Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Papa Ayo Cium Mama


__ADS_3

Hanna masuk kembali ke dalam rumah, kakinya perlahan menaiki anak tangga. Kemudian ia masuk ke dalam kamar. Hanna merasa kini lebih segar saat selesai mandi, dan kini ia keluar dengan tubuh yang terbalut handuk. Dengan rambut yang juga di balut oleh Handuk.


Sedangkan Devan kini berada di depan pintu kamar, ia merasa rindu pada kamar yang semenjak kecil itu ia tempati. Hingga ia ingin melihatnya.


Clek.


Pintu ia buka dan Devan melangkah masuk, mata Devan mulai menyapu sekitar nya. Ia merasa kamar nya sudah tidak seperti dulu lagi, bahkan pajangan yang dulu miliknya kini sudah berubah menjadi pajangan fhoto kedua anaknya.


"Segarnya," kata Hanna yang kini keluar dari kamar mandi.


Sementara Devan merasa ada suara di kamar itu, dan ia berbalik kearah pintu kamar mandi. Dan ternyata ada Hanna di sana hanya dengan balutan handuk berwarna putih yang melilit di tubuhnya.


"Mas!!!" Hanna juga panik, sebab ada Devan yang tengah menatapnya.


Glek.


"Hanna??" Devan tercengang saat melihat kemolekan tubuh Hanna, bahkan ia tidak bergerak dari tempatnya.


Hanna menyilangkan tangannya di dada, ia sangat panik sekali. Kemudian cepat-cepat Hanna kembali masuk ke dalam kamar mandi, "Mas keluar dari sini!" teriak Hanna dari dalam kamar mandi.


Deg.


Devan mulai sadar dan ia cepat-cepat keluar dari dalam kamar yang dulu miliknya, kini sudah menjadi milik Hanna.


"Apa tadi yang aku lihat," gumam Devan saat sudah berada di luar kamar.


"Ada apa Dev?" tanya Sarah, karena ia melihat Devan seperti orang yang sedang terkejut.


"Ma ini kamar Devan kan? Apa Devan salah masuk kamar?" tanya Devan bingung.


"Iya ini kamar kamu dulu, tapi Mama minta Hanna yang menempati kamar ini. Supaya Derren sama Davina juga sedikit merasa kamu ada, di saat kamu pergi dan Hanna mau menempati kamar ini karena anak-anak kalian," jelas Sarah.


"Em...." Devan mengangguk, dan ia masih mengingat dengan jelas saat melihat tubuh Hanna yang hanya terbalut handuk.


"Ada apa sih?" tanya Sarah yang bingung.


"Enggak papa kok Ma," jawab Devan, tentu saja ia menjawab tidak apa-apa. Mana mungkin ia katakan habis melihat Hanna dengan handuk di tubuhnya saja.

__ADS_1


Davina dari tadi sibuk di taman belakang menunggu acara tiup lilin, namun karena tidak ada yang kunjung datang ia menyusul Oma Sarah. Agar acara segera di mulai.


"Oma!!!! Papa!!!? Ayo tiup lilinnya. Lama banget sih, Davi udah cantik nih," kesal Davina.


"Iya sabar ya, kita tunggu Mama. Kita sholat berjamaah dulu, ayo kita ke taman duluan," kata Oma Sarah.


"Papa jangan lama ya, Davi mau tiup lilin dan potong kue," pinta Davina.


Devan yang hanyut dalam khayalan nya tidak mendengar apa yang di katakan oleh Davina, seperti otaknya sedang tidak baik-baik saja.


"Devan," Oma Sarah menepuk pundak Devan, hingga Devan segera tersadar.


"Kenapa Ma?" tanya Devan bingung.


"Huuuufff, kamu kenapa sih. Ya sudah, Mama sama Davina ke taman duluan. Kamu cepat menyusul ya," kata Sarah lalu ia pergi bersama Davina karena tangannya di tarik oleh Davina yang sudah tidak sabar.


Devan mengusap wajah nya, ia berusaha tetap sadar sebab otaknya mulai tidak terkondisikan. Dengan langkah yang lebar Devan segera menuju kamar tamu, ia segera mencuci wajahnya agar lebih segar.


Waktu solat magrib tiba, dan kini mereka tengah berada di mushola kecil yang di buat dekat taman belakang. Dimana tempat itu memang di khususkan untuk tempat melakukan ibadah solat berjamaah, Devan yang masih memakai kemeja nya berdiri di belakang Agatha dan bersebelahan dengan Adam juga Derren. Sedangkan yang lainnya berdiri di belakang kaum lelaki.


