Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Minus


__ADS_3

"Sayang," Hilman membawa satu piring nasi goreng buatannya kedalam kamar, karena beberapa hari yang lalu ia ingat Risa merengek minta di buatkan nasi goreng.


"Mas bawa apa?" Risa langsung duduk dan melihat nasi goreng yang di bawa Hilman, bibir Risa seketika tersenyum lebar.


"Nasi goreng, ayo makan," dengan percaya diri Hilman meletakan satu piring nasi goreng di tangannya pada meja.


Risa dengan cepat turun dari atas ranjang, kemudian duduk di sofa.


"Hati-hati!" Hilman marah karena Risa terkadang bergerak dengan sesukanya, padahal ia tengah mengandung.


"Hehehe...." Risa terlalu bahagia saat nasi goreng buatan Hilman ia dapatkan.


"Ayo coba," Hilman mulai menyendok nasi lalu menyuapi Risa.


Risa menguyah dengan enaknya, akan tetapi tiba-tiba Risa memuntahkannya ke lantai.


"Sayang?" Hilman menatap Risa penuh tanya.


Risa beralih menatap Hilman, lalu mengambil alih sendok di tangan Hilman.


"Mendadak Risa pengen makan bareng Mas," Risa menyuapi Hilman.


Hilman langsung membuka mulut, kemudian ia juga memuntahkan nasi goreng buatannya.


"Kenapa?"


"Asin!"


Risa menahan tawa melihat wajah Hilman, "Kebayangkan garam kali," ejek Risa.


"Apa iya?" Hilman mulai berpikir keras, "Mas cuman masukin lima sendok padahal," imbuh Hilman lagi.


Risa sampai tersedak karena mendengar jawab Hilman, "Lima sendok Mas?"


"Kurang ya?" tanya Hilman dengan bodohnya.


Risa mendesus, "Seharusnya Mas masukin semua garamnya!" geram Risa.


"Hehehe....." Hilman menggaruk kepala, karena ternyata ia sangat bodoh sekali, "Maaf, Mas memang enggak bisa masak," Hilman menangkup kedua tangannya, meminta agar Risa memaklumi dirinya.


"Mas bisa nya apa sih?" gerutu Risa.


"Bikin anak, tuh...."Hilman menunjuk perut Risa, "Perut kamu udah buncit!" celetuk Hilman.


"Dasar suami minus!" Risa mengambil bantal sofa dan memukuli wajah suaminya.


"Ahahahhaha......" Hilman tertawa karena melihat bertapa kesalnya Risa pada dirinya, "Sayang, udah lama libur. Mas pengen jenguk Dede bayi deh," goda Hilman.


"Mas apasih, bisa kan kalau mau itu kasih kode yang romantis. Risa juga pengen kali Mas di romantis," Risa mendesus menunjukan wajah masam nya.


"Gimana? Mas enggak bisa romantis," Hilman juga sadar akan kekurangan nya, karena ia memang apa adanya, "Yang penting kan intinya," Hilman mendekat pada Risa dengan tangannya yang langsung memegang gundukan.


Tok tok tok.


Hilman kembali mendesus dan duduk dengan sedikit menjauh dari Risa.

__ADS_1


"Masuk!" seru Risa.


Hilman merasa kesal, setiap ia ingin, selalu ada yang menggangu.


"Sa, aku tidur sama kamu ya," pinta Hanna.


Hilman langsung terkaget, karena ia juga ingin memeluk istrinya sampai pagi.


"Lho, kok gitu. Suami kamu kemana?" Risa bingung, sebab tidak biasanya Hanna begitu.


"Aku mual kalau berdekatan sama Mas Dev," Hanna langsung naik keatas ranjang, kemudian menarik selimut sambil memeluk guling.


"Sial, rumah macam apa ini!" umpat Hilman.


"Mas ngomong ya?"


"Mas juga ingin tidur dengan mu, Mas juga mau tengok anak Mas," jelas Hilman dengan suara pelan.


"Ish!" Risa langsung mendorong wajah Hilman dengan tangan nya, lagi-lagi suaminya itu berbicara langsung.


Saat Risa dan Hilman sedang duduk di sofa sambil berdebat, tiba-tiba Devan juga menyusul masuk kedalam kamar Risa dan Hilman.


"Sayang," panggil Devan.


"Suaminya lagi," gerutu Hilman sambil mendesus kesal.


"Hey ini rumah ku, hati-hati kalau bicara!" geram Devan.


