
🌹🌹🌹
" Bella .."
" Bella .." Delan tersenyum, wajah cantik itu selalu terlintas dipikirannya
" Bella .. " Delan membuka kedua matanya, kepalanya mengedar merasa asing dengan langit-langit ruangan yang kini ditempatinya. Delan mencoba bergerak namun tubuhnya tak bisa digerakan, Delan menoleh kekanan pada sebuah monitor detak jantung dirinya lalu menaikan satu tangannya yang diinfus
" Delan .. " panggil sang Mammi
" Sayang kamu sudah sadar?" itu suara teriakan sang Mammi
" Kakak" suara manja Pevita
" Sayang .." suara Angela
" Akhirnya kamu sadar juga!" itu suara sang Daddy
Lalu dimana Bella? kenapa bukan Bella? Delan mencari Bella lalu menoleh pada sang mami yang menangis, tampak senang dengan Delan yang bangun dari ketidaksadarannya
Delan mencoba bangun, ia dibantu Angela. Delan menyandarkan tubuhnya pada kepala brankar." Mam?"
" Polisi bilang kamu dan Milan korban perampokan benar begitu?" Delan hanya diam lalu mengangguk, meski itu bukan yang sebenarnya. Delan tak mungkin bicara pada semua orang bahwa ia dan Milan berkelahi karena Bella kan?
" Ini dijakarta?"
" Tidak ini di Jerman sayang."
" Jer .. man?"
" Kamu tidak ingat dengan apa yang terjadi?" Delan berpura-pura bodoh, ia menggelengkan kepala
" It's okey jangan mengingatnya yang terpenting kesembuhanmu " saut sang Mami lalu memeluk Delan, mengusap rambut belakang Delan dengan lembut
." Jangan membuat mami takut lagi hmm?"
" Kamu tidak boleh ke Jakarta lagi."
" Mam ." protes Delan
" Jangan, mami takut mereka akan mencarimu lagi. Mam takut!"
Delan terus menggelengkan kepalanya
" Mam dimana ponselku?"
" Ponselmu hilang, mungkin dibawa lari para perampok itu." Delan mengerutkan dahinya tak mengerti lalu melepaskan pelukan sang mammi, ia menatap kedua kakinya yang tak bisa digerakan
" Dokter bilang akan memakan waktu 1 bulan untuk bisa kembali normal."
" Satu bulan?"
" Ya, jadi kamu harus beristirahat total. Jangan bekerja dulu." Angela mendudukan dirinya disamping Delan
" Kamu sudah berbaring diranjang ini selama satu bulan."
Delan terdiam, ia memikirkan Bella. Apa yang harus ia lakukan, wanita itu mengkhawatirkan Delan. Malam itu Delan meninggalkan Bella begitu saja, dalam keadaan tidur
" Aku ingin ponsel." wajah Delan mulai khawatir
" Mam ."
" Sayang kamu masih belum sembuh total."
" Berikan aku ponsel kumohon."
" Tidak, aku tidak mengijinkanmu Delan. Kamu harus istirahat!" Angela beranjak turun lalu mengajak semua orang untuk pergi meninggalkan Delan
Delan meremas rambutnya mengusap wajahnya kasar. Bella pasti akan marah padanya karena selama sebulan ini ia tanpa kabar. Delan berharap Bella tahu ia sedang sakit. Ya Bella akan mengerti bila Delan sakit dan belum bisa menemuinya lagi
__ADS_1
Ditengah lamunannya, pintu kamar rawat inap itu terbuka. Tampak disana sang paman datang, wajahnya dipenuhi rasa khawatir pada Delan. Pria itu melangkah duduk disisi ranjang menatapi Delan yang juga menatapnya
" Paman, bolehkah aku meminta tolong?" Bryan mengangguk pelan
" Tolong hubungi Bella. "
" Bella?" Bryan mengerutkan dahinya
" Iya tolong hubungi Bella." Delan memegang kedua tangan pamannya
" Siapa Bella?" tanya Bryan dengan wajah heran
" Bella .. Bella .." Delan tampak kebingungan, setahu Delan sebelum ia mengalami kecelakaan ini ia telah menceritakan siapa Bella pada semua orang
" Ayolah siapa Bella? apa mainanmu?" tanya Bryan dengan tawa kecil
" Tidak ini bukan bercanda, tolong hubungi Bella!"
