Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Jantung ku yang tidak baik-baik saja


__ADS_3

"Kenapa diam?" tanya Devan.


Hanna tidak tahu harus menjawab apa, ia bahkan masih terkejut dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Devan.


Devan menatap ke depan, dan ia tahu Hanna tengah menatapnya dalam rasa bingung, "Mas tidak pernah jatuh cinta, yang Mas tahu itu balas Budi. Dan semenjak kita bertemu," Devan memutar lehernya ke kanan hingga pandangan keduanya bertemu, "Mas tahu artinya cinta," lanjut Devan lagi.


Hanna langsung memutuskan pandangan kedua nya, ia melihat ke depan dan menantikan kata-kata yang akan di ucapkan oleh Devan.


Devan masih menatap Hanna tanpa ingin beralih pada yang lain, tatapan rasa kagum, rasa cinta yang mungkin cukup dalam dan sulit untuk di gambarkan.


"Mas salah, itu benar. Karena Mas terlalu menyayangi Mama Sarah, menurut Mas Mama adalah segala nya. Dan apapun itu akan Mas lakukan," Devan menjeda ucapannya dan menatap lurus ke depan, "Termasuk mengorbankan perasaan Mas sendiri, Mas menghilang dan pergi bukan karena ingin melupakan mu. Tapi Mas ingin menghilangkan bayang-bayang cinta yang ada di hati Mas, sulit, sakit, yang di korbankan bukan hanya sekedar perasaan seorang lelaki pada seorang wanita. Tapi perasaan seorang Ayah yang harus menjauh dari anak-anak nya, Mas tidak pernah mencoba untuk melupakan mu. Itu terlalu sulit, hanya saja Mas ingin kau bahagia dengan orang yang tidak pernah menyakiti mu," jelas Devan, kemudian ia diam dan sambil memandang bintang di langit yang berhamburan.


Setetes air mata Hanna jatuh dari pipinya, ada rasa benci saat Devan mengingatkan akan masa lalu. Tapi di balik itu semua juga ada rasa cinta yang masih tersimpan dengan begitu dalam, Hanna ingin sekali melupakan rasa sakit itu. Tapi apakah Devan bisa mengobatinya, dan berjanji tidak akan mengulangi untuk yang kedua kalinya. Mengingat wajah Derren dan Davina yang juga sangat merindukan sang Papa, terkadang membuat hati Hanna bergerak untuk kembali ke pelukan Devan. Tapi bisakah Devan meyakinkan dirinya, bahwa ia tidak akan lagi terluka karena penghianat.


"Kenapa kau menangis?" tanya Devan.


Hanna mengusap kasar air matanya, kemudian ia menggeleng. Dengan bibir yang perlahan tersenyum, "Mas," panggil Hanna.


"Em," jawab Devan yang masih menatap Hanna.


"Derren dan Davina butuh berkas-berkas yang mengatakan mereka anak kita, sedangkan kita saat itu hanya menikah siri. Bisakah Mas mengurus semua berkas itu?" tanya Hanna.


Devan mengangguk, dan sadar dengan kata-kata yang di lontarkan kepada nya. Menikah dan memiliki anak tanpa status yang jelas memang begitu sulit, "Iya, nanti Mas yang akan mengurusnya," jawab Devan.


Hanna mengangguk, tanpaknya Devan tidak mengerti maksud dari kata-kata Hanna yang ingin bersatu kembali dengan Devan.


Devan menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian ia berdiri sambil menarik lengan Hanna.


"Mas," Hanna minta di lepaskan, karena Hanna tidak terbiasa dengan berpegang dengan bukan mahram nya.


Devan tersenyum, "Sekali saja tidak apa," pinta Devan.


Hanna terdiam, sesaat kemudian ia mengangguk.

__ADS_1


"Masih jam 11:01 jalan-jalan yuk," ajak Devan yang tidak ingin melewatkan kebersamaan nya bersama Hanna.


"Masih?" tanya Hanna bingung, perlahan ia berdiri di hadapan Devan.


"Hehe...." Devan terkekeh, "Tidak masalah jam berapa, kita jalan-jalan yuk," ajak Devan lagi.


Hanna tersenyum dan mengangguk, "Tapi anak-anak di rumah Mas," jawab Hanna.


