Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Mimpi buruk


__ADS_3

Seperti hari biasanya Milan hendak berangkat menuju kantor. Seolah tanpa beban, pria itu terus bersiul sepanjang jalan menuruni tangga rumahnya. Milan tersenyum ketika melihat snag ibu sedang memasak didapur


" Pagi Mam."


" Morning baby." Milan tersenyum dengan wanita yang paling ia sayang itu


" Kamu tidak sarapan lagi?"


" Aku ada rapat penting Mam."


" Kamu selalu melewatkan sarapan, jaga kesehatan."


" Of course, aku tahu bagaimana menjaga tubuhku." Sang Ibu mendelik kesal membuat Milan mencium pipinya


" Aku pergi."


" Oke, be carefull."


Milan bersiul lagi menuju garasi mobil. Meskipun masuk dalam jajaran kelas menengah atas, namun Milan bukan tipe pria yang suka masuk kantor diantar supir, pria itu lebih suka mengemudikan mobil sportnya sendiri


Sejak dua tahun lalu ia tidak pernah takut lagi dengan yang namannya kematian. Penghianatan membuat Milan mati rasa, hidupnya tanpa arah dan tujuan. Karena seorang wanita yang ia puja, Milan jadi berubah 180 derajat. Ia yang tidak pernah mabuk itu kini hobi menjajakan tubuhnya di klub malam, melampiaskan hasratnya pada wanita-wanita yang suka ia bayar


Suara mobil Milan membuat para karyawan berlarian masuk kedalam kantor. Sebelum pria itu lebih dulu masuk dan memarahi mereka. Milan jadi pria super galak dan membuat heran semua bawahannya. Milan bahkan memecat Aulia, teman Bella. Baginya wanita itu sama saja seperti Bella, dulu Aulia hendak berhianat padanya jika saja Milan tak membungkam dengan mengancam akan mencelakai keluarganya


" Selamat pagi pak." Milan tak menjawab sapaan para bawahan cantiknya, Milan sudah tak percaya wanita, baginya semuanya sama saja. Murahan dan pasti mudah untuk ia perdayai


Milan melenggang masuk begitu saja menaiki lift dan menuju ruangannya yang berada dilantai paling atas. Pria itu disapa sekertaris yang dulu menggantikan Bella, wanita itu bernama Mona, meskipun pekerjaannya sangat bagus namun Milan tampak enggan mempercayai wanita itu, berbeda saat ia dulu sangat mempercayai Bella


Milan membuka pintu dan dikejutkan dengan adanya seorang gadis diruangannya. Gadis itu duduk diatas meja kerjanya, sedang menunggu Milan dengan kaki jenjang terlipat, tubuhnya dibalut baju merah ketat yang seksi yang menampilkan kedua pahanya. Milan menyeringai melihat gadis kecil yang ia perdayai sebulan kebelakanh itu


" Darimana kau tahu kantorku?" Tanya Milan mendekat seraya meletakan tas kerjanya disamping gadis tersebut. Gadis itu Pevita yang bibirnya merah diolesi lipstik tebal, membuatnya semakin terlihat seksi. Siapa yang tidak tergoda dengan tampilan Pevita saat ini, siapapun akan tergoda apalagi Milan pernah mencicipi tubuh gitar spanyol itu, sejujurnya sesekali Milan mengingat malam panasnya bersama Pevita


Dengan berani Pevita menarik dasi Milan hingga wajah mereka berdekatan." Wow, apa kau ketagihan dengan permainanku?" Tanya Milan dengan seringai nakal dibibirnya


" Menurutmu?" Pevita meniup wajah itu, nafas mintnya sangat terasa mencuat kehidung Milan. Milan meneguk ludahnya kasar, dalam sekali tarikan ia menurunkan Pevita dari atas meja kerjanya, melingkarkan satu tangannya dipinggang ramping Pevita lalu meraup bibir merah yang seksi itu

__ADS_1


Milan seperti kehausan, kelelakiannya bangkit digoda Pevita. Ia mendorong tubuh itu menuju sofa sembari menggulung dress ketat itu keatas sampai perut. Milan memangku tubuh itu, merebahkan disofa sambil menindihnya, sasarannya adalah leher Pevita dan buah dada yang masih tertutupi baju ia remmas dengan kedua jemarinya


" Aaahh." Pevita mulai mengeluarkan suaranya


" Ohh damn, aku tidak tahan." Bisik Milan bangkit berlutut, ia menurunkan resleting celananya, mengeluarkan adiknya yang sudah tegak perkasa


" Euuummh besar sekali." Puji Pevita


" Tentu saja sayang, aku akan memuaskanmu!" Jawab Milan dengan suara parau


Dengan seringai nakal dibibirnya ia menarik cd pink Pevita, menurunkannya sampai lutut dan membuka kedua paha memposisikan dirinya ditengah. Milan membasahi kewwanitaann itu dengan saliva dari mulutnya