" Hubungi? hubungi apa? siapa Bella? setelah sadar kamu jadi melantur seperti ini." Delan terdiam, ia benar-benar tak mengerti
" Bella istriku tolong hubungi dia. Aku mohon!" seketika Bryan tertawa kencang
" Kamu mimpi?" Bryan menyentuh dahi Delan yang mana segera ditepisnya dengan kasar
"Istirahatlah, kamu masih dalam pengaruh obat!"
" Tidak, aku sungguh sadar.!" saut Delan membentak
" Kalau kau sudah sadar kenapa seperti ini?"
" Ada apa dengan Paman?" bentak Delan, tiba-tiba Delan memegangi jantungnya yang berdetak kencang, ia juga merasakan hatinya sakit mendadak
Bryan menghela nafasnya." Sepertinya kamu butuh waktu sendiri."
Delan memijat pelipisnya, ia sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi. Delan memejamkan mata, bayangan Bella kembali melintasi pikiran Delan, wajah cantik itu, tubuh indah itu
" Bella .." gumam Delan
" Sayang tunggulah aku." gumam Delan dengan kedua mata menenteskan airmata
Setelah memaksa dokter yang menanganinya, akhirnya Delan diijinkan pulang. Pria itu tampak bersemangat, didorong diatas kursi roda oleh Angela. Pagi itu juga mereka terbang dari Jetman menuju Patis
Angela tak membawa Delan kerumahnya melainkan membawa kerumah kedua orangtuanya. Delan meminta tinggal disana sampai kondisinya benar-benar pulih lagi
Dibantu Angela, Delan berbaring diatas kasur. Wanita itu kini menjelma menjadi istri baik untuk Delan, dimatanya mencoba mengambil hatinya lagi. Tapi bukannya meluluh Delan malah kian enggan terhadap Angela. Bahkan Delan tampak tak mau disentuh Angela
" Kamu mau makan malam sekarang?" tanya Angela mengelus jemari Delan
" Nanti saja!" saut Delan memalingkan wajahnya dari Angela
" Aku sangat takut Delan, melihatmu seperti itu aku benar-benar takut. Aku harap kamu jangan lagi ke Jakarta-"
" Aku harus ke Jakarta menemui Bella, dia sedang hamil anakku."
" Bella? siapa Bella? Sayang kamu selingkuh huh?" Delan merasa heran kenapa semua orang jadi seperti ini, semuanya tampak tak mengenali Bella
" Dia istriku!" aku Delan
" Jangan bercanda, mau membuatku cemburu begitu?" Angela tertawa mencubit kedua pipi Delan dengan begitu gemas lalu mengecup bibir Delan yang terdiam memikirkan perkataan Angela
Apa yang terjadi? Delan terus bertanya dalam hatinya. Tidak mungkinkan semua orang kini sedang bersandiwara membohonginya?
" I miss you, i love you aku harap kamu secepatnya pulih." ucap Angela dengan senyum manis lalu beranjak berdiri, wanita itu membuka semua pakaiannya dihadapan Delan lalu berlalu menuju kamar mandi
Delan kembali melamun menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, ia bingung bagaimana harus menghubungi Bella. Delan menoleh pada telpon rumah diatas meja nakas lalu mencoba menghubungi nomer yang ia ingat
" Hallo .. " suara seorang wanita disebrang sana
" Bella .."
__ADS_1
" Are you okey?" suara orang keheranan dengan jawaban Delan
" Bukankah ini Bella?"
