Hanya Untuk Bella

Hanya Untuk Bella
Aku tidak menyukaimu?


__ADS_3

Selama dua hari ini Milan tak melihat Pevita dimanapun. Gadis itu tak terlihat batang hidungnya. Membuat ketiga pria tampak uring-uringan termasuk Milan. Waktu mereka sebentar lagi dan mereka tak mungkin gagal dalam permainan. Ketiganya berlomba untuk mendapatkan hati Pevita namun sialnya gadis itu tak kunjung ditemukan


" Ya sudah, itu artinya permainan ini berakhir. Target tak ada yang mendapatkan!" Ucap Milan santai duduk disofa


" Tunggu brother, kita masih punya tiga hari lagi. Calm down!" Milan mendengus kecil, sejujurnya bila permainan mereka berakhir Milan tak perlu repot-repot mengejar Pevita, tapi tak melihat gadis itu selama dua hari membuat Milan merasa sedikit kehilangan


Milan tampak memikirkan sesuatu. Lalu tatapannya tak sengaja tertuju pada Papperbag coklat diatas meja rias. Milan segera bangkit meraih papperbag itu." Mau kemana?" tanya Axel. Milan tak menjawab, pria itu melengos begitu saja meninggalkan kedua sepupunya


Milan menuju kamar Pevita yang tak jauh dari kamarnya. Ia menekan-nekan Bell pintu kamar Pevita


Ceklek


Pintu terbuka dan Laura yang membuka pintu itu


" Laura." Panggil Milan tapi kedua mata itu tertuju kedalam mencari Pevita


" Bisakah panggilkan Pevita untukku?" Tanyanya


" Dia tidak ada disini." Milan mengerutkan dahi


" Kemana dia?"


" Aku tidak tahu, aku bukan ibunya." Jawab Laura ketus, Milan mengerti, ia berpikir beberapa saat


" Kalau begitu, berikan ini pada Pevita. Bilang aku menunggunya ditempat kemarin." Perintah Milan sambil memberikan Papperbag itu ketangan Laura


" Kau benar-benar tak punya hati." Bentak Laura membuat Milan menghela nafas


" Laura, bisakah kau berpikir lebih dewasa."


" Tidak, aku tidak bisa melupakanmu!"


" Sejak dulu hubungan kita-"


Plakk


Laura menampar pipi Milan, dan itu cukup membuat Milan marah. Ia cekal kuat tangan itu dan mendorong Laura kedingding hingga tubuhnya terbentur keras


" Dengar, aku tidak pernah meminta apapun darimu, kau yang datang dan menggodaku, kau ingat itu." Kedua mata Laura berkaca-kaca

__ADS_1


" Kau sangat brengsek!"


" Ya, jadi lupakan aku!" saut Milan lalu pergi meninggalkan Laura


" Setidaknya kau jangan menyukai Pevita, dia temanku!" Teriak Laura. Milan mengabaikan teriakan itu, ia melengos pergi menuju keluar kapal


Milan menghirup udara pagi ini, angin berhembus menerbangkan kemejanya yang longgar. Milan baru sadar kapal yang ia tumpangi tengan berlabuh disebuah pulau kecil. Beberapa tamu tampak sedang melakukan snorkling dilaut yang tenang tanpa ombak dan tak terlalu dalam


" Kemana dia." Gumam Milan lalu mendekati sisi pagar. Ia mengambil rokok elektrik disaku celanaya lalu menyalakan rokok tersebut. Bibir Milan tiba-tiba tersenyum ketika melihat tubuh sempurna yang tak asing untuknya


Dibawah sana dalam air, Milan melihat Pevita sedang berenang dengan hanya memakai bikini hitam ditubuhnya. Milan hanya memperhatikan dari atas untuk waktu yang lama, dengan pandangan kagum pada keahlian berenang Pevita


Lama-lama, Milan tergoda. Ia mendekati tepi kapal, membuka kemejanya dan hanya menyisakan boxer hitamnya. Milan turun ke dalam air melalui tangga kecil dan mendekati Pevita diam-diam


Ketika itu Pevita sedang berdiri ditengah air yang tingginya sedada Pevita. Gadis itu tampak melamun bahkan tak menyadari ketika Milan semakin mendekatinya


Ehemmm


Pevita terkejut mendengar suara yang ia kenali. Seketika ia berbalik, dua hari tak bertemu rasanya Pevita merindu. Tapi rasa rindunya terhalangi oleh Laura, gadis itu sampai detik ini marah pada Pevita


Pevita tak banyak bicara, ia berjalan melewati Milan begitu saja. Mengabaikan Milan membuat pria itu heran, Milan mengejar Pevita menarik satu tangannya." Apa aku punya salah?" tanya Milan bergerak mendekat, berdiri dibelakang tubuh Pevita


" Aku tidak mau bertemu denganmu lagi." Saut Pevita, Milan menghela nafasnya


" Aku tak punya hubungan apapun dengannya."


