Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Tidur Bersama


__ADS_3

Devan berdiri di depan pintu ruang rawat Derren, ia bisa melihat Hanna yang tengah menggonggong Derren. Hanna berdiri sambil bergerak agar Derren tertidur lelap, sementara Hanna juga tampaknya mengantuk. Terlihat jelas Hanna menutup matanya, namun ada hal lain nya lagi yang di lihat Devan. Suara Hanna ternyata cukup indah di telinga, salawat yang di Lantik Hanna seakan membuat Devan tenang. Selama menikah Devan belum pernah mendengar suara indah Hanna, karena ia memang jarang di rumah. Pekerjaan dan juga berbagai waktu karena memiliki dua istri kadang menjadi salah satu alasan baginya.


Devan memutar gagang pintu, kemudian ia masuk. Devan melihat Hanna begitupun sebaliknya, tapi sayang setelah melihat Devan Hanna lebih memilih berbalik hingga ia memunggungi Devan.


"Sallaulahhualaa nabi, ala nabi Sayidina...... Muhammadi wa ala Alihi......wasahbihi wasallam......." Hanna terus bersalawat dan perlahan tertidur dengan lelap, namun tiba-tiba Hanna tidak kuat berdiri dan hampir terjatuh terlungkup di lantai, "Aaaaaaaaa," teriak Hanna sambil berusaha memegang apa saja asal ia tidak terjatuh hingga akhirnya dengan cepat Devan memegang tangan Hanna.


"Kamu kenapa?" tanya Devan panik.


Nafas Hanna terengah-engah, ia masih memegang lengan Devan dengan eratnya. Hanna masih terlalu shock, karena hampir saja Derren jatuh kemudian tertindih dirinya.


"Hanna kamu baik-baik saja?" tanya Devan lagi, karena wajah Hanna terlihat pucat sekali.


Hanna menggeleng, masih dengan nafas yang terengah-engah perlahan ia melepaskan tangannya yang memegang lengan bagian atas Devan. Kemudian ia perlahan meletakan Derren di ranjang, bahkan dengan sangat pelan agar Derren tidak terbangun sama sekali. (Ibu, Ibu yang punya anak pasti tau gimana meletakan anak yang tidak mau di tidurkan di ranjang, harus dengan banyak hati-hati). Setelah Hanna berhasil meletakan Derren ia langsung mendudukkan dirinya di lantai. Nafas Hanna naik turun karena ia merasa masih sedikit takut di tambah lagi rasa yang cukup melelahkan hingga ia tidak sanggup untuk berjalan menuju sofa.


"Hanna," Devan juga ikut berjongkok, entah apa yang Hanna rasakan tapi istrinya itu terlihat sangat pucat, "Kamu kenapa?" tanya Devan lagi.


Hanna menganggap tidak ada siapa-siapa di sana, dan ia tidak perduli pada Devan.


"Hanna..." Devan menaikan nada bicaranya, karena Hanna tidak menghiraukan pertanyaan.


Hanna menatap Devan, "Pinggang ku sakit, aku haus," jawab Hanna, tangan Hanna masih memegang pinggangnya.

__ADS_1


Dengan cepat Devan mengangkat Hanna, tanpa ijin dari si pemilik tubuh. Karena ia tahu jika meminta ijin Hanna sudah pasti menolak, dan benar saja Hanna minta diturunkan saat Devan mengangkat nya.


"Apa-apaan sih!" gerutu Hanna, "Turunkan!" kesal Hanna.


Devan kemudian mendudukkan Hanna di sofa, terserah Hanna mau marah atau tidak. Kemudian ia mengambilkan air pada Hanna, "Minum."


Hanna menatap gelas yang berisi air yang di berikan Devan, tidak ingin berdebat Hanna dengan kesal mengambilnya dan meneguk habis air tersebut karena ia memang sangat haus. Kemudian meletakan gelas kosong nya pada meja, tapi tangannya masih memegang pinggangnya yang terasa sakit.


"Kenapa?" tanya Devan. Ia seperti nya tahu jika Hanna masih menahan rasa sakit.


"Sakit," jawab Hanna.


