
Cup
Milan mengecup pipi kanan Pevita, gadis itu kelelahan sehingga setelah mandi dan berpakaian ia langsung merebahkan dirinya diatas kasur dan tidur. Milan tersenyum menatapi wajah cantik itu, ia belai pipi Pevita dengan begitu lembut
" Aku sangat pengecut Pev, tidak seharusnya kamu mengharap pernikahan dariku." Gumam Milan
" Aku menyukaimu, ya aku sangat menyukaimu. Aku brengsek, aku selalu menidurimu. Padahal kita belum terikat." Gumam Milan lagi lalu merebahkan dirinya disamping Pevita, dengan sikut sebagai tumpuan kepalanya, tatapanya tak teralih dari Pevita
Tiba-tiba Pevita bergerak memeluk tubuh Milan, spontan Milan membalas pelukan itu, bibirnya berlabuh di pelipis Pevita menatap lurus kedepan." Aku belum bisa menikahimu, tapi aku juga tidak bisa melepaskanmu Pev." Batin Milan
Selama beberapa jam tidur, akhirnya Pevita bangun ketika mendengar suara teriakan-teriakan dari ruang tamu. Pevita tersenyum ketika melihat sang pembuat onar ternyata Milan dan David, keduanya sedang main game favorit mereka dalam ponsel
" Astaga!" Pekik Pevita ketika melihat jam didingding sudah menunjukan pukul 06.00 malam. Spontan Pevita bangkit turun dari kasur mendekati Milan dan David
" Kak, aku harus pulang." Mendengar rengekan manja itu Milan langsung menghentikan main game nya
" Pev, kamu tidak mau ikut makan malam bersama kami?" Tanya Lany yang asyik rebahan disofa panjang
" Tidak Lan, aku sudah seharian disini. Daddy pasti akan marah." Saut Pevita mendekati Milan
" Kak." Milan mengerti, ia segera meletakan ponselnya dan berdiri
" Aku akan mengantarmu!"
" Memangnya tidak apa-apa?" Tanya Pevita namun Milan tak menjawab, ia malah menggandeng Pevita
" Lan, aku pulang." Lany hanya bisa mengangguk, ia sangat tahu seberapa ketat orangtua Pevita pada putrinya
Diantar Milan menggunakan mobil hitamnya. Pevita duduk dikursi samping kemudi. Keduanya hanya diam dengan sesekali jemari Pevita dikecup bibir Milan, setiap hari Pevita merasa jatuh cinta pada kekasihnya itu, dimatanya Milan sangat romantis
Milan menghentikan mobilnya beberapa meter dari kediaman Pevita. Sejenak keduanya terdiam sampai Milan melepaskan sabuk pengaman dan mendekati Pevita, ia membuka juga sabuk pengaman yang dipakai gadis itu." Selamat malam cantik." Bisik Milan menangkup wajah Pevita dengan satu tangannya
" I love you." Balas Pevita. Milan tersenyum lalu mengecup singkat bibir itu. Milan tampak enggan melepaskan Pevita, ia memeluk tubuh itu
" Untuk saat ini aku belum bisa menikahimu!"
" Ada masalah?"
" Kamu tahu, aku punya sebuah rahasia?"
" Rahasia apa?" Milan tersenyum, mengurai pelukannya
__ADS_1
" Aku seorang pengangguran." Bisiknya. Pevita malah tertawa
" Memangnya kau masih mau? Aku tidak bisa memberimu banyak uang." Milan mencoba menguji Pevita
" Aku tidak terlalu membutuhkan uang, uang bisa dicari tapi kak Milan hanya ada satu didunia ini." Milan menyentil pelan jidat itu
" Bisa-bisanya kamu menggombal." Pevita tersenyum diikuti senyuman manis Milan
" Apa besok kita masih bisa bertemu?" Tanya Pevita
" Tentu, besok mau kemana?"
" Aku ingin kencan, malam minggu waktu yang tepat untuk pergi kencan."
