Hanya Ingin Di Hargai

Hanya Ingin Di Hargai
Naik Jabatan


__ADS_3

Hari-hari berlalu Hanna bekerja dengan begitu baik, bahkan ia selalu mengerti dengan permintaan para pelanggan. Setiap gaun yang ia rancang tidak pernah ada kesalahan ataupun komplain dari pihak pembeli, bahkan mereka sangat puas sekali dengan hasil kerja Hanna.


"Aduh Han, omset kita bulan ini naik banget," ujar Kiara selaku manager, dan sekaligus kini sudah menjadi sahabat Hanna.


"Apa iya?" Hanna belum tahu berapa penghasilan dari bulan lalu, sebab ia masih terhitung sebagai orang baru di sana.


"Iya, dan aku minta tolong. Kamu buat antar semua berkas ini ke kantor pusat," Kiara memberikan sebuah map pada Hanna, "Ini adalah laporan bulanan kita, dan satu lagi," Kiara kembali mengambil sebuah benda kecil dan pipih, "Ini data rekaman dan isinya gaun rancangan mu yang akan di promosikan," kata Kiara.


"Em, harus aku banget ya Kiara?" tanya Hanna yang sedikit ragu.


"Iya, harus kamu. Soalnya aku sedang menunggu pelanggan setia kita, aku mau sampai di kecewa," jawab Kiara.


"Iya udah deh," Hanna mengangguk mengerti.


"Kamu berangkat sekarang ya, soalnya butik cabang yang lainnya juga akan masuk kain bakal trend terbaru. Jadi kalau berkas ini cepat si proses butik kita akan segera di kirim bakal kain terbaru dan pasti pelanggan tidak akan pergi dari kita," jelas Kiara lagi.


"Ok....tapi alamatnya?" Hanna tidak tahu butik itu berasal dari perusahaan mana, jadi harus diberikan alamat oleh Kiara.


"Ya ampun Han, kamu tabu banget sih," Kiara malah merasa lucu dengan Hanna, karena ia tidak tahu apa-apa sepertinya, "Nih," Kiara memberikan sebuah alamat perusahaan pada Hanna, "Ini itu kantor mantan suami kamu, dia itu pengusaha muda sukses di berbagai kain. Mulai dari pengusaha tekstil sampai batu bara, sampai juga properti dan banyak lagi!" jelas Kiara.


"Mantan suami?" tanya Hanna yang masih di luputi kebingungan.


"Udah-udah, ini udah siang banget. Nanti telat, kamu datang ke alamat itu. Enggak usah pura-pura bodoh!" kata Kiara. Kiara tidak tahu jika Hanna memang tidak tahu tentang Devan, apa lagi perusahaan-perusahaan Devan. Hanna hanya mantan istri siri yang di tutupi dari masyarakat di luar sana, dan Kiara sama sekali tidak pernah bertanya lebih dalam. Sebab Hanna tidak punya kewajiban untuk bercerita menurut Kiara.


Dengan langkah kaki yang terasa berat, Hanna mulai berjalan. Ia melihat kartu nama di tangannya, dan mematikan apakah ia tidak salah mendatangi perusahaan. Hingga kini ia mulai melangkah mendekati security, "Pak apa alamat ini benar?" tanya Hanna sambil menunjukkan kartu nama di tangannya.


Security itu melihat kartu nama yang di pegang Hanna, "Iya Bu ini benar, kalau boleh tahu ada keperluan apa?"


"Saya orang baru dari butik Bu Sarah, dan Kiara meminta saya mengantarkan beberapa dokumen," jawab Hanna.


"O, iya. Saya paham, Ibu masuk saja. Nanti kalau ibu tidak tahu Ibu bisa tanya sama resepsionis di sana," ujar security itu.


Hanna mengangguk mengerti ia mulai melangkah masuk, dan terus saja berjalan. Sampai di loby Hanna bertemu dengan Farhan.


"Hanna," sapa Farhan.

__ADS_1


"Iya apa kabar?" tanya Hanna berbasa-basi.


"Baik, ada apa?" tanya Farhan.


"Aku di suruh Kiara buat ngantarin inj," kata Hanna menunjukan beberapa dokumen pada tangannya.


