Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Sakit Hati


__ADS_3

Hanna duduk sendiri di kursi taman, sambil melihat banyaknya bunga yang bermekaran. Sesekali tangannya mengusap wajahnya dengan kasar, sambil berpikir tentang calon bayi yang ada pada rahimnya. Bibir Hanna tersenyum getir, memikirkan hidupnya yang cukup miris.


"Hay," Adam langsung duduk di kursi bersebelahan dengan Hanna.


Hanna tersentak dan ia benar-benar tidak menyadari Adam entah sejak kapan di sana, "Dokter...." Hanna ingin berdiri, namun Adam menahan lengan Hanna.


"Maaf," Adam menyadari kesalahannya, dan dengan cepat melepaskan tangannya yang memegang lengan Hanna, "Duduk di sini berdua, tidak apa....lagi pula wajah kamu pucat begitu," kata Adam.


Hanna mengangguk, ia tidak menolong sama sekali. Berada didekat Adam cukup membuatnya lebih baik, pikir Hanna.


"Kamu sedang sakit?" tanya Adam.


"Iya dok, aku sedang enggak enak badan," kata Hanna. Tapi ia tidak mengatakan penyebab ia sakit karena kehamilan nya.


"Maaf ya," tangan Ada langsung memegang dahi Hanna yang terasa cukup hangat, kemudian tanpa permisi ia memegang nadi Hanna, "Kamu hamil?" tanya Adam.


Glek.


Hanna meneguk saliva, bahkan nafasnya pun mulai tidak beraturan karena mulai menahan rasa panik.


"Hanna apa kamu sudah menikah?" tanya Adam lagi.


Hanna cepat-cepat bangun, ia tidak ingin semakin berdekatan dengan Adam. Semua pertanyaan Adam cukup sulit untuk di jawab, "Maaf Dokter," ketika Hanna hendak melangkah tiba-tiba kepada nya terasa pusing dan ia hampir saja terjatuh.


"Hanna," dengan cepat Adam berdiri dan menahan tubuh Hanna agar tidak terjatuh, "Kamu kenapa?" tanya Adam.


"Dokter," Hanna merasa sangat pusing dan tidak kuat untuk berdiri.


"Maaf Hanna, tapi aku tidak tega kalau membiarkan mu begini," dengan cepat Adam menggendong Hanna, tanpa menantikan jawaban dari sang pemilik tubuh. Bahkan ia membaringkan Hanna di ranjang.


Devan dari tadi melihat Hanna dan Adam dari balkon. Karena penasaran Diana juga ikut melihat arah yang di tuju oleh Devan, bibir Diana langsung tersungging senyuman. Ia memiliki alat membuat Hanna segera di tendang dari rumah besar itu, bahkan mungkin bisa jadi Hanna langsung mendapatkan cerai.


"Lihatkan Dev, Hanna yang berhijab..... Hanna yang berhijab, lugu, tapi dengan mudahnya menggoda pria lain," kata Diana tersenyum miring.


"Diam!" bentak Devan dengan suara beratnya.


Diana kembali tersenyum, ia tahu kini Devan tengah berkabut emosi. Jadi sedikit dipanasi bisa jadi api dan inilah kesempatan pikir Diana, "Aku tidak salah kan Dev, baiklah anggap saja jika Adam dan Hanna duduk di kursi berdua adalah hal yang wajar dan kebetulan....tapi apakah wajar juga untuk Adam yang menggendong Hanna, seperti nya mereka menuju kamar," lanjut Diana tersenyum.

__ADS_1


Devan semakin mengepalkan tangannya, dan itu artinya tebakan Diana tidak salah. Jika Devan tengah berkabut amarah.


"Kau menanyakan janin yang ku kandung?" tanya Diana, "Lantas bagaimana dengan Hanna yang jelas kau lihat kebersamaan nya dengan pria lain," tambah Diana lagi.


Devan tidak ingin semakin menahan amarah, ia keluar dari kamar dan ingin menemui Hanna dan juga Adam. Semua harus di pertanyakan.


"O....ini bagus sekali," gumam Diana, ia juga ikut menyusul Devan. Diana ingin menyaksikan apa yang akan Devan lakukan pada Hanna.


Kaki lebar Devan terus melangkah, ia langsung masuk ke kamar Hanna yang setengah terbuka.


Brak!


