Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Kedatangan Agatha


__ADS_3

Pagi harinya Agatha dan Sarah menjenguk Derren, karena keduanya sangat khawatir pada keadaan cucu mereka.


Clek.


Pintu kamar terbuka, dan Agatha langsung masuk begitu saja dengan Sarah yang juga menyusul masuk.


Buk.


Sarah yang tidak tahu jika Agatha mendadak berhenti di belakang nya langsung membentur tubuh suaminya, "Papa apasih, berhenti kok mendadak!" kesal Sarah, karena ia sampai menabrak suaminya.


Agatha tidak menjawab, ia hanya menatap ke depan. Sarah yang merasa diacuhkan juga ikut melihat apa yang tengah di lihat suaminya, hingga Agatha mendadak berhenti melangkah. Sarah melebarkan matanya, ternyata di sana Devan tengah tidur sambil memeluk Hanna. Sarah benar-benar takut bila Agatha tahu siapa sebenarnya Hanna.


Dengan langkah yang lebar Agatha mendekati Devan, dan menyiram segelas air pada wajah Devan.


Byurrrrrrrr!


Air itu membasahi wajah Devan, hingga Devan terbangun dengan tiba-tiba. Bahkan Hanna juga terbangun, karena Devan yang bergerak tiba-tiba.


"Apa-apaan ini!!!" gerutu Devan, saat ia belum menyadari siapa yang mengguyur nya dengan air, kemudian ia duduk dan melihat Papanya di sana, "Papa," gumam Devan.


Agatha menatap tajam Devan tanpa berbicara, sungguh ia sangat marah sekali. Kemudian Agatha menatap Hanna juga, "Kenapa kau mau tidur satu ranjang dengan pria yang bukan suami mu?!" tanya Agatha pada Hanna.


Deg.


Jantung Hanna seakan terbakar, kata-kata yang dilontarkan oleh Agatha cukup membuatnya terluka.


"Wajarlah Pa, dia ini kan wanita penggoda!" tambah Sarah. Ia menatap Hanna penuh amarah dan kebencian.

__ADS_1


Hanna menunduk, ternyata ia begitu hina dihadapan orang. Bahkan di tuduh sebagai wanita penggoda, miris sekali.


Devan turun dari ranjang, kemudian ia melihat Agatha yang mengepalkan tangannya, "Maaf Pa," kata Devan.


"Dasar laki-laki tidak tahu malu, sudah memiliki istri masih mau dengan perempuan lain lagi!!!!" kata Agatha, "Apa kau ingin berzina di sini, di hadapan cucu ku!" Agatha menunjuk Derren yang sudah terbangun, "Dasar tidak punya adab!"


"Papa jangan marahin Devan terus dong!" Sarah tidak terima bila Devan di salahkan, "Yang salah itu wanita ini," Sarah dengan sengaja menarik hijab Hanna, "Percuma berhijab kalau kau masih seorang penzina!!" kata Sarah.


Devan tidak bisa melakukan apa-apa saat Sarah menarik hijab Hanna, bahkan saat Hanna melihatnya pun Devan hannya diam saja.


"Maaf Nyonya," kata Hanna sambil berusaha bertahan, namun tidak di sangka hijab Hanna tersingkap. Hingga menampakan sebuah tanda lahir pada leher bagian belakang Hanna, namun dengan cepat Hanna melepaskan tangan Sarah agar lehernya tidak terlihat oleh Agatha.


Sarah terdiam, ia tidak bisa lagi berbicara. Seketika ia mengingat jika Raisa juga miliki sebuah tanda bulat berwana hitam pada bagian lehernya, Sarah bahkan kehilangan kata-kata.


"Menjijikan!" kata Agatha, kemudian ia menarik Sarah ikut keluar dari ruangan tersebut.


"Pa," sampai di depan kamar Sarah berhenti melangkah, begitu juga dengan Agatha. Karena Sarah memegang lengan suaminya.


"Apa lagi?!" kesal Agatha.


Sarah tidak perduli dengan kemarahan Agatha, "Pa, Raisa dulu punya tanda lahir kan?" tanya Sarah karena ia takut salah mengingat.


