Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Sok Cool!!!


__ADS_3

"Perfeck!!!" rok mini dan berpadu blazer berwarna hitam, rambut terurai dengan warna hitam kecoklatan membuat Risa terlihat anggun. Selanjutnya ia memakai heels, dan tidak lupa untuk kembali bercermin.


Clek.


Pintu kamar terbuka dan itu Sintia, yang kini berjalan masuk dan di sambut oleh penampilan Risa yang begitu cantik.


"Kamu mau ke mana? Pagi-pagi sudah rapi?" tanya Ibu Sintia penasaran.


"Risa udah di terima kerja Bu, beberapa hari yang lalu Risa iseng lamar pekerjaan. Eh.... tau-tau nya di terima, jadi Risa mau berangkat kerja di hari pertama ini Bu," jawab Risa dengan tersenyum ramah.


"O, begitu," Sintia mengangguk mengerti, memangnya kamu bekerja di perusahaan mana, kenapa tidak di perusahaan keluarga kamu saja?" tanya Ibu Sintia yang mulai penasaran, "Atau kalau memang kamu ingin bekerja, kan bisa bilang ke Hilman."


"Enggak Bu, Risa enggak pernah akur sama Mas Hilman. Enggak tahu kenapa dia ngajakin Risa ribut mulu," keluh Risa.


"Sabar ya Nak, Hilman masih terlalu terkejut dengan pernikahan ini. Sebenarnya dia baik," kata Sintia lagi.


Risa mengangguk, "Iya Bu," andai saja Ibu Sintia tahu jika ia juga tidak kalah terkejutnya, tapi Risa tetap tersenyum memasang wajah manis. Dalam prinsip Risa tidak ada bersedih, apa lagi sampai berkepanjangan, dunia tidak sekecil dau kelor. Ia masih bisa mencari laki-laki lain.


"Tapi ngomong-ngomong kamu kerja di perusahaan mana?" Ibu Sintia mulai mengalihkan pembicaraan, dan ia tidak ingin membuat Risa malah murung.


"Perusahaan Brawijaya group Bu."


"O....." Sintia tersenyum bahkan ingin tertawa, "Memangnya jabatan kamu apa?" tanya Sintia lagi, asisten kah?" tebak Ibu Sintia.


"Risa kerja di divisi pemasaran Bu" jawab Risa.


"Waw, jabatan yang bagus," Ibu Sintia mangguk-mangguk mendengar kata-kata Risa, "Dan sekarang kamu berangkat, tapi tunggu dulu," Ibu Sintia mengambilnya parfum dan menyemprotkan pada Risa.


"Bu, ini kebanyakan. Lagian Risa susah pakai parfum tadi."


"Tidak apa, ayo sekarang berangkat," Ibu Sintia tersenyum dan ia langsung mendorong Risa keluar dari kamar, bukan karena benci tapi karena Ibu Sintia tidak sabar agar Risa segera berangkat bekerja.

__ADS_1


Suasana hiruk-pikuk kota masih saja sama, macet dan cuaca panas sudah menjadi makanan sehari-hari para penduduk nya. Risa masih duduk manis di atas taxi yang ia tumpangi, sampai akhirnya taxi tersebut membawanya sampai si sebuah perusahaan besar dengan nama Brawijaya group ataupun tempat yang akan membuatnya sibuk.


Dengan kaki mulus nya Risa mulai menaiki beberapa anak tangga, sampai akhirnya ia kini masuk dan berada di loby. Setelah menemui resepsionis Risa mulai di arahkan menuju Manager pemasaran, dan Risa senang karena ia sudah menjadi bagian dari Brawijaya group.


"Selamat bergabung Ibu Risa di perusahaan kita ini, semoga kedepannya kerja sama kita bisa berjalan dengan baik."


Hati Risa terasa bahagia, ia keluar dari ruangan manager dan langsung berjalan menuju ruangannya.


Bruk!!!


Tiba-tiba saja Risa menabrak seseorang, dengan cepat ia berdiri. Setelah ia berdiri ia melihat siapa yang menabraknya.


"Oh my God!!!" kesal Risa, "Anda suka sekali muncul tiba-tiba dan ini sangat menjengkelkan!!!" geram Risa.