Devan membanting pintu, hingga Adam yang tengah menarik selimut untuk Hanna juga melihat kearah pintu.


"Apa yang kalian lakukan di sini!" tanya Devan sambil mengeratkan giginya.


Hanna mulai mendudukan tubuhnya, dan melihat wajah Devan.


"Kau kenapa Kak?" tanya Adam.


"Apa yang kau lakukan dengan Hanna di kamar ini?!" tanya Devan.


Diana melipat tangannya di dada, kemudian matanya melihat sebuah benda kecil yang terjatuh di kaki ranjang. Ia berjongkok dan mengambil benda tersebut, "Testpack?" kata Diana.


Devan langsung melihat Diana, dan juga benda di tangannya.


"Hanna," Risa kembali ke kamar Hanna, ia ingin segera memanggil Hanna untuk memberikan asi pada Derren. Tapi ia malah terkejut karena melihat keberadaan Devan dan Diana di sana, hingga ia hanya diam saja tanpa lanjut berbicara. Karena terlihat ada keterangan di sana, "Maaf," kata Risa dan ingin pergi.


"Risa!" Diana menghentikan langkah kaki Risa.


"Iya Nyonya?" jawab Risa sambil melihat Diana.


"Ini punya siapa?" tanya Diana menunjukkan benda kecil di tangannya.


Deg.


Risa tidak tahu harus mengatakan apa, ia melihat Hanna tanpa berani menjawab.

__ADS_1


"O.....kau hamil?" tanya Diana yang mulai mengerti, "Anak siapa?" tanya Diana lagi, "Anak Adam!" tebak Diana, "Atau ada yang lain?" tambah Diana.


Hanna mencengkram selimut dengan sekuatnya, ia benar-benar ingin menutupi semua ini. Tapi sepertinya semua cukup sulit untuk bisa si tutupi begitu saja.


"Hanna apa benar kau hamil?" tanya Devan sambil menahan amarah.


Hanna turun dari ranjang, rasanya kini Hanna hanya ketakutan bila nanti Devan tahu jika ia tengah mengandung.


"Anak siapa?" tanya Devan.


Deg.


Hati Hanna hancur berkeping-keping, mendengar pertanyaan Devan. Mungkin ia. memang wanita rendah hingga Devan mengajukan pertanyaan tersebut.


"Hanna aku tanya sekali lagi itu anak siapa?" tanya Devan lagi.


Hanna meremas dada, air matanya meluncur begitu saja. Sungguh sangat malang nasibnya dan janin nya. Walaupun Hanna ingin menutupi kehamilannya, tapi rasanya sakit sekali ketika ayah dari janinnya mempertahankan kebenaran tersebut. Bahkan Hanna melihat sendiri wajah Devan, yang menaruh kebimbangan.


"Hanna jawab aku!" geram Devan karena Hanna masih diam saja.


"Apa kau takut menjawab nya?" timpal Diana, "Ah.....mungkin begitu," Diana tersenyum miring.


"Apa itu anak ku?" tanya Devan lagi, "JAWAB!" Devan mencengkram dagu Hanna, ia benar-benar butuh jawaban dari Hanna.


Butir-butir air mata Hanna jatuh begitu saja, bahkan mengenai tangan Devan. Tidak sedikit pun Devan iba padanya, hingga ia begitu rendah.


"Jangan menangis!" bentak Devan, "Aku butuh jawaban!" tangan Devan melepaskan cengkraman nya, hingga Hanna hampir terjatuh, "Jawab Hanna, jangan menguji kesabaran ku!" geram Devan.


Hanna menggeleng, "Bukan," jawab Hanna dengan baik, untuk apa mengatakan kebenaran nya jika Devan juga meragukan janin itu pikir Hanna. Lagi pula Hanna takut, setelah janin itu lahir akan kembali di rebut Devan begitu saja.


Plak!


Tangan Devan kembali melayang di pipi Hanna, ini bukan yang pertama tapi ini untuk yang kedua kalinya.


Hanna tersenyum getir, ia memegang pipinya dan memberanikan diri menatap Devan, "Ini sudah kedua kalinya, dan aku ingin kau menceraikan aku sekarang juga!" pinta Hanna.


"Kau bukan lagi istri ku, dan kita bukan lagi suami istri!" tegas Devan.

__ADS_1


"Terima kasih," jawab Hanna.


__ADS_2