Agatha tidak ingin membuka luka masa lalu lagi, "Ayo pergi, kenapa membahas yang lain," Agatha menarik Sarah, dan mau tidak mau Sarah mengikuti Agatha sampai naik kedalam mobil. Dan sopir mulai melajukan kendaraannya, "Pa, jawab Mama...." Sarah yang duduk di samping Agatha masih bertanya, "Raisa punya tanda lahir kan Pa?"


Agatha menatap Sarah, dan ia juga masih ingat dengan tanda yang dimaksud oleh Sarah, "Iya," jawab Agatha agar Sarah tidak lagi bertanya. Namun tidak, justru Sarah semakin bertanya.


"Di bagian mana Pa?"

__ADS_1


"Leher!" jawab Agatha pelan.


"Hanna punya tanda itu Pa," ujar Sarah yang seketika membuat Agatha langsung menatap Sarah penuh tanya.


"Hanna?" tanya Agatha.


"Iya," kata Sarah lagi.


"Tidak mungkin kan Pa, kalau Devan menikahi adiknya sendiri?" tanya Sarah, seketika ia tersadar dengan apa yang barusan ia ucapkan, "Maksud Mama, tidak mungkinlah Hanna itu Raisa, dan tadi tidur mereka tidur bersama," kata Sarah. Ia ingin mengelabui suaminya, agar Agatha tidak curiga.


"Papa memang masih terus mencari Raisa Ma, semoga saja Raisa masih hidup saat itu dan akan kembali ke tengah-tengah kita," Agatha menitihkan air mata, ia memeluk Sarah sambil mengingat wajah kecil Raisa.


"Ya Pa, semoga saja," kata Sarah sambil terus memikirkan tanda lahir yang ada pada leher Hanna. Seketika Sarah tersadar ia memang tidak sanggup hila menatap manik mata Hanna, hingga tiba-tiba ia mengingat Diana yang sudah ia anggap sebagai pengganti Raisa putrinya. Dan menurut Sarah Hanna adalah wanita yang menghancurkan rumah tangga putrinya Raisa, ataupun Diana. Karena bagian tubuh Diana apa dirinya, jadi Diana sudah seperti Raisa bagi Sarah.


Sementara di rumah sakit tepatnya di ruangan rawat, Hanna menangis dengan sesegukan. Ia kecewa pada Devan, ia juga kecewa pada dirinya sendiri. Mengapa ia harus menikah dengan laki-laki yang tidak bisa membahagiakannya, apa lagi untuk melindunginya. Rasanya begitu sakit, ia adalah istri tapi di anggap seakan hanya seorang wanita penggoda.


"Hanna," Devan berusaha mendekati Hanna.


"Cukup Mas! Cukup! Sekarang juga jauhi aku, ceraikan aku.....biarkan aku pergi membawa anak ku....." kata Hanna dengan bersimbah air mata.


Devan menggeleng, ia tidak ingin Hanna pergi, "Hanna bersabarlah, aku mencintaimu! Dan sampai kapanpun akan terus begitu...." ujar Devan.


"Cinta?" Hanna menggelengkan kepalanya, "Cinta mu palsu Mas! Aku tidak percaya lagi...kau pembohong....hiks....hiks...hiks..." tangis Hanna pecah saat mengingat Devan bahkan tidak bisa membelanya sama sekali, apa lagi untuk mendapatkan pengakuan sebagai seorang istri rasanya itu sangat tidak mungkin sekali. Hanna terduduk di lantai sambil tertunduk, hidupnya selama ini begitu keras dengan banyaknya kerikil. Di tambah ombak yang menerjang, tapi untuk kali ini Hanna malah terjatuh padahal ini hanya bagian kecil kesulitan di dalam hidupnya. Devan sungguh sangat membuatnya terluka.


"Hanna," Devan berjongkok, ia memegang kedua lengan bagian atas Hanna. Hingga keduanya berdiri.


"Katakan Mas, katakan...." lirih Hanna, "Apa alasan mu mempertahankan aku? Rencana mu sudah berhasil, kau sudah mendapatkan anak dari ku.....aku sudah menjadi pengasuh anak ku sendiri, sementara yang menjadi Ibunya dihadapan orang adalah wanita lain...." Hanna menjeda perkataan sambil tertunduk, tidak terhitung berapa butir air mata yang tumpah. Karena sudah tidak terhingga, "Yang menjadi Ibu Derren adalah istri sah mu....lalu apa lagi gunanya aku?" tanya Hanna penuh luka yang begitu dalam.

__ADS_1


__ADS_2