Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Pevita jadi korban


__ADS_3

Di paris ...


" Pevita, bukankah hari ini kita akan pergi ke Toko buku?"


" Maaf Lau, aku tidak bisa. Aku ingin cepat pulang, perutku sakit." Tolak Pevita sembari memegangi perutnya. Udara malam yang dingin disertai angin yang bertiup tanda hujan lebat akan dimulai membuat perut Pevita sedikit bergejolak


" Sial mana aku tidak membawa mobil lagi." Gerutu Pevita meringis kesakitan


" Kau mau menumpang?"


" Tidak Lau, kita beda arah. Aku akan naik taksi saja." Tolak Pevita, dahinya dipenuhi keringat dingin saat ini


" Sepertinya lambungku kambuh lagi."


" Kalau begitu, ayo akan mengantarmu!"


" Tidak, tidak perlu, kau akan kemalaman. Nanti kau dimarahi Tantemu yang cerewet itu." Laura tersenyum mendengar gerutuan Pevita


Ckiiiiiiiiiitttttt


Keduanya sedikit terkejut ketika ada mobil putih tiba-tiba berhenti didepan mereka


" Siapa?" Tanya Laura


" Mana aku tahu!" Saut Pevita, keduanya melihat pada kaca yang turun kebawah, memperlihatkan seorang pria yang tersenyum lebar


" Pevita!"


" Kak, Milan?" Tanya Pevita terkejut


" Kau sedang apa berdiri dijalanan begini?"


" Aku-" Pevita terbata, ia mengingat apa yang pria itu lakukan pada kakaknya, rasanya masih sakit bila ingat sang kakak yang koma karena Milan. Tiba-tiba Pevita memalingkan wajahnya dan mengabaikan Milan, rautnya berubah jutek


" Pev, pria tampan itu sedang bertanya padamu!"


" Kenapa kau tidak ikut ke Jakarta?" Mendengar itu Pevita mengalihkan lagi pandangannya pada Milan


" Kemarin aku menemui kakakmu. Kami sudah berbaikan." Pevita menyipitkan kedua matanya menatapi Milan, bukankah kesalahan pria itu terlalu besar untuk dimaafkan? memfitnah kakaknya dan Bella


" Kau pasti tidak mempercayainya." Ucap Milan lagi tapi Pevita malah terdiam, tampak tidak tahu apa yang harus ia lakukan


" Ayo aku akan mengantar kalian, hujan seperti ini taksi akan sangat sulit."


" Pev." Laura menyenggol lengan atas Pevita dengan bahunya membuat Pevita mendengus dan menoleh memberi delikan sebalnya pada Laura


" Ikut saja dengannya, lagipula dia tampan." Pevita geram pada temannya itu, ia mendelik sebal lagi


" Pevita, ayo naik. Kakak juga ingin mampir kerumahmu."


" Aku naik taksi saja." Saut Pevita tampak tak percaya ucapan Milan


" Kalau kau tidak percaya, temanmu boleh ikut. Aku akan mengantar kalian bergantian." Laura tampak senang menarik-narik Pevita mendekati mobil


" Laura."


" Pevita."

__ADS_1


" Lau, kita tidak boleh percaya begitu saja." Bisik Pevita ditelinga Laura


" Kenapa? bukankah dia teman kakakmu." Pevita terdiam lagi


" Iya tapi itu dulu."


" Mana ada bekas teman." Gerutu Laura


" Pevita, ayo naik. Hujan akan turun sebentar lagi." Ucap Milan dengan nada sedikit memaksa


" Iya Pevita, ada apa sih denganmu? bukankah kita juga sering menumpang dengan banyak pria."


" Syuuuutt, kenapa bicara sembarangan." Gerutu Pevita


" Kalau begitu ayo kita naik, aku ingin berkenalan dengannya." Bisik Laura, Pevita terperangah


" Kau gila, bagaimana dengan mobilmu!"


" Biarkan saja, besok aku akan mengambilnya." Ucap Laura dengan cengirannya


" Ayo!" Laura bersikukuh menarik Pevita masuk kedalam mobil Milan. Pria itu menoleh kebelakang memperhatikan Pevita dari ujung kaki sampai ujung rambut


Lalu kembali fokus kedepan dengan seringai dibibirnya. Setelah diberitahu alamat Laura akhirnya Milan mengantar teman Pevita itu lebih dulu ke rumahnya yang bersimpangan jauh dengan Pevita. Diperjalanan Laura terus saja bertanya pada Milan, apa yang pria itu kerjakan, Milan lulusan mana? satupun tak luput dari pertanyaan Laura. Termasuk nomer ponsel Milan dipinta oleh Laura


