
"Apa mungkin mobil ini kempes?"
Sejenak Hanna terdiam, mata indah wanita itu fokus tertuju pada salah satu ban bagian belakang. Sulit di tebak tapi itulah nyatanya saat ini, mobil Ferrari kesayangannya tidak mungkin dikemudikan karena ban yang bocor.
"Apa kau butuh bantuan?"
Suara berat dan tertahan milik seorang pria cukup mengejutkan Hanna, ia memutar lehernya dan pria itu tampak menunjukkan wajah dinginnya.
Hanna kini beralih menatap ban mobilnya, begitu pun dengan Devan yang ikut menatap ban mobil Hanna.
"Sudah malam, ayo pulang bersama ku saja," tawar Devan.
"Tidak perlu, aku bisa naik taxi. Atau minta Mama mengirim sopir untuk menjemput ku," tolak Hanna.
Rasanya cukup sulit menerima tawaran Devan, mengingat mimpi aneh yang ia alami sungguh sangat membuat nya sedikit malu. Padahal Devan pun tidak tahu tentang mimpinya itu.
Devan mengangkat sebelah alisnya, "Maaf cantik, tapi aku tidak menerima penolakan," Devan dengan cepat menarik Hanna untuk masuk ke dalam mobilnya.
Hanna terhuyung ke depan, karena ia sangat terkejut. Bahkan Devan menariknya tanpa ijin, "Mas, kita ini bukan suami istri!" kata Hanna memberi peringatan, bahkan kini Hanna sudah duduk di dalam mobil Devan.
Devan tersenyum mendengar kata-kata Hanna, ia berdiri dengan di luar mobil. Dengan pintunya yang masih terbuka, "Kalau kau mau malam ini akan ku minta Papa untuk menikahkan kita!" jawab Devan tegas.
Hanna terkejut mendengar Jawaban Devan, ini sungguh di luar dugaan Hanna, "Dasar gila!" pekik Hanna.
Devan tersenyum mendengar jawaban Hanna, ia menutup pintu mobil, kemudian memutarinya lalu ia ikut masuk dan duduk di kursi kemudi.
"Sejak kapan kau berubah agresif?!" tanya Hanna.
Devan tidak menjawab, ia kini mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Hanna menatap kearah luar, malam yang gelap dengan penerangan lampu jalanan seakan membuat suasana serasa lebih tenang. Pepohonan yang berdiri indah juga menghiasi sisi jalanan.
"Ada yang sedang kau pikirkan?" tanya Devan memecahkan keheningan di antara keduanya.
__ADS_1
Hanna menatap Devan yang tengah mengemudi mobil, namun Devan hanya fokus pada jalanan. Tapi ia tahu Hanna menatapnya.
Hanna pun menggeleng dan kembali memutar lehernya ke kiri, menatap arah luar.
Sampai akhirnya mobil Devan berhenti di sebuah gedung cukup besar, mata Hanna menatap gedung tersebut dan itu sebuah restoran.
"Mas ini?" tanya Hanna bingung.
"Kita makan dulu," Devan kini membukakan pintu mobil untuk Hanna. Sekaligus meminta Hanna untuk turun.
Hanna masih duduk di kursi, karena ia ingin segera sampai di rumah, "Maaf Mas, tapi anak-anak menunggu di rumah," jelas Hanna.
"Kau mau turun sendiri, atau aku mengangkat ku?!" ancam Devan.
Hanna sejenak diam, setelah menimbang beberapa saat kini Hanna memutuskan untuk ikut turun. Dan berjalan di samping Devan untuk masuk ke dalam restoran cukup ternama.
Kedua nya duduk manis di sebuah meja VIP dengan pramusaji yang kini mulai menata makanan di atas meja.
"Devan?!"
Seorang wanita dengan wajah cantik, dress mini dan kaki jenjangnya tiba-tiba menyapa Devan. Diana, Mantan istri seorang Devan kini tengah berdiri di sana.
