
Pevita terkejut dalam ciuman memabukan itu ketika mendengar suara tangisan kencang putri kecilnya. Pevita mendorong dada itu menbuat Milan yang sedang nikmat-nikmat mencummbui bibir itu merasa heran, mengernyitkan dahinya
" Aku harus kembali." Bisik Pevita
" Sebentar lagi, aku masih merindukanmu." Milan mencoba mencium bibir itu lagi
" Besok aku akan menemuimu!" Milan menghela nafas lalu melepaskan pelukannya pada Pevita. Pria itu menunjuk pangkal pahanya yang mengembung dengan dagu membuat Pevita tertawa. Pevita menangkup wajah itu dan mengecup bibir Milan dengan mesra
" Selamat malam." Bisik Pevita lalu meninggalkan mobil Milan. Milan masih disana, diam-diam mendengarkan suara tangisan anak kecil yang begitu nyaring dimalam dingin ini. Entah kenapa hati Milan bergetar mendengar tangisan itu, perasaan aneh menjalar dihatinya
Pevita berlari memasuki rumahnya. Menaiki tangga menuju kamarnya. Didalam kamar Eleanor benar-benar mengamuk, bantal guling dilempar berantakan. Balita itu juga tak mau ditenangkan siapapun termasuk Delan yang sangat dekat dengannya. Pevita segera meraih tubuh yang sedang berdiri dikasur itu memangku dan mengamingnya pelan
" Sebenarnya kamu darimana sih Pev." Gerutu Delan yang saat itu menginap disana bersama Bella dan tentu anak-anak mereka
" Aku dari dapur, aku haus." Delan menatap penuh curiga
" Apa kamu mengigau, itu diatas meja ada air." Wajah Pevita mendadak pucat
" Maksudku susu. Tiba-tiba perutku sangat lapar." Saut Pevita, malam ini Eleanor tak mau ditenangkan, ia terus menangis kencang membuat para penghuni rumah terbangun
" Apa dia demam?" tanya Mammi Bulan namun Pevita menggelengkan kepala, ia menatapi putrinya yang tak henti menangis. Sepertinya Eleanor punya firasat akan kedatangan sang ayah
Pevita tak tahu, tangisan Eleanor yang begitu kencang membuat perasaan Milan tak karuan. Sudah satu jam ia masih ditempat yang sama mendengarkan suara tangisan bayi dalam rumah besar tiga lantai tersebut. Sambil memegangi dadanya yang terus berdebar-debar tak karuan
" Apa Delan masih tinggal dirumah itu?" Gumam Milan sebelum pergi meninggalkan kediaman Pevita
Paginya Pevita telah siap dengan pakaian santainya yaitu sebuah dress warna kuning dengan corak bunga merah. Tampilan Pevita sedikit berbeda dari biasanya, gadis itu memoles bibirnya dengan lipstik merah cerah
Pevita menuruni tangga dimana semua orang sedang sarapan termasuk sang ibu yang sedang menyuapi Eleanor. Pevita langsung mendekati balita itu, berjongkok disampingnya." Tunggu bersama Grandma sebentar oke?" Lucunya Eleanor tampak tak mau kali ini
" No, no, no."
" Sayang, Momy ada urusan sebentar."
" Memangnya kamu mau kemana? Pergi bersama Kenzi?"
__ADS_1
" Tidak Mam, aku akan menemui Lany."
" Mam kira kamu bersama Kenzi, pagi-pagi dia sudah datang." Goda sang ibu dengan senyuman hangatnya, ia sangat menginginkan kebahagiaan putri semata wayangnya itu
Pevita terkejut." Dimana dia?"
" Sedang main catur bersama Daddy." Pevita membungkam, ia jadi bingung sendiri
Dan kebingungan itu semakin menjadi ketika Kenzi datang bersama ayahnya. Sang ayah tampak sumringah dan menyukai Kenzi. Pevita hanya diam menatapi keduanya. Melihat Pevita, Kenzi tersenyum manis apalagi tampilan Pevita kini sangat berbeda dari biasanya
" Cantik." Pujinya dalam hati, meskipun sudah berbuntut dan bukan seorang gadis lagi, ia tidak merasa rugi akan menikahi wanita secantik Pevita, selain wajah, tubuh yang menarik, kedudukan Pevita pun punya status yang tinggi. Itulah yang membuat Kenzi memikirkan ucapan ayahnya mengenai Pevita
" Kencan sepagi ini?" ledek sang ayah
" Tidak Dad, aku akan menemui Lany." Daddy Dean melirik Kenzi yang tampak kecewa, ia pikir gadis itu berdandan untuk dirinya
" Lalu, kamu mau meninggalkan Kenzi begitu saja?" Pevita menggigit bibir bawahnya
" Aku ada urusan penting bersama Lany."
