
🍃🍃🍃🍃
Hari ini sesuai keinginan Bella, keluarga kecil itu akan berangkat ke Jakarta. Sejak pagi buta Bella dan Delan sudah bersiap-siap memasukan semua kebutuhan mereka terutama Jeslyn yang paling banyak. Bayi mungil itu masih tertidur dalam box bayi sesudah dimandikan dan diberi susu oleh Bella
Delan tiba-tiba memeluk Bella yang sedang berias dari belakang. Lalu mengecup leher Bella." Aku akan menemui Milan." Bella menggelengkan kepalanya
" No, aku tidak mengijinkanmu!" Saut Bella membuat Delan tersenyum
" Its oke, aku akan mengajakmu dan Jeslyn, aku tidak akan sendiri."
" Kenapa kamu ingin menemuinya?"
" Dia sudah memisahkan kita, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padanya, apa dia sangat bahagia setelah melakukan semuanya atau karma apa yang dia dapat." Bella tertawa mendengar ucapan suaminya. Delan yang keheranan mengecup lagi leher Bella
" Sayang kamu percaya hal seperti itu?" Tanya Bella disela tawanya
" Tentu, karena aku mengalaminya." Bella menyipitkan kedua mata memandang suaminya dari pantulan cermin, begitupun Delan
" Semua yang kualami, kupikir itu adalah karma atas kesalahanku Bella."
" Kamu tidak salah Delan." saut Bella sembari mengusap lengan Delan yang melingkar didada atasnya
" Aku sangat salah, mengingkari janjiku untuk kembali. Makanya Tuhan tidak pernah memberi kebahagiaan pada pernikahanku dan Angela." Bella tersenyum manis
" Jadi kamu menyesal melakukannya malam itu?"
" Tentu tidak sayang, mana mungkin aku menyesal. Aku sangat menikmatinya, itu pertama kalinya untukku." Saut Delan keduanya saling tersenyum manis
Ehem
Sampai deheman pelan menyadarkan keduanya. Diambang pintu ada Mammi Bulan
" Ayo berangkat, jangan menunggu siang agar kalian tiba disana tidak terlalu malam." Suara itu tampak memggerutu karena dimana-mana anaknya tak pernah jauh dari Bella, keduanya selalu menempel dan melupakan sekitar jika sedang berdua. Putranya memang telah bertekuk lutut pada mantan nany sikembar itu
" Sebentar, Bella belum selesai Mam." Saut Delan. Mammi Bulan memgabaikan Delan, putranya selalu banyak alasan bila bersama Bella. Wanita itu masuk kekamar dan melihat sang cucu yang terlelap dengan posisi telungkup sehingga sebelah pipinya terjepit semakin membuatnya terlihat lucu, Mammi Bulan tersenyum bangga melihat Jeslyn, semakin besar bayi itu lebih mirip ke Pevita sewaktu bayi, mungkin karena Delan dan Pevita juga sangat mirip
Delan melirik ibunya yang tak kunjung keluar malah terus menatapi Jeslyn sesekali jemarinya mengusap pipi bayi mungil itu." Mam bisakah bawa Jeslyn kebawah lebih dulu, aku membawa koper sangat banyak."
__ADS_1
" Pelayan banyak Delan, kamu bisa menyuruh mereka." Sautnya tanpa melihat Delan. Tapi wanita itu melakukan apa yang Delan bilang, pelan-pelan ia membawa tubuh mungil itu. Memangku sambil mengamingnya pelan dan keluar dari kamar. Delan terkikik lucu dalam hati, padahal itu alasan Delan agar bisa berduaan bersama Bella
Delan kembali pada Bella." Kiss me." Bisiknya diteling Bella sembari menarik dagu runcing istrinya. Bella tersenyum lalu mengecup bibir Delan dengan lembut membuat pria itu ikut tersenyum membalas kecupan Bella. Bukan dengan kecupan, pria itu mencium bibir Bella dan memagutnya dengan sedikit kasar
Delan melepaskan bibir itu setelah puas. Lalu melepaskan Bella dan menegapkan tubuhnya. Pria itu terkikik lucu melihat Bella yang terengah-engah." Bukankah kamu selalu licik Delan." Delan tertawa
" Tapi sayang kamu selalu menikmatinya." saut Delan lalu menjauh sebelum semuanya menjadi adu mulut antara dirinya dan Bella. Delan menarik satu koper besar hitamnya yang masih diatas ranjang
Belum juga koper itu Delan geret, pria itu didorong Bella sehingga terjatuh kekasur." Bella." Tegur Delan lalu membalikan tubuhnya, ia hendak bangun namun Bella yang naik kepangkuannya membuatnya tak bisa bergerak
Bella meraih satu jemari Delan dan ia tuntun pada buah dadanya. Mana mungkin Delan menolak, pria itu bersemangat dan meremmas buah dada itu." Uuuhhhmm." Dessah Bella tiba-tiba memancing sesuatu didalam celana sana bangun. Delan segera bertindak ia menarik tubuh Bella menempel padanya membuat Bella menyusupkan wajah ke leher Delan sembari tangannya nakal kebawah meremmas-remas pelan pangkal paha Delan yang telah mengembung
Bella menciumi leher itu." Bella." Suara serak itu semakin minta dipuaskan olehnya. Bibir Bella tersenyum lucu lalu tiba-tiba bangkit menegapkan tubuhnya
" Aku lupa kita akan pergi." Delan membulatkan kedua matanya
" Sebentar saja." Wajahnya memohon lalu menunjuk pangkal paha dengan dagunya. Bella hanya mengedikan bahunya acuh lalu beringus turun dari tubuh Delan. Sebelum Delan menangkapnya Bella cepat-cepat meraih tas kecil dan melangkah menuju pintu keluar
" Bella." Panggil Delan, Bella menoleh sekilas
" Kasihan Jeslyn."
