Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Aku menyukaimu


__ADS_3

Pevita menekan-nekan bell pintu kamar Milan secara terus menerus sambil tak menghentikan tangisannya. Pevita tak bisa menahan perasaannya lagi, benar kata Lany, ia akan menyesal bila tak mengatakannya pada Milan. Bersatu atau tidaknya itu urusan nanti


" Kak Milan." Pevita mulai berteriak ketika pintu itu tak kunjung terbuka


" Kak Milan." Teriak Pevita lagi


" Kak-"


Ceklek


Kedua pasang mata Milan tampak terkejut ketika melihat Pevita didepan matanya


" Aku menyukaimu!" Milan masih mematung


" Kak Milan benar, aku berbohong. Sebenarnya aku sangat menyukaimu!" Ketika tersadar, Milan langsung menarik jemari lentik itu masuk kedalam kamarnya. Tanpa ba bi bu bibirnya langsung mencium bibir Pevita sambil mendorong tubuh itu menyentuh tembok dingding


Suara decapan akibat bibir yang beradu itu memecah keheningan kamar Milan. Sampai Milan melepaskan bibirnya, ia menangkup wajah Pevita." Kenapa kau menangis?" tanyanya dengan suara lembut


" Karena aku menyukaimu, aku bisa gila." Sautnya dengan nafas terengah akibat ciuman Milan yang cukup lama. Bibir Milan tersenyum, kepalanya menunduk untuk mengecup bibir Pevita


" Kau mau berkencan denganku?" Tanya Milan. Pevita mengangguk cepat membuat Milan membawanya dalam pelukan. Pevita membalas pelukan itu begitu erat. Keduanya cukup lama menikmati kehangatan tubuh masing-masing. Pevita sampai tak sadar, bahwa Milan baru saja selesai mandi dan tubuhnya hanya dilingkari handuk putih saja


" Kemarilah." Ajak Milan menuntun jemari lentik itu untuk duduk disofa biru tua di kamarnya


" Apa kau sudah makan?" tanya Milan. Pevita menggelengkan kepalanya


" Kita makan malam berdua." Saut Milan lalu menghubungi pelayan kapal, memesan makan malam untuknya dan Pevita


Milan membuat Pevita terkejut karena memeluknya dari belakang. Malu-malu Pevita menyentuh lengan kekar didadanya


Cup


Milan mengecup pundak Pevita yang terbuka." Sudah kubilang jangan memakai baju yang terbuka, kenapa tidak dengar hmm?" Pevita hanya tersenyum, rasanya hatinya membuncah senang


" Kau akan menggoda setiap pria yang melihatmu!" Bisik Milan ditelinga Pevita lalu mencium daun telinga itu membuat tubuh Pevita menggeliyat geli


" Kau juga tergoda?" Pevita malah memancing dirinya. Milan menoleh menatapi wajah itu dari samping

__ADS_1


" Tentu, apa kau akan memberikannya malam ini?" Pevita menggigit bibir bawahnya. Milan mendekatkan wajahnya untuk menciumi leher Pevita


" Eeehhhmmm." Milan tersenyum mendengar lenguhan itu


" Kalau aku menginginkanmu malam ini-" Pevita menoleh kebelakang, menekan tubuhnya pada Milan hingga Milan menyandar pada kepala sofa. Menangkup wajah tampan itu dengan satu tangan lalu meraup bibir Milan, memberi kesempatan pada Milan untuk mengarungi indahnya malam bersama-sama


Suara decap bibir yang saling bertaut kembali memecah kamar itu. Milan mulai bangkit, kini ia yang mendorong tubuh Pevita. Milan melepaskan ciuman itu, perlahan ia menarik tali dibelakang tengkuk Pevita hingga ketika tali itu terlepas dress Pevita melorot kebawah. Milan melingkarkan kedua tangannya dipunggung Pevita sambil bibirnya hinggap dileher, menciumi leher itu dengan kecupan lembutnya


Pevita hanya bisa menggigit bibir bawah ketika dua jemari itu berhasil melepaskan bra kuningnya. Milan langsung menarik bra itu melemparnya kelantai, lalu mendorong tubuh Pevita hingga menyandar pada kepala sofa, seiring dengan kedua jemarinya menangkup dua buah dada Pevita


