
Pevita menghirup aroma tubuh Milan yang masih menempel pada kemeja putih yang dipakainya ketika terakhir kali mereka bertemu. Sudah seminggu Pevita tak melihat wajah Milan, baru kemarin malam pria itu menghubungi Pevita, itupun hanya dalam chat yang sangat singkat dan jelas. Pevita tak tahu apa yang dilakukan Milan, pria itu apa sampai sesibuk itu. Gerutunya dalam hati lalu meletakan kemeja putih itu kembali dilemarinya, belum ia cuci sampai sekarang
Lalu Pevita mendekat ke arah meja rias, ia disuruh sang ibu untuk merias diri karena akan ada makan malam penting malam ini. Pevita merias dirinya secara natural dengan longdress panjang yang sangat sopan. Lalu ia melihat pada sang putri yang asyik main dengan begitu banyak mainan dalam box bayinya. Pevita mendekat dan langsung memangku Eleanor
" Mommy." Eleanor tampak protes pada sang ibu membuat Pevita tertawa, jika saja Milan mengajaknya menikah mungkin keluarga mereka akan sangat bahagian, pikir Pevita sambil melangkah keluar dari kamar
" Anak siapa ini berat sekali."
" Daddy Delan." Sautnya lucu, Pevita hanya tertawa membawa Eleanor menuruni lantai dua
Dibawah ada beberapa orang yang tak Pevita kenali. Tapi Pevita mengabaikan itu, ia sudah sering makan malam dengan rekan bisnis sang ayah dan sang kakak
" Nah, yang ditunggu-tunggu datang juga." Ucap Pria yang sering disapa Tuan Malik oleh ayahnya
" Sayang kemarilah." Pinta Daddy Dean menepuk tempat duduk disamping dirinya bersebelahan dengan seorang pria dengan tampilan rapi dan wajah cukup rupawan, pria itu tak henti menatapi wajah cantik Pevita
Pevita hanya menurut, sambil memangku Eleanor, ia duduk disamping sang ayah. Seketika ketika melihat Delan, Eleanor mengacungkan kedua tangannya. Pria itu ikut makan malam karena ingin juga mengenal pria yang akan dijodohkan sang ayah dengan adiknya. Delan segera bangkit dan membawa Eleanor dalam pelukannya. Semua orang tertawa ketika Eleanor memanggil Delan dengan sebutan Daddy
" Itukan Daddy Justin." Timpal Jeslyn, sudah sering gadis kecil itu meledek Eleanor yang berakibat balita itu merengek dan menangis. Jelsyn tertawa pelan ketika pinggangnya dicubit sang Mammi
Pevita hanya tersenyum melihat Eleanor yang sangat dekat dengan Delan
" Sayang, kenalkan dia Kenzi." Pevita sedikit terkejut, ia baru sadar sebelum pergi sang ayah akan mengenalkannya pada seorang pria. Peviya menoleh pada Kenzi dan memaksakan senyumnya
" Aku Pevita." Sautnya. Daddy Dean tersenyum melihat keduanya yang tampak sangat cocok
" Sudahlah Kenzi, ayo tancap gas." Ucap sang ayah membuat Daddy Dean tertawa, pria itu memang sangat mengagumi kecantikan yang dimiliki Pevita
" Jadi kapan Tuan Dean?"
" Daddy." Tegur Kenzi membuat pria itu tertawa
__ADS_1
" Sudahlah Daddy sangat mengenalmu, tanpa kamu bilang Daddy tahu kamu tertarik pada Pevita." Ledek Tuan Malik pada anaknya
" Kita biarkan mereka saling mengenal dulu."