Membuat Pevita sedikit tenang, pria didepan mereka ini sejak dulu dalam bahasanya selalu sopan dan berwibawa. Tak lama mereka tiba dirumah Laura, gadis itu tersenyum manis pada Milan sebelum masuk kedalam rumah


" Kau tidak mau pindah kedepan?" Tanya Milan menoleh kebelakang


Pevita menggelengkan kepalanya yang menunduk. Milan tak bertanya lagi, pria itu melajukan mobilnya lagi, anehnya bukan menuju rumah Pevita melainkan sebuah gedung pencakar langit yang tinggi. Membuat Pevita sedikit bingung


" Aku melupakan sesuatu Pev untuk ibumu, aku membawa oleh-oleh dari Jakarta." Ucapnya seraya menoleh kebelakang, Pevita mengusap dadanya yang terasa lega, ia sudah berpikiran negatif pada Milan


" Menolong bagaimana?"


" Oleh-olehnya sangat banyak Pev, dua tanganku tidak akan cukup untuk membawanya." Pevita yang polos percaya begitu saja ucapan Milan, ia mengikuti Milan keluar dari mobil dan masuk kedalam gedung


Mereka naik kelantai 23 dan berhenti dipintu paling ujung. Milan membuka pintu kamar hotel itu dengan kunci cardnya dan mempersilahkan Pevita masuk lebih dulu


Ceklek


Pevita memutar tubuh ketika mendengar pintu terkunci." Kenapa pintunya dikunci?" Milan tersenyum manis


" Agar kau tidak kabur?" Pevita mundur selangkah, ia mulai ketakutan ketika Milan mendekat dengan langkah pelan dan wajah menakutkan


" Kau mau bersenang-senang denganku?" tanyanya dengan seringai licik, Pevita menggelengkan kepala, wajahnya dipenuhi rasa takut


" Ayolah, kau akan menikmatinya!"


" Jangan macam-macam." Bentak Pevita, dengan tangan gemetar ia mencoba mengambil ponselnya didalam tas kecil


Naasnya sebelum itu terjadi, ponsel itu dirampas Milan dan dilempar kelantai. Pevita mundur lagi hingga ia terbentur kaca jendela besar kamar hotel tersebut, kedua matanya mulai berkaca-kaca


" Aku tidak mau, jangan." Milan tersenyum sinis lalu dengan gerakan cepat ia membalik tubuh Pevita menempel pada kaca, pipi wanita itu juga menempel karena Milan menghimpitnya dengan kuat


" Kau tahu aku sangat membenci Delan, aku membenci Bella. Mereka harus merasakan rasa sakit seperti yang kurasakan." Ucapnya menjambak kasar rambut Pevita, gadis itu mulai menitikan airmatanya


" Kak Milan, lepaskan aku." Ucap Pevita dengan bibir bergetar

__ADS_1


Ketika Milan mulai memaksa menurunkan resleting dress yang dipakainya, Pevita menjerit histeris, ia menangis kencang. Sekuat tenaganya Pevita meronta namun tenaganya kalah kuat dengan Milan


" Tolong." Teriaknya membuat Milan tertawa kencang


Breekkkkk


Milan merobek resleting dress itu kebawah dan memaksa membuka dress itu hingga lengan atas Pevita terlihat. Pevita menjerit-jerit membuat Milan merasa puas, pria itu semakin menjambak rambut Pevita dengan kuat lalu mengambil ponselnya yang berada disaku celana


Ia merekam Pevita yang menangis sambil tertawa, lalu menciumi leher Pevita, menggigitnya, mencium telinga Pevita. Milan menunjukan tubuh lengan atas Pevita, bra yang tersisa ditubuh Pevita. Dengan bibir yang semakin rakus menciumi leher Pevita, merekam semuanya dalam ponselnya


Milan meletakan ponselnya kesaku celana lagi setelah menyimpan rekaman itu lalu menarik Pevita menghadap kearahnya. Milan menyusupkan lagi wajahnya keleher Pevita sembari merremas dua buah dada ranum yang masih tertutupi bra kuning


" Kumohon jangan." suara Pevita sudah serak karena terlalu banyak menangis dan menjerit


" Simpan suaramu untuk nanti, ini bahkan belum setengahnya." Bisik Milan lalu menarik Pevita, menghempaskan tubuh itu keatas ranjang


Milan mengambil sebutir obat dilaci meja nakas lalu mengejar Pevita yang berusaha melarikan diri. Ia menarik pinggang ramping itu, memangkunya kembali katas ranjang. Milan hempaskan lagi tubuh itu lalu memaksa memasukan sebutir obat itu kemulut Pevita, Milan membungkam dengan telapak tangan agar Pevita menelan obat yang diyakini adalah obat perangsang


