua kembali pada Hanna dan Mas Devan, seperti apapun orang yang mendorong kita, bila kita punya pendirian yang tetap semua tidak akan terjadi," jawab Hanna, "Ma, Mas Dev, Hanna pulang," tangan Hanna dengan cepat mengambil Derren dari gendongan Sarah, sebab ada Davina yang juga membutuhkan dirinya di rumah. Di tambah lagi Hanna tidak ingin bersedih, sebab dengan membuka luka lama artinya semua kesedihan yang sudah ia lupakan dengan sekuat nya kembali lagi.
__ADS_1