
Selamat pagi Indonesia, udara yang segar dengan mentari yang mulai terbit dari pajar seakan membuat hati terasa bergairah. Segala nya di mulai kembali dengan kata indah, dan semangat di dada yang bergelora.
"Selamat pagi bos," sapa Farhan.
"Em," Devan mulai melangkah kakinya keluar dari kamar nya, hari ini ia ada rapat besar bersama dengan rekan kerja nya.
"Kita hari ini mau ke perusahaan cabang bos?" tanya Farhan.
"Kau masih betah bekerja dengan ku?!"
"Menjadi adik ipar mu sekarang tujuan ku bos," gumam Farhan.
"Apa kau sedang mengumpat ku?"
"Hehehe tidak bos," Farhan tersenyum dan merasa sedikit takut.
Devan tidak lagi melanjutkan pembicaraannya, kaki nya kini perlahan keluar dari kamar hotel miliknya. Sebab hari ini ia sudah mulai bekerja, dan setelah itu ia akan menjenguk anak-anak nya, apa lagi Devan juga sudah berjanji untuk menemui Mama Sarah dalam waktu yang lebih sering.
Kaki Devan kini berada di lobi perusahaan Anderson company miliknya, ini adalah perusahaan cabang yang sudah mulai beroperasi satu tahun yang lalu. Dan ini adalah yang pertama kalinya Devan menginjakkan kaki nya, sebab selama ini ia hanya mengirim Farhan yang meninjau segala nya. Bahkan saat perusahaan itu di resmikan, hanya Farhan yang mewakili dirinya. Alasannya nya hanya satu, Devan ingin melupakan kenangan buruk nya saat berada di negara yang tercintanya itu.
"Selamat pagi tuan," sapa beberapa karyawan saat Devan melewati mereka.
Devan melihat sekeliling nya, dan kemudian ia memasukan lift dan sampai di lantai lima. Dimana di sanalah ruang rapat.
"Ruangan nya yang ini bos," Farhan menunjukan ruangan yang cukup besar yang memang sudah di khususkan untuk rapat.
Tap tap tap.
Kaki Devan mulai melangkah, semua mata yang berada di ruangan mulai tertuju padanya. Dan semuanya berdiri, sampai akhirnya Devan meminta mereka untuk duduk kembali. Setelah itu barulah Devan juga ikut duduk, pandangan Devan mulai menyapu wajah-wajah rekan kerja nya. Sampai akhirnya matanya menatap seorang wanita dengan hijab di kepalanya, Hanna juga duduk di antara yang lainnya. Ini sungguh mengejutkan, tanpaknya Hanna juga cukup terkejut saat mengetahui siapa presiden direktur Anderson company. Sebab Hanna memang sudah tidak berhubungan dengan Devan.
__ADS_1
"Rapat bisa di mulai?" tanya Farhan.
"Silahkan," kata Devan.
Farhan berdiri, dan ia mulai menatap semua wajah di sana, "Dalam proyek ini, kami harapkan kita bisa benar-benar bekerja sama dengan baik. Dan silahkan presentasikan materi meeting kita hari ini," Farhan kembali duduk.
Setelah Farhan duduk Hanna mulai berdiri, ia menjelaskan satu-satunya masalah dan kendala dalam perkembangan pekerjaan yang akan mereka jalani, di lanjutkan dengan solusi. Dan beberapa hal yang menyangkut tentang rencana pembangunan proyek besar yang akan segera di laksanakan.
Devan tampaknya tidak fokus dalam rapat itu, ia duduk di tempatnya sambil memperhatikan Hanna. Tapi bukan pada materi yang di jelaskan oleh Hanna, melainkan ia melihat hal lain dari diri Hanna. Saat ini di mata Devan Hanna bukan tengah berbicara dengan materi rapat. Tapi tengah tersenyum padanya, dan mengatakan, "Aku merindukan mu Mas," Devan masih larut dalam dunianya, hingga tanpa sadar ia berkata, "Mas juga merindukan mu," kata Devan.
