Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Mantan istri


__ADS_3

Hari-hari berlalu, tidak ada hari tanpa kedatangan Devan. Bahkan selama satu bulan ini Devan setiap hari menemui anak-anak nya, Derren yang awalnya tidak mau berdekatan dengan Devan kini mulai terbiasa, begitu juga dengan Davina yang selalu di peluk Devan.


Hanna memang tidak pernah membatasi Devan dan keluarga nya untuk bertemu dengan Derren, tapi Hanna juga tidak mau bila bertemu dengan Devan. Bila Devan datang kedua anaknya yang bermain bersama Devan, sedangkan ia di dalam kamar. Ataupun di dapur tanpa perduli pada Devan, namun saat ini tanpa di sadari Hanna ternyata Devan masuk dan ingin ke kamar mandi. Sementara ia sedang memasak di dapur, dengan Risa yang juga membantu dirinya.


Setelah Devan keluar dari kamar mandi ia melihat Hanna, tapi Hanna membuang pandangannya. Bahkan ia terlihat menjaga jarak dari Devan.


"Hanna, aku ingin bicara," kata Devan.


"Em..." jawab Hanna tidak perduli, bahkan ia hanya fokus pada masakan nya.


"Risa, Davina sudah tidur di depan. Dan Derren sedang bermain mobil-mobilan, bisa tolong di lihat?" tanya Devan.


"O, iya tuan," Risa langsung keluar dan memindahkan Davina kekamar. Kemudian ia menemani Derren bermain.


"Tuan Devan, kita bukan mahram. Dan cepat pergi dari sini!" kata Hanna. Karena ia hanya berdua saja bersama Devan di dapur, Hanna sangat tidak suka berdua dengan lelaki yang bukan mahramnya.


"Hanna aku ingin bicara," kata Devan, "Tidak lama," pinta Devan lagi.


"Tidak ada yang harus di bicarakan! Anda ingin selalu bertemu dengan Derren dan Davina sudah saya ijinkan, dan apa lagi? Tidak ada. Tolong pergi dari sini!" kata Hanna dengan tegas.

__ADS_1


Devan benar-benar tidak mengenal siapa wanita yang kini berada di hadapannya, Hanna yang ia kenal dulu tidak begini, "Hanna, tidak adakah cinta untuk ku sedikit pun yang tersisa di hati mu? Tidak adakah rasa kasihan di hati mu pada anak-anak kita? Kedua anak itu membutuhkan kedua orang tuanya, aku mohon....Aku mohon kita bisa rujuk lagi," pinta Devan penuh harap.


Mendengar kata yang di ucapkan Devan, Hanna langsung mematikan api kompor. Kemudian ia berbalik dan menatap Devan dengan jelas, "Kau tanyakan cinta ku untuk mu?!" tanya Hanna dengan geram.


"Iya, apa semua itu sudah hilang. Tanpa ada yang tersisa?" tanya Devan.


"Cinta untuk mu besar, sangat, sangat besar Mas!" jawab Hanna dengan tegas, "Tapi semua cinta itu hilang seiring dengan sakit dan luka yang kau berikan! Aku pun tidak ingin lagi mencintai orang yang bukan milik ku!" tegas Hanna.


"Hanna," Devan berusaha memegang lengan Hanna, tapi Hanna menghempaskan tangan Devan.


Air mata Hanna jatuh dan tumpah hingga membingkai di pipinya. Tatapan matanya yang penuh dengan cairan bening terus menatap Devan, "Aku tahu anak-anak membutuhkan kedua orang tuanya, dan aku siap bila harus berkorban perasaan demi anak-anak ku," kata Hanna dengan mengepalkan tangannya di bawah sana, "Tapi apakah anak-anak ku nantinya tidak terluka seperti yang aku rasakan, bila suatu hari dia tahu aku bertahan dalam luka yang kau berikan hannya karena mereka?!"


Deg.