Sementara Pevita hanya diam dan melamun, ia memikirkan Milan. Bagaimana bisa ia bersama pria lain sedangkan kini hatinya sudah terpaut pada Milan, ayah sang putri
" Pevita, bagaimana dengan Kenzi?" Pevita terdiam, ia menatap sang ayah. Daddy Dean hanya mengangguk dan tersenyum
" Aku-" Pevita tampak kebingungan membuat Kenzi tersenyum
" Kamu tertarik pada Kenzi?" tanya Tuan Malik, Pevita hanya menunduk, tak semestinya bukan ia menjawab, ia sama sekali tak tertarik pada Kenzi
" Pevita pasti malu, biarkan mereka saling mengenal dulu." Saut Delan tak henti menatapi wajah adiknya sambil berdiri menimang Eleanor yang manja dipangkuannya
Semua orang kini fokus makan malam dimeja besar itu. Sambil sesekali berbincang mengenai pekerjaan Kenzi, Pevita hanya menyimak dan sama sekali tak tertarik, gadis itu hanya menatapi Eleanor yang tampak mengantuk dipangkuan sang kakak, yang sedang makan disuapi Bella. Terkadang Pevita merasa iri melihat keharmonisan rumah tangga kakaknya sendiri, saking bahagianya tubuh Delan kini lebih berisi dibanding dulu. Mungkin karena Bella selalu memperhatikan asupan gizinya
" Dad, aku akan menidurkan Elea." Pamit Pevita, Daddy Dean hanya mengangguk membiarkan Pevita memangku Eleanor dari tangan Delan dan berjalan menuju kamarnya diikuti pandangan semua orang
" Putrimu gadis yang sangat kuat." puji Tuan Malik
" Lalu bagaimana dengan pria itu?"
" Kami tidak tahu, semenjak keluar dari penjara dia diluar jangkauan kami." Saut Daddy Dean
" Dia tidak tahu mengenai Eleanor?"
" Kami tidak memberitahu siapapun mengenai Eleanor, tentu kami tidak mau ayahnya datang dan melihatnya." Saut Daddy Dean, terlihat egosi dimata Bella, meskipun begitu Bella tak bisa berbuat banyak, bagi Bella, Milan tetap ayah Eleanor, tak ada yang memihak Bella dan Paman Bryan saat itu, semua menyembunyikan Eleanor dari Milan. Mungkin saja Milan akan berubah bila tahu dia punya seorang putri, Bella tahu Milan sebenarnya adalah pria baik
Dikamar Pevita yang sedang menidutkan Eleanor tampak merenung sambil menatapi wajah putrinya. Pevita mengusap dahi Eleanor." Sayang, apa yang harus Momy lakukan?" Gumam Pevita
" Kamu harusnya bertemu Daddymu!"
__ADS_1
Setelah Eleanor tidur, Pevita mengambil ponselnya yang berada diatas meja nakas
🖤 Milan, Daddy menjodohkanku dengan pria lain➡️
Pevita mengirim pesan teks itu pada Milan berharap pria itu mau mempertahankan dirinya. Selain hatinya, ada Eleanor juga diantara mereka
Ditempat lain Milan sedang bertanding tinju dengan salah satu temannya. Selama seminggu ini Milan mencoba melupakan Pevita, bagi Milan tak ada harapan untuk hubungan mereka, Delan sangat menbencinya dan tentu pria itu akan menghalangi hubungannya dan Pevita. Milan tak mau waktunya terbuang sia-sia, ia tak mau merasakan sakit hati lagi untuk yang kedua kalinya, hidupnya sudah hancur dan tak mau semakin tak punya arah tujuan
Wajah Milan sudah babak belur, begitupu dengan lawannya. Tak lama permainan berakhir dengan Milan yang terkapar bersimbah darah diatas ring. Nafas pria itu naik turun, darah keluar dari hidung dan mulutnya
" Sigila itu!" Gerutu David lalu naik keatas ring tinju. Ia menunjukan ponselnya pada Milan, Milan hanya melirik sebentar
" Balaslah, kau tidak kasihan pada Pevita, dia terus menggangguku. Punya ponsel gunanya untuk apa!" Gerutu David duduk disamping Milan. Pria itu hanya diam memejamkan mata, dadanya terasa sakit, bukan karena tinjuan temannya tapi karena pesan dari Pevita
" Apa yang harus kulakukan?" tanya Milan tanpa membuka kedua matanya
" Tanyakan pada dirimu sendiri, apa Pevita penting untukmu atau tidak?" Gerutu David
" Dia sangat berharga, tapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."
" Jangan jadi pecundang, atau kau akan kehilangan Pevita."
" Tidak ada celah untukku bersama Pevita."
" Belum mencoba kau sudah patah semangat duluan. Memangnya apa kesalahnmu pada keluarga Pevita." Milan membuka kedua matanya
" Dulu, aku memperkosa Pevita."
"Apa?" Teriak David membuat semua orang terkejut
" Kau gila!" Milan membungkam, saat itu ia memang gila dibutakan oleh dendam, dan sekarang ia sangat menyesal
__ADS_1
-
-