
"Mas kenapa sih diam aja dari tadi?"
Risa sadar Hilman mendadak diam, dan itu terus berlangsung saat mereka kembali dari rumah sakit.
Hilman yang duduk di samping Risa mulai memutar leher ke kanan, Risa duduk sambil menatap dirinya. Hilman masih terus berdebat dengan pikirannya, dan entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
"Kamu hari ini ngapain aja?" Hilman tidak ingin membahas tentang apa yang tengah di pertanyakan oleh Risa, ia lebih memilih topik pembicaraan yang lainnya.
Risa mendesus, kebiasaan Hilman sepertinya kembali lagi, "Di tanya malah nanya balik," gerutu Risa, "Hari ini Risa ke mall, dan Risa beli ponsel baru," Risa bangun dari duduknya dan mengambil paperbag serta mengeluarkan isinya, sebuah ponsel bermerek keluaran terbaru.
Hilman melihat ponsel Risa memang sangat bagus, ia tersenyum samar melihat ponsel istrinya yang harganya jauh lebih mahal dari pada ponselnya. Hilman tidak marah, hanya saja ia merasa lucu. Ternyata memiliki istri itu sangat menyenangkan, bahkan membuatnya lebih semangat dalam bekerja.
"Bagus kan Mas?" tanya Risa dengan antusias.
"Kenapa beli ponsel baru? Beli apa lagi selain beli ini? Pakaian mu itu Risa, jangan tunggu Mas marah, Ada kau membeli pakaian yang layak pakai," tanya Hilman.
"Kok pakaian sih yang di bahas," gerutu Risa, "Ini Risa beli karena Mas udah buat layar ponsel Risa rusak," jawab Risa enteng sambil terus memainkan ponselnya.
"Tapi ini harganya Rp.25.000.000 mahal sekali, ponsel Mas saja harganya cuman Rp.10.000.000," Hilman menunjukan ponselnya pada Risa.
"Dasar pelit!" gerutu Risa.
Hilman semakin suka saat melihat mulut Risa yang komat-kamit karena kesal, sebenarnya Hilman tidak marah sama sekali dan jika ponselnya jauh lebih murah itu karena Hilman yang memang menyukai ponsel tersebut. Tidak semua barang milik Hilman mahal, asalkan ia sudah suka sekalipun menurut orang murah ia akan tetap membelinya. Begitu juga dengan ponsel murah miliknya.
"Mas tidak pelit, tapi kau sangat boros!" kata Hilman seolah ia geram pada Risa, "Pertama kali kau mengambil kartu kredit, ATM dan kartu lainnya kau langsung membeli motor, lalu kemudian mobil, setelah itu baju, ke salon, kemudian ponsel. Mas yang mencari uang kau yang menghabiskan," ujar Hilman seakan ia kesal pada Risa, padahal jika satu miliyar pun perbulan Risa menghabiskan uangnya ia tidak akan bangkrut. Tapi saat ini pelepas lelahnya adalah saat-saat bersama dengan Risa.
"Memangnya kalau bukan Mas yang mencari uang siapa lagi?" jawab Risa santai, bahkan ia mulai menjadikan paha Hilman sebagai bantal, dengan tangan yang terus memainkan ponsel barunya.
Hilman menarik Hidung Risa dengan cukup kuat, setelah itu menarik bibir Risa.
"Ish!" Risa mencubit lengan Hilman karena ia sangat kesal.
"Sakit," Hilman menarik kedua telinga Risa, demi membalas Risa.
"Ya ampun Mas," Risa langsung menatap Hilman, "Bisa nggak sih jangan gangguin Risa!" geram Risa, kemudian ia kembali melihat ponselnya, "Kalau bukan Risa yang ngabisin uang Mas siapa lagi coba?" tanya Risa santai.
"Hehehe....." Hilman terkekeh mendengar jawaban Risa, "Iya juga ya," kata Hilman karena pertanyaan Risa terdengar sangat lucu sekali.
"Makanya bayar gaji Risa!" Risa seketika bangun dan kini duduk sambil bersandar di dada bidang Hilman.
"Mas pinjem dulu gajinya," ejek Hilman, "Mas butuh uang," kata Hilman lagi.
"Udah enggak usah bayar gaji Risa yang itu, anggap aja itu buat bayar harga diri Mas!" ujar Risa.
__ADS_1
"Mmmmfffffpp......" Hilman memegang perutnya, ia tidak kuasa menahan tawa karena Risa sudah membeli harga dirinya dengan harga di potong gaji.
"Mas diam atau Risa sunat!" ancam Risa.
