
Hari ini adalah hari yang seharusnya menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi sepasang kekasih yang akan segera melangsungkan pernikahan, tapi berbeda dengan Risa dan Hilman. Keduanya menganggap ini suatu hal yang buruk, tapi harus tetap di jalani.
"Kau masih punya waktu Risa," bisik Hanna di telinga Risa.
Risa yang sudah siap dengan gaun pengantin di tubuhnya tersenyum, ia mengangguk pada Hanna. Walaupun sebenarnya hatinya tidak baik-baik saja, rasa takut sudah pasti ada namun ia masih tetap tenang seolah biasa saja.
"Risa," Mom Citra yang sudah memakai kebaya di tubuhnya menemui Risa ke kamar nya, ataupun kamar hotel super mewah yang sudah di persiapkan jauh-jauh hari. Namun sepertinya kini kamar itu di isi oleh pengantin pengganti, dia adalah Risa adik kandung dari Devan, "Risa kau yakin dengan keputusan ini?"
"Iya Mom, dan aku tidak akan membatalkan nya," jawab Risa dengan pasti.
"Mom apakah kau membenci ku?" tanya Hanna dengan perasaan bersalah, "Aku memang pantas untuk di benci," kata Hanna lagi penuh penyesalan.
"Kesalahan ini sudah bertimpa-timpa Hanna, pertama Devan, kedua kau dan ketiga Risa. Jadi jangan ada yang saling menyalahkan, karena kita semua salah dan semoga kedepannya kita lebih dekat dan saling terbuka," ujar Mom Citra.
Hanna mengangguk, dan berulangkali mengusap air matanya, "Risa kau masih punya waktu," kata Hanna lagi.
Tidak lama berselang pintu terbuka, dan seorang wanita menghampiri Risa, "Apa pengantin nya sudah siap?" tanya wanita tersebut.
Risa mengangguk, ia kemudian menatap wajahnya di cermin, "Bukankah aku sudah yakin? Lalu kenapa aku gugup begini, kenapa aku takut," batin Risa.
"Risa," Hanna menepuk pundak Risa, sebab ia sadar Risa tengah memikirkan sesuatu.
Risa mengangguk setelah sadar dari lamunannya, dan ia keluar dari kamar bersama Mom Citra dan juga Hanna.
Gedung mewah dengan dekorasi yang tidak kalah megah sudah terpasang rapi, suasana malam dengan penerangan lampu yang berkelap-kelip seakan semakin membuat suasana menjadi lebih indah. Namun siapa sangka, sepasang calon pengantin yang kini akan melapaskan ijab qobul tidak saling mengenal sama sekali. Sampai Risa duduk di samping Hilman pun keduanya tidak saling mengenal, hingga akhirnya Hilman menjabat tangan Arsielo Anderson dan semua berseru.
Sah..
__ADS_1
Sah..
Sah..
Clarisa Anderson anak kedua dari pernikahan Arsielo Anderson dan Citra Anderson kini sudah resmi menyandang gelar istri, bahkan dengan mendadak dan tanpa tahu seperti apa pasangannya.
Dengan tangan yang bergetar, dan raut wajah datar Hilman memasangkan cincin pernikahan di jari manis Risa. Dan begitu juga dengan Risa yang memasangkan cincin pernikahan di jari manis Hilman, setelah itu ia diminta untuk mencium punggung tangan Hilman.
"Pupus sudah harapan ku," gumam Farhan dengan perasaan bersedih.
"Hilman, ayo cium kening istrinya," pinta seorang wanita yang tidak lain adalah adik kandung dari Sintia.
Hilman menurut saja, ia mulai memegang pundak Risa dan perlahan mendekat. Tapi malah Risa yang menjauh. Bukan tanpa sengaja Risa menjauh, tapi ia terlalu shock dengan permintaan wanita paruh baya tersebut. Padahal itu adalah hal yang wajar bagi pengantin sehabis memasang cincin nikah.
Hilman diam dan tidak lagi memaksa, karena keduanya memang tidak saling mengenal.
"Meyda, mungkin mereka malu," kata Sintia agar tidak lagi memaksa Risa untuk di kecup keningnya.