Hanna menatap wanita yang cukup ia kenali itu, tubuh nya yang terawat dengan membawa seorang anak laki-laki. Hati Hanna bertanya-tanya apakah anak itu adalah anak Devan, tapi tidak. Itu hannya pertanyaan di dalam hatinya saja, lagi pula saat itu posisi Diana adalah istri sah dan ia hanya istri siri.
Diana menatap Devan dan beralih menatap seorang anak laki-laki yang berdiri di sampingnya, "Jio selalu nanya Papi bukan?" tanya Diana pada putranya.
Anak laki-laki itu mengangguk, karena ia memang tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya.
"Itu Papi!" Diana menunjuk Devan yang tengah menatap anak kecil itu juga, "Dan yang duduk itu pelakor yang udah rebut Papi!" ujar Diana lagi.
Hanna terkejut mendengar kata-kata Diana, seketika ia berdiri dengan menatap tajam Diana.
"Jaga kata-kata mu!!!" kata Hanna mulai memberikan peringatan.
__ADS_1
Devan yang melihat ada ketegangan juga ikut berdiri, bahkan sedetik kemudian seorang anak laki-laki yang bersama dengan Diana langsung memeluk dirinya.
"Papi!!!" seru anak tersebut.
Devan perlahan melepas pelukan anak itu, dan ia sedikit berjongkok, "Maaf saya bukan Papi mu," kata Devan, walaupun sebenarnya ia tidak tega mengatakan langsung. Tapi tidak baik juga berbohong yang nantinya akan membuatnya terjebak dalam setiap permainan Diana.
Hanna cukup terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Devan, tapi ia juga tidak ingin ikut campur.
Diana tersenyum miring dan menatap Hanna, "Dasar kau pelakor, sudah jadi mantan istri saja masih mendekati suami orang! Apa lagi sampai membuat pria itu melupakan anak nya sendiri," kata Diana menatap sinis Hanna.
"Ehem," Hanna berdehem dan maju satu langkah, ia membalas tatap tajam Diana, "Aku tidak pernah merebut, menjadi pelakor. Jadi jaga kata-kata mu!?" tegas Hanna memberikan peringatan.
"Oh ya?" tanya Diana tersenyum remeh, "Ya, kau bicara begitu sekarang, karena kau ternyata anak dari Agatha Sanjaya, siapa yang tidak tahu itu? Beritanya cepat meroket dan orang-orang sampai ke pelosok pun pasti tahu. Tapi tetap saja, gelar pelakor itu tidak akan pernah bisa hilang begitu saja!"
"Cukup!"
"Kenapa?" tanya Diana semakin merasa di atas awan, "Kau pelakor, padahal aku sudah mendonorkan ginjal ku untuk Mama mu. Tidak apa anggap saja itu sedekah!"
Plak!
Tangan Hanna melayang dan mendarat begitu saja di wajah mulus Diana, "Dari dulu, sampai saat ini, aku tegaskan pada mu," jari telunjuk Hanna mengarah pada wajah Diana, "Aku tidak pernah menjadi perebut suami mu, yang benar adalah kau wanita yang haus akan harta dan berpura-pura mendonorkan ginjal nya untuk Mama ku! Wanita yang sudah menganggap mu anak nya!" tutur Hanna dengan suara yang meninggi.
Deg.
Diana yang memegang pipinya akibat tamparan Hanna cukup terkejut dengan apa yang barusan Hanna katakan.
"Kau jangan asal bicara, kalau bukan karena aku Mama mu sudah meregang nyawa. Dan kau tidak akan pernah bisa melihatnya, seperti sekarang!" jawab Diana yang tidak mau kalah.
"Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit, kita pastikan apa kau hanya memiliki satu ginjal?" tantang Hanna.
"Kau!!!" Diana menatap Hanna penuh amarah, kemudian ia menatap Devan, "Jio ayo kita pergi!" Diana dengan cepat menarik tangan anak laki-laki yang masih cukup kecil dan membawanya pergi.
"Sebaiknya kau selesaikan urusan mu dengan istri mu itu Mas, aku tidak ingin di sebut pelakor. Atau sebaiknya jaga jarak saja di antara kita," papar Hanna, kemudian ia mengambil tasnya lalu pergi dengan rasa marah.
__ADS_1