Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Anak Papa


__ADS_3

Devan perlahan melepas pelukan Sarah, matanya menatap seorang gadis kecil yang duduk di atas ranjang. Mata polos itu terus menatapnya, entah apa yang di pikirkan anak empat tahun itu. Tapi sesekali matanya berkedip saat menatap Devan.


"Oma!!!!" teriak Davina karena tubuhnya perlahan di angkat oleh Devan, dan ia sedikit takut.


"Tidak apa, itu Papa Davina. Papa sayang sama Davina," ujar Sarah yang menjelaskan dengan cara yang mudah di mengerti oleh anak sekecil Davina.


"Oma!!!!" Davina terus berteriak, karena ia masih merasa asing akan kehadiran Devan. Bahkan kini ia meronta-ronta, minta di turunkan, "Oma!!! hiks....hiks....hiks...." tangis Davina semakin pecah karena Devan yang terus memeluknya.


Hanna yang mendengar suara tangisan Davina cukup kencang, cepat-cepat keluar dari kamarnya. Ia berjalan cepat menuju kamar Sarah.


"Davina kenapa...." perlahan suara Hanna mulai menghilang, sebab melihat alasan Davina menangis.


"Mama!!!!" teriak Davina sambil terus menangis menatap Hanna, ia menggerakkan tangannya meminta Hanna agar mengambil dirinya dari Devan.


Devan tidak lagi memaksa Davina untuk ia peluk, perlahan Devan menurunkan Davina.


"Mama.....hiks....hiks...." Davina terus menangis sambil berlari mendekati Hanna, setelah kini ia berada di gendongan Hanna perlahan Davina kembali menatap Devan.


"Enggak papa Nak, itu Papa nya Davina," jelas Hanna, bagaimana pun Devan adalah Ayah kandung dari kedua anaknya, Hanna pernah merasakan sakitnya tanpa kedua orang tua yang lengkap dan ia tidak mau anaknya merasakan hal yang sama. Jika pun ia dan Devan tidak bisa bersatu, maka anak-anak nya tetap harus mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya.


"Papa?" tanya Davina bingung.


"Iya, dulu waktu bayi Davina sering di gendong Papa. Tapi...." Hanna menatap Devan dan tidak tahu harus menjelaskan apa.


"Tapi Papa pergi, tapi di hati Papa Davina selalu ada," lanjut Devan, "Davina mau ya sama Papa, Papa kangen sama Davina," Devan kembali mencoba mengambil Davina.


"Papa orang jahat enggak Ma?" tanya Davina.


Hanna menggeleng, "Semua Papa baik," jawab Hanna, sebab ia tahu Devan terlihat ingin sekali memeluk Davina.


Davina mengangguk, dan ia merentangkan tangannya pada Devan.


Air mata Devan menetes dan ia menghapusnya dengan kasar, setelah itu Devan mengambil Davina kembali dari gendongan Hanna. Devan benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia memeluk erat putrinya dan menciumi pipi cabi sang anak.

__ADS_1


"Derren anak siapa? Anak Ayah atau anak Papa?" tanya Derren yang baru saja masuk ke kamar Sarah, dan ia melihat serta mendengar apa yang di jelaskan oleh Hanna.


"Derren anak Ayah juga, tapi Papa Derren yang sebenarnya yang ini," kata Hanna menunjuk Devan.


Derren mengangguk, hanya sepertinya ia belum terlalu mengerti. Tapi Derren hanya diam saja, sebab Davina juga mau di peluk Devan. Hingga Derren yakin jika Devan adalah orang baik, sebab Hanna tentu saja tidak akan mengijinkan dirinya dekat dengan orang asing seperti yang selalu di peringatkan oleh Hanna selama ini.


Saat Devan tengah bercengkrama hangat dengan kedua anaknya, tiba-tiba seorang pria datang dengan membawa banyak paperbag di tangannya.


Semua mata di ruang itu menatap pria tersebut, tubuhnya tinggi dan tegap. Hidung mancung dengan rahang yang tegas, namanya Hilman Rajaksa. Ia adalah rekan kerja Hanna, bahkan ia juga tengah menjalin kerjasama dengan perusahaan Agatha Sanjaya group. Yang kini perusahaan itu di pimpin oleh Hanna.


"Om, Hilman," Derren langsung berlari mengejar Hilman.


"Derren, ini Om bawakan mainan," ujar Hilman sambil memberikan paperbag di tangannya pada Derren.


"Makasih Om," Derren sangat bahagia, dan ia langsung membawa mainannya menuju ruang keluarga dan meminta Art untuk menemaninya bermain.


