Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Rumah Devan dan Diana


__ADS_3

Hanna mulai memakai kerudung di kepala nya, rasanya kini Hanna sudah tidak percaya dengan mencintai manusia. Dan cinta yang sesungguhnya adalah cinta kepada Allah, hingga Hanna ingin mencintai Pencipta saja karena sungguh ia tidak percaya lagi ada cinta seorang manusia tulus padanya. Sungguh ia sangat kecewa setelah cinta yang begitu besar ia berikan, ternyata justru yang ia dapatkan hanya sebuah sakit yang begitu dalam.


"Hey!" terdengar suara Diana yang masuk kembali ke kamar Hanna, Diana bisa melihat Hanna dengan kemeja hitam berpadu rok berwana hitam. Dan kerudung yang cukup panjang berwana hijau menutupi kepalanya, "Aku majikan mu disini!" ketus Diana, dengan pandangan tidak suka saat menatap Hanna, "Kenapa malah aku yang menunggu mu, dasar tidak tahu diri!" kata Diana lagi, lalu ia keluar begitu saja.


Hanna menatap cermin, ia mengusap air mata yang membasahi pipinya, "Kamu kuat Hanna, ini hanya badai kecil....bukankah kau adalah wanita sebatang kara yang sudah terbiasa akan kejamnya dunia, kau bukan wanita lemah Hanna....ini demi putra mu..." kata Hanna berbicara di depan cermin, seolah ia tengah berbicara pada pantulan dirinya yang tampak di dalam cermin. Hanna menarik napas dengan panjang, kemudian ia berbalik dan menarik kopernya.


Hanna menuruni anak tangga, hingga kini ia sampai di pintu utama. Kemudian ada seorang pria berjas hitam mengambil alih koper di tangannya. Hanna berjalan di belakang pria bertubuh tegap itu, tidak ingin larut dalam luka yang dalam. Hanna terus berusaha kuat dan berdoa agar ia benar-benar bisa bertemu dengan anak nya.


Hanna duduk di samping Farhan atau sekaligus orang kepercayaan Devan, hingga satu detik kemudian Farhan mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Hanna hanya menopang kepala sambil melihat kearah luar, melihat banyak nya orang yang juga berlalu-lalang. Tidak perduli dengan Devan dan Diana yang tengah duduk di jok belakang dengan mesranya, Hanna benar-benar sudah menukar rasa cintanya yang begitu besar untuk Devan, dengan menghilangkan rasa cinta itu. Bahkan tidak ada lagi cinta untuk Devan walaupun hanya seujung kuku saja, semua hilang seketika setelah luka yang di torehkan Devan padanya.


Tiga puluh menit berlalu, kini mereka sampai di kawasan komplek perumahan elit di Jakarta. Mobil terparkir didepan rumah, perlahan Farhat turun dan membuka pintu mobil untuk Devan, setelah itu Devan memutari mobil dan membuka pintu mobil untuk Diana.


Hanna hanya menyaksikan apa yang di lakukan Devan dan Diana, apa yang dikatakan Devan saat ini mengingatkan akan kenangan nya dulu bersama Devan. Saat keduanya berpergian Devan tidak pernah mengijinkan Hanna untuk membuka pintu mobil sendiri, karena Devan selalu siaga untuk dirinya. Seketika kenangan bahagia itu berputar kembali di kepala Hanna.


"Tunggu dulu sayang," ujar Devan yang duduk di samping Hanna.


Hanna langsung menghentikan apa yang akan ia lakukan, karena Devan dengan segera turun dari mobil. Dengan langkah yang cepat dan sampai akhirnya Devan membukakan pintu, "Silahkan turun my wife," kata Devan dengan mengulurkan tangannya, untuk pegangan Hanna.

__ADS_1


Hanna tersenyum, dengan senang hati ia menerima tangan Devan, "Terima kasih," ujar Hanna tersenyum bahagia.


Hanna tidak ingin larut dalam lamunan nya, ia mengibaskan tangannya seolah ingin melupakan saat-saat itu. Bahkan bibirnya juga tersenyum miring saat kini Devan dan Diana sudah berjalan di hadapannya.


"Nyonya Hanna," kata Farhan.


Farhan bisa melihat Hanna dari tadi diam sambil melihat Devan, ia mungkin tahu apa yang dirasakan seorang Hanna. Sebab selama ini Farhan tau tentang semua yang terjadi.


"Iya, tidak perlu memanggil ku Nyonya....panggil Hanna saja," jawab Hanna, matanya langsung melihat Farhan yang berdiri di samping nya.


Farhan mengangguk dan ia memaklumi, "Silahkan masuk," kata Farhan mengarahkan tangannya pada pintu utama dengan ukuran sangat besar.


Perlahan kaki Hanna mulai masuk, ia berjalan masih di belakang tubuh Farhan dan mengikuti kemana Farhan membawanya. Hingga kaki Hanna berhenti melangkah saat berada di sebuah ruangan, Hanna menyimpulkan jika itu ruang keluarga dan ada banyak pelayanan yang berdiri dengan berjejer di sana. Semua mata melihat majikannya yang duduk di sofa, dia Diana Dan Devan. Lalu Sarah yang juga mulai ikut duduk di sana.


"Semuanya, dia," telunjuk Diana mengarah pada Hanna, seolah ia tengah menunjukan ada orang baru di rumah mewahnya, "Dia Hanna, dia akan menjadi pengasuh dari putra saya Derren," ujar Diana dengan angkuhnya.


Hanna diam, lagi-lagi ia tersenyum demi menutupi luka hatinya. Dengan bangganya Diana menyebut Derren adalah putranya, wanita itu sepertinya sudah kehilangan akal.

__ADS_1


"Hey...." Diana mulai berbicara pada Hanna, sebab ia tahu Hanna hanya diam. Mungkin juga dia tahu kalau Hanna tengah hanyut dalam pikirannya.


Hanna mengangguk tanpa bersuara, sebab ia tahu Diana tidak suka padanya.


"Dia ini juga akan menjadi ibu Susu untuk anak saya, karena kalian semua tahu dengan saya yang tidak bisa memberi asi....dan anak saya tidak mau minum susu formula, jadi dengan TERPAKSA," Diana menekankan kata terpaksa, bahkan ia menatap remeh Hanna, "Derren harus di carikan seorang yang bisa memberikan asi," lanjut Diana lagi.


Semua mengangguk mengerti, dan mereka semua sudah melihat wajah seorang wanita yang mulai ikut bekerja pada keluarga Sanjaya. Tidak ada yang berani membantah, semua hanya bicara jika ada pertanyaan yang di ajukan.


"Risa kamu tunjukan pada wanita ini, dimana letak kamarnya," perintah Diana, pada seorang kepala pekerjaan, bahkan Risa juga orang yang di pilih untuk menjadi pemimpin bagi semua pekerja di sana.


"Baik Nyonya," Risa mengangguk mengerti.


"Setelah itu tunjukan padanya kamar putra saya, agar Derren bisa minum asi!" titah Diana lagi.


"Iya Nyonya," jawab Risa masih dengan menundukkan kepalanya.


"Heh....tunggu apa lagi, pergi sana!" titah Diana.

__ADS_1


Hanna mengangguk, ia tidak perduli pada Devan yang hanya duduk diam di samping Diana. Terserah Devan mau bagaimana, mau menganggapnya ada atau tiada. Yang pasti hanya Hanna sudah menganggap Devan tidak ada.


__ADS_2