" Dua-duanya sangat indah." Puji Milan kian membakar gairah Pevita, bibir itu tersenyum lalu menangkup wajah Milan. Ketika itu Milan mengecup jemari Pevita, kemudian beringus turun kebawah berlutut dilantai, jemari-jemarinya mulai meremaas dua buah dada memberikan sensasi luar biasa pada tubuh Pevita, seluruh urat syarafnya mulai menegang


" Aauuuhh uhhihmmmmm." Dessah suara manja itu ketika Milan mulai mengulum satu puncak dadanya. Tubuh Pevita menggeliyat geli dengan tatapan pada Milan yang mulai merakus meraup puncak dada itu satu persatu secara bergantian, sesekali Milan menghisapnya begitu kuat


" Aahhh kak."


" Kak Milan." Milan melirik Pevita, dengan jahil ia menggigit pelan puncak dada itu


" Sssshhhh aaaaahhhhhh." Milan tersenyum, ia merasa puas melihat Pevita yany sangat menikmati setiap sentuhannya, bibir gadis itu terus menganga lebar


Merasa sudah puas memainkan buah dada itu, bibir Milan mulai turun kebawah pada perut Pevita, inci demi incinya tak ia lewatkan sedikitpun. Semakin turun bibirnya semakin pula Milan membuka kedua paha Pevita selebar mungkin. Pevita menjerit pelan menggigit jemarinya sendiri ketika lidah Milan dengan nakalnya menyapu permukaan kewanitaan Pevita dari bawah keatas


Anehnya Milan tampak begitu menikmati apa yang ia mainkan dibawah sana, suara decapan itu terus membuat darah Pevita berdesir, tubuhnya kian memanas dan kewanittaannya terus berkedut tanpa henti." Aaahhhh, Ahhhh, Ahhhh, Kak Milan aaahhhhkkk." Milan menjauhkan wajahnya sambil menatapi Pevita, ia mengganti permainan itu dengan dua jarinya ia masukan ke area inti Pevita, memaju mundurkannya secara cepat, detik berikutnya tubuh itu mengejang hebat lalu menggelinjaang


Milan mencabut dua jarinya, ia menyusupkan lagi wajahnya ke pangkal paha Pevita, menikmati cairran dengan aroma memabukan itu, Milan tampak menikmatinya, meneguknya sampai semuanya habis. Merasa belum puas, Milan kembali memainkan lidahnya, ia akan membuat tubuh itu terus menggeliyat dan menggelinjjang lagi. Milan suka sekali mendengar suara manja Pevita


Tak lama tubuh itu bergetar untuk kedua kalinya. Milan kembali meneguk cairran itu sampai tandas." Enak?" Goda Milan lalu bangkit berdiri sembari menarik Pevita untuk duduk tegak


Milan menangkup wajah cantik yang berkeringat itu." Enak sayang?" Goda Milan lagi sembari mengelus pipi Pevita yang merona dengan kedua ibu jarinya. Gadis itu menengadah menatapi Milan dengan menggigit bibir bawahnya, sambil kedua jemarinya dengan sengaja meraba-raba pangkal paha Milan yang masih tertutupi handuk, Pevita merasakan kerasnya kejantanan itu


Milan tersenyum akan keliaran itu, ia membungkuk dan meraup bibir mungil itu, memagutnya lembut." Sentuhlah, aku tahu kau menginginkannya." Bisik Milan membuat Pevita tersenyum


Dengan pelan, Pevita menarik handuk itu hingga melorot kebawah." Sayang, kau sudah tidak tahan?" Goda Pevita lalu memegang burung besar tersebut


" Hmm, karenamu sayang." Saut Milan. Pevita menengadah, menatapi wajah Milan yang sangat bergairah, bibir itu sedikit menganga karena tangan nakal Pevita pada adiknya


" Ooohhhhmmmhhh." Milan tanpa sadar bersuara ketika Pevita mulai memasukan sang adik kedalam mulut mungilnya

__ADS_1


" Terus Pev." Milan mencekal pelan rambut Pevita yang tergerai indah


" Aahh lebih cepat sayaaaaannghhhhhhh." Mendengar itu Pevita mulai lincah memaju mundurkan kepalanya