"Ayo Devan," Agatha menarik Devan ke depan untuk menjadi iman.


"Papa saja," Devan mencoba menolak, tapi Agatha tidak terima penolakan.


"Ayo Kak, kami sudah rindu saat-saat kau yang mengimani kami," tambah Adam.


Semenjak ia pergi dari rumah karena kedua orang tuanya menentang nya menjadi seorang dokter, keluarga mereka memang mulai retak. Setelah itu keluar itu kembali ditimpa masalah yang semakin rumit dan bertubi-tubi, hingga mereka sudah tidak pernah melakukan ibadah solat bersama dan Adam sangat rindu, saat-saat seperti ini.


Hanna yang berdiri di samping Oma Sarah merasa bingung dan bertanya-tanya, apakah Devan bisa menjadi imam sholat. Sebab selama ia menikah dengan Devan tidak pernah satu kali pun Devan mengimani dirinya, bahan Devan juga tidak pernah melakukan solat.


"Allahu Akbar....."


Terdengar suara Devan yang kini menjadi imam sholat, suaranya yang indah seakan menjadi suatu nilai tersendiri. Ia awalnya ragu dengan bacaan sholat nya, tapi karena Agatha terus memaksa nya Devan akhirnya mencoba kembali. Lagi pula ia sadar, selama ini ia terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga lupa dengan beribadah.


Sedangkan Hanna tanpaknya tidak khusuk dalam solat nya, ia bahkan sangat terkejut mendengar suara Devan yang terlihat fasih dalam membaca setiap lantunan ayat suci. Sungguh Hanna baru tahu sisi lain dari Devan, selama ini Devan memang selalu menonjolkan sikap negatif nya.


"Assalamualaikum warahmatullah....."

__ADS_1


Solat selesai, dan di lanjutkan dengan berdoa. Setelah itu barulah semuanya bersalawat dan mencium punggung tangan yang lebih tua. Derren dan Davina sangat bahagia karena bisa mencium tangan kedua orang tuanya, tapi Davina malah melihat hal yang aneh.


"Oma tadi cium tangan Opa, Ayah juga cium tangan Mama, kok Mama enggak cium tangan Papa?" tanya Davina bingung.


Semua mata langsung menatap Davina, karena terkejut dengan pertanyaan bocah itu.


"Iya ya, bener," tambah Derren juga, "Ayo Ma, cium tangan Papa. Mama nggak sopan sama Papa," kata Derren pada Hanna.


"Mmmmfffffpp....." Adam menahan tawa saat melihat wajah Devan dan Hanna yang mendadak pucat.


Sedangkan Devan kini dan Hanna saling melihat, rasanya keduanya masih cukup malu dengan hal yang baru terjadi beberapa saat yang lalu waktu di kamar.


"Ayo Ma, cium tangan Papa!!!" seru Davina lagi.


Hanna menatap Opa Agatha yang tersenyum padanya, kemudian menatap Oma Sarah yang menahan tawa. Sedangkan Adam sudah pasti sudah tertawa dengan lebarnya.


"Ayo Ma, salam Papa. Davina sama Derren bener tuh," seloroh Oma Sarah.


Glek.


Hanna meneguk saliva saat mendengar kata yang keluar dari mulut Sarah.


"Mama," kata Hanna sambil menahan kesal.


"Papa ayo bilangin ke Mama, buat cium tangan Papa," pinta Davina yang kini dudu di pangkuan Devan.


"Mama ayo cium tangan Papa," kata Devan dengan konyolnya.


Hanna langsung melebarkan matanya, saat ini Devan terlihat konyol.


"Mmmmfffffpp....." semuanya menahan tawa melihat wajah Hanna yang terkejut, bahkan sampai memerah.


Mau tidak mau Hanna mulai mendekat dan mencium tangan Devan, walaupun tangannya terbalut oleh mukena. Tetap saja rasanya Hanna masih sangat malu.


"Papa cium Mama!!!" kata Derren.


Deg.

__ADS_1


Kali ini Devan dan Hanna langsung terkejut dan tentu saja keduanya tidak akan mau dengan hal itu.


"Mmmmfffffpp...." Adam lagi-lagi menahan tawa karena itu memang ia yang mengajarinya.


__ADS_2