"Sebentar," Farhan sedikit menjauh dari Hanna dan ia mulai menghubungi seseorang, setelah selesai ia segera kembali mendekati Hanna, "Ayo saya antar," kata Farhan.


"Iya terima kasih," Hanna berjalan di belakang Farhan, kemudian keduanya masuk kedalam lift.


Ting!


Mereka sampai si lantai 10 dan keduanya keluar dari dalam lift.


"Silahkan masuk," Farhan membukakan pintu untuk Hanna.


"Terima kasih," kata Hanna tersenyum.


"Saya permisi," pamit Farhan lalu pergi.


Devan mulai melihat Hanna, ia bersandar pada kursi kebesaran nya dengan wajah dinginnya.


Deg.


Hanna terkejut, karena ternyata Devan adalah bos besar di sana. Kemudian ia melihat tulisan Presiden Direktur Devan Agatha Sanjaya, dengan gelar yang cukup banyak hingga membuat Hanna bingung. Sebab ia tidak mengerti.


"Mas Devan," kata Hanna.


"Ehem," Devan berdehem seolah ia tenang saja, dan melihat Hanna dengan dingin tanpa bicara. Sebab biasanya juga Devan begitu, tapi untuk kali ini bukan Devan tidak mau berbicara. Tapi harus di tahan, karena ini saat jam kerja dan sedang ingin mendapatkan Hanna kembali. Bagaimana manapun caranya sebab bagi Devan Hanna adalah nafas nya dan apapun akan ia korbankan demi Hanna.


Hanna hanya diam tanpa bicara, karena ia sangat bingung harus apa. Apa lagi Devan pin hanya diam saja. Hingga ia hanya berdiri dan mengigit bibir bawahnya.


"Ya ampun wanita ini maunya apa? Kenapa harus mengigit bibir di sini," batin Devan, "Kenapa kau berdiri di sana?!" tanya Devan tegas.


"Hah," Hanna melongo karena biasanya Devan selalu datang kerumahnya dan tidak biasa nya begitu, "Huuuufff......." Hanna menarik nafas nya dengan panjang dan kembali tenang seperti biasanya, "Ini Pak," Hanna memberikan dokumen yang ia bawa pada Devan, "Saya permisi," pamit Hanna.

__ADS_1


"Tunggu," suara Devan yang berat berhasil menghentikan langkah kaki Hanna.


"Ya Pak," Hanna berbaik dan melihat Devan.


"Siapa yang mengijinkan mu keluar?"


"Tapi......"


"Duduk!" titah Devan tidak ingin dibantah.


Hanna merasa ini adalah pekerjaan dan tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi. Walaupun ia sebenarnya tidak ingin melihat wajah Devan lagi, tapi sepertinya dunia sangat sempit hingga ia terus saja bertemu dengan Devan. Dengan cara yang tidak terduga.


"Iya Pak," Hanna duduk di kursi berhadapan dengan Devan.


Devan membuka dokumen yang di bawa oleh Hanna, "Cukup baik," kata Devan, "Mulai sekarang kau aku berikan jabatan yang baik," ujar Devan.


Hanna hanya diam sambil menatap Devan dengan penuh tanya.


"Kau jadi asisten ku!" ujar Devan.


Glek.


Hanna meneguk saliva, tentunya ia tidak akan mau.


"Maaf Pak saya tidak tertarik!" tegas Hanna.


Devan mengambil dokumen kontrak yang pernah di tandatangani Hanna, dan melemparnya pada meja, "Baca kontrak mu itu, kalau kau sanggup membayar denda silahkan keluar dari sini!" ujar Devan.


"Sssssttt......" Hanna mendesis, dan ia mengepalkan tangannya. Dari mana ia bisa mendapatkan uang satu miliyar untuk membayar denda itu.


"Bagaimana?"


"Mas apa kau menjebak ku!" geram Hanna yang tidak kuasa lagi menahan emosi.


Devan tersenyum samar, "Duduk, dan bertingkah sopan, ini perusahaan bukan masalah pribadi. Dan tidak ada sangkut pautnya," sanggah Devan.

__ADS_1


__ADS_2