Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Nyicil


__ADS_3

"Risa," Hilman yang kembali dari ruang kerjanya langsung masuk ke dalam kamar. Tampaknya tempat favorit Hilman saat ini adalah kamar, saat ia pulang bekerja langsung ke kamar. Saat ia tidak ada pekerjaan juga langsung ke kamar, dengan tidak lupa mengajak Risa juga tentunya.


Risa yang duduk di atas ranjang melirik Hilman sekilas, setelah itu ia kembali bermain game online di ponsel milik Hilman.


"Risa," Hilman mengambil alih ponsel miliknya yang di mainkan oleh Risa. Sebab karena ponsel itu ia di acuhkan.


"Mas!!!" Risa menatap Hilman dengan tajam, karena ia hampir saja menang kalau Hilman tidak mengambil ponselnya.


Hilman meletakan ponselnya di atas meja, kemudian ia naik keatas ranjang.


"Apasih?" gerutu Risa.


"Bikin anak yuk," ajak Hilman.


"Kemarin udah, tadi juga barusan udah. Tinggal tunggu hasilnya aja kan Mas? Lagian Mas enggak bosan apa, olahraga mulu," tanya Risa.


"Emang udah yakin udah cukup? Gimana kalau bibitnya kurang?" tanya Hilman lagi.


Risa menatap Hilman dengan memicingkan mata, seakan ia tengah berpikir keras karena pertanyaan Hilman.


"Nanti kalau kebanyakan gimana?" tanya Risa lagi, " Nanti tumpah-tumpah, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik," ujar Risa merasa bangga karena menganggap ia sangat pintar.


Hilman menggaruk kepalanya, jangan tanya seberapa aneh kedua orang itu saat ini. Sebab keduanya memang sangat aneh, dan Hilman merasa geli dengan pembahasan mereka.


"Kamu mau cepat-cepat pintar mengendarai sepeda motor matic mu itu bukan?" Hilman mulai mendapatkan ide, bibir Risa seakan menjadi candu bagi Hilman. Hingga saat ia lelah tempatnya melepas penat adalah Risa, namun Risa yang sangat polos kadang tidak mengerti dengan isyarat. Sampai Hilman harus berpikir keras untuk mendapatkan cara agar bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Apa hubungannya dengan naik motor?"


"Kalau kamu cepat hamil dan lahiran, artinya kamu bisa segera belajar lagi naik motor," jelas Hilman sambil mengetuk kepala Risa, tanpaknya mengetuk kepala Risa sudah menjadi hal yang wajib bagi Hilman. Karena dengan begitu ia berharap otak Risa yang lelet bisa bekerja dengan normal.


Risa tersenyum, dan ternyata apa yang di katakan oleh Hilman sangat masuk akal. Dengan gerakan cepat Risa melepas tank top dan menampakan tubuh mulusnya, "Di cicil dari sekarang gitu ya Mas?"


"Di cicil?" Hilman menggaruk kepalanya, istrinya memang aneh namun terlihat lucu sekali, "Emang kreditan?" gumam Hilman.


"Ayo Mas cepat!" Risa langsung menarik Hilman.


Tidak ingin ambil pusing lagi karena istrinya yang aneh namun, bisa membuatnya candu. Ia langsung mendekati istrinya dan melahap bibir merah merekah milik Risa.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu membuat Risa dengan cepat mendorong dada Hilman.

__ADS_1


"Siapa itu, sangat tidak tahu waktu sekali," kesal Hilman yang telentang di atas ranjang.


Risa langsung memakai kembali pakaiannya, dan bergegas turun dari atas ranjang.


Clek.


"Ada apa Mbak?" tanya Risa saat melihat seorang Art.


"Ini makanan yang di kirimkan oleh Mommy anda nyonya," kata Art tersebut.


"Ini dari Mom?" Risa dengan bahagia mengambil alih paperbag tersebut, dan ia membawa masuk kedalam kamar.


"Siapa?" tanya Hilman, ia bangun dari atas ranjang dan ikut duduk di sofa yang sudah di kembalikan lagi di kamar Hilman dan Risa.


"Ini makanan Mas, Mom," Risa memeluk kotak makanan yang sedetik lalu ia keluarkan dari paperbag dan langsung memeluk nya, "Clarisa kangen," kata Risa sambil terus memeluk kotak bekal.


