Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Daddy, wake up!


__ADS_3

Pevita ...


Pevita ..


Ingin sekali aku memanggilnya, namun bibirku terasa kelu dan mataku berat untuk terbuka. Setiap hari aku mendengar suara tangis, suara keluhan manja Pevita. Juga suara tawa riang gadis kecil yang setiap hari menemani pagi, siang, sore dan malamku


Namanya Eleanor, cantik bukan? Aku bersyukur pada orang yang memberinya nama seindah itu. Lagi, suara tawa cekikikan itu mendengung ditelingaku, setiap hari, setiap detiknya aku berusaha bangun. Aku berharap Tuhan memberiku satu kesempatan untuk mengenalnya, aku ingin memberikan kasih sayangku, aku ingin berada ditengah tawa riang bayiku dan Pevita


Aku sangat menyesal Pevita, seandainya saja aku tak melakukannya malam itu. Jika saja aku tahu aku akan jatuh cinta padamu, mungkin aku tak akan menodaimu, aku akan memintamu secara baik-baik pada Delan. Seperti pasangan lainnya kita jalan bersama, berpegangan tangan, melakukan berbagai hal bersama. Jika saja aku bisa mengulang waktu, aku tak akan merebut semuanya, aku akan menikahimu sehingga Eleanor akan mengenalku sejak dalam kandunganmu


Sekarang tubuhku bahkan tak bisa bergerak. Hanya telinga yang jadi saksi betapa lucunya buah hatiku, celotehan manjanya, tawa riang dan tangisnya. Pevita, aku ingin bangun, aku ingin mendengar semua ceritamu tentang Eleanor, bagaimana kamu dulu melahirkannya, apa dia selalu menangis saat masih bayi, apa dia merepotkanmu. Aku berjanji Pevita, jika Tuhan memberi kesempatan untukku bisa membuka mata lagi, aku akan menebus segalanya, waktu yang terbuang sia-sia. Aku akan menjagamu dan Eleanor sepenuh hatiku


Tidak ada wanita sepertimu Pevita, bahkan ketika aku sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan kamu masih mau membuka hati untuk ayah dari anakmu


" Mau sampai kapan kamu menutup mata hmm? Ini sudah sebulan Kak." Demi Tuhan, setiap kali aku mendengar keluhan Pevita, aku ingin bangun, aku ingin memeluknya, menenangkannya agar berhenti menangis. Tapi seluruh tubuhku terasa kaku, aku tak bisa bergerak bahkan untuk membuka mata, hanya tetesan airmata yang menjawab setiap ucapan itu


Kurasakan belaian jemari lembut mengusap airmataku yang jatuh. Aku ingin melihat wajah cantik itu, meskipun untuk terakhir kalinya. Aku selalu berusaha sebisaku untuk bangun


" Elea sudah menunggumu untuk bangun sayang, jangan biarkan dia menunggu terlalu lama. Aku mohon, biarkan dia merasakan kasih sayangmu." Bisikan itu kembali membuat airmataku jatuh


" Kamu mendengarnya hmm? Kalau begitu bangun, ayo bangun."


" Buka matamu, lihat dia. Kamu akan menyesal bila melewatkannya begitu saja."


" Mommy, Justyn nakal." Teriakan lucu itu membuat airmataku terasa memaksa untuk selalu keluar


" Kamu selalu mendengarnya kan? Jadi kapan kamu akan melihatnya?" Aku tahu Pevita sudah mulai lelah, berulang kali ia terdengar menyerah


" Sayang, kemarilah." Suara lembut itu selalu mendebarkan hatiku


Kurasakan tangan hangat dan kecil membelai pipiku." He is your Daddy."


" Daddy?" Hatiku bergetar mendengar suara lucu nan manja itu, sekuat tenaga aku berusaha membuka mata

__ADS_1


" Ya, your Daddy."


" No!"


" He is your Daddy."


" Maukah kamu membantu Mommy membangunkan Daddy." Aku ingin sekali melihat ekspresi wajah kecil itu yang pastinya akan terlihat sangat lucu, aku berusaha menggerakan seluruh tubuhku agar kedua mataku ikut terbuka


" Ayo, katakan!"


" Daddy, wake up!" Airmataku kembali tak tertahan menyusup keluar dari sudut mata


" Daddy wake up, Elea disini."


" Ya, good girl. Ayo lakukan lagi!"


