Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Hanna yang ketakutan, Risa yang tanpa beban


__ADS_3

Semalam Risa dan Hilman memang tidak tidur bersama, bahkan Hilman memilih kamar lain untuk ia beristirahat. Begitu juga dengan Risa, ia tidur dengan bebas dan sesuka nya. Jika mungkin Hilman berpikir setelah kata hinaan yang diterima Risa semalam akan membuatnya menangis, lalu pagi ini bangun dengan mata yang bengkak. Tapi tidak sama sekali, bahkan Risa tidak ambil pusing sama sekali dengan kata-kata Hilman. Bahkan ia tidur dengan pulas dan bebas, dalam hatinya semoga kedepannya mereka juga akan tidur dengan kamar masing-masing. Dan persetan dengan perceraian, menurut Risa dunia terlalu indah untuk di buat pusing. Jadi ia hanya tetap menjadi dirinya sendiri, yang cerewet, tidak mau pusing, dan tidak suka ditindas.


"Huammmm!!!!" bagun pagi Risa cukup membahagiakan, ia merenggangkan otot-otot nya dengan sangat nikmat.


"Bagaimana malam ini?" tanya Hilman yang sudah entah sejak kapan masuk kembali.


Risa memasang wajah sinis dan menatap arah lain, ia benar-benar merasa tidak perlu berbicara pada orang yang tidak sopan padanya.


Karena Hilman melihat Risa tidak perduli, ia kembali berbicara, "Apakah kau nyaman tidur di hotel ini? Tapi bukankah kau sudah terbiasa tidur di hotel bersama pelanggan mu?" ejek Hilman lagi.


"Maksud mu?!" tanya Risa dengan wajah masam, bahkan setelah bertanya ia langsung membuang pandangannya.


"Hehe...." Hilman terkekeh melihat exspresi wajah Risa, "Tanpaknya kau sangat pintar dalam berbicara, maklum kan demi uang!" ejek Hilman lagi.


"Iya....iya....iya, dan iya!" jawab Risa dengan malas, "Puas!" teriak Risa, kemudian ia turun dari ranjang dan segera menuju kamar mandi. Sampai di dalam kamar mandi Risa memutuskan untuk merendam tubuhnya, "Ini lebih baik, remeh sekali dia menilai ku. Apa Ibu Sintia tidak menjelaskan siapa aku?" gumam Risa, sebab sebelum pernikahan dilangsungkan Dad Arsielo Anderson sudah memberitahu jika ia adalah putri dari Arsielo Anderson, pemilik perusahaan Anderson company. Dan Dad Arsielo Anderson meminta Sintia untuk tidak perlu khawatir dengan biaya hidup putrinya, jika memang ternyata Hilman dan Risa tidak ada kecocokan maka ia akan membawa pergi putri kesayangannya.


Dreett.


Ponsel Risa berdering, dan yang menghubungi dirinya adalah Hanna. Dari semalam sampai pagi ini Hanna tidak bisa memejamkan matanya, karena terus memikirkan Risa.


"Halo Kakak ipar," jawab Risa setelah menerima panggilan dari Hanna.


Hanna mengusap air mata nya, ia meletakkan tangan nya di dada, "Kau sedang apa, dan apa kau baik-baik saja?!" tanya Hanna bertubi-tibi.


Risa terkekeh mendengar pertanyaan Hanna, "Memangnya aku kenapa Kakak ipar?" Risa bukan menjawab tapi ia kembali bertanya kepada Hanna dengan santai, "Katakan memangnya apa yang kau khawatirkan tentang aku hemmm?" tanya Risa lagi dengan senyuman.


"Risa, jangan membuat ku takut!" geram Hanna, "Katakan kalau kau baik-baik saja!"

__ADS_1


"Aku baik-baik saja Kakak ipar, memangnya apa yang bisa dia lakukan padaku?" jawab Risa masih dengan santai, sambil berendam dan tidak pernah ambil pusing dalam memikirkan sikap Hilman padanya.


"Apa dia kasar pada mu?" tanya Hanna lagi di sebrang sana.