Dalam sekali dorongan, Milan merasakan lagi kehangatan kewanitaan itu. Bibirnya menganga lebar beberapa saat dengan mata terpejam


" Ssssshhhhhh aaahh." Suara ringisan disertai suara menikmati itu keluar dari bibir Pevita, kian membuat Milan bersemangat, ia mulai bergerak dan memacu hujamannya dengan kasar


Jeritan Pevita seakan pancingan untuk Milan, ia mendekati Pevita dan mencium bibirnya


" Aaaahhhhh." Milan berteriak histeris dan memaksa bibirnya terlepas dari bibir Pevita


" Sakit?" tanya Pevita menaikan sebelah alisnya. Milan emosi, ia akan menampar wajah cantik itu namun sebuah tangan menahan Milan. Tubuhnya ditarik kebelakang hingga penyatuan tubuhnya dan Pevita terlepas


Milan sedikit terkejut karena yang menariknya adalah Milan. Pria itu mendorong tubuhnya dengan kuat hingga kepala Milan terpentuk meja, darah segar kembali mengalir didahinya


" Pev, kita harus bergerak cepat." Ujar Delan dengan tatapan iblisnya pada Milan, pria itu beranjak bangun dan berlari menuju pintu, sayangnya pintu itu terkunci dan kuncinya ditangan Delan


Delan kembali mendekat menarik Milan, menendang perutnya sekuat tenaga. Milan tak berkutik, tubuhnya melemah. Delan menarik tubuh itu berdiri, memegang dengan cara mencekiknya dari belakang dengan kedua lengannya


Pevita yang sudah merapihkan tampilannya, kini mendekat pada keduanya. Gadis itu tersenyum manis pada Milan lalu mengambil tas kecilnya yang berada diatas meja kerja Milan. Sambil melangkah mendekat, Pevita mengambil pisau kecil didalam tasnya membuat Milan sedikit menciut


" Kalian mau apa?" Tanyanya. Delan dan Pevita tertawa kencang, terbahak-bahak. Milan mencoba meronta dengan sekuat tenaganya namun tenaga Delan jauh lebih kuat


" Aku akan membuatmu menderita, sangat menderita sampai kau tak mau menjalani hidup lagi." Ujar Pevita dengan seringai iblis diwajahnya, Milan ketakutan melihat itu


" Tidak." Teriaknya ketika Pevita memegang burungnya yang masih tegak berdiri, Pevita mengelusnya pelan

__ADS_1


" Pevita, Jangan." Wajah Milan memohon


Delan dan Pevita tertawa terbahak-bahak


" Kau tidak akan bisa merasakan indahnya dunia lagi. Hahahaha." Ujar Pevita


Sretttttttttt


Pevita memotong batang itu dengan sekuat tenaganya sampai terputus


" Aaaahhhh tidak." Teriak Milan dengan kedua mata Milan melotot melihat batang panjang dan besarnya ditangan Pevita dan bercucuran darah


Pevita dan Delan tertawa terbahak-bahak menakutkan untuk Milan, kepala Milan terasa pusing melihat darah mengucur ditangan Pevita


" Tidak, adikkuuuuuuuuuu." Teriak Milan menangis histeris, meratapi pangkal pahanya yang kini rata


****


" Tidak, tidak." Milan membuka kedua matanya dengan nafas memburu seperti habis lari jauh. Spontan Milan menyingkap selimut melihat sang adik yang ternyata masih utuh


" Gadis sialan." Gerutu Milan mengusap dadanya yang berkeringat. Mimpi buruk yang sama itu datang lagi ditidur Milan. Pria itu mengacak-acak rambutnya dengan kasar lalu bangkit duduk


" Baby, kamu kenapa?" Tanya suara wanita, Milan menoleh pada wanita cantik yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan bathrod putih ditubuhnya. Wanita itu tersenyum menatapi Milan dan berjalan mendekati Milan, memeluk tubuh yang tanpa sehelai benangpun itu dengan erat


" Terima kasih untuk semalam." Bisiknya mencium pipi Milan


" Ayo kita putus, aku akan kembali ke Jakarta."


" No, aku benar-benar menyukaimu." Sautnya menggelengkan kepala


" Kau hanya seorang gadis kecil, kau pikir aku akan menikahimu!"


" Siapa yang ingin dinikahi, aku hanya ingin bersenang-senang." Milan mengabaikan ucapan itu, ia mendorong wanita itu dan turun dari kasur untuk memakai pakaiannya lagi. Semalam Milan mabuk dan tanpa sengaja menghubungi Laura, wanita itu benar-benar terpikat ketampanan Milan hingga memaksa Milan menjadi pacarnya. Keduanya sudah dua kali berhubungan tanpa diketahui siapapun. Milan tidak merasa dirinya brengsek, ia pria normal dan hanya memanfaatkan keadaan ketika wanita datang dan mengasongkan sendiri tubuhnya pada Milan


-

__ADS_1


-


__ADS_2