Hilman tersenyum melihat wajah Risa, selama hampir satu bulan menikah keduanya memang tidak pernah berkunjung ke kediaman kedua orang tua Risa.


"Kau rindu Mom mu?" tanya Risa.


"Iya, tapi ada lagi orang yang sangat aku rindukan."


"Siapa?"


"Kalau kau ingin pergi menemui mereka boleh," kata Hilman.


"Mas serius?" tanya Risa dengan bahagia, "Tapi Mom, akan kembali ke Italia. Jadi Risa juga pulang ke Italia ya Mas," bibir Risa tersenyum karena mengingat negara tempatnya di lahirkan dan di besarkan.


"Italia?" tanya Hilman terkejut.


"Iya, Italia. Risa di sana enggak lama satu bulan aja, atau 30 hari lah," tambah Risa dengan wajah berseri-seri.


Glek.


Hilman meneguk saliva, Risa mengatakan tiga puluh hari waktu untuk ia berada di Italia. Sedangkan Hilman pergi pagi dan pulang siang hari saja merasa ada yang kurang bila tidak melihat Risa. Lantas bagaimana dengan 30 hari pikir Hilman, "Tidak, Mas tidak jadi mengijinkan mu pergi!"


Rasa bahagia Risa kini berubah sedih, ia merasa Hilman sangat menjengkelkan, "Tadi iya, sekarang tidak!"


"Mas tidak bisa jauh dari mu," jelas Hilman, karena jika hanya kata-kata kiasan Risa tidak akan paham yang ada hanya menimbulkan perdebatan.


"Ya sudah Mas juga ikut," usul Risa.

__ADS_1


"Mas sedang banyak sekali pekerjaan," Hilman langsung bangun dari duduknya, dan pergi.


Hilman memang sedang banyak pertanyaan, tapi ada hal lain yang juga harus di pertimbangkan mengingat saat mereka menikah tidak dengan keadaan yang baik. Dan Hilman merasa tidak perlu menemui kedua orang tua Risa, kecuali mereka yang terlebih dahulu mengundang nya untuk berkunjung.


"Risa," Ibu Sintia langsung masuk ke kamar Risa.


"Kenapa Bu?" tanya Risa yang kini menatap Ibu Sintia.


"Kamu bisa ajarkan Ibu bikin pizza? Ibu enggak pernah bisa, dan ibu pengen makan buatan sendiri," pinta Ibu Sintia.


"Bisa Bu, apa yang tidak bisa Risa buat, buat keributan juga Risa jagonya," jawab Risa dengan asal.


"Ya ampun," Ibu Sintia terkekeh geli mendengar jawaban Risa, ia bahkan berjalan di belakang Risa sambil cekikikan.


Risa terlihat cekatan dalam membuat sebuah pizza, sampai akhirnya sesuai proses pemanggangan dan Risa meletakan di atas meja. Aroma lezat kian sampai di menyeruak kedalam hidung Ibu Sintia.


"Ya ampun Risa kamu memang pintar," kata Ibu Sintia memuji dengan bangga.


"Kalian masak apa?" Hilman yang mencium aroma masakan yang lezat langsung menuju dapur, dan ternya ada dua wanita cantik yang sedang memasak.


"Ini pizza buatan Risa," Ibu Sintia langsung melahap pizza yang sangat mengundang selera.


"Mas mau!"


Hilman mengangguk, kemudian Risa memberikan padanya juga.


"Enak, kau pintar sekali," puji Hilman sambil terus mengunyah pizza buatan Risa, "Tapi ada yang kurang."


"Kurang?"


"Kopi."


Risa mendesus namun ia segera membuat secangkir kopi untuk Hilman.


"Kau menang cantik, dan pintar, semuanya bisa," kata Hilman dan ia mulai menyeruput kopi buatan Risa dengan nikmat.


"Bagus kalau Mas sadar, memangnya apa yang tidak bisa di lakukan oleh Clarisa Anderson. Bikin anak juga bisa," kata Risa.


"Uhuk....uhuk....uhuk...." Hilman langsung tersedak saat menyeruput kopi buatan Risa.


"Mmmmfffffpp......" Ibu Sintia menahan tawa saat melihat wajah Hilman yang memerah, "Ibu harus menyiram tanaman," pamit Ibu Sintia, "Ahahahhaha......."

__ADS_1


"CK....." Hilman memijat dahinya, karena Risa yang selalu bersikap aneh.


__ADS_2