"Ahahahhaha....." Risa tertawa, dan ia tidak mau membuat Hanna semakin panik, "Nikmati hari-hari mu Kakak ipar, dan jangan khawatirkan adik ipar mu ini ya. Aku baik-baik saja," Risa langsung memutuskan panggilan sepihak tanpa meminta ijin dari Hanna. Kemudian ia memutar musik dan kembali bersantai, "Siapa dia bisa membuat ku pusing, kau itu tidak penting suami.... Ahahahhaha....." Risa menutup mata dan menikmati tubuhnya yang tengah berendam dengan pasilitas pengantin baru yang super mewah.


"Risa halo..... Risa, aku belum selesai bicara!!!" seru Hanna dari seberang sana. Ia kembali menghubungi Risa dan benar-benar ingin tahu jika Risa benar-benar baik-baik saja, tapi Risa tidak menjawab panggilan nya.


"Sayang," Devan berdiri di samping Hanna dan mengusap punggung Hanna.


"Bagaimana dengan Risa Mas, kenapa anak itu berhati malaikat. Dia selalu ada untuk menolong ku, dulu ia rela berjanji menikah dengan Farhan asalkan aku bisa di bantu Farhan untuk bebas dari mu. Dan sekarang dia kembali membantuku, bahkan dia langsung menikah dengan Mas Hilman," kata Hanna sambil menggeleng, ia tidak menyangka mengapa Risa sangat baik padanya.


Devan langsung memeluk Hanna dengan erat, "Aku juga tidak menyangka mengapa dia berkorban sebesar itu. Tapi ini sudah terjadi atas kemauan nya sendiri, bahkan tidak ada dari kita yang menginginkan dia menjadi pengganti pengantin nya," kata Devan lagi, Devan juga takut dengan keadaan ini. Tapi Risa tidak mau mundur setelah memutuskan untuk menjadi pengantin Hilman.


"Hiks....hiks....hiks....." Hanna terus memeluk Devan dengan erat, mata bengkaknya masih terlihat dengan jelas.


"Mama," seru Davina yang tiba-tiba masuk kedalam kamar kedua orang tuanya, "Kok nangis?" tanya Davina bingung melihat mata bengkak sang Mama.


"Tante Risa yang adik Papa itu ya Ma?" tanya Davina.


"Iya, karena dia keinginan Davina untuk tidur dengan Papa dan Mama sekarang terkabulkan," tambah Hanna lagi.


"Jadi itu karena Tante Risa?" tanya Davina seorang mengerti.


"Iya, sekarang Davi minta mbak Kinan buat mandiin Davi, terus ganti seragam sekolah," perintah Hanna.


Davina mengangguk, ia berbalik dan langsung keluar sari kamar dengan senyuman, "Bunda!!!" teriak Davina.

__ADS_1


Adam yang berada di bawah tangga seketika melihat ke atas, di mana bocah itu tengah menuruni anak tangga dengan hati-hati. Sampai di bawah Adam langsung bertanya, "Davi manggil apa barusan?"


Davina tersenyum dan menampakan gigi ompong nya, "Bunda," jawab Davina.


"Maksud Ayah bunda yang Davina maksud siapa?"


"Kan Ayah Adam Ayah jadi bundanya mbak Kinan!" jawab Davina dengan tersenyum.


Adam langsung marah dan menarik telinga Davina, karena bocah itu memang sangat suka sekali membuat ulah, "Dasar suntelkenyut!!!"


"Aduh Ayah sakit!!!" seru Davina.


"Siapa suruh nakal, itu siapa yang ajar?" tanya Adam.


"Om Farhan," jawab Davina.


Farhan yang tidak jauh dari keduanya langsung tersenyum kecut, perlahan ia mundur dan cepat-cepat bersiap-siap untuk berlari.


"Farhan!!!!" geram Adam dan ia langsung mengejar Farhan, namun tiba-tiba Kinan juga muncul mencari Davina.


Kinan berdiri di depan Adam, saat Kinan ke kanan Adam juga ke kanan. Saat Kinan ke kiri Adam juga ke kiri. Hingga akhirnya keduanya hanya diam di sana.


"Silahkan tuan duluan," kata Kinan mempersilahkan Adam.


"Dasar!" kesal Adam lalu ia lewat begitu saja.


"Cie....cie Mbak Kinan... hehehehe!!!"

__ADS_1


*


Jangan lupa Like dan Vote.


__ADS_2