" Kasihan Mammi menunggu." Saut Bella lalu keluar dari kamar, ia terkikik lucu melihat wajah memohon suaminya. Bella selalu bisa mengerjai Delan, pria itu selalu terpancing hanya karena sedikit permainannya
" Sial." Delan menggerutu sembari mencengkram sprei dengan kuat, lalu ia membalikan badan dan telungkup
" Bagaimana bisa aku selalu tergoda." Gerutu Delan mencoba meredam hasratnya yang mulai memggebu
" Delan, awas saja kamu." Gerutu Delan
Bella, kemana Delan?" Tanya Mammi Bulan, sudah mau setengah jam sang putra tak kunjung keluar dari kamarnya
" Tadi dia masih dikamar mandi Mam." Saut Bella santai dengan mulut mengunyah cemilan ringan ditangannya. Sementara Jeslyn masih terlelap di stroller bayinya
Mammi Bulan segera bangkit untuk menyusul Delan kekamarnya. Ia membuka pintu dan menemukan Delan akan memakain pakaian di walk in closet, tubuh setengah telannjangnya masih basah dan bagian bawahnya masih tertutupi handuk putih
Mammi Bulan merasa aneh melihat putranya, padahal tadi pria itu sudah rapi dengan tatanan rambut yanh dioles pomade
__ADS_1
" Apa apaan kamu Delan?" Delan tampak kesal
" Hmm."
" Ayo cepat, jangan menunggu siang."
" Iya, kenapa Mammi cerewet sekali." Gerutu Delan
" Lalu kenapa kamu mandi lagi, apa kamu kurang kerjaan?" Delan membungkam, ia sibuk memakai pakaiannya didepan sang Mammi
Mammi Bulan menggelengkan kepala, semenjak bersama Bella putranya semakin aneh apa karena kehamilan istrinya mempengaruhi Delan?. Kemudian Mammi Bulan kembali kebawah pada Bella yang masih asyik memakan cemilan
" Bella, apa Delan mengidam?" Bella mengernyitkan dahinya
" Mengidam bagaimana?"
" Jelas-jelas tadi dia sudah rapi, tadi Mammi lihat dia baru selesai mandi." Bella sampai tersedak dan terbatuk sendiri akibat menahan tawa membuat Mammi Bulan bergegas memberinya minum
Rupanya suara keduanya membangunkan Jeslyn, bayi mungil itu tiba-tiba membuka matanya dan menangis kencang membuat Bella bergegas mengambil dan menimangnya
" Oh sayang, suara Mammi mengganggumu ya?" Bella masih ingin tertawa bila mengingat suaminya. Sambil menimang Jeslyn ia mengeluarkan satu buah dadanya untuk sang putri yang mana langsung disesap Jeslyn. Kedua mata bayi itu menutup lagi membuat Mammi Bulan tertawa pelan
" Mammi takut dia mabuk Bella."
" Tidak Mam, Jeslyn bayi yang kuat. Perjalanan dari Jeju juga dia tidak mabuk sama sekali, hanya rewel sedikit." Mammi Bulan tersenyum
" Seperti ayahnya, dulu Mammi sering mengajak Delan berpergian jauh, Delan juga tidak pernah mabuk." Bella tersenyum menatapi Jeslyn
" Gen Delan sangat kuat Mam, semua menuruni Delan." Saut Bella membuat sang mertua ikut tersenyum
Ketenangan itu diganggu Pevita dan juga Delan, gadis yang baru bangun itu langsung menyerbu Jeslyn yang masih menyusu dengan menciumi sebelah pipinya. Sontak Jeslyn membuka kedua matanya lagi, kali ini tak menangis malah bangun duduk dan menyengir menampilkan giginya yang baru tumbuh dua diatas dan dibawah. Semuanya tertawa lucu kecuali Delan, pria itu menampilkan wajah kesal apalagi ketika melihat buah dada Bella, hasrat yang belum padam itu kembali terlonjak
Melihat tatapan penuh terkaman Delan padanya, Bella segera memasukan dan merapihkan pakaiannya lagi. Tetapi tetap tak mengubah Delan, pria itu duduk disamping Bella dan langsung menggandeng wanita itu dengan mesra
" Awas saja kamu ya Bella." Bisik Delan ditelinga membuat Bella meneguk ludahnya susah payah, suaminya tak pernah main-main dalam ucapannya
-
__ADS_1
-