Hilman berusaha untuk tidak tertawa, "Jangan dong, nanti kasihan kamu nya," seloroh Hilman.
"Dasar gila!" kesal Risa, "Tapi ngomong-ngomong Mas udah sunat belum Sih?" tanya Risa dengan polosnya.
"Menurut mu, coba lihat sudah atau belum," jawab Hilman dengan menahan tawa.
"Coba di buka," pinta Risa.
"Buka sendiri lah dan perhatikan."
Pekerjaan Hilman saat ini sangat banyak, apa lagi mengenai proyek baru yang akan ia dapatkan sebentar lagi yang sangat menguras emosi dan tenaga. Namun, sampai di rumah semua lelah itu hilang karena ada Risa yang lucu dan sangat menggemaskan.
"Memangnya kalau udah bentuknya gimana? Kalau belum gimana?" tanya Risa dengan penasaran.
"Kamu tahu jumlah penduduk di Indonesia?" tanya Hilman yang ingin menguji kepintaran Risa.
"273.879.750 jiwa."
"Berapa jumlah anak tetangga sebelah?"
"Kok tahu, Mas aja enggak tahu," kata Hilman bingung.
"Jumlah anak kucing nya aja Risa tahu Mas, kemarin lahiran dan anaknya satu," jelas Risa.
"Ternyata kepintaran mu itu sudah di atas normal," Hilman mengetuk kepala Risa, dan tidak pernah terpikirkan bisa memiliki istri cerewet serta sangat banyak rasa ingin tahunya. Bahkan keduanya menikah tanpa berpacaran, sungguh sangat terasa aneh.
"Mas bikinin Risa nasi goreng dong," pinta Risa.
Pertama kalinya Risa meminta Hilman yang membuatkan makanan untuk dirinya, karena biasanya ia yang meminta Risa membuatkan makanan.
"Mas tidak bisa masak," jawab Hilman jujur.
"Ayo dong Mas," pinta Risa sambil mengedipkap-ngedipkan matanya.
"Dasar!" Hilman mendorong wajah Risa.
"Hehehe...."
"Cengengesan!"
__ADS_1
"Hehe!"
"Masih cengengesan lagi?"
"Nasi goreng!!!" seru Risa.
"Mas tidak bisa masak," jawab Hilman lagi.
"Mas, nasi goreng," pinta Risa yang tidak mau mengerti dengan kata-kata Hilman.
Clek.
Pintu terbuka dan Ibu Sintia tersenyum di depan pintu.
"Ibu ganggu ya?" tanya Ibu Sintia.
"Ada apa Bu?"
Dengan rasa bahagia Ibu Sintia melangkah masuk dengan tangan yang membawa nampan, "Ibu berhasil buat pizza, ini pakek resep Risa," kata Ibu Sintia dengan bangga.
"Waw keliatannya enak," kata Hilman yang terlihat menyukai masakan Ibu Sintia.
"Ayo di coba," Ibu Sintia memberikan pada Hilman.
"Enak Bu," Hilman mengunyah makanan tersebut dengan lahapnya, "Kamu mau?" Hilman mendekatkan nya pada Risa.
Risa bingung antara mencoba pizza buatan ibu Sintia atau tidak, karena ia merasa bau pizA itu sangat tidak enak. Tapi ia juga takut Ibu Sintia tersinggung, dan perlahan tangannya terangkat untuk mengambil satu potong.
"Hueekkkk...." Risa langsung berlari ke kamar mandi, bau makanan itu sangat membuatnya tidak nyaman.
"Lho," Ibu Sintia terkejut melihat Risa yang langsung berlari ke kamar mandi, bahkan terdengar Risa yang muntah-muntah di dalam sana.
Hilman langsung menyusul Risa, ia melihat wajah pucat Risa dengan muntahan yang hanya mengeluarkan cairan saja.
"Kamu sakit?" tanya Hilman.
Risa mencuci wajahnya, ia menggeleng setelah itu ia langsung keluar dari kamar mandi dan menemui Ibu Sintia.
"Bu, maaf ya. Tapi kayaknya Risa masuk angin soalnya Risa lagi enggak selera makan," lirih Risa dengan tidak enak hati, ia takut jika Ibu Sintia nantinya malah tersinggung.
Ibu Sintia mengangguk, pikirannya kini sangat berkecamuk antara penasaran dan juga bingung, "Ibu keluar dulu, pizza nya juga Ibu bawa saja," pamit Ibu Sintia.
"Bu maaf ya."
__ADS_1
Ibu Sintia mengangguk lemah, ia benar-benar bingung dengan Risa yang biasanya sangat suka makan kini mendadak tidak selera makan.