Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Becek


__ADS_3

"Mas kita belajar naik motor di lapangan yuk," pinta Risa.


Hilman menggeleng, "Kemarin saja kau menghancurkan bunga Ibu, dan kau tahu siapa yang rugi?"


"Ibu," jawab Risa.


"Mas!" Hilman langsung menyentil jidat Risa.


"Ish....." Risa menggosok dahinya, "Ya udah, ada Doni yang mau ngajarin Risa," kata Risa dengan asal.


Hilman yang berdiri di sudut kamar menatap Risa dengan wajah dinginnya, bahkan matanya terlihat begitu tajam. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut nya.


Risa mendadak merasa takut, walaupun ia dan Hilman sering kali berdebat tapi tetap saja rasa hormat Risa pada Hilman tidak pernah berkurang. Ia menyadari kesalahannya, dengan perasaan yang sedikit was-was Risa berjalan mendekati Hilman.


"Mas, maksud Risa enggak gitu kok," kata Risa sambil memeluk lengan Hilman, "Mas, mau ya ajarin Risa," pinta Risa penuh harap, matanya yang berkaca-kaca karena sangat berharap Hilman mau mengajarkan dirinya naik motor.


"Enggak," jawab Hilman, dan ia keluar dari kamar berjalan menuju ruang kerjanya.


"Mas," Risa cepat-cepat menyusul Hilman, bahkan ia kini berdiri di depan meja kerja Hilman.


Hilman membuka laptop, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan secepatnya. Sebab akhirnya-akhir ini pekerjaannya terbengkalai karena terus bersama dengan Risa, hingga Hilman kini harus mengejar waktu demi pekerjaan yang harus selesai tepat waktu.


"Mas," rengek Risa karena Hilman masih saja diam dan menolak mengajarinya mengendarai sepeda motor, "Risa enggak boleh belajar naik motor sama siapapun, tapi Mas juga enggak mau ajarin Risa!" kesal Risa.


Hilman seketika beralih menatap Risa, mata Risa yang berkaca-kaca seakan membuatnya tidak bisa menolak untuk tidak menuruti keinginan Risa. Tapi sebenarnya Hilman bukan tidak mau mengajarkan Risa naik motor, melainkan ia ingin Risa segera mengandung anaknya. Agar ikatan keduanya bisa lebih kuat, dan Risa tidak akan pernah bisa pergi darinya. Namun, tanpaknya Risa tidak mengerti akan hal itu.


"Mas...." rengek Risa lagi.


"Hanya hari ini saja," kata Hilman dengan wajah dinginnya.


Risa terlihat tidak suka dengan jawaban Hilman, "Sampai Risa bisa bawa motor sendiri dong Mas," kesal Risa yang ingin berguling-guling di lantai.


"Risa!" suara dingin Hilman menandakan ia tidak ingin di bantah.


"Tapi kenapa?" tanya Risa dengan bingung.


"Kapan kau hamil, kalau kegiatan mu begitu terus. Mas ingin kau segera hamil," kata Hilman, sebenarnya Hilman tidak memaksa atau pun membebani Risa perihal kehamilan. Hanya saja rasa takut kehilangan Risa membuatnya ingin segera mengandung anaknya.


Risa diam saat tahu alasan Hilman, dan kini ia tidak lagi merengek minta di ajarkan naik motor. Karena ternyata yang di inginkan Hilman adalah anak, dan Risa mengangguk saja.

__ADS_1


"Ayo," Hilman bangun dari duduknya, "Hari ini saja," kata Hilman.


Risa mengangguk dan menurut saja, setelah alasan Hilman yang sangat masuk akal Risa tidak lagi terus memaksa.


"Mas kita belajarnya di lapangan saja," tawar Risa yang tidak ingin membuat masalah lagi dengan menabrak bunga kesayangan Ibu Sintia.


"Ayo naik."


Risa naik di belakang, ia memeluk Hilman dari belakang. Walaupun tubuhnya yang kecil tapi ia tetap bersemangat karena Hilman mau mengajarkan dirinya naik motor.


"Pelan-pelan," Hilman mulai memberi alih sepeda motor nya pada Risa, "Ingat jangan ugal-ugalan lagi," Hilman terus saja memberikan peringatan pada Risa, karena ia tahu istrinya itu sangat ceroboh sekali.