" Daddy wake up, please." Ucapnya terdengar memelas, tubuh kecil itu terasa memelukku dengan begitu erat, aku bisa mendengar isak tangis Pevita dan Mammi saat ini


Aku mendengar suara tangisan kencang lagi, aku sudah mulai tak bisa mengendalikan pikiranku lagi. Semuanya kembali teras gelap, tidak ada bayangan Pevita atau Eleanor, semuanya gelap, seluruh tubuhku terasa sakit


" Dokter." Teriakan histeris Pevita masih kudengar sebelum suara-suara itu hilang dipendengaranku. Meskipun tak pernah mengatakannya tapi percayalah Pevita, aku sangat mencintaimu ..


" Dokter, dia kejang-kejang." Ucap Mammi Diana dengan airmata berurai


" Kumohon selamatkan putraku!"


Sementara Pevita hanya bisa menangis bersama Eleanor, balita itu tampak ketakutan melihat sang ayah yang kejang-kejang


" Biarkan dokter menangani pasien dengan tenang, untuk sementara kalian semua keluar dari ruangan." Perintah seorang suster pada Pevita


" Tolong selamatkan Kak Milan. Aku mohon, putrinya masih membutuhkannya." Pevita memelaskan wajahnya yang dibanjiri airmata


" Kami akan berusaha."

__ADS_1


Pevita hanya bisa mengintip dari celah kaca dipintu, memperhatikan Milan yang sedang ditangani dokter. Seorang dokter tampak naik ketubuh Milan, menekan-nekan dadanya lalu memberinya alat kejut jantung. Pevita memejamkan mata, ia tak kuasa melihat Milan


" Ya Tuhan, beri kesempatan pada Kak Milan." Ucap Pevita memeluk erat Eleanor yang tak henti menangis. Pevita memperhatikan Eleanor, tubuh Milan bereaksi seperti itu ketika dipeluk putrinya


" Ya Tuhan, biarkan kami merasakan kebahagiaan, meski itu tak lama." Gumam Pevita dengan airmata membanjir, sejak Milan tak bangun, airmata tak pernah mengering dipipi Pevita


Pevita langsung dirangkul Bella yang juga ada ditempat." Dia pria yang baik, Tuhan akan memberinya kesempatan untuk bersamamu dan Elea." Pevita menoleh pada Bella dan mengangguk, sejujurnya Pevita merasa cemburu, dulu kakak iparnya dicintai Milan. Pevita sendiri merasa tak yakin apa cinta Milan sedalam dirinya, atau masih belum melupakan bayang-bayang Bella


Jantung Pevita berdebar kencang ketika salah satu dokter yang menangani Milan mendekat dan membuka pintu. Airmata Pevita kembali tak tertahan, ia takut mendengar hal buruk, bahkan ia tak berani membuka mulutnya untuk bertanya


" Saya tidak pernah menemukan hal seperti ini bu."


" Apa maksud dokter?" Tanya Mammi Diana, wanita itu tak henti mengeluarkan airmatanya sama seperti Pevita


" Pasien benar-benar berjuang keras untuk hidup, ini seperti sebuah keajaiban medis. Sejujurnya peluang hidup pasien sangat kecil, tapi demi Tuhan, pasien sudah melewati masa kritisnya." Pevita menangis kencang dan langsung di peluk Bella


" Tuan Milan akan segera sadar."


" Terima kasih." Ucap Mammi Diana memegang kuat kedua tangan dokter tersebut


Pevita mencium pipi Eleanor dengan begitu lembut." Terima kasih sayang, ini pasti karena kamu. Ayahmu pasti sangat ingin membagi kasih sayangnya padamu." gumam Pevita ditelinga Eleanor. Akhirnya ia bisa bernafas lega dan bisa tidur nyenyak. Selama sebulan ini Pevita tak bisa melakukan apapun, ia hanya pulang sebentar dan akan kembali menemani Mammi Diana menjaga Milan


Kegigihan itu membuat Mammi Diana merasa terharu, ternyata ada juga yang menyayangi putranya dengan begitu tulus. Bila melihat perawakan dan paras Pevita, tentu wanita itu bisa mendapatkan yang lebih baik dari putranya, tapi wanita itu begitu setia, menunggu Milan untuk bangun dari tidur panjangnya


-


-Mom Elea



-


-

__ADS_1


__ADS_2