"Iya, itu juga istri mu. Bawa keluar, aku mau tidur dengan istri ku!" jawab Hilman tidak mau kalah.


Hanna menutup mulut, lalu cepat-cepat turun karena berdekatan dengan Devan membuat rasa mulanya semakin menjadi-jadi.


"Ahahahhaha......" Risa tertawa terpikal-pikal, melihat reaksi Hanna saat berdekatan dengan Devan.


"Kau kenapa?" Hilman bingung menatap istri nya.


"Azab!!!" teriak Risa sambil menatap Devan, "Rasain nih, ini azab di bayar nyicil. Dulu aja Hamil buat Derren dan Davina enggak di perhatikan, sekarang tahu rasa!" kata Risa menertawakan nasib Devan.


Devan menggaruk kepalanya, ia sangat pusing karena Hanna tidak bisa berdekatan dengan dirinya. Apa lagi sudah hampir satu Minggu Hanna begini.


"Diam!"


"Ahahahhaha...... " Risa begitu puas menertawakan nasib Devan.


"Sayang, ayo ke kamar. Mereka juga butuh waktu berdua," pinta Devan ingin membawa Hanna kembali ke kamar mereka.


"Mas jauh-jauh," Hanna mendekat pada Risa dan memeluk Risa dengan erat.


"Udah, malam ini Hanna tidur sama Risa. Kak Dev sama Mas Hilman tidur di kamar Hanna cepat keluar!" kata Risa mengusir dua laki-laki yang tidur di kamar lainnya.


"Sayang, aku merindukan mu."


"Keluar!"


"Hanna, Mas tidak bisa tidur kalau tidak memeluk mu," kata Devan dengan melas.

__ADS_1


"Peluk Hilman aja ya Mas, Hanna mual kalau berdekatan dengan Mas," kata Hanna dengan suara yang pelan, agar Devan tidak tersinggung. Karena Hanna sendiri pun ingin di peluk oleh suaminya. Akan tetapi tidak tahu kenapa ia langsung muntah, bahkan sampai membuatnya tenangnya terkuras.


Devan seketika melihat Hilman, begitu juga dengan Hilman.


"Hueekkkk....." Devan langsung mual saat mendengar usul dari Hanna.


"Ada-ada saja," Hilman juga ingin muntah, rasanya sangat menjijikan jika di peluk Devan.


"Udah, Risa juga pengen istirahat. Jadi Papi tampan, Mami mau bobo dulu ya sayang," Risa langsung mendorong Hilman untuk keluar dari kamar.


"Sayang?" Hilman menolak, dengan menunjukkan wajah melasnya.


"Mas juga keluar," pinta Hanna dengan suara pelan agar Devan tidak tersinggung.


"Sayang?" Devan juga tidak terima jika ia tidur dengan Hilman.


Risa langsung menutup pintu dan menguncinya, "Biarin juga Mas Hilman, dari kemarin-kemarin aku minta di peluk. Di temenin, dia sibuk kerja! Rasain tu!" gerutu Risa.


"Risa," Hanna terlihat tidak suka pada kata-kata Risa barusan, "Tidak baik begitu pada suami mu, nanti dia pergi gimana?"


"Pergi aja sana, aku kejar!" celetuk Risa.


"Dasar aneh," Hanna terkekeh mendengar jawaban Risa, sebab ia pikir Risa akan mengatakan tidak perduli. Tapi ternyata sebaliknya.


"Biarin Han, malam ini biar suami ku itu di hukum. Biar dia tahu rasanya rindu, biar dia tahu aku tu sayang sama dia, dia sayang sama aku. Kadang seseorang akan sadar akan perasaan nya di saat memiliki hak tapi tidak bisa menggapai," jelas Risa.


"Sok bijak kamu!"


"Hehe....." Risa ikut naik keatas ranjang dan memeluk guling, "Lama banget ya pagi?"


"Apanya yang pagi Risa, tuh. Baru jam sebelas malam!"


"Kangen Suami!"


"Gayanya mau menghukum!"


"Hehehe....."


Tok tok tok.


"Risa sayang!!!"


"Mama Hanna sayang!!!"


Suara pria itu terus saja mengetuk pintu, walaupun istri mereka tidak ingin membukanya.


"Sayang!!!!"


"Hanna?"


"Risa!!!"


Tidak ada sambutan dari dalam, tanpaknya dua wanita itu sudah tidur lelap.


**

__ADS_1


jangan lupa komen ya, like dan Vote.


__ADS_2