"Bukan urusan mu!" jawab Hanna.


Devan diam dan tidak ingin berdebat lagi, sebab ia bisa melihat wajah Hanna sangat lelah, "Hanna bagaimana kalau kau pulang saja, biar Derren di jaga oleh perawat," tawar Devan. Tidak di pungkiri jika Devan juga takut Hanna malah jatuh sakit.


Mata Hanna yang tertutup langsung terbuka, "Aku ini Ibu kandungnya! Apa kau pikir aku bisa tidur nyenyak meninggalkan anak ku di sini?!" sergah Hanna penuh amarah, kemudian ia berjalan menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Derren. Tidak ingin buang-buang energi karena Hanna butuh tenaga bila nanti Derren kembali terbangun, ia langsung memejamkan matanya. Tidak lama berselang Devan juga ikut naik keatas ranjang, Hanna yang tidur miring dan memunggunginya tidak jadi masalah. Devan memeluk Hanna dari belakang. Ranjang itu tidak terlalu kecil dan tidak juga terlalu besar. Akan tetapi muat untuk mereka. Ruang rawat Derren yang super VIP itu terlihat cukup mewah.


"Apasih!" kesal Hanna karena Devan memeluknya dari belakang.


Devan menutup matanya, "Jangan banyak bergerak, nanti Derren bangun," kata Devan memberikan peringatan.

__ADS_1


"Makanya turun, ngapain tidur di sini juga.....pulang ke rumah temani istri tercinta mu!" kesal Hanna.


Devan seakan tidak perduli dengan Omelan Hanna, ia hanya terus memeluk istrinya. Devan sudah sangat rindu semalaman tidur memeluk Hanna.


Hanna merasa Devan sudah tidur lelap karena nafas Devan yang terdengar beraturan, akhirnya mau tidak mau terpaksa Hanna mengalah dan memilih diam. Karena takut Derren terjaga kemudian menangis, padahal Derren baru saja tertidur.


Sementara Devan tersenyum di belakang tubuh Hanna, karena ia tidak lagi di usir Hanna. Dan mungkin ia berhasil mengelabui Hanna seolah sudah tertidur lelap, padahal belum hingga ia kembali semakin mengeratkan pelukannya.


"CK...." tangan Hanna berusaha melepaskan tangan Devan, tapi tidak bisa. Terlalu sulit untuk itu semua. Akhirnya Hanna tidur lelap dengan seranjang bersama dengan Devan. Hanna sangat lelah dan butuh istirahat untuk memulihkan tenaga nya kembali.


Di balik pintu ada seorang wanita yang dari tadi melihat dari sedikit kaca pada pintu ruang rawat super VIP itu, Wanita itu seakan menahan amarah melihat suaminya lebih memilih tidur di rumah sakit bersama istri siri nya dari pada bersama nya yang jelas-jelas istri sah. Ada amarah yang akan segera di luapkan, ada kebencian yang harus segera di tuntaskan.


"Kita lihat saja sampai kapan ini akan terjadi, Hanna....tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan!" gumam wanita tersebut, ia pikir kali ini harus bergerak cepat agar ia tidak tersingkirkan. Bahkan wanita itu sedang menyusun rencana agar Devan tidak bisa pergi darinya, "Bagaimana pun caranya dia harus aku singkirkan!" Diana segera bergegas pulang kerumahnya. Atau lebih tepatnya rumah kedua orang tuanya, sampai di rumah kedua orang tuanya Diana langsung menuju kamar, Mega dan Bram.


"Diana kamu ada apa?" tanya Mega, ia dapat melihat wajah kesal putrinya.


"Mama tau? Istri siri Devan itu mulai merebut posisi Diana!" kesal Diana.


Tidak ada yang di tutupi oleh Diana dari kedua orang tuanya, karena mereka memang turut membantu apa pun yang di inginkan putri mereka. Apalagi untuk masuk ke keluarga Sanjaya, tentu saja Mega dan Bram dengan senang hati membantu nya.


"Semua akan baik-baik saja, sekarang kamu pulang dan istirahat....besok kita cari jalan keluarnya..." kata Mega.

__ADS_1


__ADS_2