Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Marah


__ADS_3

"Kau tahu ini pakaian apa?" tanya Hilman, "Ini pakaian menjijikan!" geram Hilman lagi.


Hilman berjalan menuju lemari dan mengeluarkan semua pakaian milik Risa, setelah itu ia segera keluar dari kamar dan menuju ke halaman belakang. Tangan Hilman memasukkan pakaian Risa ke dalam tempat pembakaran sampah, setelah ia menyiramkan minyak tanah Hilman langsung menjatuhkan api ke dalamnya.


Ibu Sintia yang melihat dari kejauhan tidak berani berbicara, ia hanya diam saja sebab ia sangat tahu seperti apa Hilman saat sedang marah.


Setelah api menyala dengan besarnya Hilman langsung pergi, ia harus segera menyelesaikan pekerjaan nya. Walaupun sekarang pikirannya sedang tidak baik-baik saja, tapi ia tetap berusaha untuk konsisten dalam bekerja.


Malam harinya Hilman kembali ke rumah, ia melihat Risa sudah terlelap tidur. Hilman langsung mengecup kening Risa, dan menatap wajah istrinya dengan rasa kasihan. Tadi Hilman marah bukan karena benci, hanya saja ia tidak suka saat Risa memakai pakaian yang mengundang orang lain menatapnya haus. Ditambah lagi ia masih memiliki pertanyaan pada Doni, dan ia masih butuh penjelasan dari Doni.


Selesai dengan mengganti pakaiannya Hilman naik ke atas ranjang dan tidur di samping Risa.


Pagi harinya Risa mulai mengerjapkan mata, tangannya bergerak dan terbiasa memeluk Hilman terlebih dahulu sebelum bangun. Namun, ia melihat tidak ada Hilman di sampingnya, "Apa Mas Hilman semalam enggak pulang?" Risa merasa semalam ia tidur di peluk oleh Hilman, tapi saat pagi hari ini ia tidak melihat keberadaan suaminya.


Risa sedikit merasa sedih, tapi ia juga cepat-cepat bangun dan melakukan ritual di pagi harinya. Setelah selesai dengan mandi, Risa keluar dari kamar dengan malas. Risa tahu Ibu Sintia pasti berada di dapur, hingga Risa juga segera menuju dapur.


"Bu," Risa langsung duduk di kursi meja makan.


"Iya," Ibu Sintia yang tengah membuat teh kini ikut duduk di kursi meja makan dengan membawa tehnya, "Ada apa?"


"Bu Mas Hilman semalam pulang apa enggak??"


"Lho....kok nanya ke Ibu," jawab Ibu Sintia, "Ibu semalam itu minum obat, dan setelah solat Isya Ibu langsung tidur dan tidak tahu apa-apa, bahkan Ibu juga bangun kesiangan."


Risa mengangguk dan merasa bingung apakah Hilman pulang atau tidak, sebab ia memang menunggu Hilman pulang dan ingin makan malam bersama. Tapi sampai pukul 10:00 juga Hilman belum juga pulang.


"Ayo makan, kamu sekarang Ibu perhatikan sangat jarang sekali makan," kata Ibu Sintia.

__ADS_1


"Enggak tahu lah Bu, tapi Risa lagi enggak nafsu makan," jawab Risa sambil mendesus, menunjukan wajah lesunya.


"Kamu telpon Hilman saja kalau begitu," Ibu Sintia memberikan usulan.


Risa diam sambil mengetuk meja makan, kemudian ia menggeleng, "Risa takut Mas Hilman masih marah Bu."


Ibu Sintia mengerti dengan perasaan Risa, ia mengusap punggung menantunya berharap Risa bisa sedikit lebih tenang, "Kamu makan dulu, sehabis makan kamu telpon Hilman. Dia tidak akan marah, percaya sama Ibu," Ibu Sintia terus berusaha untuk meyakinkan Risa, jika Hilman tidak akan marah lagi, "Tapi kamu makan dulu ya," pinta Ibu Sintia lagi, "Mbok Minah mana pindang ikan nya."