"Siap bos," Risa tersenyum dan mengikuti setiap arahan Hilman.


Awalnya semua terasa baik-baik saja, sampai akhirnya Risa kehilangan kendali karena menghindari bolongan.


"Jangan di rem!"


Bruk!


Risa yang panik langsung mengerem dan keduanya terjatuh kedalam lumpur.


"Dasar bodoh!" geram Hilman, "Becek sekali!" kesal Hilman melihat bajunya yang kotor karena lumpur.


"Puas! Tidak usah lagi belajar naik motor!" kata Hilman.


"Mas jangan gitu dong," Risa bangun dengan Hilman yang mengulurkan tangannya, kemudian ia berdiri di depan Hilman, "Jalannya enggak rata Mas," kata Risa yang terus memberikan alasan.


"Kamu cari jalanan yang rata?"


"Iya," Risa mangguk-mangguk, "Ini jalannya ada bolongan, ada naik turun gimana mau cepat bisa!"


"Kamu mau jalanan rata?" tanya Hilman lagi.


"Iya."


"Kamu belajar di tengah laut saja! Tidak ada bolongan. Semuanya rata!" tandas Hilman.


"Tengah lautan?" Risa menggaruk kepalanya, merasa ide Hilman sangat aneh, "Hehehe....." Risa terkekeh mendengar usul suaminya yang aneh.

__ADS_1


"Cepat naik."


"Hehehe.....Mas mau bawa Risa ke tengah laut buat belajar naik motor nya?" seloroh Risa sambil memiringkan badannya agar melihat wajah Hilman.


Hilman memilih diam dan tidak menjawab, ia menyalakan sepeda motornya dan mulai mengemudikan nya.


"Lihat Mas," Risa menunjuk perempuan yang lewat di antara mereka dengan mengendarai sepeda motor, "Keren banget," kata Risa dengan rasa bahagia, ia tidak bisa mengatakan rasa bahagianya bila bisa mengendarai sepeda motor.


"Nanti kau akan Mas ajarkan lagi sampai pintar, kalau kau sudah memberikan anak untuk Mas," kata Hilman yang memberikan penawaran.


"Mas serius ya?" tanya Risa.


"Iya," jawab Hilman dengan pasti.


"Ya udah ayo kita sekarang pulang, ngebut Mas," pinta Risa.


"Pelan saja," jawab Hilman santai.


"Agar kita cepat bikin anak dan Risa cepat lahiran" jelas Risa.


"Mampus!" Hilman menepuk dahinya sendiri, karena Risa yang sangat aneh.


Keduanya sampai di rumah dengan pakaiannya yang sudah kotor karena lumpur.


"Kalian dari mana?" Ibu Sintia menatap anak dan menantunya secara bergantian.


"Si tengil ini Bu, belajar naik motor tidak juga bisa!"


"Hehehe.....namanya juga belajar ya kan Bu?" tanya Risa dengan semangat.


"Iya," Ibu Sintia mengangguk, "Tapi kamu jangan beraktivitas yang berat dulu kalau bisa," kata Ibu Sintia lagi.


"Enggak kok Bu, Risa di tunda dulu belajar naik motor sampai Risa hamil dan lahiran, gitu kata Mas Hilman," Risa menatap Hilman, "Iya kan Mas?"


Hilman tanpa sadar mengusap wajahnya dengan tangan yang masih berlumpur, karena istrinya yang polos tidak pandai memilih kata saat berbicara. Terutama kepada Ibu Sintia.


"Bu Hilman ke kamar dulu," pamit Himan sambil menarik Risa, dengan Hilman memegang leher Risa.


"Bu, Risa ke kamar ya," pamit Risa.

__ADS_1


Ibu Sintia mengangguk, ia senyum-senyum melihat Risa yang lucu sekali, "Rumah ini berubah ramai saat Risa datang," kata Ibu Sintia yang terus tersenyum bahagia.


Apa lagi Hilman yang pendiam kini sudah mulai banyak bicara lagi, sejak sang Ayah meninggal dunia Hilman mulai dingin dan pendiam. Ia hanya tahu bekerja tanpa mengenal waktu untuk bahagia, namun kini semua berbeda. Kehadiran Risa benar-benar merubah segalanya.


__ADS_2