Pria tersebut hanya diam dengan wajah datarnya, kemudian ia berjalan pergi begitu saja tanpa perduli pada Risa yang tengah marah padanya.


"Ish...." Risa menghentakkan kedua kakinya, ia benar-benar kesal pada pria yang barusan menabraknya, "Sok cool banget sih!!!"


"Kamu karyawan baru?" tanya seorang wanita.


"Iya."


"Kalau masih mau kerja di sini, jangan berurusan sama orang tadi ya," kata wanita tersebut memberikan peringatan, sebab ia tidak ingin Risa nantinya di pecat.


"Em, kenalin aku Risa."


"Meta."


Hari ini akan ada rapat tentang pemasaran, dan mereka harus mempresentasikan materi mereka kepada presiden direktur perusahaan. Semua terlihat sibuk dengan tugas mereka masing-masing, sampai akhirnya Meta juga mulai melihat Risa.


"Risa kamu udah siap?"

__ADS_1


"Udah ni," jawab Risa.


"Ingat ya Risa, jaga sopan santun," kata Meta memberikan peringatan, "Kita bakalan rapat ada ada big boss."


"Paham!" jawab Risa lagi.


Semua sudah duduk di sebuah kursi yang sudah di persiapkan untuk rapat, meja yang memanjang agar memuat banyak orang dan Risa adalah karyawan baru yang duduk paling sudut. Dan entah mengapa kepala divisi memilih ia yang menjadi salah satu dari perwakilan mereka. Padahal ia adalah seorang karyawati baru, tapi Risa tetap senang karena ia baru bekerja tapi sudah terpilih.


Semua mulai diam tanpa ada yang berbicara, bahkan mereka mulai berdiri sebab Presdir mereka sudah masuk ke ruang rapat. Tidak terkecuali Risa yang juga hanya mengikut saja, sampai akhirnya Hilman duduk dan mereka semua duduk kembali.


Semua duduk dengan rapi, mata Hilman mulai melihat ke depan sampai akhirnya tanpa sengaja pandangannya berbenturan dengan pandangan Risa. Dan Hilman kemudian memutuskan pandangan keduanya.


"Meta, apa dia Presdir nya?" bisik Risa di telinga Meta.


"Sssst....." Meta mengangguk dan membenarkan tebakan Risa, tapi ia meminta Risa untuk tidak berbicara saat ini juga.


Rapat segera di mulai, Meta mulai berdiri dan mempresentasikan beberapa hal. Sedangkan Risa hanya diam dan mendengar, sebagai karyawan baru ia tentu saja belum memiliki banyak pengetahuan.


Hilman kini berada di ruangan nya, setelah rapat selesai ia langsung kembali ke ruangan nya, dan memeriksa dokumen tentang siapa sebenarnya Risa.


"Clarisa Anderson?" gumam Hilman, kemudian ia menghubungi orang kepercayaan nya. Dan meminta agar mencari tahu siapa Clarisa Anderson, tidak lama kemudian orang itu mengatakan semua tentang Risa. Hilman mengangguk dan ternyata dugaan nya salah, ia pikir Risa hanya wanita yang di bayar oleh Hanna. Rasa kesal membuatnya gelap mata dan juga menutup telinga untuk mendengar tentang siapa Risa sebenarnya. Sampai tiba-tiba seorang wanita masuk tanpa permisi.


"Hey," Risa langsung menggebrak meja kerja Hilman, dengan dada yang naik turun dan emosi yang membuncah.


Hilman tahu apa tujuan Risa mendatangi dirinya.


"Kenapa kau berbuat sesuka hati mu, aku tahu kau bos tapi kenapa kau berbuat sesuka hati mu. Apa maksud mu menurunkan ku menjadi Official girls?!" geram Risa.


Hilman menyandarkan tubuhnya, ia memang menurunkan jabatan Risa. Beberapa waktu lalu saat Risa menabrak dan berbicara tidak sopan, ia langsung meminta untuk jabatan Risa di turunkan. Dan kini ia sudah tahu siapa sebenarnya Risa, dan satu hal yang paling membuat Hilman tersenyum samar. Ternyata Risa bukan di bayar untuk menjadi pengantin pengganti.


*

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote, tolong.


__ADS_2