" Kalau begitu biarkan aku mengantarmu." Tawar Kenzi membuat kedua mata Pevita membulat, Milan sudah menunggu dirinya diujung gang
" Aku tidak apa-apa, lagipula kami sudah selesai. Tadinya aku mau mengajakmu dan Elea pergi lagi tapi."
" Sudahlah sayang, biarkan Kenzi mengantarmu!" Potong Daddy Dean membuat Pevita kalah telak. Gadis itu melihat Eleanor yang sedang mengemuti paha ayam goreng
" Mam, badan Elea sedikit demam, jangan dimandikan air dingin." Ucap Pevita lalu bangkit berdiri
" Momy."
" Nanti Mom beli coklat hmm?" Sudah biasa balita itu ditinggalkan Pevita hingga tak terlalu menempel pada ibunya, cukup diimingi coklat, Elanor akan menurut padanya. Pevita membungkukan badan mengecup kening sang putri sebelum pergi diikuti Kenzi, pria itu tampak senang dipercayai Daddy Dean dan istrinya
🖤 Kita bertemu di hotel saja➡️
Pevita mengirimkan pesan teks itu pada Milan. Tanpa tahu Milan melihatnya bersama Kenzi dari dalam mobilnya, pria itu hanya diam namun dari jemarinya yang mencengkram stir kemudi begitu kuat, bisa dilihat bahwa Milan sangat cemburu
__ADS_1
Sesuai janjinya, Pevita menemui sang kekasih dikamar hotel. Pevita meminta Kenzi menurunkan dirinya di loby hotel tersebut. Sebenarnya Kenzi sedikit curiga, tapi pria itu tak mau membuat Pevita merasa tersinggung dan memutuskan untuk pergi begitu saja
Pevita langsung menghampiri meja receptionis meminta kunci kamar ganda yang ditempati Milan. Hanya sekali tempel, pintu kamar itu terbuka. Pevita masuk kedalam kamar dan melihat Milan sedang berdiri dibalkon kamarnya. Pevita berjalan tergesa dan langsung memeluk tubuh tegap dan tinggi itu, melingkarkan kedua tanganya didada Milan
" I miss you some much." Bisiknya
" Dia pria yang dijodohkan ayahmu?" tanya Milan membuat senyum Pevita memudar
" Hmm." Hanya itu yang keluar dari bibir Pevita, Milan memutar tubuhnya menghadap Pevita, menatap wajah cantik itu dengan tatapan misterius. Milan mengusap kasar bibir merah Pevita, mencoba menghapus lipstik Pevita
" Secantik ini untukku atau pria itu?"
" Untukmu, kenapa berpikir untuk orang lain."
" Kalian terlihat serasi." Pevita menepis pelan tangan Milan
" Aku tidak mau membicarakan itu." Saut Pevita terlihat kesal. Milan tertawa lalu menangkup wajah Pevita
" Bisa sajakan kau pindah haluan." Pevita mengusap wajah itu dari dahi kebawah, berakhir didagu Milan lalu mencubitnya
" Tidak semudah itu aku jatuh cinta!"
" Lalu bagaimana denganku?" Tanya Milan melingkarkan kedua tangannya dipinggang Pevita. Sejujurnya Milan sangat marah dan cemburu, sang kekasih berduaan bersama pria lain. Hubungan mereka bahkan belum seumur jagung, Milan tak tahu apa ia bisa mempercayai Pevita, melihat pria yang dijodohkan oleh ayahnya itu memiliki rupa yang cukup tampan dan tentu bukan dari kalangan biasa
" Kamu berbeda!" Bisik Pevita, Milan tersenyum manis
" I want to have *** with you." Bisik Milan mendekatkan wajahnya hingga tak berjarak. Pevita tak menolak ataupun mengiyakan, ia hanya membiarkan bibir Milan berlabuh dilehernya, menciumi lehernya dengan penuh kelembutan
Munafik jika Pevita tak merindukan belaian itu. Ia sudah tahu permainan hebat pria itu dan ia mulai ketagihan. Begitupun Milan, tubuh gadis itu menjadi candu untuknya. Milan mulai mendorong tubuh itu menuju ranjang, jatuh bersama-sama hingga tubuh keduanya mengampul
Milan tertawa begitupun Pevita, Milan mengangkat wajahnya menatapi wajah cantik itu dengan kedua mata menyala berkobar gairah." I love you." Bisiknya membelai dari pelipis kebawah. Pevita terbuai ucapan itu, ia tersenyum lalu memejamkan kedua mata ketika bibir Milan mendarat dibibirnya
Keduanya saling menyentuh, memanjakan dan memuaskan diri pagi ini. Membaur keringat dan cairaan kenikmatan menjadi satu. Kamar hotel yang tadinya sunyi itu kini riuh dengan suara erotis dari bibir keduanya
" Aaahh Pevitaahhh!!!!!!"
__ADS_1
-
-