" Oooh Nikmatthhh." racau Milan, nafasnya begitu memburu. Cukup lama Pevita memanjakan adik Milan. Kini pria itu tampak sudah tak tahan pada Pevita. Menarik tubuh itu berdiri, sejenak Milan mencummbui bibir itu lagi sambil kedua jemarinya merremas bokong Pevita, selanjutnya Milan memangku tubuh itu ala bridal dan membawanya menuju ranjang


Milan membaringkan tubuh itu diatas kasur dengan pelan, sambil dirinya pun menaiki tubuh Pevita. Sejenak Milan memandang kecantikan wajah itu." Pevita, ayo kita terbang." bisik Milan ditelinga Pevita dengan senyum nakalnya


" Aaaahhhhhh Kak, ssshhhhhttttt sakit." Milan tersenyum mendengar ringisan sakit itu, ia tahu sesempit apa kewanitaan itu ketika menyatu dengannya. Milan bangkit, menyentuh daging kecil ditengah kewanitaan Pevita yang ditumbuhi bulu halus. Milan menekan lalu memainkan dengan ibu jarinya sambil pinggulnya mulai bergerak pelan. Mencoba memuaskan Pevita agar rasa sakitnya berkurang, Milan sudah tahu titik-titik sensitif pada tubuh wanita itu


Benar saja apa yang dipikirkannya. Suara dessahan Pevita kini mulai kembali mengencang memenuhi kamar yang tadinya sunyi senyap. Keduanya saling memuaskan tubuh masing-masing, berbaur keringat dan air liur menjadi satu. Bibir keduanya sesekali menyatu meredam suara-suara erotis keduanya. Telah banyak gaya yang dipakai Milan, keliaran pria itu memuncak malam ini. Sebelum menurunkan kedua kaki Pevita dari pundaknya, Milan mencium betis itu dengan lembut


Membuat Pevita tersenyum ditengah ketidaksadarannya akan kenikmatan duniawi." Hebat, kau hebat kak." Milan tersenyum lucu akan pujian itu


Lalu mendekati Pevita, menumpu kedua telapak tangannya pada kasur dimasing-masing sisi tubuh Pevita. Gerakan tubuhnya mulai tak terkendali, semakin liar dan cepat dalam mengguncang tubuh Pevita." Sayang aku akan keluar." Racau Milan


" Kak!" Pevita membuka lebar kedua matanya. Lalu menggelengkan kepala


" Dii-dilu-luar." Saut Pevita, suaranya terpotong-potong akibat guncangan Milan


Pria itu tak mendengarkan Pevita malah menyemburkan sper*anya kerahim Pevita. Gadis yang juga sedang menikmati pelepasan itu tampak terkejut hingga langsung bergerak bangkit, mencoba mendorong perut Milan


" Ssyyyyyyuuuuttt, bukan masalah besar." Bisik Milan mendorong tubuh Pevita lagi dan menghimpitnya. Wajah Pevita tampak ketakutan


" Kenapa, kau dalam masa subur?" Pevita menggelengkan kepalanya


" Lalu apa masalahnya?"


" Aku tidak mau hamil, kita belum nikah." Bisik Pevita


" Itu tidak akan terjadi." Saut Milan lalu bangkit melepaskan penyatuan mereka, sejenak ia menatap lelehan spermmanya di kewanitaan Pevita. Milan sedikit tertegun lalu menghempaskan tubuhnya disamping Pevita


" Bagaimana kalau aku hamil?" Tanya Pevita tapi Milan malah tertawa


Pevita tampak kesal dan bergerak membelakanginya. Milan tersenyum lucu, ia mendekat, mengecup lengan atas Pevita lalu memeluknya dari belakang." Aku akan bertanggung jawab karena itu darah dagingku!" bisik Milan. Kekesalan Pevita terobati, gadis itu bergerak menghadap Milan, Pevita punya kesempatan untuk memberitahu Milan bahwa ada Eleanor diantara mereka


" Itupun kalau Delan merestui kita." Tambah Milan membuat Pevita tiba-tiba membeku. Inilah yang paling ditakuti Pevita

__ADS_1


-


-


__ADS_2