Pevita hanya bisa menangis dan meronta. Lambat laun tangisan Pevita mereda, tubuh itu tampak melemas tak berontak lagi membuat Milan tersenyum puas. Ia menaiki tubuh itu sembari menarik celana pendek hitam Pevita


" Tubuhmu indah juga." Ucapnya. Seluruh tubuh Pevita terasa lemas tak bertulang bahkan terasa memanas namun airmata itu tak kunjung berhenti mengalir. Milan seolah buta tak melihat airmata Pevita yang terus meluncur deras


Pria itu malah mulai menciumi kedua paha Pevita bergantian membuat seluruh aliran darah Pevita mengalir deras. Apalagi ketika bibir itu mulai menyentuh pangkal pahanya yang masih tertutupi cd, rasanya tubuh Pevita seperti tersengat listrik


" Uhhhmmm." Milan tertawa bak iblis mendengar lenguhan itu, perlahan ia menurunkan cd kuning itu kebawah sampai terlepas. Kemudian membuka kedua paha Pevita, menyusupkan wajahnya disana


Kepala Pevita menengadak keatas, mulutnya menganga lebar, dessahan lolos begitu saja dari bibir Pevita membuat Milan kian bersemangat memainkan lidah dan bibirnya dibawah sana


" Aaahhh kakkk." Milan menyeringai lalu bangkit mensejajarkan wajahnya dengan Pevita, wajah itu memerah dipenuhi gairah tegangan tinggi, Pevita belum pernah merasakan yang seperti ini


Kemudian Milan mulai beralih pada buah dada, ia membuka pengait bra sehingga dada itu tumpah. Mata Milan menyala melihatnya, nafasnya memburu menguliti kulit dada Pevita


" Uhhhm Kakk." Dalam keadaan sadar Pevita mungkin akan menangis dan terus berontak, ketika Milan menjilati puncak buah dadanya. Tubuh Pevita meliuk-liuk tak karuan ditambah jemari Milan yang menari-nari dikewanitaannya


" Bagaimana reaksi Delan bila melihat adiknya seperti jalan* saat ini." Ucap Milan dibuah dada Pevita lalu menggigit puncak dada itu hingga Pevita tampak kesakitan namun tampak sangat menikmatinya, tubuh wanita itu tiba-tiba bergetar merasakan klimmaks untuk pertama kalinya


" Enak?" Ledek Milan dengan seringai liciknya


Milan bangkit duduk diperut Pevita membuka kaos hitamnya, lalu celana jeans dan menyisakan underwar hitam yang mengembung dibagian pangkal pahanya. Sembari menatapi Pevita yang tubuhnya meliuk-liuk, Milan membuka penutup terakhir bagian tubuhnya itu dan turun dari tubuh Pevita, ia memposisikan dirinya ditengah kedua paha Pevita


" Are you ready bitcch?" Hina Milan lalu mendekati Pevita, ia cengkram wajah itu dengan satu tangannya lalu memaksa mencium bibir Pevita dengan sangat kasar sambil berusaha mendorong sang adik memasuki kewanitaan Pevita


" Aaahhh sakitttttt." Kali ini Pevita menjerit kencang ketika selaput daranya rusak karena Milan. Pevita langsung tersadar, ia menangis lagi dan memukuli pundak Milan. Sementara Milan tertawa terbahak-bahak


" Kau masih perawan ternyata." Ucapnya disela tawa


" Aku benar-benar ingin tahu reaksi Delan." Tambahnya lagi, ia mencengkram lagi wajah itu hingga bibir Pevita mengerucut lalu mulai bergerak secara kasar dan liar, padahal ini pertama kalinya untuk Pevita, rasa sakit yang luar biasa Pevita dapatkan, milik Milan terasa sangat besar untuknya


" Aaahhh sempit Bittccchh." Dessahnya sembari mencengkram satu buah dada Pevita


Airmata Pevita terus mengalir deras merasakan sakit akan setiap hujaman dalam dan kasar itu. Tapi Pevita juga sudah tampak pasrah, tak berontak, sesuatu sudah hilang dirampas paksa karena dendam Milan terhadap kakaknya


-


Hai gays, bagaimana kabar kalian? semoga sehat selalu ya!! Oh iya author mau ngasih tau kalo dicerita ini ada tambahan cerita Pevita, author gabungin karena ceritanya memang masih nyambung ama si Delan. Author malas bikin judul baru, hehe


Semoga ya semoga kalian terus mengikuti cerita-ceritaku tanpa bosan ya 😘

__ADS_1


-


__ADS_2