"Devan," sapa pria tersebut, Hilman adalah teman lama Devan. Keduanya tidak terlalu akrab, akan tetapi mereka berteman cukup baik.


Devan mengangguk, dan ia hanya diam tanpa berbicara satu patah katapun.


Hilman sering kali datang menjenguk Sarah, sebenarnya niat Hilman adalah mendekati Hanna. Walaupun Hanna adalah seorang janda, tapi Hilman tetap menerima Hanna dengan apa adanya. Padahal ia masih belum pernah menikah, namun entah mengapa Hanna mampu membuat nya merasa tertarik dan ingin memilikinya. Tapi Hilma tidak pernah tahu, jika Hanna adalah mantan istri dari Devan. Yang ia tahu hanya Devan yang ternyata anak angkat, dan Hanna yang anak kandung dari Agatha dan Sarah.


"Sudah lebih baik," jawab Sarah tersenyum, "Obatnya sudah Tante dapatkan," ujar Sarah tersenyum pada Devan.


"Benarkah?" tanya Hilman tersenyum.


"Iya," Sarah tersebut lembut.


"Syukurlah kalau begitu," tambah Hilman lagi, "Hanna aku ingin bicara," kata Hilman menatap Hanna.


Hanna seolah terkejut, ia melihat Sarah kemudian melihat putrinya Davina. Setelah itu ia kembali menatap Hilman, "Ayo di luar saja Mas," kata Hanna dan ia keluar dari kamar yang di ikuti oleh Hilman.


Kini Hanna dan Hilman berada di taman belakang, keduanya duduk di gazebo dengan saling bersebelahan. Sejenak keduanya diam memandang ke depan, namun tidak lama berselang Hilman mulai menatap Hanna.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa sudah ada jawaban?" tanya Hilman to the point.


Hanna menatap Hilman, pandangan keduanya bertemu dan sedetik kemudian Hanna memutuskan pandangan itu. Tapi Hilman masih terus menatap dirinya.


Flashback On.


Beberapa hari yang lalu, Hanna dan Hilman sedang ada rapat bersama di salah satu hotel ternama. Tentu saja banyak rekan kerja yang lainnya juga, namun saat itu tiba-tiba nan mobil Hanna kempes dan Hilman menawarkan diri.


Awalnya Hanna menolak, tapi karena malam semakin larut ia ikut saja dengan Hilman. Lagi pula sudah beberapa hari ini ia sibuk hingga tidak bisa bertemu dengan kedua anaknya, dan tentu saja Hanna tidak ingin membuang-buang waktu. Sebab ia ingin memeluk kedua anaknya malam ini.


Sampai di perjalanan Hilman sejenak menghentikan laju kendaran nya, Hanna tidak takut jika Hilman berbuat jahat padanya. Sebab ia cukup kenal siapa Hilman, dan Hilman tidak sejahat itu.


"Hanna aku ingin bicara, boleh?" tanya Hilman.


"Apa?


"Kita sudah dekat tiga tahun, dan aku sudah menaruh hati pada mu sejak pertama kali kita bertemu. Tidak perduli kau sudah memilik dua orang anak, tapi aku ingin menjadi Ayah dari anak-anak mu. Menikahlah denganku," ujar Hilman.


Hanna diam dan mencerna setiap kata, yang di ucapkan oleh Hilman. Seketika Hanna mengingat kedua anaknya.


"Ma, Davi pengen bobo sama Ayah. Sama Mama seperti teman-teman," pinta Davina.


"Davina kan boleh bobo ke kamar Ayah Nak, kan Davina juga sering bobo sama Ayah," kata Hanna.


Davina menggeleng, "Enggak, Davina mau bobo di tengah. Sampek pagi, ada Mama ada Ayah setiap hari," pinta Davina sambil menarik tangan Davina menuju kamar Adam.


"Davina anak baik deh, kalau Mama bobo setiap hatidi kamar Ayah. Ranjang nya enggak muat, sempin banget," kata Adam memberi alibi.


"Mama jahat! Ayah jahat. Teman-teman Davi selalu bobo bareng Mama sama Ayahnya, Davi kesel," jawab Davina dan ia langsung berlari menuju kamarnya.


"Huuuufff....." Hanna menarik nafas, sambil menatap Sarah.


Sarah tersenyum sambil mengusap pundak Hanna, "Menikahlah Han, kamu masih muda. Anak-anak kamu juga butuh seorang Ayah. Lupakan masa lalu, tidak baik terus larut dalam luka. Menikah dengan pilihan mu, orang yang menurut mu tepat untuk menjadi Papa dari Davina dan Devan.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2