"Tidak boleh begitu lho Kak, itu namanya tidak menghargai suami," kesal Meyda, "Ayo Risa tidak boleh begitu, kamu mau mempermalukan suami mu?"
"Maaf Tante, tapi Risa belum pernah ciuman. Jadi gimana?" tanya Risa dengan polosnya.
Semua tamu undangan langsung tertawa mendengar pengakuan Risa yang terdengar menggelitik perut, bahkan ada yang tertawa sampai terpikal-pikal.
"Oh....." Meyda tersenyum geli, dan ternyata tuduhannya barusan salah, "Apa selama ini Hilman tidak pernah mencium mu?" goda Meyda lagi.
Risa refleks melihat Hilman, dan ia merasa seram dengan pertanyaan Meyda.
__ADS_1
"Tidak apa, ternyata Hilman ini menahan sampai halal," celetuk Meyda lagi, ia memang tidak tahu apa-apa tentang masalah yang di alami Hilman saat ini, "Kalau begitu setelah masuk ke kamar kamu minta diajari Hilman ya," goda Meyda lagi.
"Ahahahhaha....." semua tamu undangan kembali bersorak mendengar godaan Meyda dan kepolosan Risa.
"Sudah, sudah kasihan pengantin baru ini kalau terus di ketawakan. Tapi Hilman hebat, sepertinya tidak salah memilih wanita," puji Meyda sambil menatap Hilman.
Selesai dengan akad nikah, kini di lanjutkan dengan acara sungkeman. Isak tangis kembali pecah saat Risa menunduk mencium tangan Mom Citra. Ada rasa resah dan gelisah, saat kini anaknya sudah menyandang status istri dari seorang pria yang asing baginya.
"Saya tidak menuntut mu untuk membahagiakan nya, tapi pulangkan dia pada ku andai kau merasa tidak pantas bersanding dengan anak ku yang masih terlalu bodoh itu. Aku mohon jangan ada luka sedikitpun pada tubuhnya karena tangan kasar mu, andai kau tidak bisa mengantarnya pada ku. Kau hanya perlu menghubungi aku, aku sendiri yang akan menjemputnya," pinta Arsielo Anderson dengan hati yang tidak kalah sedih, seorang Ayah yang sangat dekat dengan anak perempuan nya kini harus terpisah karena di bawa oleh suaminya. Tapi cinta seorang Ayah pada anaknya tidak memandang waktu, hingga apapun keadaan nya ia tetap menyayangi dan mencintai putrinya.
Hilman hanya diam dalam seribu bahasa. Ia hanya menurut pada apa yang di perintahkan padanya.
"Terimakasih Risa," Sintia menangis sejadi-jadinya, ia hanya bisa mengatakan kata Terimakasih karena Risa sudah sangat menyelamatkan nama baiknya di hadapan orang-orang dan keluarga nya.
Acara sungkeman selesai, di lanjutkan dengan acara pemotretan. Semua hanya biasa saja, tidak ada yang romantis atau pun tawa bahagia dari wajah kedua mempelai. Bahkan berulangkali juru potret meminta kedua mempelai untuk saling berpegangan tapi tidak ada yang mau, sampai akhirnya ia hanya mengambil gambar seadanya saja.
Malam semakin larut, acara perlahan selesai dan tamu undangan mulai meninggalkan tempat acara. Dan Risa juga mulai lelah, namun masih ada beberapa tamu yang masih tersisa.
"Risa kamu sudah lelah Nak?" tanya Sintia yang melihat wajah Risa.
Risa mengangguk, "Tante, Risa boleh istirahat di kamar enggak?" tanya Risa.
"Panggil Ibu," pinta Sintia dengan tersenyum, "Boleh, kamu duluan saja," kata Sintia dengan tersenyum.
Risa mengangkat gaunnya yang panjang, dan ia segera masuk ke dalam lift.
Ting.
__ADS_1
Ia keluar dari dalam lift dan berjalan menuju kamar, setelah berada di dalam kamar Risa langsung meneguk air putih, "Menikah ternyata sangat melelahkan, tapi kenapa banyak orang ingin menikah? Apa keistimewaan menikah!" gerutu Risa.