Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Sampai kapan?


__ADS_3

Semenjak Hilman pulang Agatha terus saja berusaha berbicara dengan Hanna, karena keputusan Hanna yang begitu mendadak hingga membuat Agatha bingung.


"Hanna, ini sangat mendadak sekali Nak. Bukankah kau dan Devan akan segera rujuk, lalu kenapa hari ini kau membawa Hilman ke sini sebagai calon suami mu?"


"Apa Papa tidak setuju?"


"Papa setuju, tapi alasannya apa?"


"Hanna sudah yakin Pa!" jawab Hanna untuk yang kedua kalinya.


Agatha sejenak berdiam, ia masih menatap wajah putrinya yang tengah menahan air mata.


"Menikah tidak bisa terburu-buru Hanna, apa kau ingin gagal untuk yang kedua kalinya?" tanya Agatha.


Sarah berusaha menenangkan Hanna, sesekali tangannya mengelus pundak Hanna. Hati Sarah seakan terasa begitu sakit, karena melihat putri nya yang kini terpuruk akan cinta yang tidak bisa membuat nya bahagia.


"Ini karena Mama," timpal Sarah penuh luka.


"Ini bukan salah siapa-siapa, hanya saja Hanna juga ingin bahagia Ma."


"Sebaiknya pikirkan dulu," tambah Agatha lagi.


"Hanna sudah mengenal Mas Hilman cukup lama Pa, dan Hanna sudah sangat tahu seperti apa Mas Hilman," papar Hanna.


"Tapi kamu tidak mencintainya, Papa tahu itu...."

__ADS_1


"Lalu siapa yang Hanna cintai Pa?" tanya Hanna dengan cepat.


"Baiklah keputusan ada di tangan mu," kata Agatha, dan ia pergi begitu saja. Walaupun hati seakan kecewa, tapi semua keputusan ada pada Hanna.


Sarah juga ikut menyusul Agatha, hingga akhirnya di sana hanya ada Hanna dan Adam. Keduanya diam tanpa berbicara, Adam yang terus menatap Hanna. Dan Hanna yang duduk sambil bersandar pada sofa dalam diam.


"Kakak udah yakin?" tanya Adam memecahkan keheningan di antara keduanya.


Hanna perlahan mulai menatap Adam, ia mengangguk hingga beberapa kali, "Biarkan aku bahagia," kata Hanna.


Adam mengangguk dan ingin melihat seperti apa exspresi Hanna saat menjawab dengan pasti, "Alasannya?" tanya Adam. Mata Adam terus saja menatap Hanna, entah mengapa Adam merasa ragu dengan keputusan Hanna saat ini. Cinta yang begitu besar untuk Devan akankah luntur dengan begitu mudahnya, rasanya sangat mustahil.


"Aku hanya ingin bahagia," jawab Hanna untuk yang kesekian kalinya. Berulangkali ia ingin meyakinkan orang di sekitarnya tentang ia ingin bahagia.


"Lalu yang benar itu seperti apa?" tanya Hanna yang ingin tahu tentang hal yang paling benar saat ini.


"Jangan terburu-buru," kata Adam lagi.


"Huuuufff....." Hanna menarik nafas dengan panjang, "Aku tidak terburu-buru Adam, aku hanya ingin mengubur masa lalu dan bahagia dengan masa depan!"


"Apa masalah mu dengan Kak Dev?"


Hanna diam dan melempar pandangan nya ke arah lainnya, ia kembali mengingat wajah Devan. Bahkan setiap kesalahan Devan.


"Setiap masalah ada penyelesaian nya Kak," tambah Adam lagi.

__ADS_1


"Tidak ada Adam, keputusan ku pun sudah final!" tegas Hanna, lalu ia berdiri dan berjalan ke arah anak tangga. Namun saat ia akan menaiki anak tangga tiba-tiba suara Adam berhasil mengehentikan langkah kaki Hanna.


"Kalau kau ingin bahagia jangan menikah karena pelampiasan, kau mencintai Kak Dev. Hanya Kak Dev, apa kau tidak kasihan pada Kak Hilman yang memiliki diri mu tapi tidak dengan cinta mu?!"