" Tapi Laura menyukaimu!"


" Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Milan


" Jangan percaya diri, aku tak menyukaimu!"


" Meski sedikit!" Pevita menggelengkan kepalanya


" Pevita, tatap aku." Milan mencoba membalikan badan itu namun Pevita malah meronta dengan berjalan menjauh. Milan mengejarnya lagi, kali ini ia meraih pinggang Pevita, menariknya dan mendorong tubuh itu ke badan kapal. Milan memegang kedua bahu Pevita


" Katakan, kau tidak menyukaiku!" Ucap Milan, Pevita memberanikan diri mengangkat wajahnya


" Aku tidak menyukaimu, jangan memaksaku!"

__ADS_1


" Tidak, kau bohong." Pevita memalingkan wajahnya, ia tak kuat berlama-lama menatap kedua mata Milan


" Lepaskan aku!" Pevita mencoba menepis kedua tangan Milan dibahunya. Dengan sigap, Milan menarik dagu runcing itu agar menengadah dan menatapnya


" Kau tidak pernah menolak sentuhanku." Bisik Milan


" Aku tidak menyukaimu." Milan terdiam membuat Pevita memiliki celah untuk kabur, dua hari Pevita mencoba menghindari Milan dan rasanya menyiksa. Pevita berhasil melepaskan dirinya, ia hendak melangkah namun Milan kembali menarik tubuhnya. Dalam sekali tarikan itu Milan memaksa meraup bibir Pevita, menekan tubuh itu lagi pada badan kapal


Pevita mencoba meronta dengan mendorong dada Milan, tapi Milan malah semakin menghimpit tubuh itu, menekan tengkuk Pevita sehingga ciumannya semakin dalam, tak perduli Pevita tak membalas ciuman itu. Sebenarnya Pevita sangat tergoda namun dia menahan diri


Ketika itu Milan melepaskan bibirnya, lalu pindah ke pipi Pevita, ia kecup lalu turun rahang dan leher tak luput dari kecupannya. Terakhir bibirnya mendekati telinga Pevita." I love you." bisik Milan. Pevita memejamkan mata, hatinya terasa sakit mendengar ucapan manis itu. Karena Laura, Pevita menahan perasaannya


Milan menjauhkan wajahnya, ia mengelus pipi Pevita dengan ibu jarinya." Kau tidak mampu menolakku Pevita." Bisik Milan


" Aku akan menunggu jawabanmu, menunggu sampai kau datang padaku." Bisik Milan. Pevita memberanikan diri membuka kedua matanya, kedua mata itu berkaca-kaca, Pevita sepertinya sudah jatuh terlalu dalam. Membuat Milan tertegun beberapa saat


Milan hendak mencium lagi bibir itu


" Pevita, Pevita." Suara Lany membuat Pevita terkejut, gadis itu mendorong Milan sekuat tenaganya lalu kabur. Milan semakin bingung, bagaimana cara mendapatkan gadis itu, ia takut permainan ini dimenangkan salah satu sepupunya. Bukan takut kehilangan 50 juta dolar tapi Milan takut sepupunya hanya mempermainkan Pevita


Pevita dan Lany kembali kekamar mereka. Lany merasa kasihan melihat Pevita yang selalu murung dua hari ini. Liburan bukan membuat gadis itu bersenang-senang malah menbuatnya menjadi gundah gulana. Lany menggandeng bahu Pevita


" Pev." Pevita menoleh


" Lany, aku harus bagaimana?" Tanya Pevita


" Aku tidak tahu Pev, lagipula kenapa bukan Axel saja kenapa harus Milan." Pevita membungkam, ia sendiri tidak tahu kenapa hatinya bisa berubah haluan secepat ini


Mereka tiba dikamar dan disambut lemparan Papperbag oleh Laura. Lany tampak sudah tak bisa menahan dirinya karena Laura." Apa kau sudah gila, pendidikan tinggi apa tak membuatmu punya sopan santun." Cehcar Lany


" Berhenti membela Pevita Lany, aku juga sama sahabatmu."


" Tapi kau benar-benar tak berperasaan." Laura tak menjawab, tatapannya menyalang tajam pada Pevita


" Kau bahkan tidur dengannya." Ucap Laura. Pevita tak menjawab, ia mengambil Papperbag dilantai dan membukanya, itu pakaian Pevita ketika bermala bersama Milan, lengkap dengan dalaman dan sudah bersih


" Sebenarnya apa yang menjadi masalanya Laura? Bukankah hubungan kalian sudah berakhir? Lalu apa salahnya bila Milan menyukai Pevita."


" Berhenti membelanya!" Bentak Laura lalu berjingkat meninggalkan kamar

__ADS_1


-


-


__ADS_2