" Baik Nona, besok aku akan menunggumu disini." Pevita mengangguk pelan. Milan mengusap bibi bawah Pevita lalu mencium bibir itu dengan mesra, memagutnya perlahan
Kedua tangan mereka saling memeluk seolah tak ingin lepas. Kepala Milan sampai berputar kekiri dan kanan menikmati setiap balasan dari bibir Pevita, sepertinya Milan mengajari gadis itu dengan baik
" Uhhhhhhmmmmmmm!" Pevita memekik ketika kemesraannya terhenti, karena sesorang menarik Milan keluar dari mobil. Kedua mata Pevita membulat penuh ketika Milan diseret oleh sang kakak
Braaaaaaakkkkkkk
Delan mendorong tubuh yang belum siap itu pada gerbang rumah Pevita membuat seisi rumah terkejut karena suaranya
" Beraninya kau menampakan wajahmu lagi, apa selama ini tak cukup hah?" bisik Delan dengan kedua mata menyala kemarahan. Milan hanya menunduk memegangi dadanya yang terasa sakit akibat dorongan kencang Delan
Bruggg
Delan meninju perut itu membuat Pevita menjerit
" Kumohon, jangan memukulnya!" Pevita menoleh pada sang Daddy yang hanya diam menatapi Milan yang tak melawan dengan tinjuan Delan
" Dad, lakukan sesuatu. Jangan memukuli kak Milan." Pinta Pevita
" Aku mohon!" Pinta Pevita
Gadis itu menjerit lagi ketika Milan kembali dihajar oleh sang kakak. Delan melampiaskan amarahnya, ia tak segan membuat wajah itu babak belur bersimbah darah
" Mana? Bukankah kau seorang jagoan." bentak Delan menendang perut Milan yang berlutut didepannya hingga tersungkur kebelakang. Milan tak membalas, rasa sukanya pada Pevita membuat pria itu lemah dan tak mungkin menyakiti Delan
" Dad, kumohon. Aku menyukai Kak Milan." Pinta Pevita sambil menangis kencang membuat seisi rumah keboh dan berhamburan keluar, semua orang tentu sangat terkejut
__ADS_1
" Brengsek, beraninya kau menyentuh adikku lagi, kali ini aku akan benar-benar membunuhmu!" Bentak Delan menarik tubuh Milan, meninju perutnya lagi lalu mendorong tubuh itu ketengah jalan
Tittttttt
Braaaakkkk
Milan tak bisa menyeimbangkan diri, ia oleng sehingga ditabrak mobil yang sedang lewat. Cukup membuat tubuh itu terpental jauh. Delan sedikit terkejut melihat itu hingga tubuhnya mematung. Pevita tentu semakin histeris, ia nekad mengigit lengan sang ayah hingga terlepas lalu berlari mendekati Milan, yang teelihat pria itu tak parah hanya sikut dan lututnya saja yang berdarah. Sambil menangis Pevita bergerak memeluk leher Milan yang tergeletak di aspal
" I am oke." Ucap Milan menghibur Pevita, airmata gadis itu mengucur deras. Milan hendak mengusap airmata itu namun Pevita segera ditarik Delan
" Lepaskan aku, aku benci kakak!"
" Apa kau bilang?" Bentak Delan mencengkram lengan Pevita begitu kuat hingga Pevita kesakitan
" Aku mencintai Kak Milan!" Balas Pevita berteriak
" Apa kau tidak sadar dengan ucapamu Pevita!!!!" Teriak Delan, kedua matanya seperti akan memakan Pevita bulat-bulat
" Kau mencintai bajinggan ini, Dimana otakmu!!!"" Teriak Delan lalu menggeret Pevita masuk kedalam gerbang rumaj
" Aku tidak mau, berhenti mengurusi kehidupanku!"
" Kalau bukan karena aku, Daddy dan Mammi, kau mau jadi apa? kau pikir pria itu serius denganmu hah!! Dia hanya main-main karena masih dendam padaku!!" Pevita hanya bisa menangis, ia tak bisa melawan kekuatan sang kakak yang dua kali lipat dengannya. Delan membawa Pevita masuk kedalam rumah dan menghempaskan tubuh itu kesofa diikuti sang ayah
" Seberapa jauh hubunganmu hah?" Tanya Delan, kedua mata itu masih menyalang tajam. Bayangkan saja, seorang pengawal melaporkan keberadaan Pevita yang sedang berada dikamar hotel bersama pria. Delan awalnya tidak tahu siapa pria itu, tepat ia menunggu didepan gerbang bersama Daddy Dean, ia melihat Pevita bersama Milan, seketika kemarahannya memuncak
" Aku menyukai kak Milan, aku sangat menyukainya kak, kumohon.!" Pevita memelaskan wajahnya membuat siapapun merasa iba, sang ibu tak bisa berbuat apapun ketika suami dan putranya sudah berkehendak
" Kau tidur dengannya?" Tanya Delan ketika tak sengaja melihat kissmark kecil di belahan dada Pevita. Pevita hanya bisa menangis
" Kau tidur dengannya?" bentak Delan menggelegar
" Iya karena aku menyukainya!"
Plakkk
" Anak tidak tahu diuntung!!" Bentak Daddy Dean tampak sangat kecewa, ini pertama kalinya ia memukul sang putri kesayangab
Sementara diluar, Milan masih terlentang diatas aspal. Pria itu terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar dari mulut dan hidungnya. Rasa sakit lukanya tak seberapa, tapi melihat Pevita menangisi dirinya, Milan merasa lebih sakit lagi, ia merasa sangat brengsek telah membawa gadis itu kedalam hidupnya. Tapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa, keluarga Pevita teramat membencinya terutama Delan. Pasti akan sangat sulit memenangkan hati yang sudah terlanjur membenci bukan?
-
__ADS_1
-