Hanna kembali berbalik dan menatap Adam, "Itu lebih baik."


"Tapi kau mencintai Kak Dev!!"


"Iya!" tegas Hanna, "Aku memang mencintai nya. Tapi sampai kapan?" tanya Hanna, "Sampai kapan Adam?" tanya Hanna yang kembali berjalan mendekati Adam, "Sampai kapan aku yang terus berjuang, menunggu, menderita, terhina. Sampai kemarin apa dia tidak mengerti tentang aku yang masih menginginkan dia?! Apa dia tidak mengerti? Sampai kapan Adam?!" tanya Hanna dengan air mata yang terus menetes dari mata indahnya.


Adam tertunduk mendengarkan penjelasan Hanna, ia menimbang apa yang di katakan oleh Hanna saat ini.


"Kau yang menjadi saksi seperti apa kisah cinta kami, apa pernah dia berusaha berjuang dan bertahan untuk ku?" tanya Hanna, "Tidak!" jawab Hanna lagi dengan tegas, "Bertahun lamanya aku larut dalam masa lalu, aku bahagia dalam cinta yang semu yang juga perlahan membunuh ku! Aku tidak sanggup lagi. Kami mungkin tidak di takdir kan untuk bersama, sekuat apa pun aku memaksa, tetap saja dia bukan milik ku. Kami tidak berjodoh!" tegas Hanna.


"Tapi Kak Hanna, coba bicarakan ini baik-baik. Andai kau punya masalah dengan nya coba selesaikan dulu," pinta Adam yang ingin menengahi.


"Aku tidak ingin lagi terjebak dalam masa lalu, biarkan aku bahagia. Kalaupun aku tidak mencintai Mas Hilman, paling tidak aku tahu dia mencintai ku. Dia tidak pernah henti berjuang mendapatkan aku, lalu bagaimana dengan Devan?" Hanna tersenyum miring, "Dia hanya diam dalam mimpinya sendiri, menyerah tanpa berjuang. Mundur sebelum berperang. Dia tidak mencintai aku, lalu sampai kapan aku mengharapkan nya? Hanya perjuangan sedikit saja dia tidak sanggup, sudah cukup. Aku sudah muak! Kalau memang dia mencintai aku kita lihat saja apa yang akan dia lakukan saat aku akan menikah!" kata Hanna.


"Lalu bagaimana dengan Derren dan Davina?"


"Lalu bagaimana dengan aku?" tanya Hanna lagi, "Apa aku harus diam seperti ini, di sakiti seperti dulu juga tetap diam? Mas Devan tetap orang tua anak-anak ku, tapi aku bukan lagi istrinya. Kau katakan aku egois? Masalahnya saat ini Mas Devan tidak ingin kembali pada ku, haruskah Kakak mu ini memohon di bawah kakinya, agar Kakak mu ini di nikahi nya lagi. Setelah itu diam saat di sakiti?" tanya Hanna meluapkan emosi nya, "Dia tidak ingin kembali Adam, ingat itu. Dan haruskah aku menunggu? Sampai kapan?" tanya Hanna dengan senyum miring.


Adam tidak tahu lagi harus berkata apa, yang jelas tidak semua yang di katakan oleh Hanna salah. Sebab Devan memang hanya diam dan tidak peka terhadap orang-orang di sekitarnya, biar ini menjadi pelajaran berharga bagi Devan. Dan apa yang di katakan Hanna ada benarnya, jika memang Devan mencintai nya ia pasti akan berjuang, bahkan saat Hanna akan di nikahi orang lain.


Hanna tidak lagi berada di sana, ia cepat-cepat menuju kamarnya. Percuma berdebat dengan Adam, karena tidak akan ada solusi yang tepat. Bagi Hanna saat ini adalah keluar dari bayang-bayang masa lalu, tujuannya bahagia dengan membangun rumah tangga. Memperjuangkan serta di perjuangkan, berbicara bukan hanya sekedar diam. Dan terserah bila Devan memiliki hubungan khusus apa tidak dengan Risa, karena yang ia butuhkan adalah sebuah kepastian.

__ADS_1


__ADS_2