"Kau katakan kasihan pada anak-anak, dan ingin kita bersama lagi!" Hanna tersenyum miring, "Sembilan bulan aku mengandung Derren Mas! Sembilan bulan. Tapi kau mengambilnya di saat luka jahitan ku belum kering! Kalau kau lupa biar aku ingatkan!" kata Hanna meluapkan apa yang ada di hatinya.


"Maaf Hanna," lirih Devan.


"Setelah kau mengambilnya dari ku, kau menjadikan aku hanya seorang baby sitter. Dan kau tidak pernah mengakui aku sebagai istri mu, kau datangi aku hampir setiap malam. Setelah kau puas kau lemparkan pada wajah ku lembaran uang!" kata Hanna mengingat bertapa kejamnya Devan saat itu, "Lalu aku mengandung Davina, kau tanyakan siapa Ayahnya!" kata Hanna lagi, "Apakah dia tidak terluka saat dia tahu kau pernah bertanya hal itu saat dia besar nanti?!"

__ADS_1


Devan hanya diam dan menunduk, semua yang di katakan oleh Hanna memang benar. Andai saja ada cara untuk bisa menebus itu semua pasti akan Devan lakukan, tapi apa. Ia pun tidak tahu.


"Sembilan bulan aku mengandung Davina Mas, selama sembilan bulan aku mengandung tidak dalam keadaan baik-baik saja. Aku sakit, aku ingin sesuatu, aku mengurus putra ku. Aku bekerja demi bisa membeli susu dan membeli beras untuk aku dan anak ku! Lalu setelah sekarang kau katakan itu pada ku Mas?" Hanna menghapus jejak air matanya, "Aku tanya pada mu Mas, kau punya hati atau tidak?" tanya Hanna. Agar Devan tahu luka dan sakit yang selama ini ia rasakan, "Kau katakan demi anak, sama Mas. Yang ku lakukan selama ini juga demi anak-anak ku. Tapi untuk tawaran kembali bersama mu, aku sama sekali tidak tertarik?" tegas Hanna.


Devan diam, ia benar-benar sadar jika ternyata Hanna sangat terluka atas apa yang ia lakukan. Tapi Devan tidak akan menyerah untuk bisa kembali hidup bersama dengan Hanna, dan juga anak-anak nya.


"Aku tahu, aku memang salah. Dan aku ingin memperbaiki semuanya Hanna," pinta Devan lagi, "Aku berjanji akan selalu setia, dan tidak akan mengulangi semuanya," ujar Devan penuh harap.


"Kau boleh bertemu dengan kedua anak mu, itu pun kalau kau mau! Tapi kalau lebih dari itu aku tidak bisa! Dan sekarang pergi dari sini," kata Hanna menunjuk pintu.


"Hanna aku masih ingin bicara," lirih Devan.


"Aku hanya mantan istri, tidak baik berdua berada di ruangan bila bukan mahram!" tegas Hanna.


"Walaupun kita bukan suami istri lagi, tapi tidak ada yang harus di tutupi lagi. Mungkin kau bisa berkata begitu pada orang lain Hanna tapi tidak pada ku."


"Aku tetaplah aku, aku punya prinsip dalam hidup. Dan prinsip ku adalah harga diri di atas segala nya, aku tidak suka orang yang tidak bisa menghargai dan lain!" geram Hanna.


Devan tidak tahu lagi harus berkata apa, Hanna kini asing baginya. Tidak ada lagi Hanna yang manja dan selalu tersenyum padanya. Tidak ada lagi Hanna yang menyambutnya dengan ceria, yang ada kini hanya ada kebencian di wajah Hanna saat menatap dirinya.

__ADS_1


"Aku mohon maafkan aku."


"Tuhan saja maha pemaaf, tentu saja aku yang manusia biasa ini juga sudah memaafkan mu! Tapi untuk kembali, aku tidak bisa!"


__ADS_2