" Bukan ini Melinda, maaf ini dengan siapa?" Delan segera mematikan panggilan itu, dari suaranya saja tampak bukan suara yang dikenalinya
Delan semakin bingung lalu ia kembali mengingat-ngingat nomer Bella sampai berkali-kali ia salah sambung dan menghubungi orang yang salah
" Sayang .. " suara Angela memanggil, wanita itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sangat seksi, warna kesukaan Delan yaitu hitam
" Bagaimana?"
" Seperti pelacu*." saut Delan membuat Angela kesal, wanita itu berjalan tergesa mendekati Delan yang memalingkan wajahnya
" Sejak sadar kamu jadi menyebalkan seperti ini. Sebelum kecelakaan ini kamu kan sangat menyukainya." gerutu Angela menangkup wajah Delan lalu menciumi bibir itu dengan begitu lembut
" Berhenti sandiwara didepanku." Delan menepis kedua tangan Angela dan mengusap bibirnya yang terus dicium Angela seolah itu menjijikan
" Sayang .. "
" Delan .. aku tahu kamu marah tapi jangan seperti ini."
" Dont touch me." Delan menaikan jari telunjuknya didepan wajah Angela, tapi wanita itu malah memberikan senyuman menggodanya
" Kamu yakin tidak mau? bukankah kamu selalu senang saat aku menyentuh disini?" Pandangan Delan menajam tatkala jemari itu nakal dipangkal pahanya
" Hentikan."
" Singkirkan tanganmu!" Delan menepis jemari lentik itu namun Angela tak menyerah, wanita itu mencoba berlutut dilantai hendak menarik celana panjang Delan namun Pevita yang datang menyelamatkan Delan membuat Angela berhenti
" Kakak belum makan malam." ucap Pevita membawa nampan dikedua tangannya dimana ada sepiring nasi dan segelas susu disana
" Biar kakak saja Pev." Angela mencoba mengambil dari tangan Angela
" Tidak biar aku saja, lagipula aku sudah lama tak menyuapi kakak!" saut Pevita lalu duduk disisi ranjang. Delan tak mengerti, ia menatap wajah sembab sang adik
" Ada apa hmm?"
" Aku senang kakak sadar, aku sangat takut." Delan mengelus pipi itu dengan begitu lembut
" Kakak sangat lapar, beri kakak makan." perintah Delan
Pevita mengangguk cepat, dengan kedua mata berkaca gadis itu menyuapi sang kakak yang membuka mulutnya lebar. Angela hanya diam bersedekap dada memperhatikan keduanya
" Kenapa kamu menangis?" tanya Delan mengusap pipi Pevita
Pevita tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala. Tatapan itu tampak mengkasihani Delan
" Pev." Panggil Delan
" Mammi memarahimu?" tanya Delan
Pevita kembali menggelengkan kepala hingga cairan bening itu berjatuhan membasahi kedua pipinya. Delan segera mengambil alih nampan dikedua tangan Pevita dan meletakannya disampingnya. Lalu menarik Pevita kedalam pelukannya, Seketika Pevita menangis kencang, sangat kencanng memenuhi kamar mereka
Angela menghela nafas dan memutuskan meninggalkan keduanya, ia merasa jengah melihat Pevita
" Pev ada apa?" Delan mengelus rambut panjang Pevita
" Aku sangat takut, aku takut kehilangan kakak." ucapnya pilu
" Pev, apa kamu punya nomer Bella?" Pevita menggelengkan kepalanya cepat membuat Delan mengurai pelukannya
" Pev, kamu tahu Bella kan? bukankah sekarang kalian sangat dekat"
Pevita menggelengkan kepala dan terlihat cairan bening itu kian meluncur deras
" Tidak, jangan berbohong."
" Siapa Bella? apa seorang teman?" tanya Pevita, tubuh Delan tampak melemah mendengar pertanyaan Pevita, lalu ia coba sandarkan pada kepala ranjang sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia kebingungan, rasanya kepala Delan akan meledak saat ini
__ADS_1
-
-