Semua mata seketika tertuju pada Devan, sebab apa yang di katakan oleh Devan cukup mengejutkan sekali.
"Hah? Apa anda berbicara barusan tuan Devan?" tanya Hanna secara formal, lagi pula tidak boleh ada masalah pribadi yang ikut di bawa saat bekerja begini. Dan ia takut salah mendengar, jadi ia lebih baik bertanya.
Glek.
Devan seketika tersadar dari lamunannya, ia membenarkan duduknya, "Ehem," Devan berdehem dan tetap berusaha untuk tetap tenang, sebab semua mata sudah melihat dirinya dengan bingung. Dan Devan mulai merutuki kebodohannya sendiri, "Maksud saya semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," kata Devan memberi alibi.
"Iya, saya harap juga begitu tuan Devan," ujar Hanna tersenyum.
"Rapat selesai, dan jika ada yang harus di pertanyakan silahkan tanyakan pada Farhan," Devan menunjukan Farhan, sebab ia ingin menghukum Farhan. Karena Devan tahu Farhan tengah menertawakan diri nya.
Farhan seketika tersenyum dengan terpaksa, karena Devan selalu berhasil menghukum dirinya.
Semua mulai membubarkan diri, hingga yang tersisa di sana Hanna, Hilman, Devan dan Farhan.
Hilman mulai berdiri, "Aku tidak pernah tahu ternyata pemilik perusahaan Anderson company adalah kau," Hilman mulai menjabat tangan Devan dan keduanya saling berjabat tangan.
"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," kata Devan tersenyum.
__ADS_1
"Iya semoga begitu," jawab Hilman tersenyum.
"Saya permisi, saya harus pulang. Anak saya hari ini ulang tahun," kata Hanna, sebab Davina memang berulang tahun untuk yang ke empat tahun.
"Saya juga akan datang sebentar lagi, sambil melihat keadaan Mama," kata Devan.
"Ya sudah kami permisi tuan Devan Anderson, seperti nya sekarang harus begitu ya," ujar Hilman tersenyum.
"Panggil Devan saja seperti dulu," Devan tidak ingin merasa lebih tinggi, baginya harta hanya titipan dan kapan saja bisa di ambil. Jadi tidak perlu sombong dengan itu semua.
"Kau masih saja sama seperti dulu, Devan yang tidak sombong. Kalau begitu aku dan calon istri ku berpamitan dulu," kata Hilman pada Devan.
"Calon istri?" tanya Devan sedikit terkejut.
"Iya," kata Hilman membenarkan apa yang barusan ia katakan, agar Devan tidak merasa salah mendengar.
Devan mengangguk dan menatap Hanna yang juga tengah melihat dirinya, "Selamat ya," kata Devan menjabat tangan Hanna.
Hanna mengangguk tanpa membalas jabatan tangan Devan.
"Kami permisi tuan," pamit Hanna dan ia pergi bersama dengan Hilman.
Kini Hanna berada di dalam sebuah mobil, dengan Hilman yang mengemudikan mobil nya. Keduanya tampak diam dengan Hanna yang hanya menatap ke depan dan Hilman yang sesekali menatap Hanna.
"Kenapa diam saja?" tanya Hilma memecahkan keheningan.
Hanna mulai menatap Hilman, "Kenapa Mas bilang aku ini calon istri Mas?" tanya Hanna, sebab Hanna belum pernah mengatakan setuju dengan lamaran Hilman saat itu.
"Aku hanya sedang bersemangat saja, lagi pula itu adalah doa ku," kata Hilman tersenyum, walaupun Hanna memang belum mengatakan setuju menikah dengannya, tapi menurut Hilman Hanna akan menjadi miliknya. Dan tidak ada salahnya untuk berjuang.
__ADS_1
"Aku tidak suka," ujar Hanna lagi.
"Iya baiklah, tapi aku masih menunggu jawaban mu," kata Hilman lagi yang terlihat sabar menantikan Hanna siap dan ia bisa menikahi Hanna.