"Iya Bu," Mbok Minah meletakan nya di atas meja makan, sesuai dengan permintaan Risa kemarin. Pagi ini Mbok Minah memasak pindang Ikan di perintahkan oleh Ibu Sintia, sebenarnya Ibu Sintia ingin memasak sendiri tapi ia sedang tidak enak badan.


Aroma pindang ikan tersebut menyeruak masuk ke dalam hidung Risa, ia seketika merasa tidak nyaman. Cepat-cepat ia bangun dan menuju wastafel, "Huuueekkk..... Huuueekkk...." Risa terus memuntahkan cairan, karena dari kemarin ia mematik memakan nasi.


Ibu Sintia panik, ia langsung bergegas bangun dan menyusul Risa, "Kamu masuk angin lagi?" tanya Ibu Sintia.


"Iya Bu, Risa ke kamar aja ya Bu," Risa langsung berjalan menuju kamar.


"Mbok bikini Risa teh hangat aja ya," pinta Risa dan ia langsung menuju kamarnya.


Risa hanya diam duduk menatap keluar melalui jendela, ia duduk diam sambil memikirkan hal-hal yang mengganjal di hatinya. Risa yang terbiasa cuek kini berubah murung, suana hatinya benar-benar mendung hingga ia lebih memilih diam di kamar.


"Risa," Ibu Sintia melihat Risa tidak juga keluar dari kamar sampai waktunya makan siang.


"Bu," Risa melihat Ibu Sintia.


"Kamu makan ya."


"Risa udah makan roti Bu, Risa malas sekali makan nasi. Apa lagi bau sayuran, baunya sangat tidak enak," jelas Risa sampai ia merasa merinding.

__ADS_1


Ini Sintia mengangguk, tapi ia mulai penasaran dengan keadaan Risa seperti ini. Ia mengingatkan saat dulu mengandung Hilman, sama seperti Risa. Ibu Sintia mulai menaruh curiga jika Risa sedang mengandung.


"Tapi sebaiknya makan sedikit saja," pinta Ibu Sintia lagi.


"Bu," Risa menunjukkan wajah melasnya dan menggeleng, kemudian Risa langsung memeluk Ibu Sintia. Ia memang tengah merindukan Mom Citra juga, tapi Risa sabar menunggu sampai Hilman selesai dalam pekerjaan nya dan mereka akan bersama-sama berlibur ke kediaman kedua orang tuanya.


"Coba kamu telpon Hilman," kata Ibu Sintia lagi.


"Kalau Mas Hilman masih marah gimana Bu?"


"Coba dulu."


Dengan sedikit ragu Risa mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang, ia menatap layar ponselnya dengan nama kontak Hilman yang sudah terlihat. Tapi Risa kembali melihat Ibu Sintia.


"Ayo telpon," pinta Ibu Sintia kemudian ia keluar dari kamar Risa, karena ia tidak ingin mendengar apapun nanti pembicaraan suami istri tersebut.


Dengan perasaan ragu Risa mulai menghubungi Hilman, tapi tidak satu kali pun panggilan panggilan nya di jawab. Dengan kesal Risa langsung melempar ponselnya hingga pecah.


Krang....


Seketika ponsel itu terbagi menjadi beberapa bagian, Risa langsung duduk di lantai sambil menangis. Tidak tahu dengan perasaan nya saat ini tapi ia sangat merindukan Hilman saat ini.


"Risa, bagaimana apa Hilman...." Ibu Sintia yang kembali lagi ke kamar Risa terkejut melihat Risa yang tengah menangis sambil duduk di lantai, "Risa kamu kenapa?" Ibu Sintia yang panik langsung masuk dan memeluk Risa, "Kamu kenapa Nak?" tanya Ibu Sintia semakin panik.


Risa hanya menangis tanpa berbicara, tidak ingin membebani Ibu mertuanya Risa mengusap air mata dan berdiri, "Risa enggak papa kok Bu, Risa tidur siang dulu ya Bu," Risa langsung naik ke atas ranjang dan menutup matanya agar segera tertidur, ia tidak mengerti mengapa bisa begitu cengeng. Dan mungkin setelah bangun tidur nanti ia bisa lebih baik.


Ibu Sintia hanya bisa menarik nafas, ia meninggalkan Risa di kamarnya agar bisa beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2