"Ada Oma nya," ujar Devan lagi sambil terkekeh.


"Kemana?" tanya Hanna.


"Kemana saja, asal kita berdua," jawab Devan sambil menaikkan sebelah alisnya menggoda Hanna.


"Mmmmfffffpp....." Hanna menutup mulut sambil menahan tawa.


Devan sadar akan keanehan nya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Yuk," Devan merangkul pundak Hanna dan keduanya mulai berjalan di sisi jalanan, menyaksikan kendaraan yang berlalu lalang mulai sepi. Di saksikan bintang di langit yang begitu indah.


Jangan tanyakan jantung Hanna saat ini, karena dari tadi ia terus berusaha untuk tenang. Sebab Devan terus saja berdekatan dengan dirinya, mereka berdua bukan hanya sepasang mantan kekasih. Tapi lebih dari itu, keduanya pernah merasakan indahnya bercinta bersama hingga Hanna melahirkan dua anak dari hasil cinta mereka.


"Yang, ada yang jual kembang api," kata Devan.


Hanna terkejut dengan panggilan Devan, itu panggilan saat mereka masih berstatus suami istri. Hingga ia menatap Devan bingung, dan bertanya-tanya dalam hati apakah ia tidak salah mendengar.


"Hanna," Devan kembali memanggil Hanna dengan benar, setelah menyadari kebodohannya barusan.


"I....iya," Hanna mengangguk dan merasa canggung.


Devan mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian ia mulai mencari rasa tenang agar tidak tegang, "Ada kembang api, kita main yuk," ajak Devan.


Hanna mengangguk, dan ia pun tetap berusaha untuk tenang. Sampai akhirnya Devan menyalakan kembang api, dan memberikan padanya. Namun tiba-tiba tanpa sengaja Hanna terkena percikan api yang menyala.

__ADS_1


"Aaauu...." ringis Hanna.


Dengan cepat Devan membuang kembang apa di tangannya, dan menghisap bagian tangan Hanna yang terkena percikan api. Ia terlihat panik.


Hanna hanya terdiam saat perhatian lebih yang di berikan padanya, walaupun begitu sulit tapi rasanya sungguh menegangkan.


"Sudah lebih baik?" tanya Devan.


"*J*antung ku yang tidak baik," batin Hanna, "Iya," jawab Hanna sambil mengangguk.


"Pulang yuk, udah malam," Devan kembali memegang lengan Hanna, dan keduanya berjalan cukup jauh sebab mobil Devan yang terparkir sebelum nya yang berada pada sebuah restoran.


Tapi rasanya itu tidak masalah, karena keduanya masih betah untuk berlama-lama berdua saja.


"Silahkan tuan putri," Devan membuka pintu mobil untuk Hanna.


Hanna tersenyum, "Terimakasih," jawab Hanna membalas senyuman Devan, kemudian ia duduk dengan manis.


Tidak lama berselang Devan juga duduk di kursi kemudi, kedua hanya diam sampai akhir mobil Devan berhenti melaju setelah memasuki gerbang rumah Agatha Sanjaya.


"Terima kasih," ucap Hanna sambil tangannya ingin membuka pintu.


"Hanna," Devan dengan cepat memegang tangan Hanna.


"Iya," Hanna menatap Devan penuh tanya.


Lama pandangan keduanya bertemu, sampai akhirnya tatapan Devan begitu berfokus pada bibir Hanna. Bibir merah dengan rasa manis yang biasanya selalu menjadi milik Devan.


Tidak tahu dengan rasa yang kini seakan semakin menuntut, hingga Devan dengan cepat menarik tengkuk Hanna dan melahap bibir Hanna dengan lembut.


Tidak ada penolakan, Hanna bahkan membalas dengan baik. Sebab ia ingin memberitahukan kepada Devan jika ia kini siap menerima Devan kembali.


"Sssssttt...." Hanna merintih, merasakan gelagat aneh saat tangan Devan mulai menjalar dengan liar, Hanna ingin sekali menolak. Tapi tubuhnya yang sudah lama terbiasa akan sentuhan Devan sangat menginginkan nya, menjadi seorang janda bukan hanya sekedar menahan sakit dan derita. Tapi hasrat sebagai wanita dewasa dan normal sering kali menginginkan untuk di manja.

__ADS_1


__ADS_2